Arsenio Wickley, seorang mafia yang berusia 39 tahun. Semenjak kejadian kekasihnya pergi karena kesalahan pahaman, semenjak itu Arsenio menutup hatinya untuk semua wanita. Tapi, kehadiran seorang gadis mengubah pendiriannya. Clara datang kepadanya, dan berniat menjadi sugar baby Arsen. bukan karena uang tapi karena ia butuh kasih sayang yang tidak ia dapat dari orang tuanya.
" Om, aku mau jadi sugar Baby om" ucap Clara sambil menatap wajah Arsen.
" Apa kau tahu, apa yang dilakukan Sugar Baby?" Arsen mendekati wajah Clara, membuatnya sedikit gugup.
" Memang apa yang harus aku lakukan?" tanya Clara yang penasaran, ia hanya tahu sugar baby itu hanya menemani makan, dan jalan-jalan.
" kau harus menemaniku tidur, apa kau mau?" Arsen semakin memojokkan tubuh Clara.
" tidak!! aku tidak mau.." Clara berlari saat mendengar ucapan Arsen.
" Dasar bocah ingusan" ucap Arsen seraya menggelengkan kepala.
Nantikan kisah kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu.peri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Clara
Sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, keheningan menyelimuti mobil mereka. Clara duduk mematung, tak lagi berani melirik pria di sampingnya. Pipinya masih terasa hangat oleh bekas ciu man paksa itu. Hatinya campur aduk—marah, takut, juga terluka. Tapi yang paling tak bisa ia sangkal… adalah detak jantungnya yang tak kunjung tenang sejak kejadian itu.
Sementara Arsen tetap diam, tangannya mencengkeram setir, pandangannya tajam menatap jalan. Wajahnya keras, tapi jelas-jelas ada badai yang sedang berkecamuk di balik matanya yang kelam.
Sesampainya di apartemen, Arsen membanting pintu mobil dan berjalan masuk lebih dulu. Clara tertinggal beberapa langkah di belakang, menunduk, menggigit bibirnya kuat-kuat agar air matanya tak tumpah di depan pria itu.
Pintu apartemen terbuka lebar dan terbanting saat Arsen masuk. Clara ragu untuk melangkah masuk, tapi ia tahu... tak ada pilihan lain.
Perlahan, ia masuk dan menutup pintu. Namun baru dua langkah masuk, suara Arsen membuat tubuhnya membeku.
"Apa sekarang kau membenciku,?"
Clara menggigit bibirnya, mencoba menata suaranya sebelum menjawab.
"Aku… tidak tahu," bisiknya lirih.
Arsen berbalik, menatapnya. Matanya gelap, tajam, tapi kali ini tak lagi terbakar amarah. Lebih seperti... kesedihan yang ditutupi dengan arogansi.
"Kau bisa memilih untuk pergi bersama pria itu, jika kau mau. Tapi jangan kembali. Sekali kau pergi, maka aku tak akan pernah mencarimu lagi."
Clara menunduk. "Tuan…"
"Apa?" Arsen melangkah mendekat, sorot matanya menusuk.
Clara berusaha mengangkat wajahnya. Meski tubuhnya gemetar, ia tetap berdiri di hadapan pria itu.
"Aku tidak mencintainya… Dan aku juga… tidak tahu apa yang aku rasakan terhadap Anda."
Arsen menyipitkan matanya. "Kau tidak membenciku?"
Clara menggeleng pelan.
"Kalau begitu…" Arsen mendekat hingga hanya ada jarak napas di antara mereka. Tangannya mengangkat dagu Clara dengan lembut.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tahu… kau milikku, Clara. Dan aku tak akan pernah membiarkan siapa pun mengambilmu dariku, meskipun kau sendiri mencoba kabur."
Clara menahan napas.
Arsen menarik tubuhnya ke pelukannya—tidak sebrutal tadi di mobil, tapi tetap dengan intensitas posesif yang dalam. Kali ini, bibirnya mendarat pelan di dahi Clara. Lembut. Hangat. Tapi menyiratkan kuasa penuh.
Clara memejamkan mata. Ia ingin menolak, ingin lari dari ketakutannya sendiri… tapi pelukan itu seperti magnet. Meski menyakitkan, ada sesuatu yang membuatnya tetap diam.
"Aku benci ketika kau membuatku kehilangan kendali," bisik Arsen. "Tapi lebih dari itu… aku benci membayangkan kau jadi milik pria lain."
Clara menelan ludahnya, lalu membalas pelan.
"Aku bukan milik siapa-siapa, Tuan… Tapi kalau Anda menginginkan aku tetap tinggal, maka... jangan perlakukan aku seperti barang."
