Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 16_Celah di Balik Tirai
Anya merasa lemas, berdebat dengan Marco seperti berdebat dengan dinding batu, tidak ada celah untuk negosiasi.
"Aku benci kamu, Marco," bisik Anya dengan air mata yang mulai mengalir.
Hening sejenak, kata-kata itu seolah menusuk jantung Marco, namun dia tidak menunjukkannya.
Sebaliknya dia justru menarik Anya ke dalam pelukannya, sia memeluk Anya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di leher Anya.
"Bencilah aku sesukamu Anya," gumam Marco di telinganya.
"Selama kamu tetap di sini, di bawah pengawasanku, di dalam jangkauanku... benci itu tidak masalah bagiku. Karena aku tahu, pada akhirnya kamu akan sadar bahwa hanya aku yang bisa mencintaimu sampai segila ini."
Anya meronta di pelukan Marco, tapi tenaganya tidak sebanding.
Dia merasa terjebak dalam cinta yang salah, sebuah obsesi yang dikemas dalam bentuk perlindungan.
"Dengarkan aku," kata Marco sambil melepaskan pelukannya namun tetap memegang wajah Anya.
"Karena kamu merasa bosan, aku sudah menyiapkan sesuatu, malam ini seorang perancang busana terkenal akan datang ke sini. Dia akan membawakan koleksi terbaru, pilih apa pun yang kamu suka dan besok guru privatmu akan mulai datang, kamu akan mulai belajar bisnis dan manajemen. Aku ingin kamu pintar Anya, aku ingin kamu bisa mendampingiku mengelola organisasi ini suatu saat nanti."
Anya terbelalak. "Aku tidak mau jadi bagian dari duniaku yang kotor ini, Marco!"
"kamu sudah menjadi bagian darinya sejak kamu menyentuh lukaku malam itu," jawab Marco dingin.
"Sekarang kembali ke kamarmu, jangan mencoba membuat keributan dengan penjaga lagi karena itu hanya akan membuat mereka bersikap lebih keras padamu, dan aku tidak ingin melihatmu terluka."
Anya berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu, dia kembali ke kamarnya, membanting pintu, dan menguncinya.
Dia melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, menangis sejadi-jadinya.
Dia menyadari satu hal yang sangat pahit yaitu Marco tidak berencana menjadikannya istri atau kekasih dalam arti yang normal.
Marco sedang membentuknya menjadi "ratu" di kerajaannya yaitu seorang ratu yang tidak punya pilihan selain patuh pada sang raja.
Di ruang kerjanya Marco kembali duduk di kursinya, dia menatap layar monitor yang menampilkan Anya sedang menangis di tempat tidur, tangannya gemetar saat ia menyalakan sebatang rokok.
"Maafkan aku, Anya," gumamnya pada layar.
"Tapi aku lebih suka kamu membenciku seumur hidup di dalam sini, daripada aku harus melihat mayatmu di luar sana."
Obsesi Marco kini telah mencapai level di mana dia lebih mementingkan keberadaan fisik Anya daripada kesehatan mental gadis itu.
Baginya, memiliki raga Anya adalah segalanya dan dia akan melakukan apa pun, memberikan kemewahan apa pun, untuk memastikan raga itu tetap berada di dalam sangkar emasnya.
Malam itu, perancang busana datang membawa gaun-gaun yang harganya bisa membangun sepuluh sekolah di desa Anya.
Anya memilih beberapa secara asal, tanpa minat, baginya gaun-gaun itu hanyalah seragam penjara yang lebih cantik.
Saat malam semakin larut, Anya berdiri di balkon apartemen yang dipagari kaca setinggi tiga meter.
Dia menatap bintang-bintang yang kalah terang oleh lampu kota, dia merasa seperti bintang itu terperangkap di tengah kemegahan namun tetap terasa sangat sendirian.
Dia tidak tahu bahwa di sudut lain kota, Antonio sedang mengamati gedung apartemen itu melalui satelit.
"Dia ada di atas sana," ucap Antonio pada anak buahnya.
"Marco pikir dia aman di awan. Dia lupa bahwa awan bisa runtuh oleh petir."
Hari-hari berikutnya di apartemen penthouse itu berjalan dengan ritme yang mekanis.
Anya merasa seperti robot yang diprogram untuk bangun, makan, belajar, dan tidur.
