NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Sabtu edisi healing

Sabtu pagi telah tiba. Sesuai kesepakatan di grup WA ’RT3 Tulip Squad’ hari ini merupakan hari H untuk merealisasikan rencana healing bersama yang sudah direncanakan sejak lima hari yang lalu.

Dari banyaknya yang ikut berencana hari itu di rumah Gita, pada akhirnya yang fix pergi hanya tiga keluarga saja, bersama dengan Nana yang tentu tak mau ketinggalan karena Anin sepakat pergi. Sementara yang lain batal pergi karena ada yang terkendala berbagai macam hal.

Mobil putih Harsa dengan mobil keluarga Gita, serta mobil dari Laksmi sudha terparkir. Mereka siap untuk berangkat ke Bogor.

Harsa dengan outfit santai-casualnya baru saja selesai memasukkan barang ke bagasi saat sosok Nana dengan bantal yang terkalung di lehernya datang sambil menenteng duffle bag beserta satu tas ransel yang tersampir di punggung kirinya.

Harsa menoleh hanya dengan tersenyum simpul dan kaku layaknya kanebo kering. Siapa saja sudah tahu perihal perangai laki-laki satu anak itu.

“Anin masih di dalam?” tanya Nana yang sama sekali tak canggung karena sudah terbiasa dengan Harsa yang seperti itu.

Harsa mengangguk singkat, wajahnya datar sekali. Jika orang tak kenal mungkin ia sudah dicap sombong.

“Izin masuk ya,” celetuk Nana santai dan langsung masuk begitu saja sebelum Harsa benar-benar menjawab.

“Iya, masuk aja.” Suara Harsa baru terdengar sesaat setelah mengangguk, sedangkan Nana sudah menghilang di balik pintu untuk menyamperi Anin.

Sementara Harsa, ia langsung bergabung dengan kedua bapak-bapak, suami dari Gita dan Laksmi yang tampak sibuk mengobrol.

Meski tak terlalu pandai berbasa-basi tapi harsa jelas harus bergabung, ia tak pernah menghindar jika ada perkumpulan meski hanya bicara sepatah, dua patah kata.

“Eh, mas Harsa,“ sapa suami Gita yang disusul dengan senyuman ramah suami Laksmi.

“Berangkat jam berapa nih jadinya?” Harsa bertanya membuka obrolan, mencoba basa-basi yang terasa sangat garing. Ya, demi untuk mencairkan susana, ia memang harus berusaha begini.

Yang mana pertanyaannya itu berhasil mengundang decak sekaligus tawa meringis dari dua bapak-bapak di depannya. Sepertinya jokes tipis Harsa tersampaikan dengan baik dan ditangkap oleh keduanya.

“Kalau sama mamanya anak-anak tuh gak usah ditanya Mas Harsa, udah pasti kita dibuat kering menunggu.” Suami Gita menjawab sambil tertawa.

“Iya nih, ini aja udah ngaret banget. Dari yang katanya harus berangkat jam tujuh tapi malah molor gini.” Suami Laksmi ikut berceletuk.

Pertanyaan Harsa memang sangat tepat dengan situasi. Membuat mereka sebagai laki-laki heran, entah apa yang dipersiapkan wanita sampai harus selama ini, padahal sejak malam bahkan mereka sudah menyiapkan segala. Tetapi begitu pagi tiba, tetap masih saja ada yang membuat terlambat.

Ketiganya tampak asyik dan menyatu dalam pembahasan saat para istri masih sibuk sendiri. Ada Laksmi yang sebenarnya sudah siap tapi harus menunggu Gita siap touch up.

Sementara di rumah Anin, ada Anin yang harus menunggu Mpasi Zura agat dingin dulu baru bisa dikemas. Punya bayi memang membuat Anin harus ekstra mempersiapkan segala sesuatunya.

“Anin, Zura!”

Suara yang memanggil dengan nada ceria itu membuat Anin yang tengah medinginkan makanan Zura dengan kipas angin mini itu lantas menoleh bersamaan dengan si bayi.

“Eh, onty Na,” panggil Anin dengan gerakan tangan melambai memanggil Nana yang makin mendekat. Tak ketinggalan ekspresi riang Zura yang begitu senang melihat Nana, merasa sudah sangat bestie dengan gadis depan rumahnya itu.

