NovelToon NovelToon
RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: fieThaa

Aleesa Addhitama (20) dan Yansen Geremy (20) tahu bahwa rasa yang mereka miliki itu salah. Kebersamaan mereka sedari kecil membuat Aleesa dan juga Yansen merasa nyaman dan enggan untuk dipisahkan. Walaupun mereka tahu ada dinding yang menjulang memisahkan mereka berdua, yakni sebuah keyakinan.


"Satu kapal dua nahkoda, penumpangnya akan dibawa ke mana?" Begitulah kata sang ayah. Kalimat yang sederhana, tapi menyiratkan arti yang berbeda.


Akankah mereka berjuang untuk mendapatkan restu? Ataukah ada restu lain yang akan mereka dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Hutang Penjelasan

Rio sudah menatap nyalang ke arah Restu. Kini, mereka berdua ada di apartment yang Restu huni.

"Lu punya hutang penjelasan sama gua," tekan Rio. Wajahnya sudah sangat serius. Dia masih menatap lekat wajah sahabatnya itu.

Restu hanya tersenyum. Dia mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu.

"Hanya kena sayatan pisau tajam nan runcing."

Mata Rio melebar dengan sempurna mendengarnya. Dia menatap Restu dengan begitu tajam. Sedangkan pria yang ditatap sudah menyalakan rokok. Menghisap rokok dalam-dalam dan membuang asapnya ke udara.

"Lu gila, hah?" Rio berteriak sekarang. "Itu gimana kalau kena tubuh lu?"

"Palingan mati."

Rio benar-benar marah mendengar ucapan Restu. Dia mencengkeram kerah Hoodie yang tengah Restu gunakan dengan wajah merah padam.

"Jangan asal bicara RESTU RANENDRA!"

Mata Restu dan mata Rio bertemu dan saling tatap dengan begitu dalam. Ada sebuah emosi dan tidak terima yang sorot mata Rio katakan.

"Luka di wajah gua ini gak seberapa, Yo." Mendengar jawaban dari Restu Rio semakin curiga.

"Apa lu baik-baik saja tiga tahun ini?" Suara Rio sudah melemah, tapi tangannya masih mencengkeram kerah Hoodie Restu.

Restu mengisap rokok yang masih ada di tangannya kembali. Kemudian, membuangnya ke atas.

"Jawab gua, RESTU!" Rio semakin mencengkeram Hoodie Restu. Sebagai sahabat dan sudah menganggap Restu sebagai kakak, dia yakin ada yang sudah terjadi pada Restu.

Restu hanya terdiam dan membuat Rio geram. Dia segera membuka hoodie yang Restu gunakan dengan paksa. Matanya nanar ketika melihat banyak luka di perut Restu. Juga, di punggungnya.

"A-apa yang sudah terjadi?" Rio menatap Restu dengan mata yang nanar. Tangan Rio menyentuh perut Restu yang sixpack, tapi banyak bekas luka di sana.

"Apa yang sudah terjadi, Restu? Apa selama tiga tahun ini lu baik-baik aja?" Air mata Rio sudah menganak. Dia sangat peduli pada Restu. Namun, Restu masih membeku.

"Jawab gua, Restu. JAWAB!"

Restu pun menunduk dalam. Dia menaruh puntung rokoknya ke dalam asbak kaca tanpa mematikan api yang masih menyala.

"Jawab gua, Restu. Gua mohon." Rio sudah tidak bisa menahan air matanya.

"Mental gua sakit, Yo. Sakit!" Tubuh Restu pun bergetar. Dia menangis seraya menunduk dalam.

"Harusnya pada waktu itu gua yang mati, bukan senior gua." Suara Restu sangat berat. Rio mengusap lembut pundak Restu. Air matanya pun tak sanggup dia bendung.

"Gua diserang ketika gua lagi tugas. Gua ditusuk, gua dihantam timah panas dan--" Restu tidak bisa melanjutkan ucapannya.

"Pengawal senior gua mencoba menolong gua dan pada akhirnya dia meninggal. Dia menghalangi tubuh gua dari serangan membabi-buta anak buah Jordan."

"Jo-jordan? Bokap lu?" Restu mengangguk.

Flashback.

Hari pertama bertugas membuat Restu yang sebagai junior harus siap di bawah komando senior. Dia di bawah perintah Henrick. Pengawal senior yang sudah berusia tidak muda lagi. Dari Henrick dia belajar banyak hal.

Ketika awal pengawalan tidak ada yang janggal. Semuanya berjalan dengan normal. Namun, ketika pengawalan akan diakhiri, tiba-tiba tubuh Restu ditusuk dari depan oleh sesama pengawal juga. Sontak Henrick yang bersama Restu pun melepaskan tembakan. Namun, pengawal yang menyerang Restu tidak hanya satu yang lainnya malah menembakkan peluru panas ke dada Restu dan untungnya tidak mengenai organ vital. Demi melindungi Restu yang sudah tersungkur, Henrick berada di di depan Restu dengan beradu senjata. Naasnya, dua buah timah panas menembus jantung Henrick.

Restu terus menangis dan berteriak ketika Henrick tak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulance. Dia tidak mempedulikan luka di tubuhnya. Dia hanya ingin Henrick bangun.

"Paman, bangun Paman!" Darah sudah merubah warna kemeja Restu. Sakit tak dia rasa, dia hanya ingin Henrick sadar.

"Bangun, Paman! Jangan tinggalkan aku!"

Dokter memaksa Restu untuk mengobati lukanya juga mengambil timah panas yang bersarang di dada. Namun, Restu menolak. Dia mengikuti ke mana dokter membawa Henrick. Hingga pintu ruang tindakan tertutup dan Restu menangis dengan sekeras-kerasnya.

