NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Liam masuk dengan cepat namun tetap sopan.

“Tuan Lucane, para tuan muda sudah tiba… dan Nyonya Lexa juga sudah datang.”

Lucane langsung menutup kancing jasnya dan keluar dari kamar dengan langkah mantap.

Begitu pintu ruang tamu terbuka, aroma parfum lembut Nyonya Lexa sudah terasa.

Wanita tua itu berdiri tegak, rambut peraknya disanggul rapi, ditemani dua suster berpakaian hitam-putih.

Sosok elegan yang dihormati semua keluarga besar.

“Nana.” Lucane menghampiri dan mencium pipi wanita tua itu.

“Kenapa Nana datang terlalu cepat?”

Nyonya Lexa tersenyum lebar hangat, tapi dengan wibawa seorang matriark.

“Nana terlalu tidak sabar melihat kalian menikah, Nak.

Sudah terlalu lama Nana menunggu hari ini.”

Lucane mengangguk kecil, wajahnya tetap tenang seperti biasa.

“Baiklah. Nana istirahat dulu di kamar saya. Liam akan mengantar.”

“Terima kasih, Nak. Jangan lama-lama. Nana ingin melihatmu berjalan menuju altar.”

Wanita itu pun dibimbing Liam dan kedua susternya menuju lantai atas.

Begitu mereka menghilang di balik tangga, atmosfer berubah.

Saatnya menghadapi trio yang paling suka mengganggunya.

Saat Lucane masuk, ketiga sahabat sekaligus rekan bisnisnya Demien, Ethan, dan Marcus sudah duduk santai, lengkap dengan minuman hangat dan gaya sok penting mereka.

Ethan langsung bersiul panjang.

“WAH. Lihat siapa yang datang.

Tuan muda kita… luar biasa tampan hari ini,” godanya sambil mengangkat alis.

Marcus menambahkan sambil menepuk sofa di sebelahnya,

“Ini aura pengantin atau aura CEO yang mau mengeksekusi seseorang?”

Demien tertawa kecil. “Dua-duanya, sepertinya.”

Lucane hanya duduk dengan santai, menyilangkan kaki.

“Kalau kalian hanya datang untuk berisik, pintu di belakang masih bisa dibuka.”

“Tsk. Dingin sekali.” Ethan memutar mata.

“Kami cuma mau tahu… bagaimana perasaanmu, Tuan Lucane?”

“Tidak ada.” jawab Lucane ringan, seolah sedang membahas cuaca.

Marcus mencondongkan tubuh, ikut menggoda.

“Tidak ada? Perasaanmu hilang? Atau terlalu bahagia sampai otakmu mati rasa?”

Demien menyeringai lebar.

“Kami dengar kau melakukan pembersihan tadi malam… lalu sekarang menikah?

Sungguh kombinasi yang indah. Brutal malam hari, pengantin suci pagi hari.”

Ethan menepuk bahu Lucane.

“Bro… bahkan di hari pernikahan, kau tetap legenda.”

Lucane menatap mereka satu per satu dengan tatapan dingin, tapi bukan marah lebih seperti bosan dengan tingkah anak-anak ini.

“Sudah selesai?”

Nada suara datar, tapi membuat mereka bertiga langsung terdiam.

Lalu Demien tertawa.

“Kami cuma ingin memastikan kau masih hidup.”

Ethan mengangkat gelas.

“Dan memastikan kau tidak kabur sebelum Wanita mu datang.”

Marcus ikut mengangkat gelasnya.

“Untuk pengantin paling berbahaya di New York.”

Lucane menarik napas pelan.

“…Brengsek kalian.”

Ketiganya tertawa puas.

Di luar ruangan, pesta pernikahan megah sudah siap.

Di dalam ruangan, empat pria muda paling berpengaruh di kota itu sedang menunggu satu hal:

bagaimana reaksi Lucane saat melihat pengantin wanitanya yang terkenal barbar itu berjalan masuk.

* * * *

Hampir satu jam kemudian kamar hotel mewah itu dipenuhi aroma hairspray premium, kilau perhiasan, dan bisik-bisik penuh kekaguman.

Dan di tengah ruangan…

Jema berdiri dalam gaun putih model duyung, gaun yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Siluetnya ramping, elegan, dan kuat. Gaun itu dihiasi payet tipis yang memantulkan cahaya seperti serpihan bintang, melekat di setiap lekuk tubuhnya dengan presisi mematikan.

Rambut brownnya diatur bergelombang lembut ke belakang, lipstiknya merah gelap, dan eyeshadownya membuat tatapannya tajam dan glamor seperti wanita yang bisa menjatuhkan kerajaan hanya dengan sekali lirikan.

