Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Sekolah Elit
'Akhh... Inikah sekolah elit?' Bintang memandang sekelilingnya dengan mata yang berbinar-binar dan senyum yang ditahan..
'Akhirnya dalam hidupku kali ini aku bisa memasuki gedung sekolah dengan status sebagai siswa bukan sebagai pelayan lagi,' Gumam Bintang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
'Bahkan aku sampai membutuhkan dua kehidupan hanya agar aku bisa bersekolah disekolah yang hanya ada dalam mimpiku?'
Bintang pagi ini berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Xavier. Saat mulai turun dari mobil, Bintang hanya berdiri dan menatap sekelilingnya dengan mata berbinar dan bercampur berkaca-kaca.
Xavier dan Axel yang melihat itu hanya tersenyum tanpa sadar dan saling melempar pandang.
Tingkah Bintang yang terlihat sangat antusias dan terharu membuat mereka tersentuh, tatapan tulus itu membuat hati mereka bak teriris sembilu, gadis polos itu terlihat sangat bahagia hanya dengan menatap sekolah, begitu mudah membuat gadis itu bahagia.
"Ayo aku antar ke kelasmu," Ucap Axel dan dengan santai menarik tangan Bintang dan berlalu pergi dari hadapan Xavier.
"Kak... Tuan muda Kami masuk..." Teriak Bintang sambil melambaikan tangannya dan tersenyum manis dan mata yang berbinar-binar.
"Dasar gadis konyol, hanya seperti itu saja sudah sangat bahagia," Monolog Xavier dengan hati yang terlihat sedikit tidak nyaman saat melihat Bintang yang tampak riang berlari mengiringi langkah Axel yang menarik tangannya.
"Ayo jalan..." Ucap Xavier pada Mark dan perlahan mobil itu meninggalkan sekolah elit milik keluarga Alexander itu.
#####
"Kau... Kau sekolah disini juga?" Tanya Aurora sambil menatap Bintang memasuki kelas dan tampak mengenakan seragam dan peralatan sekolah yang serba baru.
Dan, yang membuatnya bertambah emosi lagi, semua yang dikenakan bintang itu harganya bahkan lebih mahal dari yang dikenakan dirinya.
Hari ini Bintang mengenakan seragam yang sama dengn Aurora, rambut yang biasanya hanya di biarkan begitu saja, saat ini ada kepangan kecil dari dahinya menyerupai bando, dan ada hiasan jepit rambut yang berkarakter kupu-kupu.
Dirinya masih ingat jepit rambut itu, jepit rambut yang sama yang ingin direbutnya waktu itu.
Ditangan Bintang juga tampak jam tangan mahal melingkar disana. Tampilan Bintang hari ini sungguh sangat imut dan cantik.
"Iya..." Jawab Bintang singkat lalu melewati meja Aurora yang duduk di deretan paling depan.
'Mengapa Dia bisa satu kelas denganku, si bodoh ini...' Ucap Aurora sambil mengingat-ingat jika di kehidupannya dulu, Bintang tidak pernah menginjakan kaki disekolah itu.
####
"Hei... Bukankah Kau anak pelayan yang tinggal dirumah Aurora?" Tanya teman Aurora yang bernama tag Gita,
"Oh iya... Aku ingat bukannya waktu itu, Dia pernah mengantarkan buku Aurora yang tertinggal dirumah," Ucap Tasya sambil menunjuk Bintang yang tampak tidak perduli pada mereka.
"Hei... Kau ini sombong seklai," Ucap Gita sambil menggebrak meja Bintang.
"Adik Bintang... Ayo ikut Kakak," Teriak Axel sambil melangkah memasuki kelas itu, dan melihat kerumunan dimeja Bintang.
"Ada apa ini?!" Tanya Axel dengan datar menatap tajam semua orang yang mengelilingi Bintang.
"Tidak ada Kak... Kita hanya mencoba berkenalan saja, iyakan Bintang," Sahut Aurora dengan cepat sambil menatap Bintang dengan sorot mata yang mengintimidasi.
"Sudahlah, ayo kita makan," Ucap Axel sambil menarik pelan tangan Bintang, dan Aurora menatap kepergian Bintang dengan sorot mata yang penuh kebencian.
"Heiii... Mengapa kalian ikut duduk disini?" Ucap Axel kesal saat melihat Han dan Narendra yang sudah duduk disana sambil tersenyum manis melambaikan tangannya pada Bintang.
"Sial... Kenapa juga dua cecunguk ini bisa ada disini, menganggu saja, tadi pagi aku harus rela membiarkan gadis kecil ku ini duduk dibelakang bersama kak Xavier, dan saat aku disekolah aku juga harus berbagi dengan mereka... Akh!!!" Monolog Axel dengan kesal
#####
"OOO... Jadi setelah Kau berhasil masuk kedalam sekolah ini, itu membuatmu semakin angkuh!" Ucap Kalla menghadang jalan Bintang.
"Minta maaf pada Aurora," Lanjutnya lagi.
"Minta maaf? Aku salah apa?" Tanya Bintang dengan tidak mengerti.
"Kau tidak menjawab sapaan Aurora, kau membuatnya malu dihadapan teman-temannya." Ucap Kalla sambil menunjuk wajah Bintang dengan emosi.
"Aku tidak bersalah, jadi mengapa aku harus meminta maaf?" Sahut Bintang datar sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Kau! Sudah berani membantahku!" Ucap Kalla lagi lalu dengan gerakan cepat Kalla melayangkan tangannya pada Bintang.
Tapi, sebelum tangannya menyentuh tubuh Bintang, tangan itu sudah ditahan diudara.
"Beraninya kalian menganggu Adik Perempuanku!" Ucap Axel yang tiba-tiba sudah berada koridor sekolah itu.
"Ini peringatan terakhir, jika dimasa depan jangan coba-coba mengusik Adik Perempuanku lagi, jika kau masih saja mengusiknya, maka akibatnya tidaklah seringan ini," Ucap Axel sambil menghempaskan tangan Kalla dengan kencang hingga membuat Kalla oleng dan menabrak tembok sekolah itu, lalu Axel pergi melenggang sambil menggandeng tangan Bintang dengan lembut, setelah memberikan tatapan membunuh pada Aurora dan Kalla.
'Sial... Akh... Gue pengin banget bunuh Lo jalang! Kalau Lo mampus maka semua perhatian ini hanya akan tertuju pada gue.' Batin Aurora dengan menatap penuh kebencian dan emosi pada punggung Bintang yang menghilang dibalik tembok.
*
*
*
Maaf reader yang budiman...🙏🙏🙏 Author baru bisa up... Kemarin rumah Author kebanjiran 😭 Terus anak pada sakit...
Jadi baru bisa nulis lagi... Dan terima kasih atas dukungannya..