Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahun baru semangat baru!
Langit Wonosobo hari ini penuh dengan awan abu-abu yang lembut, seperti kanvas raksasa yang diwarnai dengan sentuhan magis. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing seperti lukisan alam yang indah, membuat siapapun yang melihatnya merasa tenang dan damai.
Di bawahnya, hamparan TANAH WONOSOBO yang subur tampak hijau dan segar. Sawah-sawah yang terasering berwarna hijau, semakin menambah keindahan alam ini.
...----------------...
Galih memulai hari dengan secangkir kopi yang sedikit pahit, dan rencana yang jelas.
Berbekal pengalamannya pernah menjadi seorang manajer di salah satu perusahaan besar yang ada di Jakarta, Galih telah mengambil langkah membuka usaha sendiri sebagai manager digital marketing dalam beberapa tahun terakhir.
Galih tahu, usahanya itu merupakan peluang besar di TANAH WONOSOBO. Galih sudah membuktikan bahwa dia telah membantu banyak bisnis di kotanya.
Bu Susi menghampiri Galih di ruangan yang sengaja Galih buat untuk tempat usahanya itu, "Galih, Rama belum pulang?" Tanya bu Susi.
"Belum, bu." Ucap Galih sambil membuka laptopnya, "mumpung belum masuk sekolah, Rama masih ingin di sana katanya."
"Ibu nggak enak sama bu Alin, bu Alin itu kan lagi sakit, lagi pula kita tahu kan... bu Alin tidak begitu menyukai Rama." Tanggapan bu Susi.
Galih membenarkan ucapan ibunya, namun Galih pun tidak bisa mencegah Rama untuk tidak dekat dengan keluarga mereka, terlebih Adit dan Arumni sudah terlanjur menganggap Rama seperti anak mereka sendiri, dan Rama merasa nyaman di sana.
"Kalau bisa Rama dijemput saja, ibu merasa kesepian nggak punya teman ngobrol." Sambung bu Susi lagi.
"Nanti aku jemput ya, bu..." Ucap Galih menenangkan hati ibunya.
Sejenak mereka hanya diam, lalu bu Susi kembali menanyakan sebuah pertanyaan yang belum mendapat jawaban pasti dari Galih. "Galih, sebentar lagi usia ibu 60 tahun."
"Ibu mau mengadakan acara ulang tahun?" Potong Galih mengoda ibunya.
"Kamu nggak malu lihat ibu tiup lilin di depan orang-orang?" Gurau balik bu Susi.
Galih mengulas tawa, merasa lucu atas jawaban ibunya. Dia merubah posisi duduknya menghadap bu Susi yang sedang berdiri, lalu memegang kedua tangan bu Susi dengan wajah mendongak menatap sang ibu. "Nggak malu, kenapa harus malu? Kalau ibu mau merayakan ulang tahun, besok aku belikan kue." Katanya.
Bu Susi tahu, Galih hanya sedang mengalihkan pembicaraan. "Galih..."
Galih berdiri lalu membuat ibunya duduk di kursi yang baru ia tempati, "aku tahu harapan ibu." Galih mencium tangan bu Susi membuat bu Susi terdiam tanpa suara. "Tapi—"
"Tapi kamu masih belum bisa melupakan Arumni? Itu kan yang mau kamu sampaikan ke ibu?"
Hening...
Galih menatap ibunya dengan tatapan sendu, "bukan begitu, bu. Aku masih akan fokus untuk membesarkan Rama." Katanya.
Bu Susi menghela napas, "alasan baru lagi?"
Galih tertawa kecil, "bukan alasan, ibu....itu kenyataan, kan?"
"Rama itu sudah besar, sudah tidak terlalu butuh kita, dia bisa urus semuanya sendiri, Galih." Tutur bu Susi, "carilah teman hidup, jangan terlalu fokus pada pekerjaan!" Pinta sang ibu.
Galih pun bingung, dia merasa telah gagal menjadi suami yang baik—bahkan sampai dua kali. Kali ini, Galih bukan hanya ingin sekedar berumah tangga, sejujurnya Galih masih takut jika nanti akan kembali menyakiti perasaan wanita.
"Ibu sabar dulu ya, bu... aku sedang berusaha." Ucap Galih yang membuat ibunya merasa sedih.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/