Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Pagi itu, Mori masuk ke kelas dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Dia berharap setelah kejadian "label" di tasnya kemarin, Lian akan sedikit mengerem aksi gilanya. Namun, begitu Mori sampai di depan bangkunya, dia mendapati pemandangan yang sangat tidak masuk akal.
Jessica, sahabat sebangkunya yang biasanya sudah duduk manis sambil merumpi, kini sedang sibuk memindahkan buku-bukunya ke bangku paling belakang, tepat di samping Jojo.
"Jes? Lo ngapain? Kok pindah?" tanya Mori bingung.
Jessica menatap Mori dengan wajah antara kasihan dan ingin tertawa. "Aduh, Mor... sori banget. Gue nggak berdaya. Pak Broto yang nyuruh."
"Pak Broto?" Mori mengerutkan kening.
Tiba-tiba, sebuah tas ransel hitam dilemparkan dengan santai ke atas meja di samping kursi Mori. Pemilik tas itu menyusul dengan langkah angkuh dan senyum kemenangan yang membuat bulu kuduk Mori berdiri. Lian.
"Mulai hari ini, gue temen sebangku lo," ucap Lian santai, lalu duduk dan menyandarkan punggungnya seolah meja itu adalah miliknya.
"Nggak mungkin! Lian, lo pasti bohong kan? Pak Broto nggak mungkin mindahin lo ke sini!" Mori protes keras.
Tepat saat itu, Pak Broto masuk ke kelas sambil membawa buku absen tebal. "Anak-anak, perhatian. Karena nilai Kimia Lian merosot tajam, saya memutuskan untuk menempatkannya di samping Mori. Mori, Bapak harap kamu bisa membimbing Lian agar nilainya membaik. Lian, jangan berisik atau Bapak pindahkan kamu ke gudang."
Mori ternganga. Dia melihat ke arah Lian yang sedang menopang dagu sambil menatapnya. Lian pasti sudah melakukan sesuatu—entah itu merayu Pak Broto dengan janji akan rajin atau menggunakan pengaruh ayahnya—yang jelas, ini adalah skenario gila yang sudah direncanakan.
Pelajaran Kimia dimulai. Biasanya, Mori adalah siswi yang paling fokus. Dia akan mencatat setiap detail rumus organik yang ditulis Pak Broto di papan tulis. Tapi hari ini, fokusnya hancur total.
Lian sama sekali tidak membuka buku. Dia juga tidak memegang pulpen. Alih-alih melihat ke depan, cowok itu justru memutar posisi duduknya menyamping, menghadap penuh ke arah Mori.
Lian menatap wajah Mori tanpa berkedip. Jarak mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Visual Gabriel Guevara-nya dalam jarak sedekat ini benar-benar berbahaya; garis rahangnya yang tegas, matanya yang dalam, dan aroma parfumnya yang maskulin memenuhi ruang napas Mori.
"Lian, liat ke depan! Pak Broto lagi jelasin reaksi polimer!" bisik Mori dengan suara bergetar karena emosi... dan sesuatu yang lain.
"Reaksi kimia di depan nggak semenarik reaksi yang gue liat di muka lo sekarang, Mor," balas Lian lirih, suaranya berat dan serak, membuat sensasi aneh menjalar di tengkuk Mori.
Mori mencoba tetap menulis, tapi tangannya gemetar. Dia bisa merasakan tatapan Lian yang intens menelusuri setiap inci wajahnya—dari dahi, turun ke mata, lalu berhenti lama di bibirnya.
"Lo... lo ngapain sih liatin gue terus?! Serem tau nggak!" Mori menutup wajahnya dengan sebelah tangan, berusaha menyembunyikan pipinya yang sudah mulai merona merah.
Lian tersenyum tipis. Bukan senyum miring yang menyebalkan, tapi senyum yang terlihat sangat menikmati pemandangan di depannya. "Gue cuma lagi belajar, Mor. Belajar memahami kenapa ada cewek sekeras kepala lo."
Di bangku belakang, Jessica dan Jojo tidak berhenti berbisik-bisik sambil sesekali melempar kertas kecil ke arah Mori.
