Kanaya Cempaka, seorang gadis yang sering menjadi target buli dan selalu dihina parasnya yang tidak cantik, culun, hitam, penuh jerawat dan jangan lupa kacamata tebal yang dipakainya menambah kesan kejelekan Kanaya yang hakiki.
Jonathan Dharsono, pria tampan yang sangat membenci Kanaya. Hampir setiap hari Jonathan menghina dan membuli Kanaya dengan kejamnya.
Akibat hinaan dan bullyan yang diterima Kanaya, membuat Kanaya bertekad untuk merubah takdirnya dengan cara merubah penampilannya.
Bagaimanakah reaksi Jonathan saat bertemu kembali dengan Kanaya yang sudah berubah menjadi sangat cantik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acuh Tak Acuh
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Semenjak kejadian itu, Kanaya tidak pernah memperdulikan Jonathan walaupun dia berusaha mendekati Kanaya untuk meminta maaf tapi Kanaya selalu mengacuhkannya.
Jonathan yang selalu mendapatkan sikap dingin dan judes dari Kanaya bukannya menyerah malah sebaliknya, Jonathan semakin gencar mendekati Kanaya bahkan Jonathan setiap hari mendatangi pabrik hanya untuk bertemu dengan Kanaya tentu saja tanpa sepengetahuan Rama.
Jonathan selalu beralasan ingin main saja ke pabrik Rama, padahal kenyataannya Jonathan ingin mendekati Kanaya. Seperti saat ini, Kanaya sedang sibuk dengan kerjaannya tiba-tiba Jonathan datang dengan senyumannya.
"Pagi cantik!" sapa Jonathan.
Kanaya sama sekali tidak menghiraukan Jonathan, dia fokus saja dengan pekerjaannya.
"Nanti kita makan siang bersama ya Nay?"
Lagi-lagi Kanaya mengacuhkannya, setelah selesai dengan pekerjaannya Kanaya pun bangkit dari duduknya dan pergi kebawah untuk memfoto copy. Jonthan pun kembali mengikuti Kanaya dengan ocehan-ocehan yang membuat Kanaya semakin kesal dibuatnya.
"Sebenarnya siapa Jonathan? kenapa dia selalu datang ke pabrik dan selalu mengganggu Aya," batin Sopandi.
Semua karyawan pun selalu dibuat kesal karena yang mendekati Kanaya adalah pria-pria tampan.
"Si Kanaya pasti pakai pelet ini, soalnya para pria tampan itu mengejar-ngejar Kanaya," seru Puri.
"Iya, dan si Kanaya sok jual mahal tuh mentang-mentang sudah cantik, dia jadi sombong," sahut Susi.
"Menyebalkan."
Tidak lama kemudian, Kanaya kembali ke meja kerjanya dan dilihatnya Jonathan sudah tidak ada membuat Kanaya bisa bernapas dengan lega.
Ceklek...
Jonathan kembali ke ruangan Rama...
"Kamu habis ngapain ke toilet? lama bener?" seru Rama.
"Biasalah toiletnya ngantri."
"Hah...ngantri? masa iya ngantri, ini kan jam kerja bukannya jam istirahat."
Jonathan mengangkat bahunya sembari mengotak-ngatik ponselnya.
"Oh iya Ram, apa disini ada lowongan pekerjaan? boleh dong aku melamar kerja disini," seru Jonathan dengan santainya.
"Apa? melamar kerja? kamu salah minum obat ya Jo?"
"Maksud kamu apa?"
"Ya aneh saja, ngapain kamu mau melamar kerjaan di pabrik aku? kamu kan punya perusahaan sendiri, mana perusahaan kamu besar pula."
"Ga apa-apa, aku hanya ingin mencari suasana baru saja dan mencari pengalaman."
"Ga ada, disini ga ada lowongan pekerjaan."
"Ishh..ishh..ishh..sombong sekali."
Rama hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan tingkah sahabatnya itu.
Waktu pulang pun tiba...
Jonathan sudah menunggu Kanaya di dalam mobilnya, setelah melihat Kanaya keluar dan berjalan kaki menuju halte, Jonathan pun langsung melajukan mobilnya dengan sangat pelan mengikuti langkah Kanaya.
Kanaya benar-benar sudah jengah dengan kelakuan Jonathan, Jonathan bukannya pergi malah semakin berusaha mendekati Kanaya. Kanaya sampai di halte dan seperti biasa duduk menunggu bus datang.
Mobil Jonathan berhenti tepat dihadapan Kanaya tapi Kanaya segera memalingkan wajahnya.
"Nay, pulang bareng sama aku aja rumah kita kan searah malah kita tetanggaan," seru Jonathan.
Kanaya berusaha tidak mendengarkan ocehan Jonathan, Kanaya mengambil ear phone dan memakainya supaya Kanaya tidak bisa mendengar ocehan Jonathan lagi.
Jonathan mengembangkan senyumannya, akhirnya Jonathan pun keluar dari dalam mobilnya dan ikut duduk disamping Kanaya. Kali ini Kanaya sudah sangat emosi dengan kelakuan Jonathan.
"Kamu itu sebenarnya maunya apa sih? selalu menggangguku dan membuat hidupku tidak tenang, lebih baik kamu kembali ke kampung dan jangan kembali lagi kesini karena semakin kamu berusaha mendekatiku, semakin aku membencimu!" bentak Kanaya.
