Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Sang Ratu di Timur Jauh
Udara lembap dan aroma rempah-rempah yang tajam menyambut Elara Vanya saat ia melangkah keluar dari gang sempit di distrik hiburan Shinjuku, Tokyo. Lampu neon berwarna-warni memantul di aspal yang basah oleh sisa hujan, menciptakan pemandangan futuristik yang kontras dengan kekacauan yang baru saja mereka tinggalkan di tanah air.
Elara mengenakan jaket kulit hitam pendek dan celana kargo taktis yang ramping. Rambut pirangnya kini dipotong lebih pendek untuk memudahkan penyamaran. Di telinganya, sebuah transmisi nirkabel bergetar pelan.
"Elara, target terlihat memasuki klub 'The Silver Fox'. Dia tidak sendiri," suara Zian terdengar tenang, namun ada nada waspada yang jelas.
Zian duduk di sebuah kedai ramen di seberang jalan, mengenakan kacamata hitam dengan sensor termal yang disamarkan. Matanya mengikuti seorang wanita dengan mantel panjang perak yang dikawal oleh empat pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang kaku—khas Yakuza kelas atas.
"Madame X melakukan aliansi dengan sindikat 'Kuro-Omi'," sambung Kael dari markas sementara mereka di sebuah kapal kargo yang lego jangkar di Teluk Tokyo. "Sindikat ini menguasai jalur perdagangan gelap teknologi mikro-chip. Jika Madame X berhasil mengintegrasikan data 'Protokol Siberia' dengan teknologi mereka, dia bisa menciptakan senjata otonom yang tidak bisa dilacak oleh satelit mana pun."
Elara menarik napas panjang, menyesuaikan letak pisau lipat di balik lengan jaketnya. "Jadi, kita tidak hanya berurusan dengan sisa Iron Sight, tapi juga tentara bayaran paling berbahaya di Jepang. Bagus sekali."
"Aku akan masuk lewat pintu belakang," kata Zian sambil berdiri dan meninggalkan mangkuk ramennya yang masih berasap. "Kau masuk lewat lantai dansa. Kita bertemu di sektor VIP."
Elara melangkah masuk ke klub malam tersebut. Dentuman musik techno yang memekakkan telinga dan lampu strobe yang berputar-putar menciptakan perisai sensorik yang sempurna. Dia bergerak dengan keanggunan seorang predator, matanya yang tajam memindai setiap wajah di kerumunan.
Di lantai dua, di balik kaca satu arah, Madame X sedang duduk berhadapan dengan seorang pria tua yang memiliki tato naga yang melingkar hingga ke lehernya—Ketua Kuro-Omi.
"Data ini adalah kunci untuk masa depan, Tuan Tanaka," Madame X menggeser sebuah drive perak di atas meja mahoni. "Tanpa pusat kendali Orion, saya butuh infrastruktur Anda untuk memicu fase kedua."
Tanaka menyesap tehnya perlahan. "Harga yang Anda tawarkan tinggi, Madame. Tapi risiko membawa musuh seperti Unit Phoenix ke Tokyo juga sangat besar. Saya dengar mereka baru saja meruntuhkan sebuah pemerintahan."
Madame X tersenyum dingin. "Mereka hanyalah dua tikus yang beruntung. Di kota ini, mereka tidak punya sekutu."
Tepat saat itu, pintu belakang ruang VIP terbuka sedikit. Zian menyelinap masuk, namun langkahnya terhenti oleh kabel laser tipis yang nyaris tak terlihat.
"Tamu tak diundang," desis salah satu pengawal Tanaka.
Kericuhan pecah di lantai dansa saat Elara melepaskan granat asap kecil ke arah panggung utama. Jeritan pengunjung klub memberikan celah bagi Elara untuk melompat ke pagar pembatas lantai dua.
"Zian, sekarang!" teriak Elara.
Zian melepaskan tembakan bius ke arah pengawal di pintu, sementara Elara menerjang melalui jendela kaca ruang VIP. Pecahan kaca beterbangan seperti kristal di bawah lampu klub.
Madame X tidak tampak terkejut. Dia justru berdiri dengan tenang sambil memegang tas kecilnya. "Mayor Vanya. Kau memang gigih seperti kecoa."
"Dan kau licin seperti ular, Madame. Tapi di sini, tidak ada lubang untuk lari," balas Elara, senjatanya mengunci ke arah Madame X.