“Kamu lagi apa?” tanya Nana yang sudah berdiri di sisi Anin sambil mencubit gemas pipi bulat Zura.

“Ini, lagi dinginin makanan Zura.”

Nana manggut-manggut mengerti. “Eh, gue ikut di mobil lo, ya,” lanjutnya menyampaikan hal yang sudah berulang kali mereka bahas dichat sejak semalam. Karena hanya Nana sendiri yang belum berkeluarga dan ia lebih dekat dengan Anin yang seumuran, jadilah gadis itu memilih untuk ikut bersama Anin sekeluarga.

“Aman, udah berapa kali juga kan aku bilang iya.”

“Mas Harsa gak masalah, kan?”

Anin berdecak sambil memutar mata malas. “Ya, nggaklah. Kayak gak tahu suamiku aja kamu tuh, dia gitu-gitu juga gak neko-neko orangnya.” Anin memperjelas.

“Ya, kali aja kan kalian pengen berduaan tapi malah aku gangguin.” Nana mengedipkan mata menggoda Anin. Sebenarnya dia hanya berbasa-basi saja, ia pun tahu Harsa tak mungkin sejahat itu sampai melarangnya ikut nebeng di mobil mereka.

“Nana, Anin, ayo! Udah siap belum?” teriakan dari mbak Gita membuat Anin dan Nana buru-buru bergegas ke luar.

“Dahlah, gini aja. Udah lumayan dingin juga,” celetuk Anin sambil buru-buru menutup kotak MPASI Zura lalu memasukkannya ke dalam tas bekal.

Mereka pun bergegas ke luar rumah. Dengan Harsa yang sigap meraih tas bekal Zura dan menutup gerbang rumah mereka begitu Anin dan Nana ke luar. Gita sekeluarga bersama Laksmi masing-masing sudah berdiri di depan mobil, bersiap untuk masuk.

Setelahnya ketiga mobil itu pun mulai melaju dengan di pimpin oleh mobil keluarga Gita.

“Aku gak ganggu kan, Mas Harsa?” tanya Nana membuka obrolan saat kendaraan mereka sudah keluar dari komplek perumahan.

“Ganggu, Na. Orang mau berduaan juga malah ada orang ketiga.”

Mendengar celetukan Harsa lantas membuat Nana melongo tak percaya, ia terkekeh karena merasa lucu dengan respon Harsa yang memang agak kadang-kadang.

Sementara Anin, ia pun ikut tak bisa berkata-kata mendengar perkataan suaminya yang mana langsung membuatnya memukul pelan lengan suaminya itu. Anin tahu Harsa hanya bercanda, ia hanya merasa lucu saja karena celetukan suaminya terdengar agak anti-mainstream. Jika orang tak kenal, mungkin akan tersinggung dengan candaan Harsa itu.

“Jahat banget, ih,” Nana membalas dengan ekspresi sedih dibuat-buat. “Emang gak bosen apa berduaan mulu? Ya, kan Zura?”

“Berduaan gimana, akhi-akhir ini tuh dia sibuk banget.” Kali ini Anin yang menyahut. Jika diingat, beberapa hari ini waktu berduaan mereka memang terhitung sangat kurang karena Harsa selalu pulang larut.

“Pantes aja Mas Harsa merasa terganggu. Kayaknya aku emang harus naik grab aja deh biar gak ganggu siapa-siapa.”

Anin tertawa miris, prihatin melihat kesadaran diri tetangganya yang sangat tinggi. Sementara Harsa, pria itu hanya tertawa simpul dengan tatapan yang tetap fokus memperhatikan jalan dan lalu lintas pagi ini.

“Ini tujuannya ke mana sih sebenernya?” tanya Harsa serius. Anin belum memberitahu tujuan healing mereka, ia hanya menyetir mengikuti ke mana dua mobil di depan memberi arah.

“Itu loh mas, yang ada resort ala Mongolian Camp tempat kita nginap pas Kejari adain family gathering waktu itu,” ujar Anin mengingat bahwa tujuan kali ini adalah tempat yang pernah mereka tuju saat ia masih mengandung Zura waktu itu.

