Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LATIHAN DI HUTAN
Setelah menyelesaikan serangkaian modul pelatihan dasar dengan hasil yang membanggakan, Kelompok 3 memasuki fase pelatihan yang paling menantang dan dinantikan – Latihan Survival di Hutan yang akan berlangsung selama seminggu penuh di kawasan hutan lindung dekat perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tujuan pelatihan ini adalah untuk menguji kemampuan calon prajurit dalam bertahan hidup di alam liar tanpa dukungan fasilitas modern, serta mengasah kemampuan kerja sama tim dalam kondisi ekstrem.
Pada pagi hari yang cerah tersebut, seluruh kelompok berkumpul di gerbang masuk kawasan hutan dengan membawa perlengkapan terbatas – hanya tenda darurat kecil per tiga orang, makanan cadangan untuk tiga hari, peralatan memasak sederhana, alat navigasi dasar, dan perlengkapan medis kecil. Letnan TNI Arif yang akan memimpin pelatihan ini berdiri dengan wajah serius di depan para calon prajurit.
"Perhatian semua! Mulai saat ini, kalian akan memasuki wilayah yang tidak dikenal dengan fasilitas yang sangat terbatas," jelasnya dengan suara lantang. "Selama seminggu ke depan, kalian harus mampu memenuhi kebutuhan dasar kalian sendiri – mencari makanan, air bersih, tempat berlindung, dan melindungi diri dari bahaya alam. Ingat – di sini, alam adalah guru kalian, dan kerja sama tim adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup!"
Setelah memberikan arahan terakhir tentang keselamatan dan tujuan pelatihan, Letnan Arif membagikan peta kawasan hutan dan menunjuk titik kumpul akhir yang harus dicapai dalam waktu seminggu. Evan bersama Rio, Siti, dan Bima dibentuk menjadi satu tim kecil dengan tugas untuk menjelajahi area seluas sekitar lima kilometer persegi, mencari sumber daya alam yang bisa digunakan, dan mencapai titik kumpul sesuai jadwal.
Setelah memasuki hutan sekitar dua jam, tim Evan memutuskan untuk mencari lokasi yang aman untuk membangun basis operasi sementara. Bima yang memiliki kemampuan navigasi yang baik menemukan sebuah lembah kecil dengan sumber air mata air yang jernih di salah satu ujungnya – lokasi yang sangat strategis karena memiliki akses ke air bersih dan terlindungi dari angin kencang.
"Sini ini! Saya menemukan sumber air yang bagus dan tanah yang datar untuk membangun tenda!" teriak Bima dengan senyum gembira saat mengejar teman-temannya yang sedang memeriksa kondisi pepohonan di sekitarnya.
Ketika teman-temannya sibuk membangun tenda darurat menggunakan bahan yang ada dan tali yang mereka bawa, Evan mengeluarkan pengetahuan yang dia pelajari dari Kakek Darmo untuk memeriksa lingkungan sekitar. Ia berjalan mengelilingi area basis operasi dan mengidentifikasi berbagai jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai makanan atau obat.
"Lihat ini – ini adalah daun pegagan yang masih segar," ujar Evan sambil menunjukkan tanaman hijau yang tumbuh merambat di pangkal pohon besar. "Kandungan gizinya cukup tinggi dan bisa dimakan langsung atau dibuat sebagai lalapan. Ada juga tanaman temu kunci di sana yang bisa digunakan untuk mengobati sakit perut atau demam jika kita mengalami masalah kesehatan."
Rio yang bertanggung jawab atas perlengkapan medis tim merasa sangat terbantu. "Itu sangat berguna, Evan! Perlengkapan medis yang kita bawa sangat terbatas, jadi jika kita bisa menggunakan tanaman obat alam, itu akan menjadi keuntungan besar bagi kita."
Siti yang sedang menyelesaikan pembangunan tenda juga menambahkan, "Kamu benar-benar memiliki keahlian yang luar biasa dalam mengenali tanaman-tanaman ini. Bagaimana kamu bisa mengetahui semuanya dengan begitu pasti?"
