Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan
Beberapa hari terakhir, Nadira terus memikirkan hal yang sama yaitu tentang keuangannya.
Pikiran itu datang bahkan ketika ia sedang menyisir rambut di depan cermin kecil kamarnya. Rambutnya terurai sederhana, sedikit kusut karena ia sudah terlalu sering menunda membeli sampo yang cocok. Ia menatap pantulan dirinya sendiri lama, seolah sedang mencoba meyakinkan gadis di cermin itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun kenyataannya tidak semudah itu.
Ia tidak punya cukup uang saku dan selalu merasa selalu serba kekurangan, terutama untuk kebutuhan cewek remaja yang makin banyak dan makin ribet. Sabun wajah yang mulai habis, pembalut yang harus selalu ada, lotion untuk kulitnya yang kering, bahkan sekadar uang jajan sederhana, semua itu terasa berat jika harus diminta pada kakeknya.
Bukan karena kakeknya tidak mampu.
Tapi karena setiap permintaan selalu dibalas dengan sesuatu yang membuat Nadira mengecilkan dirinya sendiri.
Setiap kali ia ingin meminta, Nadira sudah bisa menebak jawabannya.
Tatapan tajam yang membuat punggungnya refleks menegang. Nada suara berat yang terdengar seperti teguran, bukan perhatian. Pertanyaan menusuk yang seolah menghakimi sebelum ia sempat menjelaskan.
"Uangnya kemarin udah habis? buat apa?"
"Perempuan sekarang kebutuhannya aneh-aneh."
"Dulu nenek kamu nggak seribet itu."
Dan kalimat yang paling sering membuat Nadira ingin menghilang:
"Kamu itu kebanyakan maunya. Hemat sedikit supaya orang tuamu bisa bikin rumah deket sama kakek"
Setiap kali itu terjadi, hati kecilnya kembali menciut. Ia belajar satu hal: lebih baik menahan, daripada meminta dan terluka.
Namun malam ini berbeda.
Nadira duduk di tepi ranjangnya, lutut ditekuk, ponsel berada di genggaman. Layar ponsel itu menyala redup, menampilkan satu nama yang selalu membuat dadanya menghangat sekaligus sesak: Ibu.
Tangannya gemetar.
Ia mengusap wajahnya perlahan, menarik napas panjang beberapa kali, mencoba menguatkan diri.
"Aku cuma minta… bukan maksa," bisiknya pada diri sendiri.
"Aku cuma anak yang lagi butuh."
Dengan jari yang sedikit bergetar, ia akhirnya menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar.
Satu…
Dua…
"Halo?" suara itu terdengar lembut, seolah langsung merangkul dari kejauhan. "Ibu di sini, sayang."
Seketika mata Nadira panas.
"Bu…" suaranya bergetar sedikit. "Nadira boleh minta tolong nggak?"
"Ada apa?" Fahira langsung bertanya, nada khawatirnya tak bisa disembunyikan. "Kamu kenapa? Sakit?"
Nadira menggeleng pelan meski tahu ibunya tak bisa melihat. "Enggak, Bu. Cuma…”" ia terdiam sejenak, menelan ludah. "Dira lagi kekurangan uang."
Hening.
Hening yang terasa begitu panjang hingga Nadira menggenggam seprai di sampingnya erat-erat.
"Uang saku kamu habis?" tanya Fahira hati-hati.
"Iya, Bu." Suara Nadira lirih. "Boleh nggak… Dira minta dikirimin uang bulanan?"
Ada jeda lagi.
Jeda yang membuat jantung Nadira berdegup tak karuan.
"Dira…" Fahira akhirnya bersuara, ragu dan berat. " Apa kakekmu nggak bakal marah kalau ibu kirim uang? Kamu kan tinggal di sana. Seharusnya kebutuhanmu dipenuhi oleh kakekmu. Itu janji beliau dulu."
Nadira menggigit bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Bu…" ia berbisik. "Nadira canggung kalau harus minta uang buat kebutuhan cewek ke kakek. Rasanya nggak enak. Mau beli pembalut aja malu, Bu…"
Kalimat terakhir itu pecah bersama isak kecil yang tak bisa ia tahan.
Di seberang, Fahira terdiam. Napasnya terdengar berat.
"Ya Allah…" gumam Fahira pelan. "Anakku…"
"Dira nggak minta banyak, Bu." Nada Nadira penuh rasa bersalah. "Kalau ibu keberatan, nggak apa-apa. Dira bisa cari cara lain."