Harsa menggangguk mengerti, ia ingat apa yang istrinya maksud. “Oh, ke Highland park–Tamansari,” ujarnya memastikan. Ia ingat saat itu Kejari memang mengadakan family gathering yang mengharuskan membawa anak dan pasangan untuk mempererat hubungan antar staf dan saat itu Anin tengah hamil enam bulan. Harsa tersenyum mengingat hari itu, ia lalu menoleh menatap Anin sekilas dengan tatapan berbinar lalu tertuju pada Zura yang tengah di-asihi Anin. Tangan Harsa terulur meraih jari kecil yang menggenggam erat baju Mamanya.

Di belakang Nana tampak sibuk bermain ponsel sambil ngemil snack, tak lupa ia tawari pada pasutri di depan dengan membukakan satu bungkus yang ia taruh diantara kursi emreka.

Kini mereka telah memasuki tol. Perjalanan semakin terasa nikmat apalagi saat Harsa menyalakan musik yang siap menyertai perjalanan mereka.

.

.

Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam akhirnya mereka semua sampai saat hampir jam 10. Pemandangan indah gunung Salak dari kejauhan menjadi view yang sangat menyejukkan mata. Udara segar dengan pemandangan yang indah benar-benar membuat siapapun langsung betah dengan suasana alam yang seperti sentuhan surga.

Anin, Nana nampak menghirup dalam-dalam aroma alam begitu turun dari mobil.

“Gila, keren banget tempatnya. Emang gak salah mbak Gita milih tempat healing.”

“Iya, kan? Mana di sini tuh banyak banget fasilitas yang bisa dinikmatin. Pokoknya bakal betah.” Anin ikut berceletuk. Dari arah belakang, nampak Gita dan Laksmi bersama anak masing-masing melangkah menghampiri mereka.

“Lu udah berapa kali ke sini?” tanya Nana yang tadi mendengar obrolannya. Gadis itu sangat takjub dengan pemandangan yang ada.

“Baru dua kali sama ini. Waktu itu juga pergi karena acara kantor mas Harsa.”

“Gimana? Bagus gak pilihan aku?” tanya Gita berbangga diri. Ia pun sudah yang ketiga kalinya ke sini dan sangat suka dengan semua fasilitas dan pemandangan yang sangat memanjakan.

Nana, Laksmi dan Anin manggut-manggut.

“Mbak Gita kayak udah sering ke sini nih pasti?” tebak Nana.

“Iya, udah tiga kali. Pokoknya suka banget di sini tuh, adem, sejuk, cocok buat anak-anak juga. Fasilitasnya lengkap.”

“Ayo, langsung ke villa aja, itu kasian Anin capek gendong Zura.” Ajak Gita begitu para suami sudah selesai dengan urusan memarkirkan mobil dan datang sambil menenteng barang bawaan.

Sesuai kesepakatan, Gita sudah memesan satu villa untuk semua. Sebenarnya ada beberapa pilihan hunian untuk menginap, tapi karena mereka ramai-ramai dan niatnya untuk merajut kebersamaan sehingga pilihan dijatuhkan pada sebuah villa dengan tiga lantai yang menyediakan fasilitas lengkap, cocok untuk mereka yang sudah berkeluarga dan datang membawa anak.

“Biar adil pilih kamarnya kita acak aja, ya.”

Kini mereka sudah berada di villa berbentuk segitiga. Ruang tamu yang luas dan bersahabat dengan sofa yang besar jadi tempat mereka berkumpul saat ini. Gita mulai mengacak empat kunci lalu menyerahkan untuk dipilih masing-masing agar adil.

Harsa dan Anin mendapat kamar di lantai dua dengan balkon untuk melihat pemandangan. Sementara Gita dan suami mendapat kamar di lantai satu, bonus private pool. Dua kamar lagi di lantai tiga dengan Nana yang mendapat kamar double bad berikut view pemandangan indah dari jendela, dan Laksmi mendapatkan kamar king bad dengan bonus bathup berlatar belakang jendela dan pemandangan. Setiap kamar memang memiliki fasilitas berbeda.

“Gerahnya.” Harsa langsung membuka baju setelah menutup pintu kamar. Sementara Anin, ia sudah sibuk rebahan di kasur sambil mengasihi Zura yang kembali terlelap.

“Tempatnya bagus, kapan-kapan kita ke sini lagi.”

Anin hanya menyerngit mendengar ucapan suaminya yang baru keluar kamar mandi dan langsung melangkah ke balkon menikmati udara siang hari dari atas sana dengan bertelanjang dada. Suaminya itu tampak sangat menikmati liburan kali ini.

