Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Mata Liam memicing melihat istri nya yang asyik bercanda dengan lawan jenis. Tanpa tahu jika hati suami nya itu sangat lah panas.
"Kak Liam, kenapa?" Tanya seorang murid perempuan kelas X ke pada Liam.
"Gak pa pa" ucap Liam dengan nada dingin dan acuh. Sontak perempuan yang duduk di samping Liam pun merasa takut. Dengan sorot wajah Liam yang terlihat marah sembari mengatup kan semua gigi gigi nya.
Naura masih asyik berbicara sementara pak Tarto sedang asyik membagikan kertas ujian.
Selang 5 menit pun kelas ini menjadi sangat hening. Karena para murid sibuk mengerjakan soal mata pelajaran matematika. Pelajaran yang sangat Naura sukai.
Soal matematika pilihan ganda dengan jumlah soal total 50. Dengan durasi pengerjaan selama 120 menit.
60 menit berlalu. Akhirnya Naura selesai mengerjakan soal ujiannya. Dia pun berdiri dan mengumpulkan soal yang dia kerjakan.
"Sudah kamu cek baik baik?" tanya pak Tarto untuk memastikan apakah murid nya sudah mengecek apa yang telah di kerjakan.
"Sudah pak," sahut Naura dengan yakin bahkan ia juga terlihat memperhatikan senyuman manis. Sembari ber jalan cepat meninggal kan kelas. Tak lupa mengambil tasnya yang ada di loker samping pintu kelas nya.
"Kamu juga sudah selesai?" tanya pak Tarto dengan sopan ke arah Liam yang jauh mengumpul kan kertas ujian yang memang sudah dari tadi dia selesaikan. Bahkan dengan mata tertutup Liam bisa mengerjakan dengan mudah.
"Sudah Pak, permisi," sahut Liam buru buru menyusul Naura yang sudah terlihat berjalan jauh.
Tes ke dua ini sungguh menguras isi kepala Naura. Karena dari pagi Naura belum sarapan. Dia berjalan sendirian menuju ke arah kantin.
Di area koridor sekolah sangat lah sepi apalagi kantin.
"Pak seperti biasa ya," kata Naura kepada tukang bakso langganannya.
"Eh non Naura. Baik neng buat neng geulis yang pintar," ucap mang Toyib penjual bakso langganan Naura dengan senyum merekah. Dia adalah penggemar berat si cantik Naura. Kenapa tukang bakso saja tahu kalau Naura pintar? Karena setiap ujian Naura selalu saja bisa mengerjakan soal ujian nya dengan cepat dan tepat.
Tak berselang lama pesenan Naura pun datang. Naura duduk dengan mata yang berbinar binar melihat bakso mercon kesukaannya sudah di letakkan di atas mejanya.
Tak lupa Naura juga mengucap kan terima kasih ke pada mang Toyib yang selalu memberikan porsi lebih padahal dia membayar porsi biasa. Dia pun makan dengan lahap.
Mang Toyib yang tadi nya tersenyum melihat Naura makan pun. Tiba tiba wajah nya berubah ngeri. Melihat tatapan mata Liam yang begitu tajam menghunus ke arah nya.
"Pelan pelan Napa? Gak akan ada yang minta," tegur Liam yang ntah sejak kapan duduk di depan Naura.
Membuat Naura pun ter sedak bakso. karena kaget melihat suami nya yang tiba tiba duduk di depan nya.
"Uhhuk uhhuk uhhuk." Naura batuk batuk.
Liam dengan wajah khawatir pun menepuk nepuk punggung Naura dengan pelan. Tiba tiba bakso yang Naura makan keluar dari mulut nya dan mengenai baju Liam. Baju Liam bukan hanya terkena bakso tapi juga cabe cabe dan saos. Membuat baju seragam yang berwarna putih itu pun kotor.
Karena Liam memang benci akan hal kotor. Dia pun menjadi marah dan membuat urat sekitar wajah nya pun menonjol keluar.