Arsen menegang. Ia menatap gadis itu lama—seolah mencari alasan untuk marah lagi—tapi ia justru menunduk perlahan, meletakkan dahinya di bahu Clara.
"Maaf… Aku memang b*jingan."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya… Clara merasa bahwa monster yang selama ini ia takuti, mungkin… menyimpan luka yang lebih dalam dari yang ia kira.
****
Dimansion kelurga Wickley.
Liam berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan wajah kesal. Napasnya memburu, dan sesekali ia menggerutu sendiri.
"Seharusnya kami masih berada di Los Angeles sekarang… untuk transaksi senjata itu! Tapi apa yang terjadi? Arsen malah kabur pulang mendadak tanpa kabar!" gerutunya, menghentak kaki ke lantai.
Ia menjatuhkan diri ke sofa dengan kasar, menyandarkan tubuh sambil menghembuskan napas berat. Di sampingnya, Arion duduk santai dengan mata yang tak lepas dari layar ponsel.
Liam melirik ke arahnya. "Arion, kau tahu di mana Daddy mu sekarang?"
Tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun, Arion menjawab santai, "Kenapa tanya aku? Harusnya uncle tanya Bastian. Kalau urusan Daddy, biasanya dia tahu lebih dulu."
Mata Liam langsung berpaling pada Bastian, yang berdiri tak jauh dari sana sambil menggaruk kepala belakangnya, tampak sedikit gelisah.
"Emm… sebenarnya aku juga kurang tahu persis keberadaan Tuan Arsen," ucap Bastian hati-hati. "Tapi beberapa hari lalu, beliau menyuruhku belanja pakaian wanita. Lengkap, dari tas, sepatu, hingga… dalaman wanita juga. Semuanya dimasukkan ke kamar lantai atas apartemen milik Tuan."
Arion langsung duduk tegak, menghentikan aktivitas scrolling di ponselnya.
"Benarkah?" tanyanya, menatap Bastian penuh selidik.
"Y-ya. Semuanya barang branded. Bahkan parfum, skincare, sampai piyama satin yang... terlalu seksi untuk sekadar dipakai tidur."
Liam dan Arion saling pandang. Tatapan mereka penuh kecurigaan yang sama.
"Aku rasa, Daddy-mu menyembunyikan wanita di sana," gumam Liam sambil menatap Arion dengan alis terangkat. "Dan kita harus memastikan siapa dia."
Arion mengangguk pelan, wajahnya kini menunjukkan ketertarikan.
"Aku punya ide," bisik Liam sambil menepuk bahu keponakannya. "Kita akan datangi apartemen itu diam-diam. Bastian, kau ikut. Kau tahu tempatnya, kan?"
Bastian hanya bisa mengangguk meski raut wajahnya cemas. Ia bisa membayangkan kemarahan Tuan Arsen jika tahu apartemen rahasianya diacak-acak oleh keluarganya sendiri.
****
Di Kediaman Keluarga Wijaksono
Di ruang keluarga yang hangat dan tenang, Sera bersandar manja di bahu Anton. Wajahnya terlihat berseri, penuh rasa nyaman dan manja. Sejak kepergian Clara dari rumah, hidupnya terasa jauh lebih ringan. Tak ada lagi tatapan menyebalkan atau pertanyaan mengusik. Ia menjadi anak tunggal kesayangan.
"Papa…" Sera menggeliat manja, melingkarkan lengannya di lengan Anton. "Malam ini aku ada tugas kuliah bareng teman-teman. Mungkin aku akan menginap di rumah Bella ya?"
Anton yang baru saja menyelesaikan makan malamnya, menoleh dan menatap wajah putrinya. Ia mengangguk pelan.
"Hmm… pergilah. Tapi jangan keluyuran malam-malam. Jaga dirimu baik-baik."
Sera tersenyum puas dan mengecup pipi ayahnya singkat. "Iya, Papa memang terbaik!"
Namun di sisi lain ruangan, Elisa—menatap adegan itu dengan tatapan mencurigakan. Ia memperhatikan betul bagaimana Sera beberapa menit lalu meminta uang dalam jumlah cukup besar pada Anton untuk “beli alat tulis dan fotokopi tugas.”
‘Tugas kuliah macam apa yang butuh uang jutaan?’ batin Elisa curiga. Ia mengenal bagaimana putrinya. Senyuman manis Sera mungkin bisa mengecoh Anton, tapi tidak dirinya.
Dengan sorot mata tajam, Elisa bertekad. Malam ini, ia akan mengawasi gerak-gerik Sera. Diam-diam, ia ingin tahu ke mana sebenarnya gadis itu akan pergi.
****
jangan lupa mampir di cerita baru author.
MEMBAWA BENIH SANG CASSANOVA
🥰🥰🥰