Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SULIS YANG MAKIN DEPRESI
Langit masih tampak begitu terang benderang setelah kematian Karim, dan juga Prapto. Seolah bumi desa itu hidup kembali setelah sebelumnya selalu di guyur hujan dan langit selalu tampak gelap.
Hari pun kembali turun hujan, setelah seharian terik mentari menyinari desa yang terasa begitu mencekam. Sulis terus saja bergumam sendirian di dalam kamarnya, karena sang dukun yang di panggil belum juga datang karena suatu halangan.
Dengan gelisah, Sulis mondar-mandir di dalam kamar.
"Sudah dua hari, tapi orang pintar itu belum juga punya waktu untuk mengadakan ritual. Astaga... aku semakin cemas. Ah... sial sekali! Bagaimana kalau si setan Yusuf itu tiba-tiba datang menuntut balas kepadaku?! Lalu, nasibku akan seperti Karim dan Prapto. Oh, tidak-tidak! Aku tidak mau mati mengenaskan seperti itu. Haarrrgghh....!!! Aku masih ingin menikmati hidup, aku masih ingin menikmati kekayaan orang tuaku. Sialan si Yusuf! Sudah mati pun masih terus membayangiku! Dasar lelaki sialan! Sudah lama tiada, masih tetap membuatku kesal. aaarght!"
bRaNG...!!!
Gelas yang di meja pun ia lempar sangking kesalnya.
Pecahan kaca kemudian berserakan di lantai.
Rohmat dari arah luar, seketika membuka pintu dengan raut wajah yang penasaran.
"Sulis! Ada apa? Kamu baik-baik saja, Lis?" Dengan detak jantung yang tak beraturan Rohmat memasuki kamarnya. Dia sangat khawatir karena dua hari ini kesehatan istrinya nampak tidak baik-baik saja.
Namun, saat melihat lantai, "Astagfirullah hala'zim, Sulis! Jika kamu merasa tidak enak badan, sebaiknya kita pergi periksa ke Bidan Asih. Ayo, aku antar sekarang juga, Lis."
Rohmat mendekat lalu membersihkan pecahan kaca itu.
Sulis melirik sinis.
"Aku sehat. Kamu nggak usah sok perhatian deh, Mas. Aku tau, kamu bertahan denganku, hanya karena hartaku, kan? Di dunia ini tidak ada lelaki yang tulus kepadaku. Semuanya hanya bersandiwara, semua hanya karena hartaku. Hanya satu lelaki yang tidak pernah menginginkan hartaku. Namun, namun..., dia sudah mati. Dia sudah tidak bisa aku dapatkan lagi. DIA BAJING*N! Beraninya dia menolak cintaku. Huhu..., mengapa aku menyesal setelah dia tiada. MENGAPA...! Bahkan setelah mati pun, dia tetap tak membiarkanku hidup dengan tenang. Huhu..., aku harus ke dukun secepatnya."
Racau Sulis dalam tangisnya. Sulis pun bertingkah seperti orang yang terkena gangguan jiwa.
"Astagfirullah al azim! Sulis. Sebenarnya rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku, Lis. Sekarang, katakan... agar aku bisa membantumu. Sebenarnya ada apa antara kamu dengan keluarga Yusuf dulu. Katakan, Lis?"
Rohmat merasa iba sekaligus curiga kepada istrinya, kalau ada sesuatu kebenaran yang di sembunyikan. Walau awalnya dia benar-benar membenci, Sulis. Namun, setelah menikah dan mengikrarkan ijab khabul, di saat itulah dia tersadar, bahwa janjinya bukan hanya kepada ayahnya, Sulis saja. Namun kepada Alllah SWT juga.
Sulis nampak memandang ke cermin dengan tatapan kosong. Rohmat hendak bertanya lagi, namun terdengar suara ketukan pintu.
Tok...
Tok...
Rohmat segera membuka. "Eh, Bang Rohmat. mbak Sulisnya, ada? Saya mau bicara hal pentung sama, mbak." Parmi menunjuk ke dalam kamar dengan jari jempolnya, menandakan kesopanan.
Rohmat nampak berpikir sejenak. Lalu, "Masuk, ada orangnya di dalam. Sekalian beresin pecahan kacanya ya?" Rohmat lalu keluar kamar, untuk merenung.
Di dalam kamar, Sulis nampak terus memandangi cermin dengan raut wajah yang nampak tegang. Keringat di dahinya mulai menetes, kedua tangannya meremas seprei dengan sangat kuat. Tubuhnya bergetar.
mbak Sulis! Dulu, kamu Bilang mencintaiku, mbak Lis. Dulu kamu bilang, kamu ingin menikah denganku. Hahaha...!
Nampak sosok di cermin memandanginya dengan
kepala menunduk namun matanya yang merah menatap ke arah sulis tajam. Senyum semriwing begitu menyeramkan. Lalu kepalanya berputar 180°, ke arah photo keluarga yang tertempel di dinding. Menatap wajah Laela tajam, lalu dengan hal yang sama kepala itu berputar lagi menatap Sulis di Cermin. Mata Sulis tak berkedip.
Ayo ikut aku, mbak Lis! Aku kini menginginkanmu.
Ikutlah aku...! Hahaha... Ayo ikut!
Tangan hitam yang lebih tepatnya hangus, dengan asap yang masih mengepul dari celah-celah kulit itu terulur ke arah, Sulis.
"Tidak! Tidak! Pergi! Pergi kamu! Kamu sudah mati!" Teriak Sulis tiba-tiba, dengan dada naik turun, dan kedua tangannnya menutupi telinganya.
Parmi yang terkejut segera menghampiri. "mbak Sulis, sadar mbak." Parmi pun panik ketakutan. Dia terus menggoyang-goyangkan tubuh Majikannya itu.
