Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Pergi
Ruangan itu mendadak sunyi. Tidak ada seorang pun yang langsung membalas ucapan Nadira.
Bahkan Imah yang sejak tadi begitu lantang membela keluarganya kini hanya berdiri terpaku. Tatapannya tertuju pada Nadira, seolah tidak percaya bahwa perempuan yang selama bertahun-tahun selalu mengalah itu akhirnya berani mengatakan hal tersebut dengan tegas.
Sementara itu, Arhan masih berdiri di tempatnya. Wajah pria itu terlihat tegang. Rahangnya mengeras, sedangkan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia menatap Nadira yang kini berdiri dengan satu tangan menggenggam tangan Naya.
Ada sesuatu dalam tatapan istrinya yang membuat Arhan tidak mampu mengatakan apa-apa. Bukan sekadar marah. Nadira terlihat kecewa, sangat kecewa.
"Nadira, apa maksudmu?" ujar Arhan, pelan.
Nadira tidak peduli, ia segera menarik tangan putrinya untuk pergi dari rumah itu. Ia sudah benar benar lelah dengan keluarga suaminya yang selalu menjadi parasit bagi dirinya, awalnya ia memang tidak terlalu peduli akan hal itu. Tetapi saat ia baru tahu bahwa putrinya diperlakukan tidak adil oleh ibunya, ia benar benar kecewa.
"Naya, ayo kita pulang," ujarnya, lembut.
Namun, saat Nadira dan Naya mau melangkah keluar dari rumah itu. Imah segera manahan tangan Naya. Nadira segera menatap ibu mertuanya itu dengan kesal, ia segera menarik tangan Naya agar ikut dengannya.
"Naya tidak boleh ikut! Kalau kau mau cerai, biar Naya ikut Arhan!" teriak Imah.
Tarikan tangan Imah yang tiba-tiba membuat Naya kehilangan keseimbangan. Tubuh kecil itu terhuyung ke belakang. Nadira yang masih menggenggam tangannya berusaha menarik Naya kembali, tetapi semuanya terjadi terlalu cepat.
Bruk!
Tubuh Naya jatuh ke lantai dan kepalanya terbentur sudut meja yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Naya!"
Wajah Nadira seketika pucat. Ia segera berjongkok dan memeluk tubuh putrinya yang mulai menangis sambil memegangi kepalanya.
"Sakit, Mama..." Suara Naya yang lirih justru membuat dada Nadira terasa sesak. Tangannya gemetar ketika memeriksa kepala putrinya.
"Naya, lihat Mama. Pusing?"
Naya mengangguk kecil. Nadira langsung mengangkat tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Tatapannya kemudian beralih kepada Imah. Kali ini tidak ada lagi kesabaran di dalam mata perempuan itu.
"Apa yang Ibu lakukan?" Suara Nadira terdengar rendah, tetapi justru jauh lebih mengintimidasi dibandingkan ketika ia berteriak.
Imah terlihat gugup. "Aku cuma mau menahan Naya supaya dia tidak ikut denganmu."
"Menahan?" Nadira tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawanya. "Ibu menarik tangan anak saya sampai dia jatuh dan kepalanya terbentur meja."
"Nadira..." Arhan akhirnya bersuara.
"Jangan." Nadira langsung memotong ucapan suaminya. "Jangan bela siapa pun sekarang, Arhan."
Tatapan Nadira beralih kepada suaminya. "Anak kita terluka karena keluargamu."
Arhan terdiam. Ia menatap Naya yang kini menangis dalam pelukan ibunya. Wajah pria itu seketika berubah. Rasa bersalah terlihat jelas di matanya.
"Naya harus dibawa ke rumah sakit," ujar Nadira tegas.
Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Nadira segera membawa putrinya keluar. Arhan mengikuti dari belakang. Beberapa waktu kemudian, Naya sudah berada di ruang pemeriksaan.
Dokter mengatakan bahwa benturan tersebut tidak menunjukkan tanda cedera serius, tetapi Naya tetap harus menjalani pemeriksaan dan observasi untuk memastikan tidak ada masalah setelah benturan.
