Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Konfrontasi Terbuka dan Pecahnya Topeng Kematian
Deru baling-baling helikopter yang membelah langit malam Jakarta Selatan perlahan memudar, berganti dengan deru mesin iring-iringan mobil hitam yang melaju kencang menembus keheningan dini hari. Di dalam salah satu mobil, Gavin menggenggam jemari Naya begitu erat, seolah jika ia melonggarkan genggamannya sedikit saja, dunia akan kembali merenggut wanita itu dari sisinya.
Naya memandangi keluar jendela. Mukena putih yang tadinya membalut tubuhnya kini telah berganti dengan pakaian serba hitam dan hijab simpel yang membungkus kepalanya. Di balik mata sembapnya yang menyimpan lelehan air mata penyesalan, ada seberkas keberanian baru yang menyala. Keberanian yang tumbuh bukan lagi dari kepalsuan atau rasa takut akan masa lalu, melainkan dari keimanan dan cinta murni seorang istri yang siap berdiri membela kebenaran di samping suaminya.
Pukul tiga pagi, iring-iringan itu berhenti tepat di depan kediaman megah Ardiansyah Group di kawasan elite Menteng. Rumah bergaya eropa klasik yang biasanya dipenuhi aura kemewahan yang tenang itu kini dikepung oleh belasan petugas kepolisian berpakaian preman dan tim hukum independen yang dibawahkan langsung oleh Pak Hendra.
Gavin turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Naya. "Ingat janjimu padaku, Naya," bisik Gavin seraya merapikan ujung hijab istrinya. "Jangan pernah menundukkan kepalamu di depan wanita itu. Kamu bukan lagi wanita pembohong yang ketakutan. Kamu adalah Anindya Naya, istri sah pemilik Ardiansyah Group."
Naya menarik napas panjang, menghembuskannya pelan sambil mengangguk mantap. "Aku tidak akan takut lagi, Gavin. Allah bersama kita."
Pintu utama mansion setinggi tiga meter itu didorong terbuka secara paksa oleh tim pengaman. Suasana di dalam aula utama begitu dingin. Lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang menimpa lantai marmer mengkilap.
Di ujung tangga utama, berdiri seorang wanita paruh baya dengan gaun malam sutra berwarna merah marun. Tangannya memegang segelas anggur, sementara wajahnya dipenuhi keangkuhan yang tak tergoyahkan. Eleanor Ardiansyah—atau Siska Wijaya—menatap kedatangan Gavin dan Naya dengan senyuman sinis yang terukir di bibir bergancunya.
"Luar biasa," suara Eleanor bergema halus namun dingin di seluruh penjuru ruang tamu yang megah itu. "Anak tiri yang berbakti dan perempuan miskin yang penuh kebohongan. Kalian berhasil lolos dari Rian dan bertahan hidup sampai detik ini."
Gavin melangkah maju, memposisikan Naya tepat di sampingnya. Matanya membara oleh amarah yang tertahan. "Permainanmu sudah selesai, Eleanor. Atau harus kupanggil kamu... Siska Wijaya?"
Seketika itu juga, cengkeraman Eleanor pada tangkai gelas anggurnya mengencang. Senyum sinis di wajahnya membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang mengalirkan kejamnya pengkhianatan masa lalu.
"Siska..." gumam Eleanor, melangkah turun dari tangga satu per satu dengan anggun. "Nama yang sudah sangat lama tidak kudengar. Nama dari seorang wanita muda yang pernah dihancurkan oleh ketamakan keluarga orang tua perempuan di sampingmu itu!"
Naya melangkah satu tapak ke depan, menatap lurus ke dalam mata Eleanor tanpa rasa gentar sedikit pun. "Jangan melimpahkan dosamu pada ibuku yang sudah wafat, Eleanor! Kamu adalah wanita selingkuhan yang menguras tabungan ayahku! Kamu yang memicu kebencian, membiarkan ibuku mati tanpa biaya pengobatan, dan menjebak ayahku ke dalam kasus penggelapan dana sepuluh tahun lalu!"
"Jjaga mulutmu, anak haram!" bentak Eleanor, wajah anggunnya mendadak berubah menjadi monster kelam yang mengerikan. Ia melempar gelas anggurnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Ayahmu yang membawa dana itu padaku! Ayahmu yang berlutut di hadapanku demi mendapatkan cintaku! Dia yang menyerahkan dirinya untuk dijadikan kambing hitam oleh almarhum ayah Gavin demi menutup kerugian saham rahasia Ardiansyah Group!"
Pak Hendra, pengacara keluarga, melangkah maju sambil membuka sebuah map tebal berlogo kepolisian dan lembaga audit keuangan.
"Itu tidak benar, Ibu Eleanor," potong Pak Hendra dengan tegas. "Kami telah mengamankan seluruh dokumen rekayasa transaksi sepuluh tahun lalu dari brankas rahasia almarhum Bapak Ardiansyah. Ayah Naya hanyalah seorang staf keuangan biasa yang diancam dan dipalsukan tanda tangannya oleh Anda. Anda memanfaatkan dokumen itu untuk memeras almarhum suami Anda, memaksa beliau menikahi Anda, dan mengubah identitas Anda dari Siska Wijaya menjadi Eleanor Ardiansyah!"
