Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Ujian Kepercayaan
Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk dari sela-sela tirai jendela, menyiram ruang makan kediaman utama keluarga Dirgantara dengan cahaya keemasan.
Oma Soraya sudah duduk di kepala meja makan dengan anggun, menyesap teh hitamnya sembari membaca koran bisnis harian. Di sisinya, Tante Vina dan Rendy sudah lebih dulu bergabung dengan wajah yang memasang senyum penuh arti.
“Pagi, Oma,” panggil Arka yang baru saja melangkah turun dari tangga, lengkap dengan setelan jas kerjanya yang rapi dan presisi.
Di sampingnya, Naya berjalan mendampingi. Meski raut wajahnya menyembunyikan rasa gugup, penampilan Naya tampak elegan dengan blus simpel berwarna krem dan rok favorit berpotongan tinggi.
Oma Soraya melirik keduanya di balik kacamata bacanya. “Pagi. Duduklah. Vina baru saja menceritakan beberapa poin mengenai persiapan awal gala dinner minggu depan.”
Tante Vina tersenyum manis, senyum yang sengaja dirancang untuk menyembunyikan bisanya. “Ah, iya, Arka. Tante cuma khawatir saja. Gala dinner tahunan ini kan dihadiri jajaran kementerian, investor asing, dan para pengusaha papan atas. Tante cuma berniat membantu Naya, takutnya dia belum familiar dengan etiket dan selera kalangan atas.”
Rendy ikut menimpali dengan nada meremehkan. “Betul, Oma. Lagipula, mengatur acara sebesar itu butuh koneksi ke vendor-vendor high-end. Apa Naya punya akses ke sana?”
Naya yang baru saja mendaratkan duduknya di samping Arka langsung memotong dengan nada suara yang tenang namun berwibawa, menyunggingkan senyum tipis yang amat percaya diri.
“Terima kasih atas perhatiannya yang luar biasa, Tante Vina, Mas Rendy,” ujar Naya lugas, menatap langsung mata Tante Vina.
“Tapi mengenai vendor dan konsep, saya sudah menelaah laporan lima tahun terakhir semalam. Dan menurut catatan saya, konsep acara tiga tahun belakangan terasa sangat monoton, terlalu berfokus pada kemewahan visual, tapi mengabaikan nilai emosional yang justru membuat para donatur mau membuka dompet lebih lebar.”
Pernyataan Naya memotong suasana meja makan. Pergerakan tangan Oma Soraya yang hendak menyendok makanannya terhenti seketika.
Naya melanjutkan tanpa ragu.
“Gala dinner kali ini tidak hanya akan menonjolkan kemewahan, tapi juga cerita di balik dana yang terkumpul. Saya sudah menyiapkan skema baru untuk lelang amal yang dijamin akan menarik perhatian media dan donatur utama.”
Tante Vina mendengus tajam, merasa tercubit. “Bicara memang mudah, Naya. Tapi membuktikannya di lapangan itu hal yang berbeda. Jangan sampai kamu malah mempermalukan nama besar Dirgantara di depan publik.”
“Tante Vina tidak perlu cemas,” sahut Arka tiba-tiba. Suaranya tenang, namun penuh penekanan yang membuat Tante Vina dan Rendy bungkam. “Saya berdiri penuh di belakang Naya. Seluruh sumber daya dan tim saya siap mendukung penuh keputusannya.”
Oma Soraya meletakkan sendoknya kembali ke piring, menimbulkan suara denting halus yang menggema di ruang makan. Matanya yang tajam menatap Naya dan Arka bergantian, lalu mengangguk pelan.
“Buktikan kata-katamu, Naya,” tegas Oma Soraya. “Saya beri kamu wewenang penuh atas gala dinner ini. Tapi ingat, kalau hasil akhirnya mengecewakan... saya sendiri yang akan membatalkan statusmu di rumah ini.”
“Saya siap dengan risikonya, Oma,” jawab Naya mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.
*
*
Suara mesin mobil Alphard hitam milik Arka berderum halus di pelataran depan kediaman utama keluarga Dirgantara.
