Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : Bisik Dosa Diujung Penyesalan
Di balik pintu kamar ini aku bingung harus berbuat apa, melihat kejujuran karena rasa bersalah dan penyesalan Pak Burhan serta perjuangannya membela ku, membuat aku terharu. Tidak ada dendam di hatiku karena Beliau adalah korban dari kelicikan wanita wanita yang pantas kalau di sebut racun dunia itu.
Di lain pihak saat memandang Prasetio hatiku pun sedikit kasihan , ternyata dia memang benar benar tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, namun mereka adalah sama -sama pria, dan sama sama takluk pada wanita yang salah, termasuk ayahku yang tidak bersikap tegas saat itu.
Coba kalau Beliau cerita pada Ibu ku tentang yang sebenarnya saat itu, tentu mantan istrinya tidak akan pernah masuk lagi dalam kehidupan ayahku, dan pada akhirnya kenyataan nya yang jadi korban adalah aku.
"Ayahi!? " Rian tiba tiba bersuara memanggil ayahnya, Mas Pras menoleh menatap kami berdua, matanya beradu pandang denganku. Aku bisa merasakan kepedihan dalam hatinya.
"Masuk Maya. " Suaranya terdengar pilu, "Mas ingin bicara. " Lanjutnya lagi. "
Aku masuk ke kamar bersama anakku Rian dan Siska yang sejak kejadian tadi Ia terus mengikuti aku, karena rasa cemasnya masi menghantui perasaan putriku itu.
Aku duduk bersebelahan dengan ayah dari anakku itu, Rian turun dari gendonganku lalu naik ke ranjang tidur kakek dan duduk di samping ayah mertuaku itu.
"Maya... Mas minta maaf atas apa yang sudah menimpamu mulai dari kamu remaja sampai detik ini. " Ujarnya pelan.
"Ayah sudah cerita semuanya siapa dirimu yang sebenarnya, maafkan atas ketidak tahuan mas." Lanjutnya lagi.
Aku diam seribu basah tidak ada kesedihan atau rasa gembira melihat orang yang sering membuat ku merasa sakit hati ini bicara.
"Untuk selanjutnya Mas tidak akan pernah mengusik mu lagi, Mas tahu bahkan kata maaf darimu pun kami tidak pantas untuk menerimanya. Rian adalah anak kita, dan Siska juga tetap menjadi anak ku juga. "Air mata Mas Pras ku lihat mengalir dari deras.
"Sekali lagi maafkan kami Maya, mulai saat ini Mas akan mengajak Ayah pergi dari rumah ini, kami tidak pantas berada di sini, semua harta yang ada adalah utuh milikmu. "
"Pa tidak kah kamu lapar, ayo kita makan dulu? Ujar Prilia yang tanpa sepengetahuanku sudah berada di ambang pintu, dan masuk ke kamar. ''
"Kamu makanlah Prilia, aku belum lapar. " Jawab Prasetio kalem.
"Baiklah kalau belum lapar, sekarang ayo kita pulang ke rumah, anak anak pasti sudah menunggu kita, kasihan Naura, kamu kan tahu betapa manjanya anak itu padamu, bila kamu tidak pulang, aku takut dia akan mencari dan bertanya tanya. " Bujuk Prilia dengan lembut.
Mendengar suara Prilia yang lembut Prasetio menarik nafas dalam, dia tampak termenung.
"Ma, kita pulang ke mana sedang semua yang ada adalah milik Maya, setelah aku tahu banyak sekarang aku merasa kita tidak pantas lagi berada di sini ma, untuk itulah aku akan mengajak ayah pergi, untuk menebus kesalahan selama ini. " Jawab Mas Pras terdengar tenang.
"Kamu sudah gila pa!" Bentak Prilia, "Kenapa harus kamu sama Ayah yang pergi dan harta apa yang semua miliknya?!"
"Tutup mulutmu, Ma" potong Mas Pras tegas.
"Aku sudah tahu semuanya." Prasetio memanggil dengan sebutan mama pada istrinya
"Aku tidak akan diam, pa!" Prilia melangkah maju, matanya menatapku penuh kebencian. "Dia udah merusak keluarga kita! wanita ini adalah pelakor! " Prilia berteriak nyaring membuat Rian yang duduk tenang dari tadi menjadi menangis.
prasetio menggendong Rian yang berdiri dan melangkahkan kakinya ingin turun dari ranjang tidur ayah mertuaku.