“Baru jug sampai udah mau datang lagi,” celetuk Anin menimpali.

Setelah kembali masuk, Harsa menutup pintu dan langsung ikut bergabung ke tempat tidur dengan anak dan istrinya. “Ya, kan harus direncanain dari sekarang, sayangku.”

“Cih, manis banget mulutnya. Kesambet apa nih?” Anin berdecih sambil terkekeh. Di tatapnya dengan serius wajah yang berbaring sejajar depan wajahnya dengan Azura diantara mereka. Harsa menatapnya dengan tatapan dalam. Ia selalu saja dibuat tergelitik setiap kali Harsa mode rayuan gombal begini. Rasanya tak cocok, tapi entah kenapa ia tetap suka.

“Emang manis loh, nih coba.” Dengan wajah serius Harsa makin mendekat wajahnya lalu mengecup bibir Anin dan melumatnya singkat dengan sangat sensual lalu kembali menatap Anin dalam diam, membuat istrinya itu kian mengulas senyum malu-malu.

“Sebenarnya aku sayang banget tau sama kamu.”

Harsa masih menatap istrinya dengan tatapan dalam. Ia tahu Anin pasti sangat tergelitik mendengar kata-kata dari mulutnya yang jarang sekali ia lontarkan. Seperti kata Anin, memang benar ia hanya akan mengatakan semua itu hanya saat kesambet saja. Tapi sungguh, meski begitu perasaannya pada Anin jelas bukanlah sesuatu yang harus diragukan.

Sebagaimana frasa, "hal yang sudah diketahui tidak perlu dijelaskan.” Yang merujuk pada konsep hukum notoire feiten yang tertuang dalam pasal 184 ayat (2) KUHAP. Bahwa fakta yang diketahui umum tak perlu pembuktian lagi. Sebagaimana ia pada Anin, baginya tidak ada yang lebih besar dan meyakinkan dari pembuktian cintanya dengan menikahi wanita ini dan menjadikannya satu-satunya dalam hidup. Ia memang tak pandai berkata-kata, tapi semoga Anin paham dan tahu bahwa rasanya sebesar itu, ia tak berdusta walau di beberapa waktu ia ingin mencoba mengungkapkan secara langsung melalui kata, seperti halnya kali ini.

Menikmati liburan bersama, di suasana berbeda, seakan merefresh perasaannya. Meski begitu, satu yang tetap pasti yaitu hati dan pikirannya masih berdebar karena wanitanya ini.

“Kamu kenapa sih, mas? Gak biasa banget kamu tuh.” Anin terkekeh geli.

Setiap kali ia berusaha bermulut manis Anin selalu saja begini. Mungkin karena tak terbiasa, istrinya jadi tergelitik. Tapi tak apa, Harsa suka, ia senang setiap melihat wanitanya salah tingkah begini. Anin terus menepuk-nepuk wajahnya.

“Kamu bilang selama ini aku kurang romantis, ini udah aku coba tapi kamu malah ngakak mulu.” Harsa melayangkan protes sambil berpindah ke belakang Anin begitu melihat mulut Zura sudah terlepas dari ujung dada istrinya. Ia ingin lebih leluasa mendekap Anin, menikmati liburan ini dengan sebaik mungkin dan menghabiskan waktu bersama.

“Ya sewajarnya kamu aja mas, aku terima kok. Aku udah terbiasa dan gak masalah kamu begini.”

Anin ingat betul, di awal menikah ia memang setiap hari butuh mendengar pengakuan Harsa hanya untuk memastikan apakah laki-laki itu benar-benar mencintainya dan akan selalu mencintainya, tetapi lama kelamaan ia lelah sendiri karena ternyata tak semudah itu dan meminta diakui ternyata sangat melelahkan. Dan seiring berjalannya waktu Anin jadi sadar bahwa bahasa cinta suaminya memang bukan lewat kata, melainkan tindakan-tindakan kecil yang Harsa lakukan dan berujung berhasil membuatnya paham. Meski begitu, ia pasti akan ngakak tiap kali Harsa bertingkah konyol begini.

“Tau gak aku tuh masih gak nyangka bisa nikah sama bocil.” Harsa terkekeh menyampaikan isi hatinya yang entah sudah sesering apa ia sampaikan.