Evan tersenyum sambil terus mengumpulkan daun-daun tanaman yang bisa dimakan. "Kakek saya mengajarkan saya tentang semua jenis tanaman obat dan makanan yang tumbuh di hutan sejak saya masih kecil. Dia selalu bilang bahwa alam menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan – kita hanya perlu tahu cara menemukannya dan menggunakannya dengan benar."
Pada sore hari, ketika makanan cadangan yang mereka bawa mulai terbatas, Evan mengambil alat pemotong kecil yang dibawa setiap tim untuk mencari makanan tambahan di sekitar area basis operasi. Ia menunjukkan cara menemukan umbi-umbian yang bisa dimakan, menangkap ikan kecil di sungai menggunakan teknik tradisional dengan membuat jerat dari akar pohon, dan bahkan menemukan sarang lebah yang aman untuk diambil madunya.
"Hei teman-teman, lihat apa yang saya temukan!" teriak Evan saat kembali ke basis dengan membawa berbagai jenis makanan alam yang telah dia kumpulkan – dari umbi talas yang sudah dibersihkan hingga beberapa ekor ikan kecil yang masih segar.
Bima melihatnya dengan mata terpana. "Wow, Evan! Kamu seperti orang hutan yang sejati! Kita tidak perlu khawatir kelaparan selama latihan ini dengan kemampuanmu seperti ini."
Setelah tiga hari berlalu dengan cukup lancar, cuaca mendadak berubah buruk. Hujan deras mulai turun sejak dini hari dan disertai dengan angin kencang yang membuat tenda mereka hampir terbang terbawa angin. Air sungai mulai meluap dan membuat area sekitar basis operasi menjadi genangan air yang dalam.
"Kita tidak bisa tinggal di sini lagi!" teriak Siti dengan suara yang hampir terdengung oleh suara hujan dan angin. "Jika hujan terus seperti ini, kita bisa terjebak dalam banjir atau longsor!"
Tim Evan segera memutuskan untuk mencari tempat berlindung yang lebih aman di daerah yang lebih tinggi. Namun karena hujan deras membuat pandangan sangat terbatas dan jalan menjadi licin sekali, mereka kesulitan menemukan jalan yang aman untuk melarikan diri dari area lembah yang mulai tergenang air.
Saat mereka sedang bingung mencari jalan keluar, Evan mengingat ajaran Kakek Darmo tentang cara membaca tanda-tanda alam dalam kondisi cuaca buruk. Ia melihat ke arah tumbuhnya beberapa jenis pohon yang biasanya tumbuh di daerah yang lebih tinggi dan stabil, serta mengidentifikasi jejak kaki hewan yang menunjukkan jalur aman menuju atas bukit.
"Kita harus pergi ke arah sana!" ujar Evan dengan tegas saat menunjukkan arah sebuah lereng bukit yang ditutupi oleh pepohonan besar yang kokoh. "Pohon-pohon di sana menunjukkan bahwa tanahnya stabil dan tidak mudah longsor. Selain itu, saya melihat jejak rusa yang menunjukkan bahwa ada jalur aman menuju atas sana."
Dengan kepemimpinan Evan yang jelas dan pasti, tim tersebut mulai bergerak perlahan ke arah bukit. Evan menggunakan tongkat yang dibuat dari ranting pohon untuk membantu teman-temannya yang kesulitan berjalan di jalan yang licin dan tergenang air. Ia juga menunjukkan cara menemukan tempat berlindung sementara di bawah akar pohon besar yang memberikan perlindungan dari hujan dan angin.
Ketika mereka akhirnya mencapai area yang lebih tinggi dan menemukan sebuah gua kecil yang cukup aman untuk berlindung, seluruh tim merasa sangat lega. Namun karena semua barang bawaan mereka sudah basah kuyup dan suhu udara mulai turun drastis, mereka menghadapi masalah baru – bagaimana menghangatkan tubuh dan mengeringkan barang-barang mereka tanpa menggunakan bahan bakar yang banyak.
Lagi pula, Evan menunjukkan keahliannya dengan menggunakan pengetahuan tradisional yang diajarkan Kakek Darmo. Ia menemukan jenis kayu yang masih kering di dalam gua dan menggunakan teknik gesekan batu untuk membuat nyala api – sebuah kemampuan yang sangat sulit namun berhasil ia lakukan setelah beberapa kali percobaan.
