Elizabeth Stuart memiliki lukanya sendiri hingga enggan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama lelaki lain. Kegagalan dalam rumah tangganya dengan sang mantan suami membuat Elizabeth memilih hidup sebagai orang tua tunggal.
Hingga suatu hari, apa yang telah ia rencanakan dan susun dengan baik hancur begitu saja dalam sekejap karena takdir berkata lain.
Hadirnya sosok lelaki yang hangat dan penuh cinta membuat Elizabeth perlahan mulai melupakan rasa sakitnya, dan belajar membuka hati.
Namun, lagi-lagi seolah takdir mempermainkan hidupnya. Sang mantan suami datang, dan memohon dengan penuh rasa cinta agar Elizabeth kembali bersamanya.
Elizabeth kini kini menjadi dilema, akankah ia lebih memilih sang mantan suami demi kebahagiaan kedua anaknya, atau justru ia lebih memilih lelaki baru yang membuatnya bangkit dan menjadi utuh kembali sebagai seorang wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja bersamamu
Mereka berdua terlihat sibuk di dapur, Daniel membuat seteko teh hangat dan Lizzy membuat Garlic bread. Sesekali terdengar suara tawa dari mereka memecah keheningan sore hari di rumah itu.
Akhirnya pekerjaan mereka di dapur telah selesai dan masing-masing dari mereka membawanya ke halaman belakang. Mereka duduk saling berhadapan di meja panjang, dan saling melemparkan senyuman hangat.
"Aku sudah lama tidak duduk santai dan berbincang sembari menikmati matahari senja. Entah kapan terakhir kali aku menikmatinya," Daniel mulai menuangkan teh hangat ke cangkir mereka masing-masing.
"Terima kasih Daniel," Lizzy kemudian menyesap teh hangat buatan Daniel sambil menghirup aroma teh yang khas melati itu.
"Aku juga sudah lama, tidak duduk dan berbincang santai sembari menikmati senja," Lizzy mengambil sepotong garlic bread dan memakannya.
"Sudah berapa lama kau tinggal di kota ini Lizzy?"
"Sudah tiga tahun kurang lebih."
"Sudah selama itu? Bagaimana kau bisa berakhir di kota ini? mengingat kau memiliki segalanya di ibukota."
"Entahlah, suatu hari aku sedang melamun dan tiba-tiba saja aku membayangkan memiliki tempat tinggal di kota ini, dan rasanya hatiku sangat damai. Membayangkan hamparan padang rumput yang hijau, dan pemandangan pegunungan yang memanjakan mata ditambah dengan danaunya yang indah, membuatku merasa seperti tinggal di surga. Aku ingin sekali melihat itu semua setiap hari, sebelum dan sesudah tidur. Dan akhirnya di sinilah aku. Kau sendiri, kenapa sekarang kulihat kau lebih sering mengunjungi paman dan bibi? maaf jika pertanyaanku membuatmu tak nyaman, tapi sungguh, aku sangat penasaran. Karena bibi dan paman selalu mengatakan kau jarang sekali pulang sebelumnya."
"Aku tidak marah Lizzy, kau memang benar sebelumnya aku jarang sekali pulang. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan duniaku sendiri, ditambah aku juga sibuk menghabiskan waktu bersama mantan kekasihku, tapi belakangan ini aku menyadari kesalahanku, aku membuat kedua oranagtuaku merasa kesepian dan tidak dibutuhkan lagi."
Lizzy terlihat kikuk saat Daniel berbicara tentang mantan kekasihnya, ia tak tahu harus berkata apa, karena ia tahu dengan jelas penyebab hubungan pria itu dan kekasihnya kandas.
"Maaf sebelumnya Daniel, bolehkah aku bertanya kenapa kau dan kekasihmu itu memutuskan untuk berpisah?" ia mencoba peruntungannya untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan yang bercokol di kepalanya semenjak malam pesta itu.
"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu alasanku berpisah? Dia menghianatiku. Dan kurasa kau sudah tahu siapa pria selingkuhannya itu," Daniel tersenyum getir.
Lizzy menatap manik cokelat milik pria itu dengan gusar. Ya, ia tahu dengan sangat jelas. Tapi entahlah, ia pun jadi ikut merasa bersalah terhadap pria di hadapannya itu. Ia menghela nafas berat, "Maafkan atas perbuatan kakakku Daniel, ia sudah menceritakan semuanya padaku, dan dia juga merasa bersalah. Dia ingin meminta maaf padamu hanya saja dia tidak tahu bagaimana caranya. Dia sungguh menyesal. Dia pun marah pada wanita itu, dia memang seorang playboy, tapi untuk menjadi orang ketiga dan menjadi perusak hubungan orang itu tidak ada dalam kamus hidupnya. Dia pun merasa terhina oleh wanita itu."
