Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22: Jurus ngeles jendral dan diplomasi minyak sereh
Dia menghela napas pendek dalam hati, bersyukur karena taktik menyalahkan Xie Jian berhasil dengan mulus. Jika tidak, dia tidak tahu harus menjelaskan dari mana soal kemampuannya yang mendadak bisa mendengar isi kepala gadis ajaib ini.
"Ah, ternyata begitu... Yang Mulia sungguh memiliki ingatan yang luar biasa," puji Yufei dengan nada suara yang dibuat selembut sutra, lengkap dengan kedipan mata penuh rasa kagum buatan. "Benar, Yang Mulia. Itu adalah minyak sereh konsentrat tingkat tinggi. Hamba meraciknya khusus untuk... menjaga kelembapan kulit dari radikal bebas Hutan Terlarang. Siapa sangka, ramuan kecantikan hamba justru berakhir menjadi senjata pemusnah massal bagi mata pembunuh bayaran itu."
"Senjata pemusnah massal?" Pangeran Mo Cheng mengulang frasa asing itu sambil menyelesaikan balutan kain kasa tipis di tangan Yufei dengan simpul yang sangat rapi. "Istilah yang unik. Tapi khasiatnya memang nyata. Mata pembunuh itu sampai sekarang masih bengkak seperti buah persik matang."
Pangeran Mo Cheng melepaskan tangan Yufei, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Namun, matanya tetap tertuju pada wajah Yufei yang kini mulai merona tipis akibat hawa hangat tenda atau mungkin akibat jarak mereka yang terlalu dekat tadi. Malam ini Yufei tidak memakai riasan tebal, namun kulitnya yang bersih dan mata bulatnya yang jernih justru terlihat jauh lebih memikat di bawah temaram cahaya lilin.
"Karena minyak berharga mu itu telah menyelamatkan nyawa kita, dan... tanganmu terluka karen aku," Pangeran Mo Cheng berdeham pelan, berusaha mengusir rasa canggung yang tiba-tiba merayapi dadanya. "Aku akan meminta departemen logistik pasukan untuk mengganti rugi. Katakan saja, bahan langka apa yang kau butuhkan untuk membuat ramuan 'skincare' itu lagi?"
Mendengar kata 'ganti rugi' dan 'logistik', mata Yufei seketika berbinar cerah layaknya lampu neon lima watt. Jiwa oportunis nya langsung bangkit dari kubur dengan semangat membara:
(ASIKKK! Pucuk dicinta ulam pun tiba! Mas Jenderal beneran peka, langsung peka pakai jalur dana cair! Kesempatan emas gak boleh disia-siakan. Gue harus minta bahan baku premium sekalian biar bisa bikin night cream anti-penuaan dini. Mumpung ditanggung APBN istana, mari kita mark-up daftar belanjanya!)
"Yang Mulia sungguh dermawan," ujar Yufei, berpura-pura sungkan dengan menyembunyikan sebagian wajahnya di balik saputangan, membuat dirinya terlihat seperti gadis pemalu yang tahu diri. "Hamba tidak berani meminta banyak. Hamba hanya membutuhkan ekstrak bunga lili salju dari puncak utara, minyak zaitun murni kiriman upeti barat, dan mungkin... sedikit bubuk mutiara laut selatan untuk menjaga elastisitas kulit hamba yang trauma ini."
Pangeran Mo Cheng hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Bunga lili salju? Bubuk mutiara? Ini mau membuat obat luka atau mau menimbun harta karun kosmetik mewah? Dia tahu persis harga pasaran bubuk mutiara laut selatan bisa menyamai harga satu unit kuda perang kualitas terbaik.
Namun, demi melihat batin Yufei yang sedang menari-nari kegirangan, Pangeran Mo Cheng hanya bisa menahan senyum. "Baiklah, semua bahan itu akan disiapkan setelah kita kembali ke ibu kota. Aku akan memastikannya sendiri."
Melihat respons pangeran yang begitu santai, Yufei beralih ke mode drama tingkat lanjut. Dia menunduk dalam-dalam, pura-pura menyeka air mata fiktif di sudut matanya. "Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia. Tanpa perlindungan dan kemurahan hati Anda, mungkin hamba yang lemah ini sudah menjadi santapan babi hutan di luar sana..."
(Hehehe, mantap! Sekali mendayung, dua tiga bahan skincare premium didapatkan. Mas Jenderal kalau lagi baik gini gantengnya nambah delapan puluh persen deh. Coba kalau gak hobi pasang muka triplek, pasti udah jadi idol nomor satu di ibu kota.)
Dipuji 'ganteng' secara langsung di dalam hati membuat telinga Pangeran Mo Cheng kembali memanas. Dia berdeham lebih keras, mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri dengan merapikan kotak obat giok di atas meja. "Kau tidak perlu berlebihan. Menjaga keselamatanmu adalah tugasku selama kita berada di perjalanan ini."
Suasana di dalam tenda mendadak menjadi hening dan sedikit canggung. Jarak yang dekat membuat Yufei bisa mencium aroma maskulin kayu cendana yang menenangkan dari tubuh sang pangeran. Untuk sesaat, tidak ada batin yang berteriak kocak, tidak ada kata-kata dusta yang diucapkan. Hanya ada detak jantung yang samar-samar berpacu di antara mereka berdua.
Tepat ketika Yufei mulai merasa salah tingkah betulan tanpa dibuat-buat, tiba-tiba dari luar tenda terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, memecah keheningan malam dengan brutal. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu, disusul oleh suara ketukan keras pada tiang penyangga tenda.
"Melapor, Jenderal!" suara Xie Jian terdengar dari luar, terdengar panik, serak, dan kehabisan napas. "Tahanan pembunuh bayaran itu... dia mendadak kejang-kejang di ruang interogasi! Mulutnya berbusa, sepertinya dia menyembunyikan racun di dalam giginya!"
Mendengar laporan darurat itu, atmosfer hangat di dalam tenda langsung lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ketegangan yang mencekam.