Menceritakan tentang sosok pria kaya raya yang menikahi seorang wanita dengan tujuan balas dendam.
Riana Mahesa, seorang gadis yang harus menerima sebuah pernikahan yang disiapkan oleh orang tuanya guna membalas semua jasa dari orang yang telah merawatnya sejak kecil itu.
Regha Tanjung, pria yang berhasil mencapai kesuksesannya diusia yang terbilang masih sangat muda.
Regha membuat sebuah rencana pernikahan kontrak guna membalaskan semua dendam keluarganya.
Pernikahan yang hanya bertujuan membalas Budi dan juga balas dendam bagaimanakah akan berjalan dan berakhir.
Jadi selamat membaca, jangan lupa setiap dukungan kalian sangatlah berarti bagi author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spring day, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketakutan
Happy reading all 🌺
Seperti seorang anak yang merasa nyaman dan tenang dalam dekapan ibunya, Regha kini juga sudah merasa lebih baik.
" kau ingin kutunjukkan sesuatu yang luar biasa," ucap Riana tiba-tiba ketika merasa jika kondisi Regha sudah lebih baik sekarang.
" Apa yang bisa dilakukan disaat disekeliling kita hanya ada kegelapan saja," masih memeluk Riana sangat erat.
" ternyata meski sedang ketakutan pun kau itu masih sangat menyebalkan yah,"
Riana menuntun Regha menuju kebalkon kamar mereka.
" Ayo masuk saja dan tunggu didalam, untuk apa kau membawaku kemari," ingin masuk lagi kedalam.
" Ehh tunggu sebentar, kemari dan lihatlah ini," menunjukkan langit malam yang dipenuhi oleh bintang.
Regha melihat takjub kearah pemandangan malam yang dia lihat sekarang.
" Kau lihat disaat kegelapanpun masih ada sebuah keindahan yang dapat kita lihat," lirih Riana.
Regha tidak pernah menyangka jika ternyata didalam sebuah kegelapan terdapat sebuah keindahan yang luar biasa, langit gelap yang bertabur dengan ribuan bintang, sinar rembulan yang redup namun dapat dengan jelas memperlihatkan wajah gadis yang ada didekatnya itu.
" Jadi kau takut gelap yah," ucap Riana lagi sambil terus memandangi bintang-bintang.
" Kenapa kau menganggap ku aneh lagi," ucapnya ketus.
Riana menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan perkataan Regha barusan.
" Tidak aneh sama sekali, karena aku juga memiliki sebuah ketakutan yang sama sepertimu. Aku takut jika berada didalam sebuah lift. Dan menurutku semua orang pasti memiliki sebuah ketakutan mereka tersendiri, dan ketakutan itu bisa disebabkan oleh suatu peristiwa yang kurang menyenangkan,"
" Kau takut menaiki lift," ucap Regha menatap Riana.
" Emhh tapi itu dulu, sekarang aku sudah merasa lebih baik, karena kau terus saja memaksaku untuk menggunakan benda itu," menjawab namun tidak menatap kearah lawan bicaranya.
Riana tidak menyadari jika Regha sekarang sedang terus menatapnya lekat.
" Tapi sekarang aku yakin jika trauma bisa disembuhkan, rasa takut pasti bisa dihilangkan. Dan aku yakin juga jika suatu hari nanti akan ada seseorang yang menarikmu keluar dari ketakutan itu, akan ada seseorang yang akan menarikmu dari dalam kegelapan," menatap Regha.
Sesaat Regha terpanah melihat wajah Riana. Wajah gadis itu disinari cahaya redup dari rembulan dan juga rambutnya diterbangkan oleh angin malam yang bertiup sepoi-sepoi.
Riana kembali menatap bintang-bintang itu, matanya seakan berbinar ketika melihat bintang dilangit malam itu.
" Kau tau aku sangat suka melihat langit malam, ada keindahan bercampur dengan ketenangan disana. Selain itu juga ada harapan yang tersimpan pada setiap bintang. Lihatlah bukankah sangat indah," menunjuk kesebuah bintang yang sangat terang.
" Emhh sangat indah," hanya fokus menatap wajah Riana.
" Ehh lihat bintang-bintang itu, bukanlah mereka berbentuk seperti seekor kucing kecil," kembali tersenyum.
Riana sama sekali tidak menyadari jika tatapan Regha sejak tadi hanya berfokus kepada dirinya saja.
Tidak lamapun listrik kembali menyala.
" Ehh sudah nyala, ayo kita masuk diluar sini sangatlah dingin," mengajak Regha masuk.
Regha baru menyadari jika ternyata Riana hanya memakai piayama tipis dan juga kakinya tidak beralas.
Itu sudah pasti sangatlah dingin, bahkan Riana terlihat sesekali menghentakkan kakinya perlahan untuk mengurangi rasa dingin.
" Tuan muda apakah anda baik-baik saja," ucap Asisten Sam yang masuk dengan keadaan ngos-ngosan.
Riana sampai dibuat terkejut dengan kedatangan yang tiba-tiba dari pria itu.
