Kasus yang menyeret namanya ini menyebabkan Raga dikeluarkan dari sekolah. Akibat dari itu hidup Raga menjadi tambah berat selain masih dalam tahap penyelidikan polisi, masa depan yang ia tata dengan rapih hancur begitu saja. Sampai dimana Raga menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Ada yang mengatakan bahwa hilangnya Raga masih bersangkutan dengan kasusnya atau penculikan berencana. Namun ditengah huru hara menghilangnya seseorang Raga munculah orang yang mengakui bahwa ia adalah sahabat Raga. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka percaya Raga menghilang? Dan Apakah dia benar sahabat Raga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerita di dapur kedai Amang
"Aku pernah bilang kepada Umbar jika kau ini mirip Raga." ungkap Amang sembari menyodorkan mereka dua buah mangkok dengan kuas yang masih berasap.
Sesuai janji yang di bilang tadi. Desi sudah mengantarkan Anwar untuk pergi ke kedai bakso milik Amang. Katanya Anwar, dia rindu dengan bakso buatan Amang dan sebenarnya Desi hanya berniat untuk mengantar Anwar saja namun tidak disangka Amang menyuruhnya menemani Anwar untuk makan bakso tentunya Desi mendapatkan harga gratis sebagai imbalan karena sudah mau menuruti perintah Amang padahal Desi sendiri akan di traktir Anwar.
"Sudah beberapa orang yang berpendapat bahwa aku ini mirip Raga. Padahal muka kita jauh sangat beda." Ujar Anwar
"Bukan wajah mu tapi lebih ke sifat dan gerak gerik mu. Tatapan mu juga sedikit ada jiwa Raganya." Desi memperjelas dengan bahasanya sendiri karena Desi pun setuju dengan Amang bahwa Anwar ini sekilas mirip dengan Raga.
"Oh yah? Aku sendiri tidak merasa seperti itu."
"Desi, Amang pergi kebelakang dulu jika ada sesuatu tentang Anwar beri tahu Amang oke." Desi hanya mengangguk sambil tersenyum
"Kau dekat juga dengan pria tua pemilik kedai bakso ini?"
"Awalnya tidak tapi karena raga sering mengajakku ke tempat ini aku jadi mengenal dia."
"Selamat makan." Seru Anwar
Tidak ada obrolan apapun diantara mereka saat sedang menyantap baksonya yang terdengar hanyalah bunyi perpaduan sendok dan garpu ataupun suara motor dan mobil yang berlalu lalang karena kebetulan kedai bakso ini dekat jalan raya.
Sampai Desi mencoba kembali memulai percakapan dengan Anwar
"Kamu tahu kalau Raga berkerja buruh disini?"
Anwar masih fokus dengan bakso, ia lebih memilih menelan dengan halus apa yang dikunyah nya lalu setelahnya menjawab pertanyaan Desi.
"Aku tahu." Singkatnya
"Apakah kamu pernah kesini sebelumnya?"
Anwar terhenti sejenak setelah mendengar kalimat dari Desi ini.
"Belum pernah tapi ini kedua kalinya aku kesini dan bisa kah kita habiskan dulu bakso ini?"
Desi tersenyum malu seolah tersindir dengan kalimat Anwar. Entahlah Desi tidak bermaksud untuk tidak sopan akan tetapi Desi masih begitu penasaran dengan Anwar.
"Anwar aku izin kebelakang, mau ke toilet."
"Silahkan."
Lalu setelahnya Desi bergegas dengan langkah sedikit cepat menuju arah toilet yang berada di belakang kedai bakso ini. Lebih pas nya toilet itu bersatu dengan tempat cuci piring dan Desi tentunya tidak kebingungan lagi dengan letak toilet disini karena ia sendiri sudah sering mampir ke kedai bakso ini.
Namun rupanya tujuan untuk ke toilet tadi hanya kiasan bekala yang mana sebenarnya Desi malah menghampiri Amang yang dilihat sekarang sedang mencuci beberapa piring kotor dengan posisi jongkok.
"Biasanya Raga yang bagian cuci mangkok seperti ini."
Sontak Amang langsung memalingkan penglihatannya mengarah kepada Desi. Desi pun dengan sengaja langsung berposisi jongkok seperti Amang.
"Kenapa kau ke mari? Bukannya Amang menyuruh kau untuk menemani Anwar?"
"Dia aneh orangnya, kadang ramah kadang judes dan kadang terlihat seperti Raga." Ngeluhnya padahal tadi ia berkata masih penasaran dengan sosok Anwar namun ketika ditanya oleh Amang jawabnya tidak sesuai dengan isi hatinya.