Nadira duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan putrinya. Matanya masih terlihat merah. Sementara itu, Arhan berdiri beberapa langkah dari mereka. Sejak tadi pria itu tidak banyak bicara. Setelah memastikan kondisi Naya cukup stabil, Arhan akhirnya mendekat.
"Nadira..."
Nadira segera menoleh dan menatap tajam ke arah pria itu, "Sudah cukup Arhan! Aku tidak sanggup mengurus keluarga sialan itu! Kalau kamu lebih memilih keluargamu lebih baik kita Cerai!"
Arhan menghentikan langkahnya, ia tidak bisa memilih antara keluarganya dan istrinya. Namun, belum sempat Arhan menjawab. Imah, ayah mertua Nadira dan adik adik dari Arhan segera mendekat.
" Naya sedang sakit, sebaiknya kau pikirkan putrimu. Jangan cerai cerai seperti itu!" tegas Imah.
Nadira yang mendengar itu hanya mendengus, "Kalau ibu ga mau aku cerai sama Arhan, jatah sekolah dan biaya sekolah Naya. Ibu harus mengembalikannya kepadaku! Aku tahu ibu sudah mengambil semua tabunganku dan formulir pendaftaran sekolah Naya untuk digantikan dengan cucu laki laki ibu."
Mendengar itu Imah segera menatap kesal ke arah Nadira," Ngomong apa sih kamu! Lagi pula Naya bisa sekolah di sekolah biasa, Arkan juga keponakan kamu sendiri! "
Kalimat terakhir perempuan itu justru semakin membuat emosinya memuncak. Bahkan setelah Naya terluka dan harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Imah masih bisa menganggap semua yang terjadi sebagai sesuatu yang sepele.
"Keponakan?" ulang Nadira pelan.
Ia menunduk sejenak, menatap Naya yang masih berbaring di atas ranjang. Putrinya terlihat lemah. Wajah kecil itu masih menyisakan air mata, sementara plester kecil terpasang di bagian kepalanya yang terbentur.
Nadira kemudian kembali menatap Imah. "Memangnya Naya bukan cucu ibu? Kenapa ibu selalu memperlakukannya berbeda dari Arkan!"
Imah segera menatap kesal ke arah Nadira, "Naya perempuan, Arkan laki laki. Jika kau mau anakmu diperlakukan istimewa, makanya lahirin anak laki laki buat Arhan!"
Nadira mengepalkan tangannya, "Jadi itu maumu bu, aku akan bercerai dengan Arhan dan membuat Arhan tidak mendapatkan sepeserpun harta!"
Ruangan itu seketika membeku.nTidak ada seorang pun yang menyangka Nadira akan mengucapkan kalimat tersebut dengan begitu tegas.
Bahkan Arhan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari ranjang Naya langsung mengangkat wajahnya. Tatapannya tertuju pada istrinya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Nadira..."
Nadira sama sekali tidak menoleh. Tatapannya masih terkunci pada Imah. Perempuan itu kini berdiri dengan wajah pucat. Ia tampak tidak percaya bahwa Nadira yang selama ini selalu menahan diri akhirnya berani mengancam perceraian sekaligus harta keluarga.
"Kamu mengancam anak saya?" tanya Imah dengan suara meninggi.
Nadira tertawa hambar. "Mengancam?". Ia menggeleng pelan. "Saya sedang menjelaskan konsekuensi dari perbuatan Ibu dan keluarga kalian!"
"Nadira, jangan bicara sembarangan!" bentak Imah.
"Saya justru sedang bicara dengan sangat sadar."
Nadira berdiri dari kursinya. Namun, sebelum bergerak terlalu jauh, ia memastikan selimut Naya tetap menutupi tubuh putrinya.
"Selama bertahun-tahun saya diam ketika Ibu meminta uang." Nadira menarik napas.
"Saya diam ketika uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga justru dipakai membantu keluarga Ibu."
"Saya diam ketika tabungan saya perlahan habis karena selalu ada alasan untuk membantu Arkan, adik-adik Arhan, atau kebutuhan rumah ini."
"Saya juga diam ketika Ibu menganggap semua itu sebagai kewajiban saya."
Tatapan Nadira semakin tajam.
"Tapi saya tidak akan diam ketika hak anak saya dirampas."
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