Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Mobil sedan hitam milik Fatih meluncur tenang meninggalkan pelataran rumah sakit. Di dalam kabin, keheningan menyelimuti mereka, hanya suara rendah mesin dan hembusan penyejuk udara yang terdengar.
Fatih sesekali melirik spion tengah. Benar saja, mobil SUV hitam yang tadi ia curigai mulai menjaga jarak konstan di belakang mereka.
Raisa tampak duduk tegak, tangannya meremas tali tasnya sedikit erat. Meski ia berusaha terlihat tenang, matanya tak lepas menatap jalanan yang mulai temaram.
"Kita tidak langsung pulang," ucap Fatih memecah keheningan. Suaranya tenang, seolah tidak ada ancaman apa pun. "Saya belum makan malam sejak siang. Kita mampir ke restoran di depan."
Raisa menoleh, sedikit heran. "Tapi Dokter, ini sudah malam—"
"Hanya sebentar, Raisa," potong Fatih lembut namun tetap pada pendiriannya.
Sambil memutar kemudi menuju sebuah restoran yang cukup ramai, tangan kiri Fatih bergerak cepat di bawah kendali kemudi.
Tanpa melepaskan pandangan dari jalan, ia menekan sebuah tombol pintas pada sistem kendali kendaraannya yang terhubung dengan layanan keamanan pribadi keluarganya. Ia mengirimkan sinyal lokasi real-time dan sebuah pesan singkat: "Hadang SUV hitam di belakang saya. Jangan ada keributan. Bereskan dengan rapi."
Semua itu dilakukan Fatih dengan gerakan yang sangat halus, hingga Raisa sama sekali tidak menyadarinya.
Mobil Fatih berbelok masuk ke area parkir restoran. Saat mereka turun, Fatih sengaja berjalan di sisi luar, memposisikan dirinya sebagai pelindung bagi Raisa. Ia melihat dari sudut matanya, SUV hitam itu terpaksa melambat di seberang jalan karena sebuah mobil boks besar dan dua mobil pribadi lainnya mendadak memotong jalur, mengunci posisi SUV tersebut di tengah kemacetan yang sengaja diciptakan oleh anak buah Fatih.
"Ayo masuk," ajak Fatih sambil mempersilakan Raisa berjalan lebih dulu.
Di dalam restoran, Fatih memilih meja yang berada di sudut namun tetap memiliki pandangan luas ke arah pintu masuk. Ia memperhatikan Raisa yang mulai sedikit rileks saat melihat suasana restoran yang ramai dan hangat.
"Dokter Fatih," panggil Raisa setelah mereka memesan minuman. "Terima kasih. Sejujurnya, saya merasa ada yang aneh sejak keluar dari rumah sakit tadi. Tapi melihat Anda setenang ini, saya merasa sedikit lebih baik."
Fatih hanya memberikan anggukan tipis. Di saku celananya, ponselnya bergetar sekali, sebuah notifikasi bahwa situasi di luar sudah terkendali dan orang-orang kiriman Pak Baskoro sudah "diamankan" untuk dimintai keterangan lebih lanjut tanpa menimbulkan kegaduhan publik.
"Fokuslah pada makananmu, Raisa," ujar Fatih, sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak sedikit melembut. "Selama Anda bersama saya, tidak akan ada yang bisa menyentuh Anda."
Raisa tertegun mendengar kalimat itu. Logika kaku Fatih ternyata menyimpan rasa tanggung jawab yang begitu besar.
.......................
Di seberang jalan restoran, jauh dari pandangan Raisa, sebuah skenario taktis berlangsung dengan sangat rapi dan tanpa suara.
Mobil SUV hitam milik anak buah Pak Baskoro terjebak di antara himpitan kendaraan yang tiba-tiba melambat. Saat mereka mencoba mencari celah untuk keluar dari kemacetan buatan itu, dua mobil sedan berwarna gelap menutup ruang gerak mereka dari depan dan belakang.
Empat pria berpakaian kasual namun dengan postur yang sangat sigap turun dari kendaraan masing-masing. Mereka adalah tim keamanan profesional yang sudah bertahun-tahun menjaga keluarga besar Ar-Rais. Tanpa ada senjata yang terlihat, mereka mendekati SUV hitam itu dengan kewibawaan yang menekan.
Salah satu anak buah Fatih mengetuk jendela pengemudi dengan sopan namun tegas. Saat kaca diturunkan, pengemudi SUV itu tampak tegang, menyadari bahwa mereka bukan berhadapan dengan warga sipil biasa.
