Bagaimana jadinya jika seorang siswi dijodohkan dengan gurunya sendiri.
Faradilla Angelica, siswi kelas 12 yang terkenal dengan prestasinya keluar masuk ke ruang BK, bukan karena dia sering bolos atau yang lainnya, melainkan karena dia sering kepergok berpacaran di area sekolah dengan Arsyad.
Orang tuanya merasa geram, hingga mereka menjodohkan Fara dengan Aslan, guru baru di sekolahnya.
Fara jelas tidak terima dengan perjodohan itu. Dia sampai rela kabur dengan Arsyad demi menolak perjodohan itu.
Lalu bagaimana jika akhirnya Fara dan Aslan dinikahkan? Apakah akhirnya Fara bisa mencintai Aslan, sosok guru yang sangat galak itu?
"Dasar Pak Singa!" begitulah Fara menyebutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Pak Ridwan memegang pipi Fara agar dia mendongak. "Apa kamu mau menikah dengan Aslan besok. Karena Ayah begitu ingin melihat kalian segera bersatu."
Fara dan Aslan melebarkan kedua matanya. Besok? Mengapa secepat itu?
"Besok?" seketika Fara melepas pelukannya. "Kenapa secepat itu. Fara masih sekolah."
"Tinggal 4 bulan lagi kamu ujian lalu lulus. Tidak apa-apa kamu bisa menikah secara resmi, umur kamu juga sudah 18 tahun. Besok biar diurus semua surat-surat kamu sama anak buah Ayah."
Fara berjalan menjauhi Ayahnya dan duduk di sofa tanpa megiyakan keinginan Ayahnya.
"Fara, Ayah cuma takut. Ayah tidak bisa menikahkan kamu. Umur seseorang tidak ada yang tahu. Ayah merasa kondisi Ayah semakin buruk." kata Pak Ridwan sambil menatap putrinya yang semakin menundukkan pandangannya.
Air mata itu kembali menetes di pipi Fara.
"Om, biar saya bicara berdua dulu sama Fara," izin Aslan.
"Iya."
Aslan menarik tangan Fara dan mengajaknya keluar dari ruangan. Sebelumnya Aslan berpesan pada suster untuk menjaga Pak Ridwan.
Aslan mengajak Fara berbicara di taman rumah sakit. Mereka kini duduk berdua di bangku taman.
Fara masih saja menangis. Apa dia harus menerima keputusan Ayahnya. Dia sudah tidak bisa memberontak lagi.
"Aku tahu kamu gak mau menerima perjodohan ini. Tapi apa kamu gak kasihan sama Ayah kamu? Dulu almarhumah Mama kamu yang menginginkan perjodohan ini, sekarang ini juga menjadi permintaan Ayah kamu."
"Tapi saya gak mau menikah secepat ini. Pak Aslan kenapa sih mau banget dengan perjodohan ini? Pak Aslan kan juga udah tahu saya cintanya sama Arsyad."
Aslan menghela napas panjang. Dia sendiri juga tahu tentang perasaan Fara. Rasanya memang sulit untuk menjelaskan semua perasaannya. "Begini saja, setelah menikah aku akan ajak kamu tinggal berdua di rumah aku."
Fara kini menatap tajam Aslan. "Biar apa? Biar gak ada yang ganggu kalau Pak Aslan nyiksa saya tiap hari. Jangan-jangan nanti setelah menikah, Pak Aslan mau nyekik saya terus banting saya gitu."
Aslan merasa sangat gemas dengan Fara. Bisa-bisanya dia disamakan dengan berita-berita itu. "Aku mau mempermudah kamu, tapi kamu malah menuduh aku yang bukan-bukan."
"Pak Aslan ini guru tapi tidak memberikan solusi yang baik."
"Aku guru Matematika. Gak ada rumus masalah perjodohan dan cinta," kata Aslan. Jelaslah, masalah ini lebih rumit dari rumus aljabar ataupun limit.
Fara menghapus sisa air matanya yang sudah mulai surut. Ternyata beradu argumen dengan Aslan membuat hatinya sedikit plong.
"Sebenarnya ini maksud aku, dengerin dulu jangan dipotong."
Fara akhirnya hanya diam sambil mengalihkan pandangannya.
"Kita pura-pura menikah. Lalu kita tinggal di rumah sendiri agar Ayah dan kedua orang tua aku tidak curiga dengan pernikahan kita. Jadi kamu masih bisa bebas jalani hidup kamu seperti sebelumnya."
"Apa itu termasuk kuliah di luar negri dan berhubungan dengan Arsyad?" tanya Fara sambil menatap Aslan.
Aslan ragu akan menjawab hal itu. "Kalau ke luar negri aku gak bisa cari alasan ke Ayah kamu. Kamu kuliah di sini saja. Masih banyak kampus yang bagus di sini. Terserah kamu mau ambil jurusan apa."