"Sungguh luar biasa, Evan!" ujar Rio dengan penuh kagum saat melihat nyala api yang mulai menyala hangat di dalam gua. "Saya tidak menyangka kamu bisa membuat api dengan cara seperti itu – saya kira itu hanya ada di film saja!"
Evan tersenyum sambil terus menambahkan kayu kecil ke dalam api. "Kakek saya mengajarkan saya cara membuat api dengan berbagai cara – baik dengan menggunakan batu, kayu, maupun bahan lain yang ada di alam. Dia selalu bilang bahwa kemampuan untuk membuat api bisa menyelamatkan nyawa kita dalam situasi darurat seperti ini."
Selama berada di gua tersebut, Evan juga menggunakan tanaman obat yang dia kumpulkan sebelumnya untuk membantu Bima yang mengalami sakit perut akibat makan makanan yang kurang matang. Ia membuat ramuan dari daun sirih dan kunyit yang ditemukan di sekitar area gua, yang dengan cepat membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakan teman sekampungnya.
Setelah cuaca membaik dan sungai kembali normal, tim Evan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju titik kumpul akhir yang telah ditentukan. Namun karena hujan deras sebelumnya telah menghapus semua jejak jalan dan membuat peta menjadi kurang akurat, mereka kesulitan menemukan arah yang benar.
Bima yang biasanya ahli dalam navigasi merasa sedikit kebingungan karena banyak landmark yang biasanya digunakan sebagai acuan telah berubah akibat banjir. "Saya tidak bisa menemukan posisi kita dengan pasti, teman-teman. Peta yang kita punya tidak sesuai dengan kondisi sekarang setelah banjir."
Evan kemudian mengambil alih dan menunjukkan cara membaca tanda-tanda alam untuk menemukan arah yang benar – seperti melihat posisi matahari dan bintang, mengamati cara tumbuhnya daun pohon yang selalu menghadap matahari, dan bahkan mengidentifikasi arah aliran sungai yang akan membawa mereka ke arah yang benar.
"Kita harus mengikuti arah sungai yang mengalir ke arah kanan dari sini," jelas Evan saat memeriksa aliran air dengan cermat. "Sungai ini pasti akan keluar ke daerah terbuka yang lebih dekat dengan titik kumpul yang telah ditentukan. Selain itu, saya melihat jejak kaki manusia di tepi sungai yang menunjukkan bahwa ada orang yang lewat dari sini tidak lama waktu yang lalu."
Dengan menggunakan teknik navigasi tradisional yang diajarkan Kakek Darmo, Evan berhasil membawa timnya melalui berbagai rintangan di hutan – mulai dari daerah rawa yang sulit dilewati hingga jalur yang dipenuhi dengan rerumputan tinggi yang menyembunyikan jurang dalam. Ia juga menunjukkan cara membuat tali pengaman dari akar pohon dan ranting yang kuat untuk membantu teman-temannya melewati area yang berbahaya.
Pada hari keenam, mereka akhirnya menemukan jalur tanah yang digunakan oleh petani lokal untuk pergi ke ladangnya – sebuah tanda yang menunjukkan bahwa mereka sudah dekat dengan titik kumpul akhir. Dengan semangat yang meningkat, mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya mencapai area lapangan terbuka yang telah ditentukan sebagai titik kumpul pada hari ketujuh pagi – tepat sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Ketika seluruh kelompok telah berkumpul di titik akhir dan mulai berbagi pengalaman selama latihan survival, Letnan Arif dengan bangga menyampaikan bahwa Kelompok 3 adalah salah satu tim yang paling sukses dalam pelatihan ini – tidak hanya karena mereka mencapai tujuan tepat waktu, namun juga karena mereka mampu bertahan hidup dengan sangat baik menggunakan sumber daya alam yang ada tanpa mengorbankan keselamatan atau kesehatan anggota tim.
"Saya sangat terkesan dengan prestasi yang kamu capai, Evan," ujar Letnan Arif saat menghampiri timnya dengan wajah yang penuh kebanggaan. "Kemampuanmu untuk mengenali tanaman makanan dan obat, membuat api dengan cara tradisional, membaca tanda-tanda alam, dan membantu teman-temannya dalam kondisi sulit menunjukkan bahwa kamu memiliki pengetahuan yang sangat berharga – pengetahuan yang bisa menyelamatkan nyawa banyak orang dalam situasi darurat."