Naura tidak melihat semua itu. Dia buru buru meminum air mineral yang di berikan oleh mang Toyib.
"NAURA!!" panggil Vince marah dengan wajah babak belur. Vince berjalan ke arah Naura.
Naura pun melongo melihat Vince.
'gue kira, baku hantam tadi sebuah mimpi'
Sedangkan Liam yang bajunya kotor buru buru berlari menuju ke kamar mandi. Liam benar benar jengkel karena baju nya kotor tanpa Liam sadari gigi taring nya pun mulai memanjang dan mata nya berubah menjadi merah darah.
***
Dengan wajah jengah dan malas Naura melihat ke arah Vince.
"Apa?" Tanya Naura.
"Siapa anak laki laki yang mirip mayat tadi?" tanya Vince yang langsung merubah mimik wajah nya menjadi tersenyum.
Awalnya memang Vince marah. Tapi dengan hanya melihat wajah Naura dia menjadi luluh. Vince pun langsung duduk di kursi depan Naura.
"Vince buruan. Kita harus persiapan buat lomba!" ucap Aron bersama Ronald dan juga Gie.
"Elo duluan aja, gue mau ber duaan dulu sama Naura," kilah Vince dengan mata masih menatap Naura dengan penuh damba.
Hal itu malah membuat Naura jijik.
"Lah gue mau ke kelas dulu, gak usah ganggu gue!" pekik Naura sembari menghentak hentakkan kaki nya. Dia malas kalau harus ber urusan dengan Vince. Yang mana ujung ujung nya harus memaksa Naura mengikuti kemauan Vince.
"Elo itu kenapa sih! Masih kejar dia. Emang dia tuh cantik, manis, imut , tapi.." ucap Gie yang memang langsung ceplas- ceplos.
"Lah itu elo tau jika Naura itu cantik, manis, imut dan satu lagi ngangenin. Wajahnya itu loh selalu terngiang ngiang di otak gue," ucap Vince melanjutkan ucapan Vince, ia nampak berbicara dengan ekspresi penuh damba jika mendengar kata Naura.
Aron malah menjitak kepala sahabatnya itu. Karna dia tahu fakta Naura yang sesungguh nya memang sudah menikah dengan sepupunya.
"Mending lo itu buka mata lebar lebar deh Vince, lo lihat selama ini lo berjuang sendirian, mencintai sendirian. Naura gak pernah sedikit pun membalas atau menganggap kalau elo itu ada," celetuk Aron dengan nada menyakinkan, sungguh ia malah merasa kasihan sendiri dengan sahabatnya itu. Karena cintanya tidak terbalaskan.
"Iya gue akui jika Naura memang cantik, manis dan juga imut. Tapi dia itu galak jutek sama susah banget buat dapatin hati Naura. Mending nyerah aja deh! Di sekolah ini banyak perempuan yang spek nya lebih dari Naura. Dan mereka malah bertekuk lutut di kaki elo kok Vince," papar Gie guna meneruskan ucapannya tadi.
Vince sendiri memilih mengalihkan ke topik lain, ya sebenarnya dia sendiri juga sadar. Memang Naura itu tidak pernah merespon apa yang di lakukan olehnya.
"Eh tumben lo. Ikut ke kantin. Biasanya elo cuman di kelas kalau gak ke kolam renang" ucap Vince dengan wajah heran melihat ke arah Aron.
Aron hanya menjawab ucapan Vince dengan senyuman yang sulit untuk di arti kan.
Naura memilih untuk mencari keberadaan Liam. Naura bingung pulang ke rumah Liam dengan cara bagaimana. Dia sama sekali tidak tahu soal alamat rumah Liam. Apalagi Aron yang tadi berangkat sekolah bersamanya. Terlihat belum memperlihatkan batang hidung nya.
Padahal sudah 1 jam Naura menunggu di kursi dekat dengan tempat parkir.
Tidak mungkin kan Naura mengajak pulang Aron di saat ada Vince, Gie, dan juga Ronald.