NovelToon NovelToon
Kebangkitan Darah Naga

Kebangkitan Darah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Ahli Bela Diri Kuno / Kultivasi
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.

Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:

Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.

Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 25 — Di Bawah Akar Semesta

Langit di atas Menara Langit Gelap kini bersih tanpa kabut, namun keheningan yang menyelimuti puncak menara terasa berat, seakan udara sendiri masih menyimpan gema kepergian Aurelia. Kai berdiri mematung, telapak tangannya masih terulur ke arah tempat putrinya terakhir terlihat — tempat di mana butiran cahaya keemasan itu perlahan menyatu dengan angin pagi, menghilang tanpa jejak yang bisa dipegang.

"Kai…" Elowen melangkah mendekat, suaranya lembut namun bergetar. Ia meletakkan tangan di bahu putranya, merasakan betapa tubuh itu menegang, menahan rasa sakit yang begitu dalam hingga tak bisa diucapkan dengan kata-kata. "Aku tahu rasanya. Saat aku dipisahkan dari kalian dulu… aku pikir hatiku akan hancur menjadi debu. Tapi aku bertahan. Dan kau juga akan bertahan."

Kai menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap ibunya dengan mata yang merah namun teguh. "Bukan sekadar bertahan, Ibu. Aku akan menemukannya. Ke mana pun ia pergi."

Kaelan melangkah ke sisi lain, wajahnya serius, tidak ada lagi bayangan kemarahan atau kesepian yang dulu membebani dirinya. "Aku sudah memeriksa catatan tertua yang tersimpan di ruang terdalam menara ini. Ada satu tempat yang bahkan para Pengatur tak berani sentuh — tempat di mana cahaya dan kegelapan lahir bersamaan, sebelum dunia pertama tercipta. Di sanalah kekuatan murni seperti milik Aurelia kembali pulang."

"Di mana tempat itu?" tanya Elara, yang berdiri tak jauh, tangannya mencengkeram gagang pedang erat-erat.

"Disebut Lembah Akar Pertama," jawab Kaelan pelan, seakan menyebut nama yang tak boleh diucapkan sembarangan. "Tempatnya tidak berada di peta mana pun, tidak di dunia ini maupun dunia yang pernah kami kunjungi. Ia ada di antara lapisan kenyataan — tempat di mana waktu belum terjalin, tempat di mana segala sesuatu bermula dan berakhir."

Ren mengerutkan dahi. "Lalu bagaimana cara ke sana?"

Salah satu dari tujuh leluhur — wanita berambut perak yang tatapannya paling lembut — melangkah maju. "Aku yang akan menuntun kalian. Namaku Lira, dan ribuan tahun lalu aku adalah penjaga gerbang menuju tempat itu sebelum kami terjerat dalam kesalahan kami." Ia menatap cakrawala yang mulai bersinar keemasan. "Jalan itu berbahaya. Di sana, pikiran menjadi nyata, kerinduan menjadi bayangan, dan keraguan menjadi jurang. Kalian harus memegang tekad kalian lebih erat daripada apa pun."

Dengan itu, persiapan pun dilakukan — bukan untuk perang, melainkan untuk perjalanan yang akan menguji jiwa mereka lebih dari sekadar kekuatan fisik. Elowen melepaskan sisa kekuatan pelindungnya menjadi jubah cahaya tipis yang melingkupi setiap orang, menjaga mereka dari hawa yang dapat melenyapkan ingatan. Kaelan menyerahkan sebagian tenaganya untuk memperkuat Kompas Antar Dunia yang diberikan Penjaga dulu — kini jarumnya tidak lagi menunjuk ke arah dunia, melainkan berputar perlahan, menunjuk ke arah yang tidak ada di peta mana pun, ke arah tempat di mana segalanya bermula.