"Kenapa Paman lindungi aku? Kenapa? Biar saja aku yang mati, Paman." Restu menjambak rambutnya sendiri. Wajahnya sudah mulai pucat karena darah yang terus mengalir.

Ketika Restu hendak dibawa ke ruang tindakan, dokter yang membawa Henrick keluar dan mengatakan Henrick meninggal. Restu menangis histeris. Dia berteriak memanggil nama Henrick.

"PAMAN!"

#off.

"Selama satu tahun gua hidup bagai orang gila. Setelah kepergian Paman Henrick, bayang-bayang wajah Kakek Wiratama terus ada di kepala gua. Kakek gua meninggal karena kebiadaban Jordan. Kakek Wiratama ditusuk dan ditembak. Gua liat itu dan bukan gua pelakunya. Bukan gua." Restu memegang kepalanya.

Rio memeluk tubuh Restu dengan begitu erat. Korban fitnah dari ayahnya sendiri. Dia saksi kunci atas kematian Wiratama dan malah dijadikan tersangka karena barang bukti ada di tangannya.

"Bukan gua yang bunuh Kakek. Bukan gua."

"Gua tahu itu. Gua percaya itu." Jika, sudah begini hati Rio akan teras sesak. Air matanya akan tumpah ruah.

"Gua hampir bunuh diri." Rio terkejut mendengarnya. "Setiap latihan gua selalu lemah, gua selalu kalah. Wajah gua sudah berdarah-darah. Muka gua sudah tidak berbentuk. Di sana gua merasa sudah waktunya untuk gua menyerah." Restu menjeda ucapannya. Wajahnya terlihat frustasi sekarang.

"Gua sudah berada di gedung paling tinggi tanpa identitas apapun. Hari itu juga, gua ingin mati. Gua ingin pergi. Gua tidak ingin hanya jadi sampah." Restu menunduk kembali.

"Baru saja gua mau molompat, seseorang menarik tubuh gua dari belakang dan memeluk gua dengan begitu hangat. Beliau tidak bicara, tapi tepukan begitu lembut di punggung membuat gua merasa dirangkul dan ditarik ke dalam circle positif. Papih." Restu masih menunduk dalam, tetapi senyumnya tersungging begitu kecil.

"Papihlah penyelamat hidup gua. Papih yang buat mental gua kuat dan Papih yang selalu percaya kalau gua bisa menjadi manusia hebat."

"Sekarang lu jadi pria hebat sungguhan. Gua salut sama lu," puji Rio. "Papih pun sangat bangga sama lu."

"Papih sumber kekuatan untuk gua. Papih yang membuat semangat gua berkobar. Apalagi, ketika gua tahu Jordan sudah ditangkap polisi. Gua berjanji pada diri gua sendiri, ketika dia keluar dari penjara gua akan membunuhnya dengan tangan gua sendiri. Gua akan membalaskan kematian Kakek Wiratama dan Paman Henrick. Gua janji itu."

Restu Ranendra, anak yang almarhum Addhitama selamatkan dari kebiadaban ayah kandungnya sendiri. Sedari kecil sudah dihancurkan psikisnya, perlahan Addhitama dan keluarganya sembuhkan Restu. Merangkul Restu dengan penuh kasih sayang dan membiarkan Restu menekuni apa yang dia suka, yakni bela diri. Ribut, tawuran, itu tidak dilarang oleh Addhitama. Anak ini memiliki jiwa ksatria. Jadi, tinggal diarahkan ke jalan yang semestinya. Kini, arahan dari keluarga Addhitama membuahkan hasil. Restu Ranendra menjadi bodyguard paling mahal dan nomor satu di negeri Swiss atau semua rekannya memanggilnya Mr. R.

Restu menyandarkan tubuhnya di sofa. Beban yang selama tiga tahun dia pikul sendirian sudah dia utarakan kepada Rio. Dia menatap kalung yang menggantung di lehernya berliontinkan sepasang cincin putih bermata berlian. Tangannya memegang cincin tersebut dan sejenak dia memejamkan mata.

"Bukan hanya Papih, kamu juga yang menjadi alasan untuk aku terus bertahan dan menjadi orang hebat."

...***To Be Continue***...

Banyak komen, dobel UP.

1
Wulan
baru baca dah mewek 😭😭
Yayu Rulia
ceritanya seru dan bagus...
Yayu Rulia
tak pernah bosan membacany wlwpn berulang kali..
kalea rizuky
uda tua gatel
Elly Setia Ningsih
Luar biasa
Elly Setia Ningsih
kim je ha 😍
zoel
/Good//Good//Good//Good//Good/
Venny Merliana
ganteng Ersan
Ocanya gava
Luar biasa
Yus Nita
perang Saudara bakal di mulai
itu maka ny abang Dengan gak suka sama syafa. dia biang masalah dari dua saudara yg harmamonis
Yus Nita
waduuoohhh. gawat
di mana abang Dengan lg sakit, di situ pula si Mami mau lahiran
Yus Nita
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Shy/
Yus Nita
Sultan mah bebas...
Yus Nita
Bhamidun noh si mamud 😁😁😁
Yus Nita
apa yg di tanam itu lah yg di tuai
Yus Nita
pen rasa ngerokok Ginjal si Aleeyaa
Yus Nita
maka ny klu cinta pkk mata, biar bisa ngeliat, jangan pkk nafsu. bego kan j adi ny
Yus Nita
tajam bah...
Yus Nita
mampos lo satria..
brandalan lo lawan.
senggol.. bacok lah 😃😃😃
Yus Nita
kasihan dech lo...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!