“Ya, kamu kira aku juga nyangka apa bisa nikah sama orang tua, kakak teman aku lagi.”

Harsa yang tak terima dikatai orang tua lantas meremas wajah Anin dengan telapak tangan besarnya. Yang mana langsung membuat Anin memeluk suaminya itu sambil mengigit bahunya dengan gemas.

“Ck, gak usah mengigit ih, saki!”

“Kamu tahukan bahasa cinta aku tuh mengigit,” goda Anin dengan menatap Harsa, tangannya sudah mengalung di leher suaminya itu, mengunci tatapan Harsa agar tak beralih sedikitpun dari wajahnya.

“Gak usah gigit pakai mulut, pakai yang bawah aja. Aku siap.” Tangan Harsa yang entah sejak kapan memegang pinggang Anin lalu menariknya makin dekat sehingga membuat Anin lantas tergelak atas kemesuman sang suami.

“Haha, gila kamu mas! Mesum banget, ih!”

“Ya, kan mesum sama istri sendiri sah-sah aja.”

“Daripada mesum sama istri orang, kan?”

“Emang mau mesum ke istri siapa?” sergah Anin galak, langsung mencengkram rambut suaminya. Menariknya pelan seakan tengah menjambak.

“Berani macem-macem?!”

Harsa terkekeh sambil memohon ampun. Kepalanya sudah mendongak layaknya dijambak sungguhan, padahal Anin hanya melakukannya pelan.

“Gak akan aku begitu, kamu aja lebih dari cukup.”

Anin lalu mendekap tubuh Harsa dengan erat. Tangannya bergerilya mengusap punggung lebar yang tak terbalut apa pun itu. Wanginya sangat Anin sukai.

“Dulu, sembilang tahun pacaran. Kamu pernah ngapain aja sama mantan kamu itu, mas?” tanya Anin di sela suasan khidmat berpelukan, dimana tangan Harsa pun sudah menyusup ke dalam blouse yang ia kenakan, bahkan sudah membuka pengait branya.

“Apa sih, gak bermutu pertanyaan kamu tuh!” sergah Harsa sambil kian menarik Anin lalu menyibak baju istrinya, menampakkan dada bulat yang kondisi branya sudah tak karuan karena pengaitnya telah ia lepas. Tatapan Harsa memburu melihat sesuatu yang begitu menggoda dan menantang untuk ia jamah.

Anin terkekeh, ia pun sebenarnya menyadari betapa menyebalkan dirinya. Sebenernya ia pun sakit kalau terus-terusan membahas mantan, sejujurnya ia tak sanggup membayangkan dan tak bisa menerima fakta bahwa suaminya pernah menjalin hubungan selama itu dengan perempuan lain. Rasanya ia tak terima, seakan ada perasaan tak rela kalau sampai suaminya pernah melakukan hal lebih dengan wanita lain sebelum dirinya.

“Mas, kamu beneran gak pernah ngapa-ngapain sama mantan kamu, kan?” entah sudah keberapa kali pula ia menanyakan ini.

“Iya, Anin. Cuma kamu satu-satunya, aku gak sebejat itu sampai ngelakuin hal yang melanggar batasan. Istriku jelas satu-satunya, yang pertama dan terakhir.” Dengan tenang Harsa berusaha meyakinkan.

Napas Anin tampak terengah saat Harsa meyakinkan lalu mengulum dadanya dengan sangat rakus. Membuat dadanya bergemuruh, berhembus naik turun menahan sensasi yang ingin meledak.

“Emang harus banget sekarang ya, mas? Kamu gak capek?” tanya Anin di sela tubuh yang kian menggeliat karena Harsa masih setia bergumul di dadanya layaknya Zura yang tengah di-asihi. Meski begitu, Anin pun sangat menikmati sentuhan demi sentuhan yang Harsa beri. Bahkan ua sudah sama persis dengan suaminya itu, bertelanjang dada.

Harsa menggeleng. Meski telah dipenuhi kabut gairah, ia masih bisa mendengar perkataan Anin. Lidahnya terlalu lihai dan fokus menari di bongkahan indah yang membuat candu. Capek? Mana mungkin, meski iya, ia jelas tak akan bisa menghindarkan kegiatan ini.

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!