Saat mereka melangkah melewati batas dunia yang dikenal, udara berubah seketika — tidak lagi berbau hutan atau bunga, melainkan berbau seperti hujan yang belum jatuh dan bintang yang belum menyala. Langit di atas mereka bukan biru maupun hitam, melainkan hamparan warna yang tak bisa dinamai, berdenyut perlahan seperti jantung raksasa yang berdetak tenang. Tanah di bawah kaki mereka terasa lunak, seakan melangkah di atas ingatan yang hidup — setiap langkah membawa suara samar, bisikan ribuan kisah yang belum ditulis.

"Tetap bersama," perintah Lira, suaranya terdengar jauh namun jelas. "Jangan terpisah walau apa pun terlihat."

Namun tempat itu seakan memiliki kesadaran sendiri. Semakin dalam mereka melangkah, semakin sering bayangan muncul dari kabut tipis — bukan untuk menyerang, melainkan untuk menguji. Di sisi kanan Kai, muncul pemandangan hari saat ia dikhianati istrinya — wajah wanita yang dulu dicintainya tersenyum dingin, kata-kata yang melukainya terulang kembali di udara. Di sisi kiri, muncul bayangan masa kecilnya — hari saat ia merasa tidak diinginkan, saat ia berpikir bahwa ia sendirian di dunia ini.

"Pergilah," bisik suara itu lembut namun mematikan. "Kau tak layak menemukannya. Kau gagal melindunginya di dunia itu, apa yang membuatmu yakin bisa melindunginya di sini?"

Kai berhenti melangkah, dadanya naik turun. Rasa sakit lama kembali menyergap — tajam, nyata, seakan baru terjadi kemarin. Ia merasakan tarikan ke bawah, seakan tanah ingin menelannya bersama rasa bersalah yang ia pikul selama ini.

"Kai!" Tangan Kaelan mencengkeram bahunya erat. "Jangan dengarkan! Itu bukan kebenaran!"

"Tapi dia benar," suara Kai bergetar. "Aku hampir kehilangan Aurelia berkali-kali… jika aku lebih kuat, jika aku lebih waspada…"

"Kau juga berjuang," potong Elowen lembut namun tegas, berdiri di hadapan bayangan itu. "Kau berjuang setiap hari, bahkan saat harapan hampir padam. Itu bukan kegagalan, Nak. Itu cinta."

Tangan lain menyentuh bahunya — Elara, Ren, Dagan, Lyra, Lirael. Satu per satu, mereka berdiri di sekelilingnya, membentuk lingkaran seperti yang selalu mereka lakukan.

"Kau tidak sendirian," kata Elara lantang, menatap bayangan itu langsung. "Dan rasa bersalahmu tidak menentukan siapa kau. Yang menentukan adalah apa yang kau lakukan sekarang."

Kai menarik napas dalam-dalam, menutup matanya sesaat, lalu membukanya kembali — jernih, teguh. Ia menatap bayangan masa lalu itu langsung. "Aku tidak sempurna. Aku pernah jatuh, pernah takut, pernah salah. Tapi aku tidak akan berhenti. Karena Aurelia mengajarkanku — cinta bukan berarti tidak pernah kehilangan. Ia berarti tetap mencari, walau jalan terasa tak ada ujungnya."

Bayangan itu perlahan memudar, tersapu angin yang tidak berhembus. Jalan di depan terbuka kembali — lebih terang, lebih tenang.

Perjalanan berlanjut berjam-jam, atau mungkin berhari-hari — waktu di tempat itu tidak berjalan seperti biasa, melainkan mengalir seperti sungai yang kadang melambat, kadang berputar kembali. Akhirnya, di depan mereka terbentang pemandangan yang membuat semua orang terdiam — sebuah lembah luas yang dikelilingi pohon-pohon setinggi langit, batangnya berkilauan seperti cahaya padat, dan di tengahnya, terdapat sebuah kolam yang airnya tenang tanpa riak, memantulkan langit yang penuh bintang yang belum pernah dilihat siapa pun.