Dasar perempuan
"Jadi?" Kedua tangan Amang penuh dilumuri sabun dan hal itu tentunya untuk membasuh mangkok yang kotor alias mangkok yang sudah digunakan oleh pelanggan nya
"Aku hanya ingin berkata kepada Amang jika kita harus mencurigai Anwar."
"Duduk dipojok sana terlebih dahulu, Amang akan membereskan pekerjaan ini. Kalau kau bertanya disini pekerjaan ini tidak akan selesai." Titah Amang dan mendengar hal itu pun Desi langsung menuruti apa yang dikatakan Amang. Lalu menunggu Amang membereskan pekerjaannya ini. Tak membutuhkan waktu lama apa yang Amang kerjakan pun sudah rampung. Kini Amang menghampiri Desi yang sedang terduduk di sudut pojok sesuai apa yang Amang perintah tadi.
"Kau mau minum terlebih dahulu?" Tawar Amang kepada Desi. Kebetulan dibelakang kedai bakso Amang ini menyatu dengan dapur juga jadi segala aktivitas di dapur ini bisa dilakukan dalam satu ruangan.
"Tidak usah aku menghampiri Amang hanya ingin bertanya kepada Amang soal Anwar dan sepertinya Amang mengetahuinya lebih tentang Anwar."
Amang menghela nafas dengan pelan. Dirinya meneguk air teh hangat terlebih dahulu "Aku memang pernah bertemu dengan Anwar dan ini adalah pertemuan kedua kami." Jawab Amang dengan nada yang tidak terlalu antusias. Berbeda dengan Desi ketika mendengar bahwa Amang sudah bertemu lebih satu kali dengan Anwar mata Desi berbinar seakan hal itu adalah kejadian yang menarik untuk dibahas oleh mereka detik ini juga.
"Lalu? Apakah Amang bisa menceritakan lebih kepada ku? Aku harus tahu juga tentang Anwar ini. Terlebih sekarang dia satu sekolah dengan kami dan mengakui jika dia sahabat Raga."
"Dia bersekolah ditempat yang sama dengan kalian?" Kini giliran Amang yang dibuat penasaran oleh Desi.
"Benar dia satu sekolah bersama kita disekolah aku dan Raga. Aku tidak tahu apa tujuannya tapi yang jelas aku mencurigai dia bukan sebagai penjahat tetapi sebagai mata mata Raga." Penjelasan Desi yang membuat Amang menjadi berpikir keras. Apa maksud Desi sebagai mata mata Raga?
"Apa maksud mu sebagai mata mata Raga?"
"Maksudku ketika tadi pulang sekolah dia datang menghampiri kelas ku dan mengajakku untuk pulang bersama dengan jaminan dia akan membawa ku ke taman yang sering aku kunjungi bersama Raga. Tidak hanya itu dia membelikan ku ice cream matcha dan lebih anehnya lagi dia memakan batagor yang dimana batagor itu adalah makanan kesukaan Raga. Jadi aku rasa aku kita rasa patut untuk mencurigai dia sebagai mata mata Raga." Desi menjelaskan ini kepada Amang dengan antusias yang luar biasa.
"Jadi ini alasan mu menemui ku ke dapur dan meninggalkan Anwar disana?"
Desi mengangguk kecil "Dan tentunya aku juga penasaran dengan pertemuan pertama kali kalian. Amang bilang jika ini pertemuan kedua kalinya bersama Anwar. Jadi tolong ceritakan itu kepada ku." Desak Desi
"Baik aku akan menceritakannya secara singkat. Beberapa hari yang lalu orang yang bernama Anwar itu datang menghampiri ku dengan membawa sepucuk surat dan segepok uang yang dibungkus oleh map coklat. Dia bilang jika dia sahabat Raga dan ketika aku mendengar hal itu jujur aku sedikit tidak percaya namun lama kelamaan aku mulai percaya bahwa dia sahabat Raga. Hal itu dikuatkan dengan dia yang seperti Raga. Dan menurut ku persahabatan yang baik itu pasti ada kemiripan diantara mereka."
"Benar dia seperti Raga." Sahut Desi lalu Amang melanjutkan penjelasannya yang belum selesai "Sampai aku menghubungi reserse Umbar lalu menyuruh nya untuk mengecek surat dan uang yang aku dapatkan dari Anwar ini apakah benar dari Raga. Aku percaya dia sahabat Raga tapi untuk surat berserta uang yang ia berikan aku tidak yakin jika itu dari Raga."
"Hasilnya bagaimana?" Penasaran Desi
"Belum ada informasi baru dari pihak reserse Umbar. Dan cepatlah kau balik ke meja Anwar jangan buat dia jadi curiga kepada kau." Titah Amang.
"Baik dan terimakasih Amang untuk ceritanya."