Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 16.
Pagi itu terasa terlalu tenang.
Milea sudah berangkat ke kantor. Rangga berdiri di depan jendela ruang tamu, menatap jalan yang basah sisa hujan semalam. Di dadanya ada rasa aneh, seperti panggilan yang tidak bersuara tapi mendesak.
Sejak beberapa hari terakhir, bayangan Radit datang semakin sering, tidak utuh. Hanya potongan-potongan. Senyum tipis, suara tertawa, dan decitan ban mobil di malam hujan.
Rangga mengusap dada kirinya tanpa sadar. Jantungnya berdetak normal, tapi justru itu yang membuatnya gelisah.
Ponselnya bergetar, panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Rangga hampir mengabaikannya, tapi instingnya membuatnya mengangkat panggilan itu.
“Mas Rangga?”
Suara laki-laki, terdengar ragu tapi jelas mengenalnya.
“Iya, saya sendiri,” jawab Rangga hati-hati. “Maaf, ini siapa?”
Di seberang sana ada jeda.
“Mas… saya Dimas, teman Radit. Katanya, Mas lagi cari teman-teman Radit. Mas, nggak inget saya?“
Rangga menarik napas panjang. “Aku baru saja mengalami kecelakaan, dan aku… kehilangan ingatan.”
Jeda panjang lagi.
“Kalau begitu, kita perlu ketemu.” Ucap Dimas.
Mereka bertemu di sebuah kafe, di tempat Radit dan Rangga biasa nongkrong bersama. Terkadang berkumpul bareng teman-teman Radit, salah satunya Dimas. Tempat itu terlihat biasa, tapi saat Rangga melangkah masuk kepalanya terasa berat.
Aroma kopi, suara gelas berdenting. Dan bayangan seseorang duduk di sudut, tertawa sambil memukul meja.
Bayangan Radit.
Rangga berhenti melangkah, tubuhnya sedikit terhuyung.
“Mas?” panggil Dimas yang sudah duduk menunggunya.
Rangga berkedip, bayangan Radit seketika lenyap. Ia menarik kursi dan duduk perlahan. “Jadi kamu temannya Radit?”
Dimas mengangguk, usianya sekitar 27 tahun sama dengan usia Radit jika tidak meninggal. Wajahnya menyimpan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan, kesedihan lama yang belum sembuh.
“Kami berteman sejak masuk SMA, Radit selalu bercerita tentang Mas Rangga. Kita juga pernah bertemu beberapa kali...” kata Dimas.
Rangga menelan ludah. “Bercerita tentang apa?”
“Banyak,” Dimas tersenyum tipis. “Tentang kakak yang dia banggakan, tentang Mas Rangga yang selalu ngalah sama dia.”
Rangga menatap meja, kepalanya kembali berdengung.
“Aku cuma ingat sedikit,” ucapnya pelan. “Mobil dan hujan deras...”
Dimas mengangguk pelan. “Malam itu… Mas Rangga yang nyetir.”
Kalimat itu membuat dada Rangga terasa dihantam, ia mengangguk. “Itu gambaran yang datang di kepalaku.”
Dimas menatap Rangga dengan ragu. “Mas, kamu yakin mau dengar sisanya?”
Rangga terdiam, lalu mengangguk.
“Kalian baru pulang dari sebuah acara, lalu terjadi kecelakaan itu. Mobil kalian menabrak pembatas jalan, kalian berdua sama-sama dalam keadaan kritis…” Dimas menghela napas panjang.
Dimas melanjutkan ceritanya, jari-jari Rangga mengepal saat mendengarkan.
“Mas Rangga dibawa ke ruang operasi jantung, katanya jantungmu bocor. Dokter bilang... Mas Rangga nggak akan bisa bertahan tanpa donor.”
Kepala Rangga terasa seperti hendak pecah.
“Radit juga kritis,” lanjut Dimas. “Tapi Dokter bilang… nggak ada harapan untuknya.”
Rangga menggeleng pelan. “Tidak.”
“Orang tua kalian yang memutuskan,” suara Dimas bergetar. “Mereka menyerah pada Radit.”
Rangga menutup mata, sedikit potongan ingatan mulai saling bertabrakan. Ada lampu operasi, bau antiseptik. Lalu... tangisan ibunya.
“Mas... Radit lah yang jadi donor jantung untukmu.” Dimas akhirnya mengatakan kebenarannya.
Dunia seolah berhenti.
Rangga membuka mata perlahan. “Apa?!”
“Jantung Radit dipindahkan ke Mas Rangga,” kata Dimas lirih. “Kamu bisa hidup… karena Radit.”
Telinga Rangga berdenging. Tangannya gemetar, mencengkeram dada kirinya.
Jantung ini…
“Dan bukan cuma itu,” lanjut Dimas, ragu-ragu.
“Apa lagi?” suara Rangga serak.
“Mata Radit juga didonorkan.”
Rangga menatap Dimas tajam. “Ke siapa?”
Dimas menarik napas panjang, seolah kalimat itu terlalu berat untuk diucapkan.
“Ke Mbak Milea.”
Nama itu jatuh seperti petir.
“Apa?” Rangga berdiri setengah, kursinya bergeser. “Istriku?”
Dimas mengangguk pelan. “Mbak Milea mengalami kecelakaan jauh sebelum kalian menikah, dia buta.”
Kepala Rangga terasa berputar.
Rangga terhuyung, ia kembali duduk. Mata Milea, adalah milik Radit. Air mata menggenang di matanya tanpa ia sadari, sesak menekan dadanya.
“Setelah Mas siuman dan mengetahui semuanya, Mas Rangga berubah. Kamu menjadi pribadi yang dingin pada semua orang...”
Rangga memejamkan mata, sesuatu menekan dadanya dari dalam.
Rangga terengah.
“Mas Rangga?” Dimas panik. “Kamu nggak apa-apa?”
Rangga menekan pelipisnya. Ia berdiri mendadak, napasnya memburu. “Kepalaku…”
“Mas—”
“Aku harus pulang,” ucap Rangga cepat. “Aku harus… melihat Milea.”
Dimas ikut berdiri. “Mas Rangga, ingatan kamu—”
“Belum kembali, tapi aku mulai takut,” ucapnya lirih. “Kalau ingat semuanya… aku akan hancur.”
Malam itu, Milea pulang lebih lambat. Begitu pintu terbuka, ia langsung merasakan ada yang berbeda.
Rangga duduk di sofa, menatap kosong ke depan. Lampu tidak sepenuhnya menyala.
“Kamu kenapa?” tanya Milea cemas.
Rangga menoleh, tatapannya dalam.
“Lea,” panggilnya pelan.
Milea mendekat. “Kepalamu sakit lagi?”
Rangga menggeleng. Ia meraih tangan Milea, menggenggamnya erat. “Kamu harus tetap percaya padaku...”
Milea terkejut. “Rangga, ada apa?”
Rangga menarik napas dalam-dalam. Tatapannya mengeras, menyimpan luka. Potongan kebenaran mulai mengetuk ingatannya, membuat dadanya sesak. Ia terdiam, dia kini tak yakin... apakah dirinya akan tetap menjadi Rangga versi yang sekarang. Atau kembali menjadi Rangga yang dulu, yang pernah melukai Milea.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