NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulah Pak Kades

“Ada apa, Pah?” tanya Reynan. Di mana sang Papa saat ini tengah menelponnya.

“Pulang!” titahnya dengan suara tegas. Jika sang Papa sudah seperti ini, sudah pasti ada sesuatu.

“Pulang?” tanya Reynan.

“Iya. Pulang Sekarang!”

“Ya gak bisa lah, Pah. Besok aku mau nyelesain masalah di pabrik. Bukannya Papa mau cepat selesai?” tanya Reynan.

“Pulang saat ini juga …” Reza bicara dengan penuh penekanan.

“Iya … Rey pulang. Tapi jelasin dulu, ada apa?” tanya Reynan lagi.

“Apa yang kau sembunyikan dari orang tuamu ini, hah?” tanyanya dengan berang.

“Sembunyikan?” Reynan mengulangnya.

“Iya. Jangan kira Papa gak tau. Cepat pulang sekarang dan selesaikan di rumah,” ucapnya. “Jangan lupa, bawa wanita kau itu,” sambungnya. Telepon pun langsung di matikan oleh Reza.

Seketika Reynan mematung sebentar. ‘Wanita kau’ apa Papa udah tau? Pikir Reynan.

Reynan mengusap wajahnya dengan kasar. Nampak pula wajahnya yang kusut.

Setelah itu, ia pun masuk ke kamar.

Dari suara, panggilan sang Papa padanya. Sudah pasti, sang Papa benar-benar marah padanya.

“Za, ayo ikut,” ucapnya pada Zara.

“Ikut kemana?” tanya Zara, saat ini dirinya ingin berganti pakaian.

“Pulang, ke rumah,” jawabnya.

“Rumah? Rumah siapa?” Zara kembali bertanya.

“Kedua orang tua saya,” kata Reynan.

Zara mengerutkan dahinya. “Tunggu … maksudnya?” tanya Zara.

Helaan napas keluar dari mulut Reynan. “Kayaknya Papa saya sudah tau sama pernikahan ini,” ucap Reynan.

“Lalu?” tanya Zara. “Ah ya … bahaya ini,” lanjutnya. “Kamu sih, nikah diam-diam,” sambungnya.

“Ya … udah. Udah terlanjur juga,” jawab Reynan.

“Terus gimana ini?” tanya Zara.

“Ya … kita hadapi sama-sama.”

“Hadapi sama-sama. Kamu aja kali, saya sih ogah,” kata Zara.

“Ya gak bisa gitu. Kita harus kompak,” ucap Reynan.

“Lagian, siapa sih yang bilang ke orang tua kamu. Bikin repot aja,” tanya Zara.

Karena pada dasarnya, Reynan akan bicara pelan-pelan tentang Zara ke keluarganya. Tentang penolakan perjodohan bisnis juga. Namun jika sudah seperti ini? Ya … gimana lagi. Selain menghadapnya dan menjelaskan yang sebenarnya.

“Ya sudah ayo. Gak perlu ganti baju, kita udah di tunggu,” kata Reynan.

Baju yang sudah Zara ambil, ia letakkan kembali.

Dengan bibir manyunnya, Zara kembali mengambil tas. Lalu mereka pun pergi.

“Jangan lupa, kabarin Ayah sama Ibu. Takutnya mereka pulang dan tidak menemukan kami di rumah. Apalagi nanti malam ada tahlilan lagi,” kata Reynan.

Lekas Zara mengambil ponsel, lalu ia pun mengetikkan pesan pada sang Ibu. Jika dirinya ikut Reynan pulang ke Jakarta, karena ada urgen.

Tidak berselang lama, pesan pun di balas oleh sang Ibu.

(Iya. Hati-hati. Pulang atau menginap?) tanya Lia.

“Kita pulang atau menginap?” tanya Zara pada Reynan.

“Kita lihat saja nanti. Kalo bisa sih pulang, soalnya masih ada kerjaan di pabrik,” jawab Reynan.

Zara menganggukan kepalanya. Setelah itu, ia membalas pesan sang Ibu. Jika dirinya belum tau, antara menginap atau pulang.

***

Kurang dari satu jam, mobil Reynan terparkir di rumah mewah dan besar.

“I-ini rumah—”

“Ya, ini rumah orang tua saya,” potong Reynan.

Zara berdecak kesal, ucapannya dipotong Reynan. Sedangkan Reynan nyengir kuda.

“Ayo masuk,” ajaknya.

Zara terdiam. Ada rasa takut, khawatir, minder.

“Ayo masuk, jangan takut. Kita hadapi bersama,” kata Reynan, seraya merangkul bahu Zara.

Akhirnya mereka pun melangkahkan kaki, untuk masuk ke dalam rumah.

“P—”

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Reynan.