Fara terdiam sesaat dan berpikir. Oke, satu keinginannya akan dia buang. Dia cukup meminta Arsyad untuk kuliah juga di sini. "Tapi saya tetap bisa berhubungan dengan Arsyad kan? Kita sembunyikan pernikahan ini dari Arsyad dan semua teman-teman saya."
Aslan terdiam sambil menatap Fara. Rasanya berat sekali memberi keputusan masalah ini. "Emang kamu mau selingkuh setelah menikah?"
"Pak Aslan sendiri kan yang bilang kalau pernikahan ini cuma pura-pura."
Aslan menghela napas panjang. "Oke, tapi jangan sampai ketahuan sama Ayah." Dia berdiri dan mengalihkan pandangannya dari Fara. Ada rasa tidak rela membiarkan Fara tetap berhubungan dengan Arsyad.
Mereka sama-sama terdiam. Aslan masih saja berdiri memunggungi Fara.
Fara yang sejak semalam sampai siang itu belum makan apa-apa perutnya terasa sangat perih dan melilit. Dia tekan perutnya yang semakin lama semakin terasa melilit.
"Kita kembali ke ruangan Ayah kamu." kata Aslan tanpa menoleh Fara lagi.
Fara tak beranjak dari tempatnya dia semakin membungkukkan dirinya.
"Mbak kenapa?" ada seorang suster yang melihat Fara sedang menahan sakitnya.
"Hanya maag sus."
Aslan yang sudah berjalan tiga meter dari tempat semula seketika menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan kembali menghampiri Fara dengan langkah jenjangnya. Dia sampai tidak tahu kalau Fara sedang kesakitan.
"Far," Aslan menahan tubuh Fara lalu membantunya berdiri.
"Kalau sakit bisa langsung ke ruang pemerikasaan." kata suster.
"Iya sus, terima kasih."
"Pak Aslan, saya gak perlu diperiksa, saya cuma butuh makan." kata Fara yang mau tidak mau dia harus berjalan dalam rengkuhan Aslan.
Aslan menghela napas panjang lagi. Sedari tadi dia tidak terpikirkan jika Fara belum makan sama sekali.
"Iya, kita ke kantin rumah sakit saja." Aslan semakin merengkuh tubuh Fara sambil berjalan menuju kantin.
Fara sesekali melirik tangan Aslan yang ada di pinggangnya. Ih, kesempatan banget. Coba aja pas aku gak lemes, udah aku tepis tuh tangan.
Setelah sampai di kantin rumah sakit, Aslan segera memesan minuman hangat dan makanan untuk Fara.
"Tunggu sebentar."
Fara hanya mengangguk. Kemudian dia mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya, sedari tadi ponsel itu tidak dia pegang sama sekali.
Banyak chat dari teman-temannya dan Arsyad. Sampai minuman dan makanan datang Fara masih fokus dengan layar ponselnya.
"Far, makan dulu." kata Aslan.
Fara meletakkan ponselnya di meja lalu mengambil minuman hangat itu. Seketika kerongkongan dan lambungnya terasa hangat saat dia meneguk minuman itu.
Setelah itu dia mendekatkan semangkuk bubur ayam dan memakannya dengan lahap.
Beberapa saat kemudian ada panggilan masuk dari Arsyad. Belum juga Fara meraih ponselnya, Aslan sudah mengambilnya dengan cepat. "Kamu makan dulu. Jangan main hp."
Fara berdengus kesal. Tapi meski demikian dia melanjutkan makannya. Sampai semangkok bubur itu dengan cepat habis. "Mau nambah lagi." Fara berdiri dan memesan bubur ayam lagi.
Aslan hanya terbengong. Rupanya Fara benar-benar sedang kelaparan. Di genggamannya, ponsel Fara kembali bergetar. Dia melihat panggilan dari Arsyad lagi. Dua bocah SMA itu benar-benar saling mencintai, membuatnya iri saja.
Aslan berdengus kesal, lalu mereject panggilan itu dan mematikan ponsel Fara.
Fara kembali duduk dengan semangkuk bubur ayam lagi dan melahapnya tanpa rasa malu sedikitpun pada Aslan.
"Kamu mau menunggu di sini atau pulang?" tanya Aslan.
"Saya mau menunggu Ayah di sini." kata Fara.
"Ya udah aku temani."
Fara kini menatap Aslan dengan tajam. "Biar saya telepon bibi saja. Biar ke sini nemeni saya dan Ayah. Sekalian bawa keperluan."
"Kamu mau ambil apa di rumah, biar dibawain Mama. Mama nanti ke sini."
Fara berdengus kesal. Belum apa-apa aja hidupnya sudah tidak bisa lepas dari Aslan.
💞💞💞
.
Aduh, bingung kan Aslan atau Arsyad ini... 🤔
Like dan komen...
sayang ama papa aslan