Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Perjalanan Ke Selatan Dimulai
Matahari sudah tepat berada di atas kepala, siang hari terasa lumayan panas. Terlihat di ruang tamu, ibu Nuril bersama seseorang sambil menghitung sekantong uang yang pernah diberikan Aarav dulu.
"25 koin emas, apa cukup untuk membayar hutangku?!" tanya ibu Nuril sambil memberikan sekantong uang itu.
Pria yang duduk di depannya itu tersenyum, "Ahhh, ini cukup!!" ucapnya sambil mengambil uangnya.
"Lain kali, silahkan berhutang ke kami lagi!!" serunya.
Pria itu lalu pergi setelah mengambil uangnya, ibu Nuril duduk, menghela napas panjang, "Seharusnya uang itu bisa untuk membuka usaha, tapi tidak apa-apa. Yang penting hutang sudah lunas!!" gumam ibu Nuril pelan.
Di tempat lain, di sebuah hamparan padang rumput yang cukup luas. Aarav berbaring menikmati nyamannya bantalan dari rumput, dan juga angin sepoi-sepoi yang menyapu tubuhnya.
Pandangan Aarav lurus ke langit biru yang cerah, "Seperti dulu, seperti saat aku di padang rumput sambil menggembalakan kambing itu!!" serunya.
Dia menikmati setiap detiknya sendirian di padang rumput itu, mencoba menenangkan dirinya dari system itu.
Jauh dari lokasi Aarav, di dalam sebuah rumah. Paman Joseh sedang mengemasi barang-barangnya masuk ke dalam sebuah tas. Terlihat dia memasukkan barang-barang penting, seperti buku sihir, makanan, dan minuman. Tak lupa dia membawa sejumlah uang untuk berjaga-jaga.
"Semuanya siap," ucapnya lirih.
Paman Joseh masuk ke kamarnya, saat dia ke luar. Pakaian biasanya berubah menjadi jubah elegan dengan warna gradasi hitam dan ungu.
"Sudah lama tidak mengenakannya, simbol sang penyihir!!" ucap paman Joseh.
Dia lalu duduk sebentar, membuka sebuah peta sederhana yang dia punya, "Perjalanan untuk bunga Yuand akan sulit, aku harus menyebrang kerajaan Twier Agrav, beberapa kerajaan kecil, lalu masuk dengan diam-diam di daerah kerajaan Spel Choy!!" serunya.
Paman Joseh menutup petanya dan memasukkannya ke dalam tasnya, dia lalu menggendong tasnya itu, "Perjalanan ke selatan dimulai," serunya.
Paman Joseh lalu membuka portal ungunya, masuk ke dalam portal itu, dan keluar tepat di daerah perbatasan kerajaan Twier Agrav.
Saat tiba di daerah perbatasan, paman Joseh memakai penutup mukanya. Penutup muka dengan hanya lubang di daerah matanya. Di daerah perbatasan ini, paman Joseh harus melewati penjaga perbatasan di beberapa titik.
Paman Joseh memulai langkah pertamanya, dia berjalan kaki untuk menuju keluar dari daerah kerajaan Twier Agrav. Dia ada di dalam desa, tentu saja jubahnya yang mencolok langsung membuat para warga sekitar menyangka paman Joseh adalah utusan kerajaan Twier Agrav.
"Apa dia ingin mengambil upeti?!" seru salah satu warga yang melihat penampilan dari paman Joseh yang mencolok.
Seruan itu didasari karena jubah para penyihir kerjaan Twier Agrav juga berwarna hitam gradasi ungu, tapi dengan perbedaan simbol kerjaan di bagian belakang jubahnya.
Beberapa menit perjalanan, paman Joseh sudah dapat melihat dua orang penjaga perbatasan. Mereka berdiri di sana, jubah yang mereka kenakan benar saja mirip dengan jubah yang dikenakan paman Joseh.
Paman Joseh berhenti berjalan, "Aku malas untuk berurusan dengan mereka," ucap paman Joseh lirih.
Paman Joseh lalu membaca sebuah mantra, dan saat selesai membaca mantranya. Tubuh paman Joseh tiba-tiba menghilang, dia tidak nampak, seolah-olah menghilang dari sana.
"Cepat, cuman bertahan 30 detik!!" seru paman Joseh. Dia berlari cepat melewati kedua penjaga itu, kedua penjaga itu tidak menyadari akan paman Joseh yang baru saja melewati mereka.