" Aku tahu Lizzy, dia pasti tidak sengaja melakukan itu. Tapi kurasa wajar jika aku tetap merasakan sakit hati akibat perbuatannya padaku. Belakangan ini aku jadi berpikir sendiri, mungkin memang aku yang tidak pantas untuk wanita itu, siapalah aku? Hanya seorang aktor dari kelas menengah. Uangku tidak sebanyak yang kakakmu miliki."
"Apa kau tahu Daniel? Kau sungguh beruntung."
"Apa maksudmu?" ia menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Lizzy.
"Iya, kau sungguh beruntung. Karena kau mengetahui penghianatan wanita itu sebelum kalian menikah. Tidak seperti aku, yang baru mengetahui semua perbuatan Jacob yang sering merayu wanita di belakangku setelah kami menikah dan memiliki dua anak."
Daniel terlihat syok saat mendengar penjelasan Lizzy. Apa pria itu sudah gila? Ia melepas sebuah berlian hanya demi seonggok perhiasan imitasi? Sungguh ia tak percaya dengan semua itu. Lizzy adalah jelmaan dari kata sempurna. Ia cantik, berpendidikan tinggi, cerdas, mandiri, dan berasal dari keluarga terpandang. Kurasa Jacob Morris memang sudah gila.
"Maaf Lizzy, aku tidak tahu alasanmu berpisah dengan mantan suamimu, tadinya kupikir kaulah sumber masalahnya karena jika melihat seorang Jacob Morris sepertinya dia adalah sosok pria yang sempurna sebagai suami dan juga seorang ayah."
"Kau benar, penampilan Jacob memang sangat sempurna, dia bisa mengecoh siapa saja termasuk diriku. Tapi aku pun merasa masih sedikit beruntung karena aku tidak terjebak bersamanya selama puluhan tahun. Karena jika sampai seperti itu, mungkin aku tidak akan bisa sekuat sekarang," Lizzy mencoba untuk tersenyum, menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Ya, kurasa kau juga masih beruntung. Lizzy, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tanyakanlah Daniel, bukankah sekarang kita berteman?"
"Kenapa kau memilih pendidikan di fakultas kriminologi? kenapa bukan jurusan lain yg berbau feminim?"
Tanpa diduga, Lizzy tertawa mendengar pertanyaan dari Daniel, hal yang selalu ditanyakan oleh orang-orang saat mereka tahu bahwa Lizzy menyandang gelar Bachelor dalam bidang kriminologi. Dia berdeham sebelum menjawab, "Kau menanyakan hal yang sering orang tanyakan padaku Daniel. Aku dengan senang hati akan menjawabmu. Aku memiliki kecenderungan untuk menganalisa segala sesuatu yang terasa janggal di mataku. Aku juga senang menganalisa dan mencoba membaca karakter seseorang, mencoba menganalisa dari ekspresi wajah, tatapan mata, gaya bicara, bahasa tubuh bahkan cara mereka berpakaian untuk mengetahui lebih jauh tentang orang itu. Kurasa itu efek karena aku terlalu banyak membaca buku cerita tentang seorang detektif saat aku masih remaja."
"Lantas kenapa sekarang kau malah membuka toko roti? bukannya menjadi seorang detektif?"
Lagi-lagi ia tertawa mendengar pertanyaan Daniel, sambil memikirkan jawaban yang harus ia beri. Ia ingin menjawab jujur, tapi ia sedikit ragu. Meskipun ia tahu, Daniel adalah seseorang yang bisa dipercaya.
"Semenjak aku bercerai dari Jacob, semua pekerjaan itu aku tinggalkan, aku memilih beralih profesi, demi kenyamananku dan juga kedua anakku. Pekerjaanku sebelumnya penuh dengan resiko, sehingga aku harus ekstra hati-hati. Karena bahaya bisa datang kapanpun. Tapi aku tak menyesal meninggalkan itu semua, karena memasak juga merupakan hobiku."
"Jadi kau benar seorang detektif dulu?" Daniel bertanya dengan ekapresi wajah penuh dengan kekaguman.
"Bisa dikatakan begitu, aku bekerja untuk pemerintah, kupikir itu lebih aman dibanding aku bekerja untuk swasta. Pemerintah memiliki lebih banyak peralatan perlindungan diri yang mumpuni, sehingga aku bisa merasa aman saat turun ke lapangan untuk bertugas."
"Jadi kau ini anggota badan intelijen negara?"
"Aku belum sampai pada tahap sekeren itu Daniel," Lizzy menepiskan senyumnya berusaha untuk merendah, ia tak nyaman jika ada seseorang yang mengetahui identitas dirinya secara gamblang dimasa lalu.
