Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Otak mulai jalan
Martin berkeliling bersama warga yang bertugas untuk berjaga.
" Aduh pak, keliling malah saya di kasih ikan dan cumi." ujar Martin yang sudah menenteng banyak hasil tangkapan dari warga.
" Tidak apa-apa, kami beri lebih banyak sedikit dari biasanya, terima kasih sudah mau datang ke rumah itu, jadi Mona tidak kesepian." ujar salah seorang warga yang baru kembali.
Rupanya anak itu sungguh dicintai oleh semua warga sekitar sini, bagaimana jika mereka tahu aku mendorongnya, mungkin aku sudah dikeroyok habis - habisan.
Dalam hati Martin.
" Hem, baik terimakasih, nanti saya akan sampaikan pada Mona." ujar Martin segera berpamitan.
" Eh, Nang... Aku dengar istrimu hamil, tadi kami barter dengan tukang sayur, kira-kira istrimu suka sayur apa kau bisa ambil." ujar seorang ibu-ibu.
Martin mencoba menolak, namun warga memaksanya untuk mengambilnya, terpaksa Martin mengambil beberapa sayur sembarangan dan segera pamit.
Kalau tidak dia akan membawa satu kapal bahan makanan, karena setiap berpapasan dengan warga setempat, pasti diberi hasil tangkapan mereka.
Gila tinggal di sini tidak perlu uang banyak, semua sangat baik dan saling menolong, kita tidak akan kelaparan karena miskin ya di sini.
Dalam hati Martin.
" Martin apa kau memborong semua?" ujar Seina terkejut saat membuka pintu.
" Tidak, semua warga memberikannya cuma-cuma, aku sudah menolak tapi di paksa." ujar Martin meringis.
" Astaga Tuan, anda mau pesta ya?" ujar Mona datang langsung heboh.
" Mana ada pesta, ini semua karena kamu, mereka sangat memikirkan dirimu, yang sebatang kara, dan memintaku untuk membawamu kemana-mana." ujar Martin kesal.
" Ya?, kok di bawa kemana - mana?" ujar Mona bingung.
" Entahlah, kau urus itu semua aku mau tidur capek." ujar Martin segera masuk ke kamarnya.
" Anda tidak sarapan dulu?" teriak Mona.
" Tidak." balas Martin dengan teriak.
" Nyonya, kita mau masak apa?" tanya Mona bingung.
" Udangnya di olah dong Mona, jadi cemilan, aku mau nyemil yang enak-enak." pinta Seina.
" Cuminya?" tanya Mona.
" Itu banyak baby cumi ya, mau dong sambel cumi." ujar Seina udah tampak ngiler.
" Ini udangnya saya bikin udang pangsit ya Nona, nanti mau di kukus atau di goreng bilang, nanti dicocol pake sambal cumi juga enak." Ujar Mona.
" Ikan tongkolnya saya bikin bumbu kuning saja ya Nona, untuk sarapan anda, anda minum susu dulu deh, terus tunggu saya masak." ujar Mona sangat cerewet mengingatkan Seina.
" Tunggu Mona, ini di bikin semua aja gimana udang pangsit sama sambel cumi, kita jual keliling yuk, aku pesan online dulu untuk packing nya." ujar Seina semangat.
" Nona, apa anda butuh uang? " tanya Mona.
"Oh tidak, tapi tidak ada salahnya punya bisnis kecil." ujar Seina.
" Begitu ya Nona, baiklah berarti kita masak besar dong, sekarang kita masak untuk kita dulu, baru kita masak untuk jualan." Mona pun segera mengeksekusi semua bahan yang di bawa Martin.
Saat sudah selesai Seina dengan semangat memakan masakan Mona yang tiada duanya.
" Pangsit kukus, pangsit goreng sudah siap." ujar Mona.
" Wah itu sambal cuminya mana aku mau." ujar Seina senang.
Seina benar - benar menikmati masakan Mona tanpa sambil geleng-geleng karena sangat enak.
Tak lama pack yang dia pesan datang, mereka berdua segera memacking pangsit dan sambal cumi.
Setelah itu mereka bersiap berjualan keliling.
" Anda di rumah saja, biar saya yang keliling Nona." ujar Mona tak tega.
"Aku ikut, aku akan baik-baik saja." ujar Seina.
