Raya Adha gadis manis berambut panjang dan hidup sebatang kara karena orang tua dan adiknya meninggal karena kecelakaan. Raya kemudian terusir dari rumahnya sendiri oleh adik tiri ayahnya.
Tak ingin terpuruk raya memilih pergi ke Jakarta menyusul temannya untuk melanjutkan hidup dan bekerja.Namun karena sebuah kejadian raya harus terikat sebuah pernikahan dengan laki-laki yang tidak ia cintai bahkan tidak di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Hotel 1
Jam menunjukan pukul 4 sore,Rayamencoba membuka mata tapi, Ray merasa ada sesuatu yang menimpa perut nya apalagi kalau bukan tangan Rendy.Dengan hati-hati Raya menyingkirkan tangannya tapi dengan cepat Rendy menarik tangan Raya, jangan di tanya lagi saat ini rasanya jantung Raya seakan mau loncat keluar bahkan keringat dingin pun ku rasakan.
"Mau kemana?"tanya Rendy.
"Ah...anu..mau mandi udah sore."Jawab Raya gugup.
"Tidurlah sebentar lagi, aku masih lelah." pinta Rendy dengan mata masih terpejam.
"Sudah sore Rend bangunlah Bayu pasti sedang khawatir menunggu."
Rendy pun bangun dan duduk di sisi tempat tidur tanpa melepaskan genggaman tangan Raya.
"Ray...kenapa kau memanggil nama ku?"
"maksudnya gimana ?"Tanya Raya tidak mengerti.
"Bukankah sebelum nama ku di depannya ada tambahan?"
Sejenak Raya berpikir"Oo...memangnya kenapa..?" Tanya Raya yang sudah mengerti dengan pertanyaan Rendy.
"Aku rindu panggilan itu Ray..."
"Trus.."
"Ikutlah pulang bersama ku Ray aku mohon"Ucap Rendy dengan sedih.
"Aku belum siap Rend...kembalilah ke hotel Meraka pasti menunggu mu."
"Aku..tidak akan kembali jika kau tidak ikut dengan ku biar saja aku berada disini." Rengek Rendy.
"Jangan seperti bayi Rend..."Ucap Raya kesal.
"Apa kau mau bayi..."
"Rend..."Belum sempat Raya menjawab Rendy sudah memotong omongannya.
"Panggil aku mas Rendy...aku mas mu suami mu bukan teman mu." ucap Rendy kesal.
"Suami...sejak kapan kau mengakui kalau aku seorang istri?"
"Raya sayang...ku mohon jangan bersikap seperti ini."
"Sudah lah aku mau mandi cepat kau kembali ke hotel."
"Tapi bersama mu yah?"
"Hmm...."Jawab Raya sekilas berlalu ke kamar mandi.
Raya pun sudah terlihat Segar, sesuai dengan suasana hati nya saat ini dengan sesekali tersenyum menandakan kalau dia sedang bahagia karena Rendy trus merengek mengajaknya ikut dengan terpaksa Raya menerima ajakan Rendy.
"Ayo...cepat"Ucap Raya"Kita hanya jalan kaki ke hotel."
"Kata siapa jalan kaki."ucapan Rendy sambil membuka pintu
"Mas Bayu..."Sapa Raya kaget.
"Ketemu Bayu aja langsung Mas Bayu coba aja dengan aku."Rendy kesal.
"Apaan sih lebay...udah ayo kalau gak aku gak jadi ikut nih." ancam Raya.
"Eh....jangan..."
Mereka pun akhirnya pergi menuju hotel Raya mulai gelisah pikirannya tertuju kepada teman-teman nya terutama Tian pasti akan banyak pertanyaan yang akan tertuju padanya.
"Mas Bayu...apa kabar?"Tanya Raya.
"Kamu kok nanyain kabar Bayu"Cerocos Rendy kesal Bayu yang melihat sahabatnya itu hanya bisa tertawa kecil.
"Aku baik...kalau kamu Ray?"
"Alhamdulillah mas."
"Mas...mas....trus aja."Rendy kesal.
"Kamu kenapa sih mas gak jelas deh." ucap Raya.
"Nah...gitu dong...aku kan suami mu bukan nya bayu."
"Ciiihh....sekarang aja baru ngaku suami." sambung Bayu.
"Sialan lo berisik."
Begitulah perjalanan mereka menuju hotel, di isi dengan saling meledek tak terasa mereka telah tiba di depan hotel perasaan Raya pun semakin berkecamuk di remasnya jari-jari tanda gelisah.
Rendy yang melihat Raya paham dengan apa yang di rasakan Raya saat ini.
"Udah..biasa aja." tegur Rendy.
"Gak bisa...mereka kan tau nya aku karyawan di sini." ucap Raya gelisah.
"Apaan sih...santai aja kamu mau turun sendiri atau mau ku gendong?" ancam Rendy.
"Aaaa...gak...gak..aku bisa sendiri."
Dengan mantap Raya keluar dari dalam mobil tak lupa Rendy selalu menggenggam tangannya tentu saja semua pandangan tertuju kepada Raya, bagaimana bisa seorang pelayan restoran hotel adalah istri dari pemilik hotel tersebut tentu saja saat ini Wika was-was karena sudah lancang mengancam Istri pemilik hotel tempat Wika mencari Rupiah.