”Elden, jangan cium!” bentak Moza.
”Suruh sapa bantah aku, Sayang, mm?” sahut Elden dingin.
"ELDENNN!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felina Qwix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelam
Elden menundukkan kepalanya, tangannya ia tarik dari genggaman Moza. Lalu, seketika memangku anjing Pomeranian yang ada di dekatnya.
"Dulu.."
Elden memejamkan matanya, dia kembali menangis. Suaranya serak, tapi masih berusaha terdengar tegas di waktu yang bersamaan.
13 Tahun Lalu...
Saat Elden masih berusia 3 tahun, dia punya anjing kesayangan yang dibelikan oleh kakeknya, anjing itu adalah anjing jenis corgi. Namanya Bruno.
Kemanapun Elden pergi, anjing itu selalu menemani Elden, bahkan suka duka Elden yang kesepian tanpa teman, dan juga tanpa kehadiran orang tua karena sibuk bekerja, si anjing bahkan menjadi pelarian utama dan menggantikan sosok sahabat yang sesungguhnya.
"Bruno, mau kemana?" tanya Elden, saat anjing itu hendak ke halaman belakang. Dan ketika Elden mengikuti Bruno, di belakang, Parman sedang berselingkuh dengan salah satu pelayan di rumah besar keluarga Pitch.
Mengingat posisi pria itu sebagai seorang anak angkat, dia semena-mena, bahkan berfoya-foya dengan bermain wanita. Melihat Parman berselingkuh, Bruno menggonggong keras, dan Elden melihatnya juga.
Saat itu ada Devano kecil. Anak itu berteriak memprovokasi. "Ayah, ada anjingnya Elden, kalo sampai dia terus menggonggong, pelayan yang lain akan melaporkan ayah. Bunuh anjingnya aja, Ayah."
Seketika Elden terkejut, dia mendekat ke arah Bruno seraya berteriak memanggil Jagur yang sayangnya masih mengantarkan Anera ke salon sebentar. Parman malah setuju, karena dia tak suka Elden terlalu pemilih, bahkan tak mau sama sekali bermain bersama Devano. Sang pelayan yang menjadi selingkuhan Parman juga setuju. Keduanya segera menangkap Bruno, bahkan memukul kepalanya berkali-kali di depan Elden.
Ngik ngik.
Tatapan terakhir anjing itu tampak sayu ke arah Elden, dan kejadian itu hanya berlangsung sekitar 16 menit, dan nyawa Bruno telah melayang. Elden jelas melihat hal ini dengan mata kepalanya sendiri.
Elden kecil terpaku.
Tubuhnya kaku, napasnya tercekat di tenggorokan. Dunia seakan berhenti bergerak ketika Bruno terkulai lemas di tanah, darah tipis mengalir dari sudut kepalanya. Telinganya berdenging, suaranya sendiri tak lagi terdengar meski bibirnya terbuka lebar.
“Bruno…”
Suara itu nyaris tak keluar.
Kakinya gemetar, lalu tubuh kecilnya ambruk begitu saja ke tanah. Tangannya merangkak mendekati tubuh Bruno yang sudah dingin, jemarinya berlumur tanah dan darah. Elden mengguncang-guncang tubuh anjing itu, panik, putus asa.
“Bangun… ayo bangun… Bruno jangan tidur…”
Tangisnya pecah. Histeris. Nafasnya tersengal-sengal seperti orang tenggelam.
Ngik… ngik…
Suara terakhir itu masih terngiang di kepalanya.
Devano kecil berdiri tak jauh dari sana. Wajahnya datar. Bahkan ada seringai tipis di sudut bibirnya. Ia menarik lengan Parman dengan kasar.
“Ngapain diliatin?” katanya dingin. “Buang aja, Yah. Jijik. Udah mati juga.”
Elden menoleh cepat. Matanya merah, wajahnya basah oleh air mata dan ingus.
“Jangan…” Elden berteriak, suaranya pecah. “Jangan dibuang… Bruno punyaku… Bruno temen aku…”
Parman mendengus kesal. Ia menarik tubuh Bruno dengan kasar dari genggaman Elden. Elden menjerit, kukunya mencakar tanah, berusaha menahan, tapi tubuhnya terlalu kecil.
“Berisik!” bentak Parman. “Cuma anjing doang nangis kayak mau mati!”
Elden terseret, tangannya terlepas. Ia jatuh terduduk, matanya membelalak saat melihat Bruno diangkat seperti barang tak berguna.
“Brunooo!!”
Tangisnya berubah menjadi jeritan traumatis.
Devano melipat tangan. “Kubur aja sekalian atau buang ke belakang. Biar gak bau.”
Tak ada rasa kasihan. Tak ada rasa bersalah.
Saat itu, sesuatu di dalam diri Elden… retak.
Ia menutup telinganya, menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya bergetar hebat. Seorang anak tiga tahun dipaksa menyaksikan kematian satu-satunya makhluk yang selalu menemaninya.
Sejak hari itu—
Elden tak pernah lagi mempercayai tawa Devano.
Tak pernah merasa aman di rumah besar itu.
Dan setiap kali ia melihat anjing dipukul, dibentak, atau disakiti…
Dadanya selalu saja sesak.
Tangannya gemetar.
Air matanya jatuh tanpa izin.