Ketua Tanaka memberi isyarat, dan tiba-tiba lantai di ruang VIP itu bergeser. Sebuah mekanisme rahasia terbuka, memperlihatkan jalan keluar darurat yang langsung menuju pelataran parkir bawah tanah.
"Tahan mereka!" perintah Tanaka kepada anak buahnya yang mulai mencabut katana dari balik jas mereka.
Pertarungan jarak dekat yang sangat teknis terjadi. Elara menghadapi dua samurai modern dengan lincah. Dia menggunakan teknik CQC (Close Quarters Combat), menangkap pergelangan tangan lawan dan menggunakan berat tubuh mereka untuk menjatuhkan mereka ke meja kaca.
Zian di sisi lain harus berhadapan dengan pengawal Madame X yang dipersenjatai dengan pistol otomatis. Suasana ruangan menjadi penuh dengan desingan peluru dan dentingan logam.
"Zian, dia membawa drive itu!" Elara menunjuk ke arah Madame X yang sudah masuk ke dalam lift darurat bersama Tanaka.
"Kejar mereka! Aku akan menyusul!" Zian melemparkan granat kilat (flashbang) untuk memberikan perlindungan bagi Elara.
Elara melompat ke atas kap mobil yang sedang melaju di parkiran bawah tanah, berpegangan erat pada rak atap saat mobil tersebut melesat keluar ke jalanan Tokyo yang padat. Itu adalah mobil limusin Tanaka yang membawa Madame X.
Kejar-kejaran berkecepatan tinggi dimulai di sepanjang jalan layang Shuto Express. Elara berada di atap limusin, mencoba memecahkan kaca jendela belakang, sementara dari mobil pengiring di belakang, para Yakuza menembaki Elara dengan senapan mesin ringan.
"Kael! Aku butuh bantuan navigasi! Mereka menuju pelabuhan!" Elara berteriak melawan angin kencang.
"Aku sudah meretas sistem lampu lalu lintas! Aku akan menciptakan kemacetan di depan mereka!" sahut Kael.
Zian muncul dengan motor sport curian, melaju di antara celah-celah mobil dengan kecepatan gila. Dia mendekati mobil pengiring Yakuza dan menempelkan peledak magnetik di rodanya.
BOOM!
Mobil pengiring itu terguling, memberikan ruang bagi Zian untuk mendekati limusin Tanaka.
"Elara, lompat!" Zian berteriak sambil memacu motornya sejajar dengan limusin.
Elara melakukan lompatan akrobatik dari atap mobil ke kursi belakang motor Zian tepat sebelum limusin itu melakukan manuver tajam yang bisa melemparkannya ke aspal.
"Mereka menuju dermaga peti kemas!" kata Elara sambil memeluk pinggang Zian erat.
Matahari mulai mengintip dari balik gedung-gedung tinggi Tokyo, memberikan warna jingga pada pengejaran yang mematikan ini. Elara dan Zian tahu, jika Madame X berhasil mencapai kapal Kuro-Omi, data Siberia itu akan hilang selamanya ke dalam jaringan gelap Asia.
"Jangan biarkan dia sampai ke kapal itu, Zian," bisik Elara dengan mata penuh tekad.
"Dia tidak akan sampai," jawab Zian sambil menambah kecepatan.
Di depan mereka, gerbang pelabuhan sudah terlihat. Dan di sana, sebuah helikopter tempur tanpa tanda pengenal sedang bersiap untuk lepas landas dari geladak kapal. Madame X berdiri di pintu helikopter, melambaikan tangan dengan seringai kemenangan.
Pengejaran di Timur Jauh baru saja dimulai, dan taruhannya kini melibatkan teknologi yang bisa mengubah wajah peperangan modern.
Raungan mesin helikopter Blackhawk tanpa tanda pengenal itu menggetarkan air di Teluk Tokyo. Angin dari baling-balingnya menciptakan badai kecil yang menerbangkan debu dan sampah di dermaga peti kemas. Madame X berdiri di pintu helikopter yang terbuka, mantel peraknya berkibar, memberikan tatapan penghinaan terakhir kepada dua sosok yang mengejarnya.
"Zian! Helikopternya akan lepas landas!" Elara berteriak di telinga Zian saat motor sport mereka melesat melewati tumpukan kontainer biru yang menjulang tinggi.
Zian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia memacu motornya lebih kencang, menembus blokade terakhir dari anak buah Tanaka. "Elara, ambil alih kendali! Aku harus naik ke sana!"