"Ini dia," bisik Lira, suaranya penuh kekaguman sekaligus rasa hormat. "Lembah Akar Pertama. Tempat di mana semuanya bermula."

Kai melangkah mendekat ke tepi kolam itu. Airnya bening, namun bukan memantulkan wajahnya — melainkan menampilkan pemandangan lain: ruangan yang terbuat dari cahaya murni, tempat di mana sosok kecil duduk sendirian, menatap ke luar seakan menunggu seseorang.

"Aurelia…" panggilnya pelan, tanpa sadar mengulurkan tangan ke permukaan air.

Bayangan gadis kecil itu menoleh perlahan. Ia tersenyum — senyum yang sama, lembut dan hangat — namun matanya memancarkan kesedihan yang dalam. Ia menggeleng pelan, seakan berkata: Belum sekarang.

"Kenapa?" tanya Kai, suaranya tercekat. "Kenapa kami belum bisa bersatu?"

Suara terdengar bukan dari kolam, melainkan dari segala arah — tenang, agung, bukan milik satu makhluk, melainkan suara tempat itu sendiri.

"Ia tidak terperangkap. Ia sedang tumbuh. Cahaya sebesar itu tidak bisa kembali tanpa menjadi tempat bernaung bagi banyak orang. Ia harus belajar memegang keseimbangan sepenuhnya — bukan hanya menyatukan, tetapi menjaganya."

Kai menatap bayangan putrinya lekat-lekat. "Berapa lama?"

"Selama yang dibutuhkan. Namun ia tidak melupakan kalian. Setiap kali kalian berbuat baik, setiap kali kalian saling menolong, setiap kali kalian tidak menyerah — cahayanya menjadi lebih terang. Ia menunggu saat kalian siap."

Kaelan melangkah ke tepi kolam juga. "Siapa yang akan menentukan saat itu?"

"Hati kalian sendiri. Ketika kalian memahami bahwa kekuatan terbesar bukanlah untuk memanggilnya kembali, melainkan untuk hidup sesuai dengan apa yang ia ajarkan — itulah saat jalan akan terbuka."

Bayangan Aurelia melambai pelan, lalu perlahan memudar, namun sebelum lenyap sepenuhnya, ia menunjuk ke arah kejauhan — ke tempat di mana cahaya dan kegelapan bertemu menjadi satu warna indah. Di sana, sebuah pintu kecil mulai terbuka — gerbang menuju dunia-dunia lain yang belum pernah diketahui, tempat di mana kekuatan lama bangkit kembali, tempat di mana petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.

Kai menarik tangannya perlahan dari permukaan air. Ia tidak menangis. Ia tersenyum — sedih namun penuh harapan. Ia menoleh ke teman-temannya, ke saudaranya, ke ibunya, ke semua orang yang berdiri di sampingnya.

"Kita pulang dulu," ucapnya lembut namun tegas. "Kita hidup seperti yang ia ajarkan. Kita menjaga, kita melindungi, kita menyatukan. Dan saat tiba waktunya… kita datang menjemputnya."

Saat mereka berbalik pergi, kolam itu memancarkan cahaya lembut — seakan mengangguk setuju, seakan Aurelia tersenyum dari kejauhan. Di belakang mereka, gerbang kecil itu tetap terbuka, menanti saat yang tepat — menanti perjalanan yang akan mengubah takdir semua dunia, sekali lagi.

1
Yanto Hulu
Thanks tor
Gunadi Hudaya
sptnya ngak memerlukan review panjang lebar lagi. aku suka dengan piliha pilihan kata yg dipakai author. dalam hal karakterisasi tunggu dulu
Gunadi Hudaya
Oke, review. tulisan enak dibaca, alur mengalir halus, tidak ada ganjalan berarti yg bisa membuat pembaca berhenti. plot masih belum kelihatan tapi bagian akhir memberikan hook yg membuat orang ingin membaca bab 2. karakter juga mampu mengundang simpati kepada pembaca.
Yanto Hulu: Thanks tor🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!