Eleanor tertawa keras, tawa histeris yang memenuhi ruangan. "Lalu kenapa kalau memang begitu?! Harta ini sudah milikku! Saham rahasia sebesar 35% di Ardiansyah Group terdaftar atas nama legal Eleanor Ardiansyah! Kalian tidak punya bukti bahwa Eleanor dan Siska adalah orang yang sama!"
"Kami punya," sahut sebuah suara bariton yang dalam.
Dari balik barisan polisi, muncul dua orang penyidik kepolisian bersama seorang pria tua berpenampilan kusam yang tangannya terikat borgol.
Naya menahan napasnya. "Ayah...?"
Pria tua itu mendongak dengan mata berair. Dialah ayah Naya—pria yang sepuluh tahun lalu mendekam di penjara akibat kesaksian palsu dan rekayasa kasus. "Naya... maafkan Ayah, Nak..." tangis pria tua itu pecah saat melihat putri tunggalnya. "Ayah sudah menyerahkan semua rekaman suara dan bukti transfer masa lalu kepada polisi. Wanita itu... Siska... dialah yang mengancam akan membunuhmu jika Ayah tidak mau mengaku bersalah sepuluh tahun lalu."
Lutut Eleanor mendadak lemas. Wajahnya yang pucat pasi menatap tidak percaya ke arah ayah Naya yang kini berdiri sebagai saksi kunci. Topeng kemewahan, keangkuhan, dan kekuasaan yang ia bangun selama satu dekade di atas penderitaan orang lain kini pecah berhamburan.
"Kamu... pria tak berguna..." bisik Eleanor dengan suara bergetar hebat. "Kamu menghancurkan semuanya..."
"Bukan beliau yang menghancurkanmu, Eleanor," potong Gavin dengan suara dingin yang menghujat jiwa. "Dosamu sendiri yang menghancurkanmu. Dosa atas perselingkuhan, pencurian, dan upaya pembunuhan berencana terhadap istriku."
Gavin memberi isyarat kepada tim kepolisian. Dua orang petugas wanita melangkah maju, mengeluarkan borgol perak dan membacakannya hak-hak hukumnya.
"Eleanor Ardiansyah alias Siska Wijaya, Anda ditangkap atas tuduhan penipuan identitas, penggelapan aset Ardiansyah Group, serta keterlibatan dalam percobaan pembunuhan terhadap Gavin Ardiansyah dan Anindya Naya."
Saat polisi memegang kedua tangannya, Eleanor mengamuk histeris. Rambutnya yang tersanggul rapi mulai terurai berantakan. Ia menatap Naya dengan tatapan membunuh.
"Kamu pikir kamu menang, Naya?!" jerit Eleanor melengking saat diseret menuju pintu keluar. "Kamu pikir pernikahanmu akan bahagia?! Kamu memulai pernikahan ini dengan kebohongan! Kamu pura-pura jadi wanita solehah! Kamu membohongi Gavin! Pernikahan kalian kotor! Kalian tidak akan pernah tenang!"
Jeritan histeris Eleanor perlahan menghilang bersamaan dengan pintu mansion yang ditutup rapat dan deru mobil polisi yang membawanya pergi menuju sel tahanan.
Keheningan kembali menguasai hall megah itu.
Naya berdiri terpaku. Kata-kata terakhir Eleanor tentang "pernikahan kotor" dan "kebohongan" sempat menggoreskan rasa sakit di dadanya. Namun, sebelum benih penyesalan itu tumbuh kembali, sebuah tangan hangat merengkuh jemarinya dengan lembut.
Gavin menatap Naya dengan pandangan penuh kedalaman emosional dan cinta yang telah teruji oleh badai.
"Dengarkan aku, Naya," bisik Gavin lembut, menghapus setetes air mata yang tersisa di pipi istrinya. "Orang-orang bisa menyebut masa lalu kita kotor. Mereka bisa menghujat kebohongan yang pernah kamu buat karena ketakutanmu. Tapi di hadapan Allah, dan di atas sajadah yang menjadi saksi sujudmu, aku menyaksikan sendiri bagaimana kebohongan itu telah runtuh dan berganti menjadi kesucian."
Gavin menarik Naya ke dalam pelakannya yang hangat, mendekapnya erat di tengah kemegahan mansion yang kini telah bersih dari bayang-bayang kejahatan masa lalu.
Naya menyandarkan kepalanya di dada Gavin, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menentramkan. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Naya merasakan ketenangan yang sejati—sebuah kedamaian tanpa rasa takut akan kejaran masa lalu, tanpa beban identitas palsu, dan tanpa kepura-puraan.
Di bawah naungan kebenaran yang telah terkuak, di atas janji suci pernikahan yang kini benar-benar murni, Anindya Naya menyadari bahwa penyesalan di bawah sujudnya telah berubah menjadi keberkahan yang tak ternilai harganya.
#halo readers, thankyou yah sudah baca ceritaku, tolong dukung aku dengan like, subscribe, komen, dan share, boleh kritik dan saran juga yah guys, dukungan kalian sangatlah berarti untukku 😘