NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Chicklit / Tamat
Popularitas:132.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Digital

BUDAYAKAN BACA SKRIPSI DULU. TYPO, MAKSUDNYA DESKRIPSI!!

WARNING☇☇
DILARANG BOOM LIKE (SPAM LIKE). KASIH JEDA WAKTU MINIMAL 1 atau 2 MENIT!!!

Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu masuk ke Dunia Novel dan tidak bisa kembali ke Dunia nyata?

Adinda yang notabene seorang sekretaris, ia adalah orang yang tidak mudah menangis dan percaya diri, tiba-tiba keluar dari dunianya dan masuk ke dunia novel yang ia baca.

Adinda terkejut saat membuka mata, ia bergumam, "Dimana aku?". Adinda semakin terkejut dengan rasa tidak percayanya melihat lingkungan sekitar dan tubuhnya bukanlah dirinya sendiri melainkan tokoh utama dari novel tersebut yang mana ia adalah korban bullying.

Bersusah payah kembali ke dunia asalnya, ia akhirnya memutuskan untuk menetap dan mengubah takdir sang tokoh utama. Apakah ia berhasil mengubah takdir tokoh utama dari novel tersebut dan bisa kembali ke dunia nyata? Ataukah ia akan gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Larina & Bapak Kepala Sekolah

Waktu istirahat tiba. Usai mengisi perut di kantin, Larina pergi ke toilet untuk mencuci mukanya.

Larina menghela nafas setelah mengelap wajahnya menggunakan sapu tangan bersih miliknya,

"Kulitku dulunya tidak serumit ini, kulit wajah Larina ini ya kering tapi juga cepat berminyak,"

Ia terdiam sejenak.

"Aku merasa akan ada sesuatu," gumamnya.

"Safina dan lainnya pasti tidak akan tinggal diam setelah mendengar langsung bahwa aku akan ikut tahap seleksi nanti siang."

"Aku harus melakukan sesuatu untuk menghindari hal tersebut," lanjutnya.

Sementara di kelas,

"Aku tidak terima kalau seketika kemampuannya dia melejit seperti ini," ucap Nana

"Kau fikir aku terima?" Safina menekuk wajahnya.

"Bella, kenapa kau hanya diam dari tadi?" tanya Safina

"Hu'um," sahut Lala

"Tidak apa-apa," Bella menghela nafas lalu mengeluarkan beberapa buku LKS dari dalam laci mejanya.

"Selamat ya, Larina sekarang bukanlah beban kelas lagi," Nana terkekeh

Bella tidak menghiraukan perkataan Nana, padahal dalam hatinya ia terus memaki Larina.

"Doni keren, ya,"

"Kenapa?" Lala sedikit bingung.

"Dia itu nakal tapi dia juga pintar,"

"Iya sih, hehe."

"Kita harus melakukan sesuatu agar Larina tidak ikut tes seleksi nanti siang," celetuk Safina secara tiba-tiba.

"Bagaimana caranya? Kan sudah di umumkan langsung tadi oleh Bu Guru," Nana mengernyitkan dahi.

"Dia sekarang dimana?"

"Mungkin di kantin," jawab Lala santai

"Kita harus membuat dirinya tidak hadir ke kelas berikutnya sampai tiba waktu pulang sekolah, jadi secara otomatis dia tidak akan ikut tes seleksi," Safina menyeringai.

"Dikurung?"

"Di toilet?" Lala ikut menambahkan ide.

"Masa di toilet? Kan rame." tolak Safina.

"Di gudang di atap sekolah saja bagaimana?" Nana memberi ide lain.

"Ide bagus! Lala, kamu pancing Larina ya."

"Kenapa aku?"

"Aku dan Nana sudah terlalu muak dengannya," jawab Safina malas

"Oh, oke." Lala melangkah keluar kelas untuk mencari  Larina.

Sementara itu Larina sedang berada di depan ruangan Kepala Sekolah.

'Tok tok tok,' Larina mengetuk pintu

"Permisi,"

"Masuk," terdengar suara berat seorang pria berusia 40 tahunan dari dalam ruangan.

Larina membuka pintu perlahan.

"Pak," panggilnya.

"Larina, ya?" tebak Kepala Sekolah.

"Benar, Pak."