"Malam ini, perjalanan kalian selesai di sini," ucap pemimpin tim keamanan Fatih dengan suara rendah yang mengancam. "Katakan pada majikan kalian, mengusik seseorang yang berada di bawah perlindungan keluarga Ar-Rais adalah langkah yang sangat buruk bagi bisnisnya."
Anak buah Pak Baskoro tertegun. Mereka baru menyadari bahwa dokter yang mereka remehkan itu memiliki jaringan yang jauh lebih luas dan berbahaya daripada yang mereka bayangkan. Tanpa perlu kekerasan fisik, tekanan mental yang diberikan tim Fatih sudah cukup membuat mereka gemetar.
"Silakan putar balik, atau kami yang akan memastikan kalian bermalam di tempat yang sangat tidak nyaman," tambah pria itu lagi.
Tak butuh waktu lama, SUV hitam itu segera melakukan putar balik dengan terburu-buru, menghilang di kegelapan malam tanpa berani menoleh lagi. Tim keamanan Fatih segera mengirimkan sinyal Bersih ke ponsel Fatih.
.........................
Malam itu, di kamar VVIP rumah sakit yang sunyi, Tasya tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya masih tertuju pada pertemuannya dengan Dokter Fatih tadi pagi. Ia meraih ponselnya dan melakukan panggilan video kepada sahabat karibnya sejak kecil, Rima.
Rima adalah satu-satunya orang yang paling mengerti kondisi Tasya, karena ia tetap setia menemani Tasya bahkan setelah Tasya terpaksa berhenti sekolah.
"Rima... kamu sudah tidur?" bisik Tasya saat wajah Rima muncul di layar ponsel.
"Belum, Sya. Kenapa? Wajahmu kelihatan... beda. Ada apa? Kamu merasa sakit lagi?" tanya Rima cemas.
Tasya menggeleng pelan, rona merah kembali muncul di pipinya yang pucat. "Bukan... aku cuma mau cerita. Tadi pagi Dokter Fatih kontrol lagi. Dia... dia telaten sekali, Rim. Meski wajahnya datar dan bicaranya seperlunya saja, tapi cara dia menangani pasien itu benar-benar membuatku merasa berharga."
Tasya menghela napas panjang, tatapannya menerawang. "Kamu tahu kan, selama ini aku merasa seperti barang rusak sejak kena penyakit ini. Tapi saat dia memeriksa sarafku tadi, dia sangat berhati-hati. Seolah-olah dia sangat menjaga supaya aku tidak sakit. Aku merasa... aman."
Di seberang layar, Rima terdiam sejenak. Matanya membelalak, lalu ia tertawa kecil yang membuat Tasya bingung.
"Sya, kamu beneran naksir ya sama si Pangeran Es itu?" goda Rima.
"Rim! Bukan begitu... aku cuma kagum secara profesional," sanggah Tasya malu-malu.
Rima memperbaiki posisi duduknya, wajahnya kini terlihat lebih jahil. "Sya, ada satu hal yang belum pernah aku kasih tahu kamu karena aku nggak mau kamu merasa terbebani. Tapi melihat kamu sebahagia ini cuma karena diperiksa dia... aku harus jujur."
"Jujur soal apa?"
"Muhammad Fatih Ar-Rais itu... dia sepupuku, Sya. Ibu dia itu adik kandung Ayahku," ucap Rima santai.
Tasya nyaris menjatuhkan ponselnya. "Apa?! Jadi selama ini Dokter Fatih itu sepupu kamu? Kenapa kamu nggak pernah bilang?"
"Habisnya dia itu kaku sekali, Sya! Sejak kecil dia memang begitu, dunianya cuma buku dan belajar. Keluarga besar kami saja sering bingung gimana cara ajak dia bercanda. Tapi di balik sifat dinginnya itu, Mas Fatih itu orang yang sangat bertanggung jawab. Kalau dia sudah pegang satu kasus dia bakal jaga sampai tuntas," jelas Rima dengan nada bangga.
Deg
Tasya tertegun. Fakta bahwa pria yang ia kagumi ternyata adalah kerabat dari sahabatnya sendiri membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Dunia terasa begitu sempit.
"Rim... jangan bilang apa-apa ke dia ya! Aku malu sekali," pinta Tasya.
"Tenang saja, Sya. Tapi kalau kamu mau tahu rahasia cara meluluhkan es di hatinya, kamu tanya ke orang yang tepat," balas Rima sambil mengedipkan sebelah mata, membuat Tasya hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
......................