"Lizzy, sebenarnya tadi sewaktu aku datang aku seperti melihat seseorang mengawasi rumah ibuku, aku tidak mengenal orang itu, aku takut orang itu akan melukai ayah dan ibuku, barangkali kau tahu sesuatu tentang ini, entahlah hanya saja firasatku kau menyembunyikan sesuatu dari kami."
Lizzy lagi-lagi menghela nafas lelah, ia tahu semua itu adalah perbuatan Jacob, entah sampai kapan pria itu akan terus mengganggu ketenangan hidupnya.
"Kau tenang saja Daniel, mereka tidak akan melukai paman dan bibi. Mereka hanya ditugaskan untuk mengikuti dan mengawasiku, kemudian memberikan laporan secara terperinci kepada tuannya Jacob Morris. Aku tahu itu terdengar konyol, tapi begitulah Jacob yang sebenarnya."
"Apa kau tidak merasa bahwa dia sebenarnya sangat mencintaimu Lizzy?"
"Itu bukan cinta Daniel, itu obsesi. Dan aku tidak bisa bernafas karenanya. Semenjak kami berpisah dia mengirimkan beberapa orang untuk mengikuti aku dan kedua anakku kemana pun kami pergi. Itu terasa tidak nyaman bagiku."
"Jika aku menjadi Jacob, kurasa aku pun akan melakukan hal yang sama, menjaga wanita yang kucintai dengan segenap hatiku dengan berbagai cara, apalagi jika wanita itu memang layak untuk dipertahankan."
"Tapi kau tidak bisa melakukan itu padaku Daniel, aku bukan wanita yang bisa kau kekang, aku memiliki duniaku sendiri, aku tidak akan melewati batasanku, bisa kujamin itu."
"Baiklah aku akan mengingatnya Lizzy," Daniel tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Lizzy membuatnya tertawa dan melupakan kejadian di siang hari itu.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Jacob melempar dan menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Ia murka, karena tidak dapat menemui dan membujuk Lizzy. Pasangan keluarga itu menyembunyikan Lizzy di rumah mereka, bahkan kedua anaknya pun ikut dibawa. Ia merasa frustasi, karena usahanya selama ini terasa sia-sia, segalanya hancur dalam sekejap.
Orang yang ia utus untuk mengawasi rumah itu bahkan baru saja melapor, bahwa pasangan Allan dan kedua anaknya tengah pergi bersama menuju danau, yang artinya di rumah itu hanya ada pria yang bernama Daniel dan Lizzy.
Entah mengapa ia merasa jika pasangan Allan itu, ingin menjodohkan anaknya dengan Lizzy. Jika sampai itu terjadi, maka ia tidak akan tinggal diam. Lizzy harus kembali menjadi miliknya, bagaimanapun caranya.
Berulang kali ia mencoba untuk menghubungi Lizzy melalui ponselnya, tapi hasilnya selalu nihil. Lizzy tak menjawab satupun panggilannya.
"Kumohon sayang...jawab teleponku," ia duduk dan meremas rambutnya dengan frustasi. Ia tak tahu harus berbuat apalagi. Akhirnya ia meraih kunci mobilnya di atas meja kecil di samping sofa dan keluar dari rumah.
Jacob menatap rumah itu yang hanya diterangi cahaya temaram, menandakan penghuninya belum kembali, tapi bisa jadi karena sesuatu sedang terjadi antara Lizzy dan pria itu. Memikirkannya saja sudah membuat emosinya bergejolak, dan ia memencet intercom yang ada di sisi kiri pagar dengan tidak sabar, karena tak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya ia terus memencet intercom dengan sekuat tenaga. Akhirnya keluarlah Daniel yang saat itu sudah berganti pakaian santai, "Maaf tuan Jacob, apa ada yang bisa kubantu?"
"Dimana Lizzy? aku ingin bertemu dengannya," Jacob berkata dengan tidak sabar.
Daniel menatap pria di hadapannya itu sembari berpikir apa yang harus ia lakukan, akhirnya ia memutuskan untuk memanggil Lizzy dan menyuruh pria itu untuk masuk.
"Dia ada di dalam, masuklah dulu aku akan memanggilnya, dia sedang makan malam di halaman belakang."
Raut wajah Jacob yang sedari tadi tegang berangsur melunak, ia lega, karena apa yang dipikirkannya tidak terjadi. Ia memilih untuk berdiri di ruang tamu, sembari menatap satu persatu foto yang terpajang di dinding.
"Lizzy, ada seseorang yang ingin menemuimu di depan," Daniel duduk di depannya dan berkata dengan hati-hati.
Lizzy menatap Daniel dengan pandangan yang sulit untuk diartikan, ia hanya mampu menggeleng lemah sebagai tanda penolakan.