Kehadiran guru-guru privat yang didatangkan Marco memang memberi sedikit warna pada pikirannya yang mulai tumpul, namun ia tetap merasa ada beban yang tidak terlihat di lehernya.
Setiap pagi, seorang wanita bernama Sarah, seorang ahli manajemen bisnis yang sangat formal, datang untuk mengajarinya.
Sarah adalah tipe orang yang tidak pernah tersenyum, namun matanya memancarkan kecerdasan yang luar biasa.
Baginya, Anya hanyalah sebuah proyek yang diperintahkan oleh "Tuan Besar" untuk dibentuk menjadi sosok yang kompeten.
Namun, di sore hari, guru yang berbeda datang, namanya adalah Pak Baskoro, seorang pria tua yang mengajarinya tentang sejarah dan literatur.
Pak Baskoro adalah satu-satunya orang di apartemen itu yang terlihat memiliki sisa-sisa kemanusiaan di matanya.
Dia tidak menatap Anya dengan ketakutan atau rasa hormat yang berlebihan seperti staf lainnya.
Anya melihat ini sebagai satu-satunya peluangnya.
"Pak Baskoro," bisik Anya suatu sore, ketika mereka sedang berada di perpustakaan kecil di sudut apartemen.
Suara musik klasik yang sengaja diputar Marco untuk "menenangkan" suasana mengalun pelan, namun Anya tahu mikrofon bisa ada di mana saja.
Pak Baskoro mendongak dari buku puisinya. "Iya, Nak Anya? Ada yang kurang jelas dari analisis sajak tadi?"
Anya mendekat, pura-pura menunjuk sebuah baris dalam buku.
"Aku... aku butuh bantuan. Tolong. Bisakah Bapak mengirimkan pesan singkat untuk temanku di kedai kopi dulu? Hanya untuk memberi tahu kalau aku baik-baik saja."
Wajah Pak Baskoro berubah pucat. Dia melirik ke arah kamera CCTV yang terpasang di sudut langit-langit.
"Nak, saya di sini hanya untuk mengajar. Tuan Marco... beliau sangat teliti."
"Tolong, Pak," isak Anya tanpa air mata, suaranya sangat rendah.
"Aku merasa seperti sudah mati di sini. Aku hanya ingin seseorang di luar sana tahu kalau aku masih bernapas. Tolong, aku mohon."
Anya menyelipkan secarik kertas kecil yang sudah ia tulis semalam ke bawah buku Pak Baskoro.
Kertas itu berisi nomor telepon temannya, Maya, dan pesan singkat yaitu "Aku aman, jangan lapor polisi. Doakan aku."
Pak Baskoro ragu sejenak, tangannya gemetar namun melihat wajah Anya yang begitu putus asa, hati nuraninya sebagai seorang ayah tersentuh.
Dia perlahan menggeser kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.
"Kita lanjut ke bab berikutnya, Nak," ucap Pak Baskoro dengan suara yang sedikit bergetar.
Anya merasa jantungnya hampir meledak karena lega, untuk pertama kalinya dalam seminggu, ada secercah harapan.
Dia tidak bermaksud kabur lewat Maya dia tahu itu mustahil tapi dia hanya ingin merasa bahwa dia masih memiliki koneksi dengan dunia yang nyata.
Malam harinya, Marco pulang lebih awal, dia terlihat lelah, namun matanya tetap tajam seperti elang.
Dia masuk ke kamar Anya saat gadis itu sedang duduk di balkon kaca, menatap langit malam yang mendung.
"Bagaimana pelajaranmu hari ini, Anya?" tanya Marco sambil melepas jam tangan mahalnya dan meletakkannya di atas meja rias.
Anya tersentak, mencoba bersikap senormal mungkin. "Baik pak Baskoro mengajariku tentang sastra lama, ternyata sangat menarik."
Marco berjalan mendekat, berdiri di belakang Anya dia meletakkan tangannya di bahu Anya, sebuah gerakan yang sekarang selalu membuat Anya merasa waspada.
"Bagus, aku ingin kamu punya pengetahuan luas. Dunia ini bukan hanya tentang senjata dan uang, tapi juga tentang bagaimana kamu memandang orang lain dari posisi yang lebih tinggi."
Anya memaksakan sebuah senyum. "Terima kasih, Marco."
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