Tidak lama kemudian bus pun datang, Kanaya dengan cepat masuk ke dalam bus itu dan meninggalkan Jonathan.
"Pokoknya aku akan terus mengganggumu Kanaya, sampai kamu mau memaafkan aku," gumam Jonathan.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, sudah satu minggu Jonathan berusaha mendekati Kanaya tapi hasilnya nihil, Kanaya tetap saja acuh kepadanya menganggap Jonathan tidak ada.
Bahkan Kanaya dan Rama semakin dekat, membuat Jonathan sedikit kesal melihatnya. Jujur, ada perasaan iri dihati Jonathan saat melihat Kanaya bisa tertawa bersama dengan Rama sedangkan dengannya, jangankan teetawa bersama mendengar dia bersuara saja sepertinya Kanaya tidak mau.
Seperti saat ini, Kanaya sedang makan siang di kantin dan Rama serta Jonathan pun menghampiri Kanaya.
"Hai Nay!" sapa Rama.
"Eh Pak Rama."
"Boleh kita duduk disini?"
"Boleh Pak silakan."
Rama dan Jonathan pun duduk dihadapan Kanaya, Kanaya hanya sibuk mengobrol dengan Rama sedangkan Jonathan dari tadi diacuhkan membuat Jonathan sedikit kesal.
"Jo, kamu ga mau pulang?" tanya Rama.
"Sebenarnya Papa sudah menghubungiku terus tapi aku masih betah disini."
"Kasihan loh, kamu kan harus mengurus perusahaanmu juga."
"Iya sih, mungkin besok aku mau pulang," sahut Jonathan dengan melirik Kanaya.
Jonathan berharap mendapatkan respon dari Kanaya tapi pada kenyataannya, Kanaya terlihat acuh tak acuh dan fokus dengan makanannya. Tidak lama kemudian, Kanaya pun selesai dengan makan siangnya.
"Maaf Pak, saya duluan karena saya sudah selesai," seru Kanaya.
"Loh, kok cepat banget Nay?" tanya Rama.
"Karyawan itu harus makan cepat, karena dikejar waktu dan kerjaan. Kalau begitu saya permisi duluan."
Kanaya pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan kedua pria tampan itu. Jonathan terlihat menghela napasnya, ada rasa kecewa dihatinya karena kerja kerasnya selama ini sia-sia dan tidak membuahkan hasil.
"Sepertinya besok aku memang harus pulang, percuma tinggal disini juga Kanaya masih saja mengacuhkanku. Ternyata memang rasa benci Kanaya terhadapku sudah mendarah daging dan tidak mungkin Kanaya akan memaafkanku," batin Jonathan.
"Woi, kebiasaan kalau sudah melamun. Mikirin apaan sih?" seru Rama.
"Ah tidak apa-apa, sepertinya besok memang aku harus pulang dan ga tahu kapan lagi aku kesini. Sorry ya bro karena selama ini aku sudah menyusahkanmu dan merecoki kerjaan kamu dengan setiap hari datang kesini."
"Kamu bicara apa sih? aku ga ngerasa direpotkan kok. Ya sudah kalau kamu mau pulang, hati-hati di jalan nanti kalau ada waktu aku bakalan main ke kampung halamanmu," seru Rama.
"Harus itu."
Setelah selesai makan siang, Jonathan pun pamit kepada Rama karena dia harus membereskan barang-barangnya. Disaat Jonathan melewati ruangan produksi, dilihatnya Kanaya sedang duduk sendirian karena memang waktu istirahat masih ada sepuluh menit lagi.
Perlahan Jonathan menghampiri Kanaya dan Kanaya menyadarinya tapi Kanaya tidak mau menoleh sedikit pun kepada Jonathan.
"Kanaya, aku tahu kesalahanku sangat fatal dan kamu tidak mungkin mau memaafkan aku tapi jujur dari hati aku yang paling dalam, aku benar-benar tulus ingin meminta maaf kepadamu. Mungkin kata maaf sudah kamu tutup, tapi aku tetap berharap suatu saat nanti kamu bisa membuka hatimu untuk memaafkanku walaupun itu cuma sedikit," seru Jonathan.
Kanaya masih tetap tidak bergeming, pandangannya lurus kedepan.
"Sekali lagi maafkan aku, dan mulai besok aku tidak akan mengganggumu lagi karena aku akan pulang dan tidak tahu kapan akan kesini lagi. Semoga kamu selalu bahagia dan tidak ada lagi yang akan menghina dan membullymu lagi."
Jonathan membalikan tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya.
"Bagus, pergilah dan aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita karena aku tidak mau bertemu lagi denganmu," seru Kanaya dingin.
Jonathan mengangkat ujung bibirnya, entah kenapa hatinya begitu sakit mendengar ucapan Kanaya. Tapi Jonathan tahu diri, bahkan dulu dia memperlakukan Kanaya bukan seperti manusia dan mungkin ini adalah karma buatnya.
Jonathan mulai melanjutkan langkahnya meninggalkan Kanaya. Kanaya pun kbali mengerjakan pekerjaannya, ada sedikit rasa lega dihati Kanaya karena orang yang paling dia benci akhirnya pergi.
🍁
🍁
🍁
🍁
🍁
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
andaikan ibunya Kanaya tau ramuan herbal misal daun beluntas untuk ngilangin bau bdan setidaknya gak parah - parah amat , biasanya di desa ada tanaman itu