"Silahkan masuk dan duduklah,"

"Terimakasih banyak, Pak."

Larina duduk

"Kebetulan sekali kamu kesini, Bapak lihat laporan nilai kamu sangat bagus. Kamu memecahkan rekor nilai tertinggi dari beberapa kakak tingkatmu yang terdahulu. Hal ini memberikan dampak positif bagi sekolah dan memberi harapan sekolah ini akan kembali bersinar,"

"Terimakasih banyak, Pak. Saya senang jika hal itu dapat memberikan dampak positif bagi sekolah ini," Larina tersenyum.

"Lebih tepatnya memberi dampak positif untuk diriku, hoho." batinnya.

"Bagus! Saya suka itu. Oh iya, apa ada hal yang membuatmu kemari?"

"Ada, Pak. Saya ingin bertanya apakah benar kalau saya bisa menang di lomba Cerdas Cermat ini maka saya bisa mewakili sekolah dalam olimpiade?"

"Oh, benar itu."

Larina dan Kepala Sekolah terus mengobrol dan Larina bercerita bagaimana ia bisa berkembang pesat dalam hal nilai akademik dan mereka menikmati obrolan tersebut hingga beberapa menit.

***

"Larina tidak ada di kantin," Lala duduk di bangkunya.

"Di toilet?" tanya Nana.

"Tidak ada juga?"

"Di atap sekolah?" Safina ikut bertanya.

"Hih! Masa aku disuruh kesana kemari hanya untuk mencarinya," Lala melipat wajahnya kesal.

***

Suara bel terdengar, hal itu menandakan kelas belajar akan kembali dimulai.

"Jadi Bapak mau ke kelas?" tanya Larina

"Betul, saya mau memberi selamat serta beberapa pesan lain kepada para siswa-siswi,"

"Oh begitu, ya."

"Iya. Kamu juga sudah waktunya masuk kelas."

"Iya nih, Pak. Saya duluan ya, Pak."

"Bareng saya saja kalau mau,"

"Yessss!" batin Larina.

"Wah! Saya sangat merasa senang dan saya bersedia, hehe."

"Baiklah," Kepala Sekolah berdiri dan di ikuti Larina. Mereka keluar dari ruangan Kepsek dan menuju ruang kelas.

"Ngomong-ngomong Bapak mau ke kelas mana dulu?"

"Ke kelas kamu dulu saja,"

"Eh?"

Larina dan Kepsek menjadi pusat perhatian para murid saat melewati kelas mereka.

"Itu siapa ya?"

"Yang sama Kepsek itu?"

"Hu'um."

"Pasti dia berbakat sih sampai Kepsek terlihat dekat seperti itu,"

"Simpanannya gak sih?"

"Hilih, selera cowok mah yang bening mulus putih langsing, beda sama cewek itu,"

"Iya sih, hahah,"

Itulah beberapa kalimat yang keluar dari murid-murid kepo di kelas yang dilewati Larina dan Kepala Sekolah.

Rafa diam-diam melirik ke arah luar kelas dan melihat Larina berjalan dengan Kepala Sekolah diselingi obrolan yang terlihat santai dan akrab. Ia juga sedikit heran karena baru ini ia melihat Larina percaya diri seperti itu.

Sesampainya di kelas, seisi kelas terdiam setelah melihat Kepala Sekolah mereka masuk ke dalam kelas.

"Pak, saya bisa duduk?" tanya Larina.

"Silahkan."

Larina melangkah ke bangkunya.

Tidak lama kemudian Bapak Kepala Sekolah memulai amanatnya di kelas XI B.

***

"Nah, selanjutnya saya sebagai Kepala Sekolah merasa bangga karena baru ini ada anak didik Saya yang bisa mendapat nilai sempurna. Larina, tolong maju ke depan ya. Kasih tau trik-trik yang kamu lakukan yang membuat kamu bisa mendapat nilai yang rasanya tidak mungkin semua anak didik di sekolah manapun bisa mendapat nilai sempurna seperti kamu."

"Saya, Pak?"

Bapak Kepala Sekolah mengangguk.

Safina dkk semakin panas melihat hal itu.

Larina tersenyum, dengan percaya ia berdiri dan berjalan ke depan kelas.