Ayo...! Jangan ragu, mbak Sulis...! Hihi...! Aku mengikhlaskannya. Bukankah dulu kamu menginginkan sekali bersama Mas Yusuf? Ikutlah dengan kami..., mbak Sulis... kits akan hidup bersama-sama, hihihi...!
Tiba-tiba muncul penampakan satu lagi yang memakai baju setelan rok dengan atasan kaos oblong yang kini terlihat compang-camping. persis saat dia mengenakannya saat terakhir kali sebelum ia meninggal.
"Tidak...! PERGI!" Sulis hendak melempar cermin besarnya, namun dengan sigap Parmi mencoba
menghentikannya.
"Jangan! mbak. Sudah, sudah! Jangan dengarkan bisikan setan itu." Parmi berusaha menenangkan, Sulis.
"mbak, saya ada kabar baik. Si orang pintar itu akan datang besok. Dan saya kemari menemui mbak Sulis, mau memberitahu syarat-syarat yang harus mbak penuhi. Saya mohon, sadarlah." Imbuh Parmi lagi sambil menepuk-nepuk pipi Sulis, berharap dia sadar.
Sulis yang masih dengan dada naik turun menoleh menatap, Parmi.
Bibirnya mulai mengembang. "Benarkah, Par? Aku senang sekali mendengarnya. Sekarang, sebutkan apa saja yang harus aku lakukan." Tanya Sulis bersemangat. Parmi pun menghela napas lega. Ternyata Sulis masih bisa di ajak komunikasi juga.
"Syaratnya seperti biasa, mbak." Lalu Parmi pun menyebutkan semua syaratnya. Sulis mengangguk-angguk paham. Dia pun mulai menyuruh semua orang supaya mencari barang-barang yang telah di sebutkan Parmi barusan.
"Pak. Ada apa sih? Kok Ibu sepertinya sedang meminta sesajen. Ibu mau bikin ritual apaan, Pak?" Tanya Beni saat baru saja pulang sekolah.
"Bapak pun tidak tau, Ben." Jawab Rohmat yang dia pun mendengar sekilas obrolan antara Parmi, dan Istrinya yang menyebut-nyebut nama Yusuf, beserta Istrinya. Dia pun terbayang lagi akan kisah masa lalu.
Hem..., apakah Yusuf akan menuntut balas?
Bukannya dia yang telah membuat istriku hamil? Tapi, mengapa sepertinya istriku di hantui rasa ketakutan bila bermimpi akan pria itu?
Rohmat merenung. Mencari tanda ketidak beresan, namun Lagi-lagi buntu. Karena memang pada jaman itu tidak menetap di kampung.
"Pak! Kok ngelamun Sih?!" Tepuk Beni di pundak Bapaknya.
Mau tidak mau, Rohmat pun menceritakan apa yang terjadi kepada, Beni, tentang kisah masa lalu, Sulis istrinya.
Beni pun makin penasaran dengan cerita itu.
Sepertinya, aku harus mencari seseorang, untuk bisa menjelaskan semua masalah ini. Aku tidak mau ada korban-korban berikutnya. Pasti Yusuf dan Istrinya kembali karena ada sesuatu yang belum selesai.
Pikir Beni dalam hati. Namun tak ia ungkapkan pikirannya tersebut.
"Ya sudah, Pak. Aku mau langsung ke ladang dulu."
Beni meninggalkan Bapaknya begitu saja. Rohmat hanya menghela napas.
***
Di kediaman Pak Anwar, semua sibuk dengan sesajen yang sedang mereka cari, sedangkan Laela, yang bolos sekolah, sedang menikmati Miras, di warung mbak Anita.
"Neng! Jangan terlalu teler. Entar susah kami memberi alasan sama keluargamu. Heh...! Kamu itu, masih muda, tapi sudah suka beginian." Ujar salah satu pegawai warung kopi tersebut.
"Iya, dia mah persis Ibunya. Ibunya udah nggak pernah datang, malah anaknya yang suka nongkrong di sini. Haha...! Dan Ibunya sangat suka main sama tiga lelaki sekaligus. Gila bener itu, si Sulis. Giliran hamil, malah mencari kambing hitam. Nggak apa-apalah, yang penting duitnya banyak. Haha...!" Ucap mbak Anita pemilik warung yang nampak masih muda walau usianya sudah hampir setengah abad.
"Kalian ngapain ngomongin, Ibuku. Stop! Jangan ngomongin dia lagi. Hehe... aku benci dengan darah yang ada di tubuhku! Aku keturunan dari seorang lelaki cab*l! Aku nggak terima di bilang anaknya! Aku benci!" Racau Laela di setengah kesadarannya.
Anita geleng-gelang kepala. "Kasian! Padahal dia anaknya siapa..., pun tidak ada yang tau. Sulis sendiri juga tidak tau dia hamil dengan siapa, sangking bar-barnya dalam melakukan hubungan intim dengan banyak pria. Cek!" Anita berdecak lalu menjauh dari situ.
Anita duduk di depan warungnya sambil menghisap rok*k. Ia pun terbayang kejadian masa lalu.
Kasian sekali ustad yang tak bersalah apa-apa itu. Dia harus menjadi korban oleh keegoisan Sulis, yang benar-benar tidak punya hati. Hem... sebenarnya aku ingin angkat bicara. Namun, rombongan masa yang sulis bayar dan ia pengaruhi, terlalu banyak. Aku tidak ada pilihan selain tutup mulut, supaya hidupku aman.
Anita menghela napas dalam. Berpikir, dengan siapa ia harus menceritakan hal itu. Ia merasa bersalah telah ikut menutupi kebenaran selama itu.
"Tante! Kakak saya ada di sini kan?" Tiba-tiba Beni muncul tepat di hadapannya.