"Ehem! Yang baru dapet tutor pribadi, jangan lupa napas ya!" celetuk Jojo yang terdengar sampai ke barisan depan.
Jessica ikut-ikutan. Dia membuat bentuk hati dengan jari-jarinya ke arah Mori saat Mori menoleh ke belakang untuk meminta pertolongan. Mori hanya bisa melotot, merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
Mori mencoba kembali fokus ke papan tulis, tapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh punggung tangannya di bawah meja. Tangan Lian. Cowok itu dengan berani memainkan jari-jari Mori, mencoba menautkan jari mereka secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat Pak Broto.
"Lian! Lepasin!" Mori menarik tangannya dengan sentakan kecil, wajahnya kini benar-benar sudah seperti kepiting rebus. Dia benar-benar salting tingkat dewa.
"Diem, Mor. Katanya mau bimbing gue? Ini gue lagi mencoba menjalin chemistry biar belajarnya masuk," bisik Lian nakal.
Di tengah suasana yang sangat canggung bagi Mori itu, tiba-tiba pintu kelas diketuk. Seorang siswa dari kelas lain memanggil Mori, mengatakan bahwa Vano menunggunya di depan kelas untuk urusan pendaftaran debat.
Mendengar nama Vano, ekspresi Lian yang tadinya santai langsung berubah drastis. Tatapannya menjadi dingin dan tajam.
"Gue bilang kan, urusan debat itu nanti," desis Lian sambil menahan lengan Mori saat gadis itu hendak berdiri.
"Lian, ini urusan penting! Lepasin tangan gue!" Mori menepis tangan Lian dan bergegas menuju pintu.
Di luar kelas, Vano berdiri dengan senyumnya yang tenang. "Mori, sori ganggu sebentar. Ini ada revisi jadwal dari panitia pusat—"
Belum sempat Vano menyelesaikan kalimatnya, Lian sudah berdiri tepat di belakang Mori, menyandarkan lengannya di kosen pintu, seolah-olah sedang memagari Mori dari dunia luar.
"Lo lagi, lo lagi," ucap Lian dengan nada suara yang penuh permusuhan. "Nggak liat kita lagi jam pelajaran penting? Mori lagi bimbing gue belajar. Jangan ganggu."
Vano menatap Lian dengan tenang, namun ada ketegasan di matanya. "Aku cuma bicara satu menit, Lian. Kenapa kamu harus selalu ada di antara kami?"
"Karena tempat gue emang di sini, di samping dia," Lian merangkul bahu Mori dengan sangat posesif, menariknya sedikit merapat ke tubuhnya. "Dan mulai sekarang, semua urusan Mori harus lewat 'filter' gue dulu."
Mori mendongak, menatap Lian dengan kesal namun dia juga tidak bisa berbuat banyak karena Pak Broto sudah mulai melirik ke arah pintu. Dia merasa terjepit di antara dua kekuatan besar.
"Kak Vano, nanti aku hubungi lagi ya lewat chat. Sori banget," ucap Mori buru-buru.
Vano mengangguk sopan meski terlihat kecewa. "Oke, Mori. Aku tunggu."
Setelah Vano pergi, Lian menarik Mori masuk kembali ke kelas dengan wajah yang masih ditekuk karena cemburu. Begitu duduk, Lian kembali menatap Mori, tapi kali ini tatapannya lebih menuntut.
"Sekali lagi lo senyum ramah gitu ke dia di depan gue, gue bakal minta Pak Broto buat mindahin meja kita ke ruang BK sekalian biar nggak ada yang bisa ganggu," ancam Lian.
Mori hanya bisa menghela napas pasrah. Dia sadar, keputusannya untuk menolak Lian di panggung kemarin justru memicu sisi "predator" Lian yang lebih gila. Dan yang paling menakutkan bagi Mori bukanlah kelakuan Lian, melainkan fakta bahwa setiap kali Lian melakukan hal gila itu, jantungnya berdetak jauh lebih kencang daripada saat dia bersama Vano yang sempurna.