Doni, asisten pribadi Arka, sudah berdiri sigap di samping pintu penumpang yang terbuka.
Di teras megah beratap kanopi ukir itu, jajaran anggota keluarga Dirgantara melepas keberangkatan Arka dan Naya menuju kantor pusat.
Irwan dan Marisa berdiri sedikit di depan. Marisa menatap menantunya dengan binar bangga yang hangat, melangkah maju satu pijakan untuk merapikan sedikit kerah blus krem yang dikenakan Naya.
“Kamu hebat tadi di meja makan, Naya,” bisik Marisa penuh dorongan moral, tersenyum lembut. “Mama tahu kamu pasti bisa. Hati-hati di jalan, ya.”
“Terima kasih, Mah, Pah," balas Naya tulus, mengangguk hormat pada Irwan yang menyunggingkan senyum tipis sarat rasa percaya.
Di belakang mereka, atmosfer berbanding terbalik. Tante Vina melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah berlipat, sementara Om Hendra hanya berdiri diam dengan pandangan dingin yang sulit diartikan. Di samping mereka, Rendy menyandarkan tubuhnya pada pilar teras, menatap Naya dengan dengusan remeh.
“Semoga keberuntunganmu bertahan sampai hari H, Naya,” sindir Tante Vina keras-keras, memastikan suaranya terdengar. “Dunia bisnis tidak ramah pada orang yang cuma modal nekat.”
Sebelum Naya sempat membalas, Arka melangkah maju. Postur tubuhnya yang jangkung dan tegap secara otomatis memotong jarak pandang Tante Vina ke arah Naya.
“Naya tidak butuh keberuntungan, Tante. Dia punya kapabilitas,” potong Arka dingin. Tatapan matanya yang tajam mengunci Tante Vina dan Rendy bergantian. “Dan siapapun di rumah ini yang mencoba memotong jalannya, akan berurusan langsung dengan saya.”
Rendy tertawa hambar, mencoba menutupi rasa gentarnya. “Santai, Ka. Kita cuma mengingatkan. Jangan sampai investasi keluarga berantakan cuma karena ego.”
Arka tidak melayani provokasi itu lagi. Ia berbalik, secara alami menyapukan tangannya ke pinggang Naya, sebuah gestur protektif yang tegas namun lembut dan menuntunnya mendekati mobil. Doni membungkuk hormat saat keduanya mendekat.
“Selamat pagi, Pak Arka, Bu Naya. Semua berkas revisi konsep dan data vendor yang Ibu minta semalam sudah saya siapkan di tablet di dalam mobil,” ujar Doni efisien.
Naya tersenyum lega. “Terima kasih banyak, Pak Doni.”
Arka membiarkan Naya masuk terlebih dahulu sebelum ia menyusul duduk di sampingnya. Pintu mobil otomatis tertutup rapat, menyerap seluruh kebisingan dan tatapan penuh prasangka dari teras rumah.
Saat Alphard hitam itu mulai bergerak membelah jalan setapak kediaman Dirgantara, Naya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke jok kulit.
Arka meliriknya, lalu meraih tablet dari tangan Doni dan menyerahkannya pada Naya.
Mobil Alphard itu melaju tenang menyusuri jalanan kota yang mulai padat oleh arus kendaraan pagi.
Di dalam kabin yang kedap suara, Naya membolak-balik halaman digital di layar tablet, memeriksa secara teliti rincian vendor dan draf skema lelang amal yang disiapkan Doni. Semuanya tersusun rapi, persis seperti yang ia rencanakan semalam.
Merasa pekerjaannya untuk sementara selesai, Naya menghela napas lega dan mengembalikan tablet tersebut ke pangkuannya. Ia menyandarkan kepala, meraih ponsel pribadinya dari dalam tas untuk sekadar memeriksa pesan atau pengingat jadwal.
Secara refleks, jemarinya membuka salah satu aplikasi media sosial yang sedang populer. Namun, baru beberapa detik mengusap layar, baris tagar teratas dan beberapa unggahan akun gosip bisnis papan atas langsung menyita perhatiannya.
Nama Arka Dirgantara bertengger manis di jajaran trending topic.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak