NovelToon NovelToon
Ameera

Ameera

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Qinan

Bacaan khusus dewasa (***)

Ameera, gadis polos yang pura-pura tegar. Sedangkan Awan pria mesum yang sangat terobsesi dengan Ameera.

Bagaimana cara Awan menghadapi Ameera yang teramat polos, segala cara ia gunakan agar berhasil memiliki gadis itu.

Apa setelah menjadi kekasih mereka akan berakhir bahagia? tentu saja belum, karena mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua Awan.

Kisah cinta mereka begitu mengharukan, ada perjuangan dan penghianatan di dalamnya.

Yuk baca AMEERA sebuah cerita cinta yang di adaptasi dari kisah nyata yang tentunya di sisipi kehaluan ala Author.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ameera yang polos

💥Kamu seperti hujan, turun dan reda tak beraturan, sedangkan aku adalah tanaman yang setia menunggumu turun💥

Sore itu Ameera segera melipir pulang sebelum Awan melihatnya, meski ia sudah menyetujui akan pergi bersamanya untuk membeli rok kerjanya.

Berduaan dengan pria itu membuatnya trauma dan sebisa mungkin ia akan menghindarinya.

Ameera langsung melangkahkan kakinya menuju Messnya, ia nampak mempercepat langkahnya agar cepat sampai dan tidak bertemu Awan lagi.

Namun dugaannya salah, Awan yang mengendarai mobilnya langsung memotong jalannya hingga membuatnya berjingkat kaget.

"Kamu mau menabrakku ?" sungutnya saat Awan membuka kaca mobilnya.

"Ayo naiklah !!" perintah Awan kemudian.

"Nggak mau." tolak Ameera.

"Naik atau ku gendong ?" Awan memberi pilihan.

"Aku bilang nggak mau, ya nggak mau. Siapa kamu berhak memerintahku." sinis Ameera menatap Awan.

Awan yang gemas langsung melepaskan sefty beltnya. "Jadi kamu memilih opsi yang kedua ?" ucapnya, kemudian ia segera keluar dari mobilnya.

Melihat itu Ameera langsung menelan ludahnya. "Jangan mendekat, atau tidak...." teriaknya saat Awan berjalan ke arahnya.

Awan yang tak mengindahkannya terus saja mendekatinya. "Atau tidak apa ?" ucapnya dengan lembut namun mengandung tantangan.

"Aku akan berteriak." sahut Ameera dengan napas naik turun.

"Berteriak saja, biar kita di bawa sekalian ke KUA." tukas Awan yang langsung membuat Ameera melebarkan matanya.

"Tapi aku tidak mau ikut kamu, lagipula aku bisa beli rok kerja sendiri." tolak Ameera saat Awan sudah berada di dekatnya.

Sedangkan Awan bukannya menanggapi ia langsung saja mengangkat tubuh Ameera lalu membawanya ke mobilnya.

Gadis itu nampak meronta sembari memukuli dada bidang pria itu, ia tidak berani berteriak takut ada warga yang melihat lalu mereka akan di bawa ke KUA.

Membayangkan itu Ameera nampak bergidik ngeri, ia sama sekali tak bisa menebak sikap Awan yang kadangkala sangat arogan, cuek, dingin, dan di lain waktu sangat perhatian dan agresif seperti sekarang.

"Lepaskan, mas." Ameera memberontak, namun tubuhnya yang mungil dan tenaganya yang tak seberapa membuatnya kesulitan melawan pria itu.

Setelah mendudukkan Ameera di dalam mobilnya lalu memasangkan sefty beltnya, Awan segera memutari mobilnya kemudian masuk.

"Dasar pemaksaan." sungut Ameera setelah mobil mulai melaju.

Sementara itu Awan tak menanggapinya lagi, pria itu nampak fokus dengan jalanan di depannya.

Saat berhenti di traffic light, Awan langsung meraih tangan Ameera lalu menggenggamnya hingga membuat Ameera menatapnya terkejut.

"Lepaskan." Ameera berusaha melepaskan tangannya yang berada di dalam genggaman Awan.

"Diamlah Oneng." tukas Awan sembari melihat lampu lalu lintas di depannya tersebut.

"Kamu panggil aku apa tadi ?" Ameera langsung melotot.

"Oneng." sahut Awan sembari menatap Ameera sekilas, setelah itu ia kembali fokus ke jalanan di depannya.

"Namaku Ameera, bukan Oneng. Nama bagus-bagus begini di panggil Oneng." gerutu Ameera dengan kesal.

Sedangkan Awan nampak tersenyum tipis, kemudian ia melajukan mobilnya kembali setelah lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau.

Tangan sebelahnya masih menggenggam tangan Ameera, lalu sebelahnya lagi memegang kemudi.

"Kamu itu lelet dalam segala hal terutama perasaan, jadi pantasnya di panggil Oneng." ucapnya kemudian yang membuat Ameera langsung menatapnya.

"Siapa bilang aku lelet, pak Mario saja bilang aku cekatan." sungut Ameera tak terima.

"Ck, dasar nggak peka." Awan nampak berdecak dalam hati.

"Lepaskan tanganku !!" imbuh Ameera kemudian, ia nampak berusaha melepaskan tangannya.

"Diamlah Oneng, kamu mau mobil ini menabrak." tukas Awan.

"Makanya lepaskan tanganku." sungut Ameera.

"Nanti, setelah sampai." sahut Awan dengan melembutkan suaranya.

"Menyebalkan." gerutu Ameera lalu membuang wajahnya ke kaca sampingnya.

Sedangkan Awan nampak terkekeh dalam hati.

Beberapa saat kemudian Awan menghentikan mobilnya di sebuah Mall di kota tersebut.