Kedua anak itu berjalan mengitari pantai yang banyak di datangi para turis asing dan lokal, rupanya jualan mereka laku keras baru 2 jam berkeliling sudah habis.
" Gila, dapat 800 ribu Nona." ujar Mona sangat senang.
" Kita bagi dua ya Mon, kamu 400 aku 400." ujar Seina.
" Tidak Nona, tapi kan packing anda yang beli." ujar Mona.
" Tapi bahannya dari warga hihihi, sudah ambil saja, ayo kita pulang. " ujar Seina sangat senang.
Dalam perjalanan pulang.
" Moon, setelah aku melahirkan aku akan pergi, bagaimana jika kau ikut aku Moon.' ujar Seina.
" Kemana Nona?" tanya Mona.
" Aku ingin ke negara J, aku tidak bisa memasak, kau bisa, bagaimana jika kita buka kedai pangsit di sana, hahahaha." ujar Seina yang sebenarnya hanya omong kosong.
" Emang boleh?" tanya Mona serius.
" Iya, meskipun kita punya uang kita harus tetap bekerja bukan?" ujar Seina.
" Anda benar, ayo dimulai dari sekarang Nona, saya akan ikut Nona ke negara J." Mona tampak semangat.
Dia tidak mau sendirian lagi, apalagi Seina sangat baik padanya, apapun nanti yang terjadi, sepertinya Mona sudah bertekad bulat ikut dengan Seina.
" Sebenarnya aku hanya bercanda, tapi kalau kau mau aku juga serius hehehe." ujar Seina terkekeh.
" Kalian habis dari mana?, kucel menjijikan, kenapa kau malah dekat dengan anak pembantu ini, bagaimana pun itu anakku, kau tidak bisa sembarangan bergaul!" teriak Gladys.
Baru juga pulang sudah di sambut dengan hal yang mengejutkan.
Seina celingukan kiri dan kanan, mencari keberadaan Matthew.
" Siapa?, kamu cari siapa?" tanya Gladys berjalan mendekat.
Gladys langsung menjambak rambut Seina dengan kasar dan menyeretnya.
" Cari suamiku ya?, dia datang besok, hahaha, apa kau mulai menggatal pada suamiku?" Gladys terus menarik Rambut Seina dan menyeretnya ke sofa.
Mona sudah memohon pada Gladys untuk tidak kasar, namun Mona malah mendapatkan tamparan yang keras.
" Cuih, pergi kau anak menjijikan, sudah hitam dekil, aku tidak mau anakku sepertimu." ujar Gladys meludahi wajah Mona.
Mona menahannya, sebenarnya dia ingin lari karena takut dengan Gladys tapi di bawah kaki Gladys masih ada Seina yang sangat menderita.
Seina mencoba menahan tangisnya meskipun sangat menyakitkan.
" Ingat Seina, kau harus jauh-jauh dari si hitam ini, jika kau tidak patuh aku akan menyiksamu lebih dari ini, dan kau juga harus tahu tempat, aku tidak mau tahu kau mau menggatal dengan siapa, jangan suamiku!, dan jangan macam-macam saat mengandung anakku!" tegas Gladys.
" Saya mengerti." jawab Seina dengan tenang.
Akhirnya Gladys melepaskan Seina, dan menyuruhnya pergi.
Seina segera pergi dan masuk ke dalam kamar, begitu juga dengan Mona, setelah mencuci wajahnya, Mona mengetuk pintu kamar Seina.
Seina langsung memeluk Mona dan menangis.
" Maaf, maafkan aku Mona, ini salahku." ujar Seina merasa bersalah.
" Mana bisa, itu bukan salah Nona." ujar Mona tak menyangka jika Seina yang akan minta maaf, padahal Mona ingin meminta maaf karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
" Kalau saja aku tidak datang ke sini, kau tidak akan terkena masalah." ujar Seina.
" Saya malah sedih kalau anda tidak pernah datang ke sini, Nona anda sebaiknya istirahat terlebih dahulu." ujar Mona menghibur Seina.
" Iya Baiklah." ujar Seina menurut.
Seina sangat takut, setelah Mona keluar, Seina mengunci pintu kamarnya nya.
Mona menuju kamar Martin, Martin malah tidak bangun seharian dan kejadian tadi Martin harus tahu apa yang telah diperbuat oleh Gladys pada Seina.
Mona yakin Martin akan memihak mereka berdua.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