Para perias menatapnya tanpa berkedip.

“Ya Tuhan…”

“Nona cantik banget…”

“Sumpah, ini seperti aktris drama Korea tapi versi garang…”

Salah satu perias hampir menitikkan air mata.

“Nona Jema… Anda terlihat sempurna.”

Namun Jema hanya berdiri di depan cermin besar, memegang pinggang gaunnya.

Ekspresinya?

Asem. Sangat asem.

Seolah dia baru saja mendengar ada pajak baru untuk orang cantik.

“Hhh… cantik atau tidak, gaun ini ternyata ketat” gerutunya sambil mencoba menarik napas. “Apa dia sengaja ingin menyiksa ku”

Para perias langsung menahan tawa.

Seorang perias memberanikan diri berkata dengan ragu,

“Nona, ini memang model duyung…”

“Aku tahu. Aku tahu,” potong Jema, mengangkat tangan. “Tapi kalau aku pingsan di tengah jalan nanti, tolong pastikan aku jatuh dengan anggun. Jangan seperti karung beras.”

Yang lain terkikik pelan.

Jema memutar bola mata.

“Tertawa boleh. Tapi tolong ingat aku memang bisa marah, lho.”

Nada datar. Tapi bibirnya tersenyum tipis.

Lalu seorang perias membuka tirai besar, membiarkan cahaya matahari masuk.

Kilauan dari gaun Jema membuat seluruh ruangan seakan berpendar.

Seketika semua orang terdiam, terpukau.

Karena saat Jema berdiri di tengah cahaya itu…

Ia terlihat seperti versi paling mematikan dari seorang pengantin

cantik, elegan, kuat… dan sedikit mengancam.

Jema melihat dirinya di cermin dan menghela napas.

“…Aku beneran terlihat seperti mau menikah ya?”

Nada suaranya datar tapi ada sedikit rasa tidak percaya.

Salah satu perias langsung menjawab pelan,

“Menurut saya… Anda terlihat seperti seseorang yang akan mengguncang seluruh acara.”

Jema meliriknya datar.

Ada ketukan lembut di pintu. Semua orang menoleh.

“Ini Liam,” suara dari luar.

Para perias panik kecil segera merapikan lipstik, veil, dan sedikit detail kecil.

Pintu dibuka.

Liam berdiri di ambang pintu, awalnya dengan wajah profesional…

Tapi saat ia melihat Jema rahangnya langsung turun setengah senti.

Mata Liam melebar, jelas terpukau.

Namun sebelum ia sempat bicara, Jema mendahului, dengan ekspresi super asem.

“Jangan bilang apa-apa. Aku tahu aku kelihatan bagus. Tapi aku juga hampir tidak bisa napas.”

Liam menutup mulutnya cepat-cepat, lalu berseru pelan,

“T—Tuan Lucane meminta saya memanggil Anda. Katanya… kalau Anda siap, silahkan keluar acara akan segera di mulai”

Jema mengangkat alis.

“Bagus. semakin cepat semakin baik”

Ia melangkah pelan, karena gaunnya ketat.

Dua perias langsung membantu memegang bagian belakang.

“Hati-hati, nona…”

Jema mendesah pasrah.

Semua orang tertawa kecil lagi.

Namun ketika Jema sampai di depan pintu, ia berhenti sejenak.

Tatapannya kembali menatap refleksi dirinya pada kaca di samping wajah elegan dengan aura kuat yang bahkan gaun pernikahan pun tak bisa mencairkan sepenuhnya.

Ia menarik napas panjang.

“…Oke. Ayo mulai drama besar hari ini.”

Liam membuka pintu untuknya.

Jema melangkah keluar cantik, anggun dan misterius.

* * * *

Aula hotel mewah itu dipenuhi cahaya keemasan dari ratusan lilin kristal.

Orkestra bermain lembut, menciptakan suasana sakral.

Para tamu berdiri ketika pintu besar dibuka perlahan.

Dan di sanalah Jema berdiri.

Gaun putih berbentuk duyung membungkus tubuhnya dengan sempurna, rambut disanggul elegan, wajah cantiknya bersinar…

walau kedua alisnya sedikit naik karena tidak nyaman dengan situasi ini. tapi Jema tetap berusaha untuk terlihat senormal mungkin.

Semua tamu terpaku.

Bahkan para tuan muda Demien, Marcus, Ethan saling melirik dengan terkejut.

“…Astaga.” gumam Ethan.

“Ini… wanita tidak beruntung itu?”

Demien menepuk bahunya. “Aku sungguh tidak menyangka Nyonya muda Alexander sangat cantik.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!