"Apa kau tidak bertanya dulu siapa yang ingin menemuimu?"
"Tidak perlu Daniel, aku tahu orang itu pasti Jacob."
"Kurasa kau tidak bisa terus menghindar Lizzy, selesaikanlah masalah antara kalian berdua, jika kau menghindar, masalah ini tidak akan pernah selesai, yang ada hanya akan menambah beban pikiranmu saja."
Lizzy mengalihkan pandangannya menatap ke sembarang arah, sungguh ia tak siap jika harus bertemu dengan pria itu lagi hari ini, emosinya sudah terkuras habis. Dan ia sudah lelah.
"Apa kau mau menemaniku Daniel? bukannya aku ingin membuatmu terlibat dalam masalah kami, hanya saja aku butuh seseorang untuk memegang erat tanganku saat ini, aku...aku tak sanggup jika harus menghadapinya seorang diri."
"Baiklah jika kau menginginkannya aku akan menemanimu."
Mereka berdua berjalan bersisian menuju ruang tamu, bersiap untuk mengahadapi segala hal yang akan terjadi nanti. Lizzy memegang lengan Daniel dengan sangat erat, ia takut untuk menghadapi Jacob, menghadapi rasa sakitnya sendiri, namun apa yang dikatakan oleh Daniel benar adanya, dia tidak bisa lari dari masalah, dia harus menghadapinya.
Jacob berputar ke arah belakang untuk melihat siapa yang datang. Wajahnya pias, saat melihat Lizzy yang begitu terluka karena kejadian tempo lalu. Apalagi sekarang Lizzy terlihat memegang lengan pria di sampingnya dengan erat seolah takut untuk di tinggalkan. Hatinya tercubit, dan serasa diremas.
Ia sungguh tak menyangka bahwa ia telah membuat Lizzy kembali terluka.
Daniel dan Lizzy berhenti dengan jarak beberapa langkah di hadapan Jacob, dan itu ternyata membuat Lizzy menyembunyikan wajahnya di balik punggung Daniel. Tubuhnya bergetar hebat menahan emosi, Daniel menyadari itu, ia segera melepaskan genggaman tangan Lizzy pada lengannya dan ganti merangkul bahu wanita itu, mencoba menenangkan.
"Lizzy...bisakah kita bicara berdua saja? aku mohon padamu," Jacob berkata sembari memberikan isyarat mata pada Daniel untuk meninggalkan mereka berdua.
"Tidak...kau bisa berbicara di hadapan Daniel, aku tidak mau hanya berduaan denganmu," Lizzy merangkul pinggang Daniel dengan erat, sebagai tanda agar pria itu tidak pergi meninggalkannya.
Jacob hanya bisa menghela nafas pasrah, ia tahu percuma saja jika ia memaksakan kehendaknya pada wanita itu, ia takkan menang.
"Aku ingin menjelaskan kesalahpahaman kita tadi siang Lizzy," Jacob menahan nafas, ketika dilihatnya mimik wajah Lizzy berubah, yang semula penuh dengan tatapan terluka berganti dengan tatapan murka. Ia paham bagaimana Lizzy.
"Kau tidak berhutang penjelasan apapun padaku Jacob, apapun yang kau lakukan itu sudah bukan urusanku lagi. Maaf tadi aku mengganggu kegiatan kalian, aku berjanji aku dan kedua anakku tidak akan pernah menginjakkan kaki kami lagi di rumahmu agar kami tak mengganggu. Kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, silahkan kau pergi meninggalkan rumah ini."
Jacob hanya bisa pasrah mendengar ucapan Lizzy, ia menganggap itu hal yang wajar, karena wanita itu sedang terluka. Akhirnya dengan langkah gontai, ia meninggalkan rumah itu.
Selepas kepergian Jacob, pelukan Lizzy pada pinggang Daniel terlepas, menyisakan Lizzy yang terduduk lemas di lantai sebelum akhirnya kegelapan datang menyelimutinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Halo para readers, jika kalian menyukai karyaku jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara klik like, komen dan klik 5 bintang. Terima kasih 😘
( Kenapa gak minta vote sekalian thor? kalian klik like, komen, dan klik 5 bintang aja aku udah bahagia kok. Sesederhana itu untuk membuatku bahagia kan? Jadi jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaaa** )
1. My Innocent Girl (up)
2. I Love You Badly (masih new)
jangan lupa mampir ya guys, aku tunggu loh ya like, komen, dan juga vote okeeyyy? okey dongg wkwkk :v🙏
kenapa harus like dan komen?
-yaa karena like dan komen kalianlah yang bisa bikin Author semangat🤗
Sekian dan terimakasihh luvv🙏💛✨🤗