Paman Joseh berhasil melewati kedua penjaga perbatasan itu, saat sudah melewati penjaga. Paman Joseh langsung bersembunyi di balik pohon sebentar, karena sebentar lagi mantra menghilangnya akan segera terlihat.
"Aman, mereka tidak menyadarinya. Padahal dulu para penjaga lebih terasah," ucap paman Joseh lirih.
"Sekarang, aku hanya perlu terus berjalan ke selatan. Melewati kerajaan kecil, desa, lalu tiba di Spel Choy!!" seru paman Joseh.
Paman Joseh kembali berjalan, dia sekarang fokus berjalan ke arah selatan. Arah di mana bunga Yuand yang dicarinya tumbuh.
Perjalan panjang ke Spel Choy untuk mencari bunga Yuand telah dimulai, paman Joseh mempertaruhkan segalanya demi bisa menekan efek samping dari batu Troun. Ini semua demi keponakannya tersayang, Nuril.
Di tempat lain, Nuril terlihat duduk sambil terus memandangi simbol yang ada di tangannya. Dia penasaran, tapi juga tidak ingin terlalu memikirkan simbol itu dengan berlebihan.
"Ah, udahlah. Pikirin soal latihan aja, nanti malam aku ke rumah paman Joseh lagi!!" ucap Nuril.
Nuril beranjak dari tempatnya, dia keliling rumah. Mencoba menari keberadaan Aarav, "Di mana sih anak itu?!" ucapnya yang bingung.
Di padang rumput yang indah, Aarav tertidur di atas rumput yang sangat lembut itu. Dia tidur langsung di sana, tanpa ada sesuatu untuk menghalau panasnya matahari yang ada tepat di atasnya.
"Aarav Elias Kayler, pengguna terakhir dari system!!" ucap AI system.
Di dalam alam bawah sadar Aarav, dia tiba-tiba ada di sebuah kastil yang megah. Dia duduk di singgasananya, memakai mahkota berwarna emas yang indah, jubahnya yang elegan, dan aura berwarna ungu yang ada di belakang singgasananya.
Aarav duduk, tangan kanannya menopang kepalanya. Sorot matanya tajam ke seorang pria yang ada di depan singgasananya.
"Raja, tolong turunkan pajak di negeri ini. Rakyatmu menderita karena pajak yang terlalu tinggi," seru pria itu yang memohon-mohon.
Aarav memalingkan pandangnya sekilas lalu kembali ke pria itu, Aarav sedikit tersenyum, "Kamu adalah orang ke 18 yang meminta untuk menurunkan pajak!!" ucap Aarav dengan suara sedikit sombong.
Aarav mengangkat kepalanya, "Pajak sudah ku atur, kamu bisa pergi. Atau menginap di sini untuk beberapa hari," ucap Aarav.
Pria itu menundukkan kepalanya, "Baik, yang mulia!!" seru pria itu. Dia pergi meninggalkan Aarav, dia pergi dengan rasa kecewa yang ada di dalam dirinya.
Dalam sekejap, Aarav berpindah dari singgasananya di kastil ke lokasi yang lain. Yaitu sebuah tebing yang ada di pinggir laut, dengan pemandangan matahari terbenam yang indah. Di tambah, pakaiannya dari jubah berubah menjadi pakaian sederhana.
Aarav duduk di pinggir tebing, dia tenang, pikirannya damai, tapi semuanya menjadi kacau saat tiba-tiba suara AI kembali terdengar di kepala Aarav.
"Batas waktu telah selesai, tuan akan dikeluarkan dari dunia system. Dalam, satu... dua... tiga!!!" seru AI system di dalam tubuh Aarav.
Kembali ke dunia nyata, Aarav langsung terbangun dari tidurnya, dia langsung duduk di rumput itu.
"Apa? Apa tadi? Itu tadi sangat indah, matahari yang indah!!" ucap Aarav yang sedikit kebingungan, dia bangun dengan perasaan aneh yang menyelimuti.
Aarav mencoba mengingat semua mimpinya, tapi yang diingat oleh otaknya hanya satu. Dia duduk santai di pinggir tebing sambil menikmati matahari terbenam yang indah.
Mencoba tidak ingin mengambil pusing, dia pergi dari padang rumput itu untuk kembali pulang ke rumah Nuril.
Bersambung...