"Selamat siang semua,"

"Selamat siang,"

"Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Kepala Sekolah karena telah memberikan saya kepercayaan untuk berbagi trik."

Beberapa menit berlalu...

"Nah, jadi itulah beberapa caraku untuk mendapat nilai akademik yang bagus, selain belajar kita juga butuh refreshing untuk otak kita dengan cara melakukan hal-hal yang menjadi hoby kita."

Doni memutar mata bosan mendengar Larina yang sedang berbagi ilmu,

"Mungkin itu saja yang bisa aku sampaikan. Oh iya, semangat ya buat Doni."

Doni membulatkan mata, ia seketika membuang muka ke arah lain.

"Soalnya nanti kita bersaing loh, hehe. Semangat terus ya," lanjut Larina.

Perlahan namun pasti pipi Doni terasa hangat bahkan mungkin bisa di katakan panas.

"Doni, wajahmu memerah," ucap temannya.

"Diamlah,"

Bella mengepalkan tangan saat Larina memberi semangat pada Doni.

Larina dipersilahkan duduk kembali, ia melangkah pelan menuju ke bangkunya. Saat melewati bangku Bella, Larina menghentikan langkahnya.

"Tidak lelah berpura-pura ya? Sebaiknya tunjukkan saja sifat aslimu." Bisik Larina.

Bella menatap Larina dengan tatapan tajam. Larina tersenyum dan menepuk pelan pundak Bella yang terlihat menahan emosi. Larina melanjutkan langkahnya dan duduk di bangkunya.

"Semangat, ya!" bisik Larina pada Doni

"Aku tidak peduli,"

"Cieeee, salting ya? Wajahmu memerah tuh,"

"Diamlah sebelum ku jahit mulutmu," dengan ketus dan ogah menatap Larina.

"Wuuuuu, takutt~" Larina terkekeh pelan

1
Anne Rukpaida
ok Kaka
larasatiayu
smangattt
KAITO KID
ya ampun gua ikutan ngakak ketika baca ini teks/Facepalm/
Hanum Anindya
lanjut kak. tetap semngat ya menulisnya🥰
Lina Octavianti
Luar biasa
Hanum Anindya
Sandrina bakalan kalah, bukan lawannya anak SMA lawan adinda 😂😂😂😂, lanjutkan kak. pokoknya jangan pernah berhenti menulis novel ini kak, biarpun ada typo nya juga😂😂😂semangat
Anindya K Setiawan
ceritanya bagus, lanjutkan kak. aku nyakin Adinda bakalan kembLi keduania atau bisa saja mereka ketemu disini 😂😂😂cuma ide saja kak.
semangat ya, pokoknya aku tunggu kelanjutannya jangan pernah berhenti. kecuali menulis langsung terbitkan oke💕
Anindya K Setiawan: siap ditunggu novelnya yang baru💕.
total 2 replies
Hanum Anindya
lanjut kak😊. aku kira larina bakalan jadi andinda.
aisarah silma
Luar biasa
🍒⃞⃟🦅§¢•𝓛𝓲𝓵𝓲𝓽𝐀⃝🥀℘ℯ𝓃𝓪
Maaf ya temen², aku habis bergelut sama kehidupan di RL dan baru bisa update lagi😊 Makasih ya udah meluangkan waktunya untuk baca karyaku!
Dwi Istiani
kak ini nggak ada lanjutannya tah?
🍒⃞⃟🦅§¢•𝓛𝓲𝓵𝓲𝓽𝐀⃝🥀℘ℯ𝓃𝓪: ada kak, tunggu ya!😊
total 1 replies
Ibuk'e Denia
aq mampir thor semoga ceritanya bagus
Buke Chika
lanjutan nya mana thor gantung
Buke Chika
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/Kasihan tu adik kelas
Buke Chika
kayak nya bumbu2 cinta bersemi anak dpt anaknya bpk dpt ibunya boleh tu/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Srie Sifa
bagus,menarik,seru LG. tp nanggung
Srie Sifa
y ampuun sedih banget,padahal ceritanya lagi seru-serunya nih. kok udah tamat aja.
Buke Chika
Luar biasa
Buke Chika
istri kaya itu dipelihara sudah selingkuh lg
Buke Chika
cerai kan saja ngapa istri macam itu dipelihara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!