"Mau ngapain kesini ?" protes Ameera seraya melihat Mall beberapa lantai di depannya tersebut.

"Beli rok kerjamu." sahut Awan sembari mencari tempat parkir, setelah melihat tempat kosong ia langsung melepaskan tangan Ameera lalu memarkirkan mobilnya.

Merasa terbebas Ameera segera mengibaskan tangannya yang terasa kebas, ternyata gandengan tangan rasanya tak seromantis di film karena tangannya sekarang seperti mati rasa pikirnya.

"Ngapain beli di sini? aku bisa beli sendiri di pasar." tolak Ameera yang enggan turun dari mobilnya.

Harga rok di sini pasti sangat mahal, jika ia membelinya di pasar pasti bisa mendapatkan beberapa biji.

"Turun atau ku gendong !!" ucap Awan saat Ameera belum juga melepaskan sefty beltnya.

"Aku mau beli di pasar saja, selain lebih murah kualitasnya juga tidak kalah bagus." tukas Ameera yang langsung membuat Awan semakin gemas.

"Ya sudah kalau tidak mau keluar, sepertinya kamu lebih suka jika kita berduaan di dalam mobil saja." ucap Awan yang langsung membuat Ameera melepaskan sefty beltnya, kemudian segera berlalu keluar.

Ameera pernah membaca surat kabar tentang mobil goyang, ia tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana.

Namun ia tidak mau di giring ke kantor polisi seperti di berita yang pernah ia baca.

Awan terkekeh, setelah itu ia segera menyusul gadis itu yang nampak sudah masuk ke dalam mall tersebut.

Ameera nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut mall, namun ia tiba-tiba terkejut saat tangannya tiba-tiba di genggam oleh seseorang dari belakang.

"Kamu kenapa sih suka sekali menggandeng tanganku? kamu kira kita lagi nyebrang." Ameera bersungut-sungut.

"Anggap saja seperti itu." sahut Awan.

"Lepaskan, aku bukan anak kecil ya." Ameera berusaha melepaskan tangannya.

"Diamlah, kamu mau di culik ?" tukas Awan kemudian yang langsung membuat Ameera melebarkan matanya.

"Siapa yang mau nyulik orang dewasa seperti aku, orang makanku banyak kok." ucapnya kemudian.

"Siapa bilang kamu dewasa, orang kamu pendek begitu. Apalagi wajahmu itu seperti anak SD." cibir Awan dan tentu saja membuat Ameera geram lalu memukuli dada bidangnya.

Awan terkekeh, meski pukulan Ameera lumayan keras namun tak berarti baginya.

"Jadi diamlah, di sini banyak Om-Om kesepian yang sedang mencari mangsa anak ABG." ucapnya menakuti Ameera.

"Kamu becandakan ?" Ameera yang ketakutan nampak merapatkan tubuhnya pada Awan, kini mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang lagi sayang-sayangnya.

"Siapa yang becanda, coba kamu perhatikan jika ada Om-Om sendirian trus mengedipkan matanya padamu. Itu berarti ia mau sama kamu." ucap Awan yang langsung membuat Ameera bergidik ngeri.

Sepanjang jalan Ameera nampak memperhatikan pria-pria dewasa dan ia terperanjat kaget saat melihat pria setengah baya mengerlingkan mata ke arahnya tiba-tiba.

"Astaga, aku takut." Ameera langsung menyembunyikan wajahnya di balik lengan kekar Awan.

Sedangkan Awan tentu saja sangat senang, Ameera benar-benar polos. Gadis itu mudah sekali di modusi, semoga saja Fajar dulu tidak berbuat lebih pada Ameera.

Karena pria baik-baik tidak akan pernah menghancurkan seorang wanita, namun jika itu terjadi maka sudah sewajibnya mempertanggung jawabkan perbuatannya, bukan seenaknya lepas tangan lalu pergi begitu saja.

"Ya sudah peluk saja aku kalau takut." ucap Awan sembari menahan kekehannya.

"Dasar modus." Ameera segera menjauh, wajahnya nampak memerah saat mengingat tak sengaja memeluk lengan Awan tadi.

1
Ruwi Yah
kamu salah menilai fajar meera dia tidak sebaik yg kamu kira
Rafly Rafly
balasan yg setimpal... berbakti sana sama emak mu awan.../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Rafly Rafly
kamu ngempeng sana sama simbok mu WAN...pria lemah syahwat saja sok belagu..
tinggal saja laki laki sampah itu merra
Rafly Rafly
nggak anak.. nggak bapak...bangke semua...di tindas perempuan diam ...
Rafly Rafly
Bimo.. Bimo..laki laki kok mulut lemess
ganti nama saja Bimoli..bibir monyong lima centi /Facepalm/
Rafly Rafly
nilai dgn senyuman...lalu..makan
nobita
rupanya papa mertuanya Ameera balas dendam
nobita
dasar mertua laknat... mulut nya pedas sekali.. bagaikan bon cabe level 50
nobita
dasar calon mertua jahat...
nobita
lucu sihh dengan sikapnya Awan ke Ameera..... bikin para readers gemes
nobita
aku mampir kak
kang seblak
itu kesalahan orang tua dlm mendidik anak,sayang anak bukan berarti harus di manja sehingga anak gk bisa apa"
Nurhasanah
yahh gini amat y ending y, 😭😭😭
Esin naufal
sad ending..
Irlindawati
Luar biasa
Ibelmizzel
lajut baca
AyuNia
keren cerita nya...
Hani Ekawati
Wkwkwkwk ..🤣
Hani Ekawati
😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆
Murniyati
menghibur n byk crita yg bisa di ambil mamfaatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!