"Kamu jangan ngomong begitu nak, " potong Fahira cepat. "Kamu itu anak ibu. Kebutuhan kamu itu bukan sesuatu yang memalukan. Jangan sungkan untuk minta sama ibu."
Air mata Nadira jatuh tanpa suara.
"Bagaimana bisa anak bungsuku kekurangan uang seperti ini…" keluh Fahira lirih.
"Padahal dulu ayah janji bakal menuhin semua kebutuhan kamu dan melarang ibu untuk ngirim uang bulanan…"
Fahira menghela napas panjang, dadanya terasa nyeri mendengar suara putrinya yang berusaha tegar padahal jelas sedang menahan banyak hal.
Keona yang sejak tadi mendengar, mendekat.
"Ada apa, Bu?" tanyanya.
"Ona," Fahira menoleh, "adekmu minta dikirimin uang bulanan."
Keona mengernyit. "Bukannya kakek ngelarang kita buat ngirim uang ke Nadira?"
"Iya," jawab Fahira lelah. "Tapi adekmu yang minta. Dan suaranya… ibu nggak tega."
Keona terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Kalau Mas Arzan tahu, pasti Nadira langsung dijemput."
"Itu yang ibu takutkan," sahut Fahira. "Sebisa mungkin rahasiakan ini dari Arzan. Ibu nggak mau ada pertengkaran antara dia dan ayahnya."
Fahira kembali ke telepon. "Ibu kirimkan ya, Dira."
Nadira tersentak. "Bu… beneran?"
"Iya, sayang. Tapi kamu belum punya ATM. Harus ditransfer ke mana?"
"Ke rekening Bude Riana aja, Bu." Nadira ragu. "Tapi ibu yang ngomong ya… Dira malu."
"Iya. Biar ibu yang bicara."
Telepon ditutup dengan perasaan campur aduk di hati Nadira. Ada lega… tapi juga rasa takut yang menggantung.
Keesokan harinya, suara keras Bude Riana memanggil dari ruang tengah.
"Nadira, sini dulu."
Nadira menghampiri dengan langkah ragu. Tangannya saling menggenggam di depan perut.
"Ini," kata Bude sambil menyodorkan uang. "Ibu kamu transfer uang satu juta. Tapi Bude kasih kamu tiga ratus ribu dulu. Sisanya Bude pegang."
Nadira menatap uang itu lama. "Tiga ratus ribu…?" gumamnya nyaris tak terdengar.
"Iya." Nada Bude datar. "Kalau kamu butuh apa-apa, bilang sama bude."
"T-terima kasih, Bude."
"Pakai yang irit," lanjut Bude. "Ingat, Fauzan kerja bukan cuma buat dihambur-hamburkan. Kamu sebagai anak harus ngerti keadaan orang tua."
Setiap kata terasa seperti peringatan.
Nadira mengangguk pelan. Dalam hatinya ada sesuatu yang mengendap, rasa tidak percaya, dan rasa bersalah yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
Siang harinya, Erwin duduk di ruang tamu. Tatapannya kosong.
"Mas Erwin mau minum?” Nadira mencoba ramah. "Dira buatkan teh ya?"
Erwin menggeleng.
Tak lama, Bude Riana berkata, "Mas Erwin, kalau mau jajan bilang sama Dira. Uangnya dibagi bertiga."
Kalimat itu menghantam Nadira keras.
"Berarti uang satu juta itu buat kamu semua?" Erwin menyindir.
"Bukan gitu, Mas..."
"Terus gimana?" Erwin berdiri. "Enak banget hidup kamu ya."
Nadira gemetar. "Aku cuma minta buat kebutuhan…"
"Terserah kamu." Erwin pergi.
"Lagipula aku mintanya ke ibuku ma, bukan minta ke bude"
Erwin menatap Nadira dengan tatapan bersalah. Ternyata ia sudah salah paham, namun ia gengsi untuk meminta maaf
Nadira berdiri sendiri. Memegang tiga ratus ribu yang terasa lebih berat dari batu.
Perih.
Sangat perih.
Dan di saat itu, Nadira menyadari sesuatu yang pahit:
Kadang, bahkan saat kita tidak salah apa-apa, dunia tetap membuat kita merasa bersalah.
Ia menarik napas panjang. Dan di sudut hatinya, sebuah keyakinan pahit tumbuh perlahan:
Sepertinya… tidak ada tempat yang benar-benar memihak padaku.