Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 16 - Mengapa Kalian Menghancurkan Kamarku?
Villa keluarga dari Fasha ternyata jauh lebih kecil dibandingkan tempat tinggal Sander saat ini, meski begitu mereka harus tetap berjalan untuk mencari rumah utama dari orang tua Fasha.
Fasha yang mulai mengikuti langkah Sander memilih untuk menggenggam erat tangan pria itu, ia tampak khawatir jika Sander menyadari bahwa ia sendiri tidak tahu harus berjalan ke arah mana.
'Duh.. kalau saja aku masuk ke novel ini sebelum di jual, pasti aku bisa menghafal setiap sudut rumah ini!'
“Fasha, ke mana kita harus pergi?”
Seolah bisa membaca pikirannya, Sander bertanya tepat saat Fasha sedang kebingungan.
Fasha menggeleng pelan.
'Mana aku tahu.. semua rumah ini terlihat sama! Bagaimana aku bisa mengetahui jalan menuju kesana?'
“Aku sudah lama tidak keluar,” ujarnya lirih.
Lalu ia menunjuk ke satu arah dengan sembarangan. “Sander, ayo lewat sini. Jalan ke arah sana membuatku merasa tidak nyaman dan kesal.”
“Hm.”
Tanpa disengaja, Fasha justru memilih jalan yang benar. Papan nama keluarga terpampang jelas di depan matanya. Ia mengembuskan napas lega, meski jari-jarinya gemetar saat menekan bel pintu vila.
Butuh waktu lama sebelum pintu terbuka sedikit.
Seorang pembantu rumah tangga muncul di balik pintu.
“Siapa?” tanyanya.
Itu suara Jane.
Fasha menegakkan punggungnya yang sempat membungkuk, wajahnya kembali tanpa ekspresi.
“Itu Nona Tertua.”
Bang!
Pintu vila dibanting keras. Suara itu membuat telinga Fasha berdengung.
Ia mengangkat tangan, mengusap daun telinganya, lalu berjinjit mendekati Sander dan berbisik,
“Kak, apa aku terlihat terlalu galak? Tapi dia juga galak...”
Galak?
Sander terkekeh kecil. Kata itu sama sekali tidak cocok untuk Fasha. Jelas mereka belum menyadari bahwa Fasha datang bersamanya.
Ding dong.
Sander menekan bel pintu sekali lagi. Kali ini, ia yang berdiri di depan.
Fasha berdiri di belakangnya, jarinya seolah menelusuri garis punggung Sander di udara. Dengan kehadiran Sander, ia merasa jauh lebih aman.
“Apa kau gila? Menekan bel pintu berkali-kali—”
Omelan Jane terhenti. Wajahnya memucat lalu memerah ketika ia melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Ia segera memaksakan senyum, berpegangan pada kusen pintu.
“T-Tuan Sander… kenapa Anda ada di sini?”
Sander hanya mendengus dingin, tanpa sedikit pun ekspresi. Di bawah tatapan tajamnya, Jane merasa napasnya tercekat, seolah tubuhnya membeku.
“Silakan masuk, Tuan Sander.”
Jane melangkah mundur, matanya sempat melirik tangan Fasha yang masih menggenggam tangan Sander.
“Fasha, kenapa kamu tidak menelepon ayahmu sebelum pulang? Kami tidak menyiapkan apa pun di rumah. Jangan lakukan ini lagi, itu tidak sopan.”
Rasa dingin menjalar di tulang punggung Jane. Ia mulai curiga—kedatangan mereka pasti bukan tanpa alasan.
“Sayang.., Tuan Sander dan Fasha telah datang berkunjung,” panggilnya.
Panggilan itu teredam oleh dinding kedap suara. Sander tetap diam.
Fasha tidak memahami situasi yang terjadi. Ia hanya bisa duduk menunggu dengan gelisah di ruang tamu.
“Kau boleh pergi memeriksa kamarmu,” ujar Sander.
Pelayan yang melihat Fasha melangkah ke arah kamarnya segera mengikutinya ke lantai tiga, menyusuri lorong sempit. Saat baru saja tiba di depan pintu, terdengar suara benturan keras dari dalam ruangan.
Fasha terkejut. Ia segera mendorong pintu hingga terbuka.
Kamar kecilnya itu telah hancur berantakan, dan suara benturan tadi datang dari tempat tidur tuanya yang nyaris roboh, papan-papannya terlepas. Barang-barang berserakan di lantai.
Fasha berlari masuk dan memungut buku ceritanya. Ia mengusapnya berulang kali, tetapi bekas jejak kaki tetap tak bisa dihilangkan.
Halaman-halaman buku itu robek. Barang-barang yang dulu ia susun rapi di dalam kotak kecil kini hancur tanpa sisa.
Fasha berjongkok di lantai. Matanya dipenuhi kebencian yang tak terbendung.
'Bagaimana mereka bisa melakukan ini?! Beraninya mereka..'
Ia mengepalkan tangan dan berdiri. Para pekerja konstruksi yang ada di ruangan itu berhenti, menatapnya dengan bingung.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Fasha dingin.
“Kalian menghancurkan kamarku. Aku hanya pergi sebentar, dan kalian merusaknya.”
Sander mengerutkan kening begitu melihat kamar Fasha.
Ruangan itu—yang lebih pantas disebut gudang—hanya memiliki satu jendela kecil di sudut. Tidak pernah terkena sinar matahari, lembap, dan suram.
Perabotannya pun seadanya: tempat tidur tua, lemari lusuh, serta kamar mandi kecil.
Di bawah tatapan tajam Sander, Herman tertawa kaku. Otaknya berpikir cepat sebelum akhirnya berkata terbata-bata,
“Fasha, kami hanya ingin merenovasinya untukmu. Dulu kamarnya memang tidak layak.”
Tiba-tiba sebuah suara lain menyela,
“Ayah, apakah kamar kecil ini sudah selesai dibongkar? Setelah itu buang saja barang-barang rongsokan ini. Menjijikkan hanya dengan melihatnya. Ruangan ini cocok dijadikan gudang penyimpanan."
Itu adalah ucapan Fania, adik perempuan Fasha yang selalu mereka banggakan.
Fania bahkan tidak mau masuk ke kamar Fasha. Dia berdiri di pintu sambil berteriak, kata-katanya penuh dengan penghinaan.
Air mata yang membara mengalir di pipi Fasha dan jatuh di buku cerita di tangannya. Matanya merah, dia melihat orang-orang di ruangan itu dan sambil meraih kursi yang rusak, melemparkannya ke arah mereka.
"Mengapa kalian menghancurkan kamarku, mengapa, mengapa."
Meski Fasha hanya berakting agar dikasihani oleh Sander, namun entah mengapa air matanya membuat Sander mengepalkan tangannya dengan tatapan kesal yang tertuju pada keluarga Fasha.
'Wah.. tatapan Sander sangat mematikan.. pasti ia tidak akan membiarkan aku tinggal disini, kan?'