---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Siang itu, udara di desa terasa panas dan kering. Mobil hitam Daren berhenti tepat di depan rumah besar bergaya joglo yang terlihat megah namun menyimpan aura tegang yang sulit dijelaskan.
Nirmala turun lebih dulu, langkahnya cepat dan mantap. Daren mengikuti, sedikit gugup meski ia berusaha menjaga wajahnya tetap datar.
Rumah itu tidak asing bagi banyak orang di desa—tempat keluarga terpandang, pemilik perkebunan teh dan sawah luas. Tapi begitu melangkah masuk ke teras, Daren langsung bisa merasakan sesuatu yang ganjil: rumah itu megah, tapi hangatnya tidak terasa. Seolah dindingnya menyimpan banyak suara yang tidak pernah diucapkan.
Nirmala mengetuk pintu dua kali.
Tak lama, seorang pria berusia sekitar lima puluhan muncul. Wajahnya tampak lelah, mata cekung, rambut mulai beruban. Begitu melihat Nirmala, ia langsung memeluknya.
“Nak… kamu pulang juga akhirnya.”
Pelukannya tulus, tapi ada rasa bersalah yang jelas terlihat.
Nirmala membalas pelukan itu sebentar sebelum melepaskan.
“Ayah, kita perlu bicara,” katanya tanpa basa-basi.
Baru setelah itu ayahnya menoleh pada Daren—dan matanya membesar.
“…Daren Adrianata?”
Daren sedikit menunduk sopan. “Selamat siang, Pak.”
Ayah Nirmala terlihat gugup, seperti tidak menyangka seorang tokoh publik bisa berdiri di depan rumahnya. “A… ayo masuk, masuk.”
Mereka pun masuk ke ruang tamu. Tidak ada ibu tiri maupun saudara tiri Nirmala. Rumah sunyi. Mungkin sengaja tidak ada di rumah, atau mungkin mereka sedang mengatur rencana lain. Sulit ditebak.
Nirmala duduk tegak di sofa, sementara ayahnya menatap bergantian antara ia dan Daren.
Ia akhirnya bertanya dengan suara pelan yang ragu-ragu,
“Nirmala… kenapa kamu datang bawa dia?”
Nirmala menarik napas panjang.
“Ayah… aku tahu semua kejadian semalam. Aku tahu siapa yang nyeret aku dari kafe. Aku tahu mereka bawa aku ke hotel.”
Ayah Nirmala langsung pucat. “Ayah… ayah nggak—”
“Tolong jangan bohong lagi.”
Nada Nirmala tegas, tidak keras tapi menghantam.
Ayahnya menunduk.
Daren memperhatikan semuanya tanpa menyela.
“Ayah tahu kan?” Nirmala melanjutkan. “Ayah tahu mereka mau jual aku. Ayah tahu ibu tiri aku sudah lama benci sama aku.”
Ayahnya menutup wajah dengan kedua tangan. Tubuhnya sedikit bergetar.
“Ayah tahu…” suaranya lirih. “Ayah hanya… ayah bingung. Ayah takut rumah ini pecah. Ayah takut kehilangan istri ayah… kehilangan keluarga.”
Nirmala menatapnya tanpa berkedip. “Ayah kehilangan aku.”
Ucapan itu membuat ruangan mendadak sangat sunyi.
Ayahnya terisak pelan, pria dewasa yang akhirnya hancur di depan anaknya sendiri. Daren memalingkan wajah, memberi ruang pada keduanya.
“Ma… maafkan ayah…,” ucapnya terbata. “Ayah tahu ayah salah… ayah nggak bisa jaga kamu.”
Nirmala tidak menangis, meski matanya sedikit memerah.
“Aku nggak mau ribut soal masa lalu. Aku cuma mau ayah dengar satu hal.”
Ia menoleh ke Daren.
“Aku dan Daren akan menikah.”
Ayahnya terangkat dari duduk, kaget setengah mati.
“A-apa?”
Daren segera bicara sebelum situasi makin kacau.
“Pak, saya…” Ia menelan ludah. “Saya memang bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Saya hadir di hotel itu. Dan saya ikut campur. Karena itu… saya siap menikah dengan Nirmala.”
Ayah Nirmala menatap Daren lama, seperti berusaha membaca apakah pria di depannya sedang bercanda.