Reynan yang akan menyapa sang Papa pun, tidak jadi.

Karena tangan sang Papa yang lebih dulu menyapa pipinya.

Pandangan Reza beralih pada Zara. Ia menatapnya dengan tajam, lalu Reza pun melihat Zara dari atas sampai bawah.

“Ini wanita yang kau nikahi diam-diam, Rey? Apa kau sudah menyentuhnya dan wanita ini sedang berbadan dua?” tanyanya langsung.

Sontak Zara membulatkan matanya.

Sedangkan Reynan, ia langsung menggelengkan kepalanya.

“En—”

“Bicara di ruang tengah.” Potong Reza, ia pun langsung pergi meninggalkan Reynan dan Zara.

Zara menoleh pada Reynan, yang masih memegangi pipinya.

Ya mungkin terasa sakit, panas, kebas. Mengingat tamparan dari Reza cukup keras.

“Ayo,” ajak Reynan pada Zara.

Keduanya melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Disana sudah ada sang Mama dan adik lelaki Reynan.

Reza pun sudah duduk, dengan pandangan mata lurus ke depan, wajahnya masih terlihat mengeras.

“Cepat duduk!” kata Reza.

Dengan takut-takut, Zara pun duduk di samping Reynan.

“Ceritakan!” titahnya lagi.

“Tunggu dulu, Pah. Ini Papa dapat berita ini dari mana?” tanya Reynan.

Reza tersenyum menyeringai. “Kau kira, Papa kau ini bodoh?” tanyanya.

Reynan terdiam sebentar. Lalu—

“Dari Pak Kades?” tanya Reynan.

Seketika Reza tertawa. Ya … anaknya ini cukup pintar dan bisa menebak sesuatu yang bisa jadi tersangka.

Sama seperti dirinya. Maka dari itu, Reza cukup mempercayai apapun pada Reynan.

Contohnya masalah di pabrik, meski ini bukan pekerjaan utama Reynan.

“Kenapa kau bisa menikahi wanita itu. Kau kan tau, perjodohan kau dengan Keysa?” tanya Reza.

Helaan napas keluar dari mulut Reynan. “Papa tau gimana anakmu ini ‘kan? Rey udah memberikan tanda, jika Rey menolak perjodohan itu. Rey gak mau diajak makan malam dengan mereka, Rey gak mau diajak bertemu keluarga itu. Rey pun tau, Papa udah ngerti. Tapi … karena Papa terus menghiraukan kode itu, maka … maaf, Rey mengambil jalan lain.” Rey bicara panjang lebar.

“Alasan gak mau dijodohkan apa? Alasan kau menikahi wanita yang gak tau asal usulnya ini apa?” tanya Reza.

“Maaf, Pak. Maaf … rasanya kurang enak didengar, dengan perkataan Bapak barusan.” Zara bicara.

“Perkenalkan, nama saya Qistina Zara. Saya anak tunggal dari orang tua bernama Budi dan Lia. Pendidikan terakhir saya adalah S1 di jurusan Ekonomi. Saat ini saya bekerja di salah satu bank ternama di Indonesia. Maaf jika ucapan saya tidak sopan, tapi saya perlu memberitahu Bapak, jika orang tua saya adalah salah satu pemilik sawah terluas di kota Tangerang dan asal Bapak tau, keluarga saya adalah pemasok padi terbesar ke pabrik Bapak. Jadi … saya adalah wanita yang jelas asal usulnya dan saya pula wanita mandiri, yang tidak memanfaatkan kekayaan orang tua. Bisa saja, saya berleha-leha, menikmati uang orang tua saya. Tapi … saya memilih menjadi wanita yang berdiri di kaki sendiri. Mengingat jika semua apa yang ada di muka bumi ini adalah titipan,” sambungnya.

Seketika di ruangan itu terdiam.

Reza tampak terperangah dengan penuturan Zara.

Sedangkan dengan Reynan, ia merasa bangga dengan apa yang dikata Zara.

Reza mengangguk-anggukan kepalanya. “Tapi sekarang kau tau, siapa lelaki yang kau nikahi ini. Jadi … bisa saja nanti kau berpikir untuk menghabiskan hartanya,” kata Reza.

Zara tersenyum getir. “Jika pun saya menghabiskan hartanya, apa Bapak keberatan? Saya istrinya. Saya berhak atas rezekinya,” jawab Zara.

Reza kembali tersenyum menyeringai. “Jika saya tetap akan menikahkan dia dengan wanita pilihan saya, apa yang akan kau lakukan?” tanya Reza lagi.

“Silahkan saja, jika anak Bapak mau.”

“Pah …” kata Reynan.

“Apa? Tidak bisa, kau angkat tangan begitu saja. Perjodohan ini akan tetap terjadi,” ucap Reza.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!