Ia kemudian memberikan penghargaan khusus kepada Evan dalam bentuk sebuah buku tentang flora dan fauna Indonesia yang bisa digunakan untuk keperluan survival. "Buku ini diberikan kepadamu sebagai bentuk apresiasi atas kemampuanmu yang luar biasa dan harapan bahwa kamu akan terus mengembangkan pengetahuanmu tentang alam serta berbaginya dengan teman-temannya."
Teman-temannya juga tidak henti memberikan pujian dan ucapan terima kasih kepada Evan. "Tanpa bantuanmu, kita pasti akan mengalami kesulitan besar selama latihan ini," ujar Siti dengan suara penuh rasa terima kasih. "Kamu benar-benar adalah penyelamat kita di sana."
Rio juga menambahkan, "Dan yang terpenting adalah kamu tidak pernah merasa sombong atau merasa lebih baik dari kita. Kamu selalu bersedia membantu dan berbagi pengetahuan yang kamu miliki dengan kita semua."
Bima kemudian menunjukkan cara membuat tali dari akar pohon yang dia pelajari dari Evan dengan gaya khasnya yang humoris, membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. "Lihat ini – sekarang saya juga bisa membuat tali seperti kamu lho! Mungkin suatu hari nanti saya juga bisa menjadi ahli survival yang hebat seperti kamu!"
Pada malam hari terakhir di lokasi latihan, seluruh kelompok mengadakan acara kecil untuk merayakan kelulusan mereka dalam modul survival di hutan. Mereka memasak makanan yang mereka dapatkan dari alam dengan cara yang diajarkan Evan dan berbagi cerita tentang pengalaman mereka selama seminggu di hutan.
Evan menghabiskan sebagian malam dengan duduk di dekat kobaran api yang menyala hangat, memikirkan semua pelajaran yang dia dapatkan selama latihan ini. Ia mengambil kalung batu giok dari lehernya dan menyentuhnya dengan penuh rasa hormat, merasa bahwa Kakek Darmo sedang menyaksikannya dengan senyum bangga dari atas.
"Terima kasih, Kakek," bisiknya dengan suara yang lembut. "Semua yang kamu ajarkan padaku selama ini telah terbukti sangat berguna. Saya tidak hanya bisa bertahan hidup di alam liar, namun juga bisa membantu teman-temanku dan menunjukkan bahwa ilmu tradisional yang kamu wariskan memiliki nilai yang sangat tinggi."
Ia juga memikirkan bagaimana bisa berbagi pengetahuan ini dengan lebih banyak orang di masa depan – terutama dengan rekan-rekannya di akademi militer. Dia merasa bahwa kombinasi antara ilmu tradisional dan pengetahuan modern bisa memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan kemampuan survival militer Indonesia.
Ketika teman-temannya datang dan mengajaknya untuk bergabung dalam acara perayaan, Evan berdiri dengan senyum lebar dan bergabung dengan mereka. Ia merasa sangat bersyukur telah memiliki teman-teman yang mendukung dan menghargai kemampuan yang dia miliki, serta bersyukur telah memiliki keluarga dan leluhur yang telah memberikan dia pengetahuan berharga yang tidak bisa diperoleh dari buku atau pelajaran sekolah semata.
"Dengan izin Allah dan bantuan dari semua orang yang saya cintai," ujar Evan dalam hati saat melihat kobaran api yang tinggi menyala ke langit malam, "saya akan terus mengembangkan ilmu yang saya miliki dan menggunakan semua itu untuk kebaikan yang lebih besar – untuk membantu teman-teman saya, untuk melayani negara, dan untuk membuat keluarga serta leluhur saya bangga."
Dengan tekad yang semakin kuat dan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai alam dan ilmu tradisional, Evan siap menghadapi tahap pelatihan selanjutnya dengan keyakinan bahwa dia memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi prajurit yang luar biasa – seorang prajurit yang tidak hanya kuat dan terampil, namun juga memiliki kepekaan terhadap alam dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap teman-temannya dan negara.