Kembali ke masa kini.
Elden terisak, memeluk erat anjing Pomeranian di pangkuannya. Tangannya bergetar hebat, seolah takut makhluk kecil itu akan direnggut darinya juga, sama seperti Bruno.
“Aku gak bisa maafkan Devano, Moza…” suaranya nyaris berbisik. “Aku masih ingat gimana teriakan Bruno, aku-"
Air matanya Elden jatuh satu per satu ke bulu anjing itu.
“Karena waktu itu… gak ada satu orang pun yang nolong aku, aku yang akan balaskan sakitnya Bruno, termasuk ke Devano dan keluarganya, dan konyolnya anak itu tetap jadi pengecut sampe sekarang, brengsek!" sesal Elden. Moza terdiam untuk beberapa saat.
Sekarang dia paham, kenapa Elden terlihat jahat, kejam, kadang juga seperti tak punya empati. Ternyata trauma itu begitu kelam.
"Terus, waktu Bruno hilang? Kamu bilang apa ke kakek kamu?" tanya Moza.
"Mana sempat aku bilang, aku shock Moza. Aku sering merenung bahkan lelah hidup. Berkali-kali aku mencoba untuk menyusul Bruno, saat masih kecil, tapi Jagur yang menyelamatkan aku."
Deg.
Jantung Moza seakan diremas kuat-kuat. Napasnya tertahan, dadanya terasa nyeri. Ia tak langsung menjawab. Tangannya gemetar ketika perlahan bergerak, mendekati Elden yang masih menunduk, memeluk Mochi seolah dunia akan runtuh jika ia melepasnya sedetik saja.
Moza duduk lebih dekat.
Tanpa berkata apa pun, ia membuka kedua lengannya—lalu memeluk Elden dari samping. Pelukannya erat. Hangat. Nyata. Mochi ikut terhimpit di antara mereka, anjing kecil itu meringkuk tenang, seolah ikut memahami kesedihan tuannya.
Elden terkejut.
Tubuhnya menegang sesaat, refleks trauma membuatnya hampir menjauh. Tapi kemudian—pelukan itu tidak menyakitinya. Tidak memaksa. Tidak menarik paksa seperti dulu.
Pelukan itu… bertahan.
“Elden…” suara Moza bergetar. “Kamu sekarang gak sendirian, aku yang bakalan jadi Bruno, dan temanin kamu."
Kalimat sederhana itu seketika merobohkan pertahanan terakhir Elden.
Tangisnya pecah.
Bukan tangis tertahan seperti biasanya. Bukan amarah. Bukan dendam. Tapi tangis seorang anak kecil yang akhirnya diizinkan menangis setelah belasan tahun pasca kejadian fatal itu.
Ia menunduk, dahinya jatuh ke bahu Moza. Tangannya mencengkeram punggung Moza kuat-kuat, seakan takut ditinggal. Bahunya naik turun hebat.
“Aku benci mereka, Moza…” suaranya tercekik. “Aku benci aku sendiri kalo sampai aku lemah dan gagal melindungi orang yang aku sayang… aku benci diri aku sendiri karena gak bisa lindungin Bruno waktu itu!"
Moza memejamkan matanya. Air matanya ikut jatuh.
Ia mengelus rambut Elden perlahan, gerakannya lembut—berkali-kali—seperti menenangkan anak kecil yang ketakutan.
“Kamu waktu itu masih tiga tahun, Elden,” bisiknya lirih. “Itu bukan salah kamu. Sama sekali bukan. Itu salah Parman dan Devano, yang otaknya picik."
Mochi mengangkat kepalanya, menjilat tangan Elden pelan. Elden tersentak kecil, lalu menangis terisak, dia malah mengingat Bruno lewat kehadiran Mochi. Lantas, Elden memeluk Mochi dan Moza bersamaan, tubuhnya bergetar hebat.
Moza menunduk sedikit.
Wajahnya mendekat ke bibir Elden.
Dan untuk pertama kalinya—bukan hanya sebagai istri, bukan sebagai saksi luka—Moza mencium Elden sebagai penghibur sakit pria itu.
Bukan ciuman tergesa.
Bukan ciuman penuh nafsu.
Ciuman itu jatuh pelan di bibir pria itu.
Lama.
Seolah Moza ingin menempelkan satu kenangan baru di atas luka lama yang tak pernah sembuh.
Elden terdiam, tapi dia membalas kecupan Moza.
Tangisnya tersendat. Napasnya masih berat, tapi kini lebih teratur. Tangannya masih memegang tengkuk Moza, seakan takut pelukan itu hanya ilusi.
Moza menarik sedikit wajahnya, lalu menatap Elden dengan mata basah.
“Aku di sini sekarang,” katanya tegas meski suaranya bergetar. “Aku gak akan ninggalin kamu. Dan Mochi juga gak akan ke mana-mana, dia akan jadi bagian dari keluarga kecil kita nanti.”
Cerocos Moza yang kembali memeluk Elden.
Kali ini, Elden membalas pelukan itu—lebih erat, lebih dalam. "Makasih, Sayang."
Tok-
Tok!
Tiba-tiba pintu kamar keduanya diketuk dari luar.
untung joinan 😁
baru juga dorr
burungnya habis minum nitro kali 🤣🤣🤣