Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Kecil
Dua hari berlalu sejak kejadian di Mansion Utama. Zafira tetap waspada, menyadari bahwa Raisa mungkin hanya menunggu waktu untuk melancarkan rencananya lagi. Sementara itu, Atharv duduk di ruang kerjanya sendiri, menatap ke luar jendela mansion.
Pikirannya kacau, tapi satu hal jelas di benaknya: ia harus menemukan cara untuk mendekati Zafira, meski hati Zafira penuh ketakutan dan ketegangan.
“Aku harus mulai perlahan,” gumam Atharv pelan pada dirinya sendiri. “Tidak bisa langsung memaksa, tapi juga tidak bisa terlalu jauh.”
Ia menghela napas panjang, tangannya menekuk di atas meja.
“Zafira dia berbeda. Tidak seperti orang lain yang bisa aku kendalikan atau yang mudah kubuat patuh. Aku harus bersabar. Aku harus membuatnya percaya.”
Pikirannya melompat ke dua hari terakhir.
Perhatian kecil yang ia tunjukkan memanggil Sari untuk menyiapkan makan, memastikan Zafira makan, pesan singkat di ponsel semua itu hanya permulaan. Tapi ia tahu, bagi Zafira, itu mungkin terasa kosong, sesaat, dan tidak cukup.
“Aku harus lebih nyata,” lanjut Atharv. “Perhatian sesaat tidak akan mengubah apa pun. Aku harus membuatnya merasa aman. Kalau tidak, ia akan terus menutup diri.”
Ia menunduk, menatap tangannya sendiri.
“Aku tahu ia masih menyimpan rasa takut. Dari awal, pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena fitnah. Dan itu membuat segalanya lebih sulit. Aku harus memecah tembok itu, tapi bagaimana caranya?”
Atharv menghela napas lagi. Ia berpikir tentang langkah-langkah kecil: berbicara lebih hangat, memberi perhatian yang tulus, dan mungkin, sedikit candaan untuk mencairkan suasana. Tapi hatinya menahan diri, takut salah langkah dan malah membuat Zafira menjauh.
“Kalau aku bisa membuatnya merasa aman sedikit demi sedikit, mungkin ia akan mulai percaya,” gumamnya. “Dan kalau itu terjadi,mungkin hubungan ini bisa benar-benar dimulai, bukan hanya karena fitnah.”
Atharv menatap keluar jendela kembali. Lampu taman mulai menyala, bayangan Zafira yang duduk sendiri di Mansion Kedua terbayang di pikirannya. Ia ingin mendekat, ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan Zafira, bukan hanya sebagai suami yang hadir karena paksaan.
“Mulai besok, aku akan mencoba sesuatu,” katanya pelan, penuh tekad. “Sedikit demi sedikit, aku akan mendekatinya. Tanpa terburu-buru, tanpa memaksakan. Aku akan membuatnya melihatku berbeda.”
Di sisi lain mansion, Zafira duduk di kamar dekat jendela, menatap halaman belakang, tanpa menyadari bahwa langkah-langkah Atharv untuk mendekat sebenarnya sudah mulai direncanakan.
Dalam diamnya, malam itu terasa sepi, tapi perlahan, ada kesadaran bahwa ada sesuatu yang berubah bahwa perhatian kecil, meski belum terasa, mungkin akan menjadi awal.
Keesokan harinya, suasana di ruang makan terasa lebih hangat dibandingkan biasanya. Sinar matahari menembus jendela besar, membuat meja kayu berkilau lembut. Zafira duduk dengan hati-hati, menatap Atharv yang duduk di seberangnya.
“Arthav, aku merasa aneh dengan sikapmu hari ini. Ada apa denganmu?” tanya Zafira, suaranya pelan tapi jelas, penuh rasa penasaran dan sedikit waspada.
Atharv menatapnya sejenak, lalu menghela napas ringan.
“Tidak ada yang aneh, hanya aku pikir aku harus mulai berubah. Mulai dari hari ini.”
Zafira mengangkat alisnya, matanya menyipit penuh tanda tanya.
“Mulai berubah? Maksudmu bagaimana?”
Atharv menunduk sebentar, lalu menatap Zafira langsung.
“Aku ingin, sedikit lebih dekat denganmu. Tanpa terburu-buru, tanpa memaksa. Hanya menunjukkan bahwa aku peduli.”
Zafira terdiam sejenak, dadanya berdebar. Perhatiannya terhadapnya terasa berbeda, namun ia tidak ingin terlalu berharap.
“Aku menghargai niatmu,” jawabnya pelan, menahan rasa aneh yang memenuhi hatinya.
Atharv tersenyum tipis, lalu melanjutkan,
“Aku akan mencoba hal-hal kecil. Sesuatu yang mungkin bisa membuatmu merasa nyaman. Kau tidak perlu menjawab atau melakukan apa pun, cukup terima itu.”
Zafira menunduk sebentar, menatap piring di depannya.
“Baiklah, tapi jangan membuatku berharap terlalu banyak, Arthav. Aku sudah terbiasa tidak berharap.”
Atharv mengangguk pelan, penuh pengertian.
“Aku tahu, tapi aku ingin mencoba. Hanya itu.”
Keheningan kecil tercipta, hanya suara sendok yang bersentuhan dengan piring terdengar.
Meski sederhana, momen itu terasa berbeda bagi Zafira sedikit hangat, sedikit aman. Sebuah awal yang kecil, namun penting, dari langkah Arthav untuk mendekat dan membangun kepercayaan perlahan.
Setelah beberapa menit, Zafira menuntaskan sarapannya. Ia menatap piringnya sebentar, lalu menyingkirkan sendok dan garpunya.
“Aku sudah selesai dengan sarapanku,” ucapnya pelan, sambil mulai berdiri. Matanya menatap Atharv lurus, tegas namun tenang.
“Atharv, aku menghargai semua yang kamu lakukan,” lanjutnya, suaranya tetap datar tapi terdengar mantap. “Tapi ingat, apapun itu, tidak pernah mengubah perasaanku sedikit pun. Aku tidak mau terlalu berharap, karena aku tidak ingin sakit lagi.”
Atharv menunduk sejenak, menelan ludah, lalu menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak.
“Aku tahu, aku hanya ingin perlahan. Tidak memaksamu, hanya mendekat sedikit demi sedikit.”
Zafira mengangguk tipis.
“Baiklah, tapi aku ingin semuanya jelas. Jangan buatku tergantung pada perhatian sesaat. Aku tidak ingin kecewa lagi.”
Atharv menghela napas panjang, lalu berdiri.
“Aku mengerti. Aku akan bersabar. Dan aku akan membuktikan itu, tanpa memaksamu.”
Zafira menatapnya sebentar, kemudian memalingkan wajahnya, menahan perasaan aneh yang muncul di dadanya. Meski hatinya masih waspada, sedikit rasa lega terasa bahwa untuk pertama kalinya, ada niat tulus dari Atharv untuk mendekatinya tanpa tekanan.
Momen itu sunyi, tapi penuh arti. Sebuah langkah kecil yang menjadi awal dari proses perlahan mereka membangun kepercayaan satu sama lain.