“Apa ini… keputusan sadar?” suaranya berat.
“Ya, Pak,” jawab Daren mantap, meski jelas hatinya berdebar.
Ayahnya memegang kepala, berusaha memproses.
“Nirmala… kamu yakin?”
Nirmala mengangguk. “Aku nggak punya pilihan lain, Yah. Ibu tiri aku udah kelewatan. Dan aku tau dia bakal makin parah kalau aku sendirian.”
Ayahnya memejamkan mata lama.
Ketika ia membuka, pandangannya berubah—lebih tajam, lebih seperti ayah yang seharusnya.
Ia menatap Daren langsung.
“Kalau kamu benar mau nikahi anakku… aku cuma punya satu permintaan.”
Daren duduk lebih tegak. “Silakan, Pak.”
“Lindungi dia.”
Suara ayah Nirmala pecah.
“Lindungi dia dari istriku. Dari anak tirinya. Dari siapa pun yang mau nyakitin dia.”
Nirmala menatap ayahnya dengan terkejut. Ini pertama kalinya ayahnya bicara sekeras itu soal keluarganya.
Ayahnya melanjutkan, “Aku memang lemah. Aku tahu itu. Aku tahu mereka jahat, tapi aku selalu mengalah. Aku kira kalau aku diam, semuanya akan baik-baik saja.”
Ia menggeleng, menyesal.
“Tapi ternyata diam justru membuat Nirmala hampir hilang.”
Daren mencondongkan tubuh sedikit.
“Aku berjanji, Pak. Saya akan lindungi Nirmala. Dengan kemampuan saya, dengan nama saya, dengan apa pun yang saya punya.”
Ayahnya menghela napas lega, sedikit gemetar.
“Kamu tidak tahu betapa jahatnya mereka kalau mereka sudah mau sesuatu…”
Nirmala tertawa pendek. “Aku tahu, Yah. Aku hidup dengan mereka setiap hari.”
Daren akhirnya bertanya, “Mereka sekarang di mana, Pak?”
Ayah Nirmala memandang ke arah tangga, seolah takut kalau seseorang sedang menguping.
“Istri saya… melisa… dia sedang ke rumah saudaranya. Lia ikut.”
Kemudian ia menatap mereka kembali.
“Kalau mereka tahu soal rencana kalian… mereka akan menyerang. Mereka akan coba hancurkan Nirmala.”
Nirmala mencibir. “Biar aja. Aku udah siap.”
Ayahnya menggeleng keras. “Tidak! Kamu tidak boleh hadapi mereka sendirian! Kamu harus pergi dari rumah ini sementara.”
Nirmala terdiam.
Daren menatapnya, kemudian menatap ayahnya.
“Aku bisa bawa Nirmala tinggal di tempatku,” kata Daren. “Aman, tidak ada yang bisa sentuh dia.”
Ayahnya terlihat lega, tapi bersamaan dengan itu kehilangan.
Seolah ia tahu anaknya akan pergi jauh karena ia gagal menjaganya.
“Ayah… aku nggak pergi selamanya,” kata Nirmala pelan. “Aku cuma butuh waktu. Dan… aku butuh kamu kuat sedikit aja. Setidaknya… jangan lagi pasrah.”
Ayahnya mengangguk pelan, mengusap mata.
“Aku akan coba… walaupun aku tahu aku nggak seperti dulu.”
Daren dan Nirmala berdiri.
Ayahnya menggenggam tangan Daren sebelum mereka pergi.
“Jaga dia,” ucapnya lagi, lebih tegas.
Daren mengangguk. “Saya janji.”
Saat mereka berjalan keluar rumah, Nirmala menoleh sebentar.
Ayahnya berdiri di pintu, menatap mereka dengan mata penuh harap dan rasa bersalah yang tidak akan hilang dalam waktu singkat.
Daren membuka pintu mobil untuk Nirmala.
Begitu pintu tertutup, Nirmala menghela napas panjang.
“Sekarang semuanya resmi dimulai,” katanya.
Daren menyalakan mobil. “Mulai apa?”
Nirmala menatap lurus ke depan.
“Perang.”
Assalamualaikum selamat pagi jangan lupa like dan komen nya ya..selamat membaca🥰🥰