" Apa yang terjadi Sam," ikut bingung seperti Riana.
" Tuan muda maafkan kelalaian saya, saya tadi sedang berada dalam perjalanan ketika listrik padam. Saya jamin itu tidak akan terjadi lagi," berbicara sambil berusaha mengatur nafasnya.
" Sudahlah tidak masalah, lagi pula menurutku didalam kegelapan sebenarnya tidak terlalu menyeramkan," melirik Riana sekilas.
" Apa, tapi tuan muda anda benar-benar baik-baik saja bukan," masih tidak percaya.
Asisten Sam Tau betul dengan ketakutan yang dimiliki tuan mudanya itu. Bahkan Regha akan mengeluarkan sisi lainnya jika berada didalam kegelapan, pria itu benar-benar sangatlah takut akan kegelapan, dan tidak ada seorangpun yang tau apa alasan Regha bisa setakut itu dengan kegelapan bahkan asisten Sam yang sudah bersamanya selama beberapa tahun itu.
" Baiklah jika begitu saya permisi dulu," langsung keluar dari kamar ketika sudah memastikan kondisi tuannya baik-baik saja.
Riana kini sudah meringkuk didalam selimut, sambil terus mengelap hidungnya.
Dia tidak henti-hentinya bersin.
" Ada apa denganmu kenapa kau terus saja bersin sejak tadi," ucap Regha memandang Riana.
" Ahh aku tidak apa-apa, aku hanya tidak bersahabat dengan udara dingin," mengelap hidungnya yang kini memerah itu.
Regha tidak merespon dan justru malah keluar dari kamar.
Riana hanya mengangkat bahunya kemudian kembali mengeratkan selimut itu untuk menutupi tubuhnya agar dia bisa merasakan kehangatan.
Tidak lama Regha masuk kedalam kamar dengan membawa sebuah nampan yang berisikan segelas air.
" Pindahlah kekasur, disini sangat dingin bukan,"
Riana hanya menurut karena tubuhya benar-benar menggigil sekarang.
"minum air hangat ini, kau akan merasa lebih baik setelahnya," membarikan air kepada Riana.
Riana lagi-lagi hanya menurut saja.
Regha mengambil sebuah minyak terapi dari dalam laci. Kemudian menarik Kaki Riana dan mengoleskan minyak itu.
" Om apa yang kau lakukan," ingin menarik kakinya kembali.
" Sudah kau diam saja jika kau tidak ingin mati kedinginan sekarang," menggosok kaki Riana yang sangat dingin.
Regha juga mengecilkan suhu AC dan menghidupkan penghangat ruangan.
" Biar aku yang melakukannya sendiri," ingin mengambil minyak terapi itu dari tangan Regha.
" Sudah diam saja, anggap saja ini balasannya karena kau sudah mengurangi rasa takutku tadi," memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Riana.
" Apakah kau sudah merasa lebih baik," bertanya kepada Riana.
Gadis itu hanya mengangguk tanda iya.
" Baiklah tidurlah sekarang, ini sudah sangat larut bukan," ikut masuk kedalam selimut dan berbaring didekat Riana.
" Baiklah selamat malam," ucap Riana canggung.
Entah apa yang sebenarnya Regha fikirkan namun dia tiba-tiba saja memeluk tubuh Riana.
" O..om apa yang om lakukan," tanya Riana, dia takut jika kejadian tadi terulang lagi.
" Sudah diamlah aku tidak akan melakukan apapun kepadamu, lagi pula tidak ada yang bagus dari tubuhmu ini," memeluk Riana semakin erat.
Lagi-lagi Riana hanya bisa terdiam dan hanya menurut saja.
Tidak lama setelah itu Riana kini sudah berada didalam mimpi indahnya, mungkin karena merasa nyaman dengan pelukan hangat dari pria yang ada didekatnya itu.
Reghapun juga sama, dia merasa sangat nyaman. Apalagi menghirup aroma vanilla yang dikeluarkan oleh Riana.
Ada kehangatan yang tercipta dimalam yang dingin itu.
***
Riana perlahan membuka matanya, dia sangat terkejut karena posisinya itu.
Tangannya kini sudah menjalar kedalam baju Regha dan berada di otot perutnya.
Sedangkan Regha masih memeluk pinggang Riana erat.
Astaga apa yang aku lakukan, berani sekali tangan ini memegang tempat terlarang seperti itu. menarik tangannya secepat mungkin.
Perlahan Riana menyingkirkan tangan Regha dari pinggangnya dan segera berlari kedalam kamar mandi.
Sementara itu Regha hanya tersenyum sekilas.
" Dasar gadis mesum, disaat dia sadar dia mengatakan aku mesum padahal disaat dia tidak sadar dialah yang menggerayangi tubuhku ini," gumam Regha sambil terus tersenyum mengingat tingkah konyol dari Riana.
***
Riana keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati Regha disana.
" Ehh kemana dia pergi sepagi ini," bergumam sambil mengeringkan rambutnya.
suami selly bikin otaknya terbalik terlalu yakin mengatakan yg diliar nalar sm regha🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