"Harta?" Ayah mertuaku yang sejak tadi terbaring lemah akhirnya bersuara. Parau dan bergetar, namun sanggup menghentikan kata-kata Prilia. Beliau menatap anak menantunya itu dengan mata yang berkaca-kaca. "Harta yang kamu banggakan itu... dibangun dari penderitaan anak ini, Prilia. Dari kebohongan dan kelicikan wanita yang kamu sebut ibu itu! "
Prilia terpaku, wajahnya pucat mendengar suara Pak Burhan.
Aku tetap tak bergeming diam dan membisu. Tidak ada kepuasan di hatiku melihat Prilia diam, tidak pula ada niat untuk membalas makiannya. Rasa sakit yang pernah ada kini berganti menjadi hal yang biasa.
Mas Pras kembali menatapku, matanya memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam. "Keputusanku sudah bulat, Maya. Besok mas dan Ayah akan pamit terimakasih kamu sudah iklas merawat ayah selama ini. " Ucapnya parau.
Prilia mengepalkan tangannya, menangis sesenggukan antara marah dan tidak terima, lalu berbalik dan berlari keluar kamar. Menghilang entah ke mana.
Mas Pras tidak mengejar Prilia tidak juga mencegahnya, Ia membiarkan istri tersayangnya selama ini pergi begitu saja.
Setelah kepergian Prilia kamar mendadak sepi, Rian turun dari pangkuan ayahnya menuju ke arahku.
"Kamu mau membawa ayah ke mana mas? " Tanyaku dingin dan terasa getir.
"Entahlah Maya yang pastinya aku tidak mungkin berada di sini lagi. "
"Tapi ayah sakit Mas?! " sebenarnya aku memang hawatir keadaan ayah mertuaku itu.
"Ayah kuat Maya?! " Pak Burhan tiba tiba menyeletuk cepat, hmmmm ternyata ayah pun setuju untuk pergi, bisik ku dalam hati.
"Ya sudah Mas kalau itu yang sudah jadi keputusanmu aku ingin mencegah demi kebaikan ayah, tapi bila kamu masi bersih keras tetap mau pergi ya aku tidak bisa apa apa. "
"Aku titip Rian dulu Mas, aku mau masak hari sudah menjelang malam, tentu kalian semua sudah lapar. " Rian kemudian ku berikan lagi pada ayahnya. Sudah lama sekali rasanya anakku tidak berada dalam dekapan ayah kandung nya, apa bila Mas Pras mendekati Rian selama ini ada saja ulah Prilia agar Mas Pras menjauh.
Aku berjalan menuju ruang dapur memasak nasi kemudian menggoreng sisa telur kemarin, yaaaaa menu seadanya dulu inipun belanjaan dari uang satu juta rupiah yang kemarin di transfer sebelum kejadian semua kebusukan terbongkar.
Setelah selesai ku letakkan makanan itu di atas meja, lalu aku buatkan dua gelas teh hangat untuk ayah mertuaku dan Mas Pras, menyiapkan sepiring nasi beserta telur goreng yang tadi aku dadar untuk Beliau yang ku letakkan di atas meja dekat ranjang tidurnya dalam kamar.
pukul menunjukkan jam tujuh malam, ku lihat Mas Pras belum juga menyentuh makanan yang sudah aku siapkan, di atas meja makan, ku lihat dia hanya duduk termenung di kamar ayah sambil terus men-scrol layar ponsel nya entahlah apa yang dia cari.
"Mas." Sapaku pelan.
"Makanlah dulu. " Ujarku lagi tapi suamiku itu tetap tak bergeming dari duduknya.
"Makanlah kamu duluan Maya, Mas belum lapar. " Jawabnya.
"Rian mana? " Tanyanya serak.
"Di kamar mas bersama Siska. " Jawabku.
"Kamu hati hati di rumah ya Maya, jaga anak anak dengan baik. "
"Iya, Mas," jawabku singkat.
Tiba tiba suara Rian memanggilku dari arah kamar tidurku. Aku pamit pada Mas Prasetio untuk menemani Rian di kamar. Lalu tanpa menoleh lagi, aku berbalik meninggalkan kamar itu menuju kamar ku.
Di dalam remang lampu kamar , Siska tampak memeluk adiknya erat-erat, seolah takut akan terjadi hal seperti siang tadi. Aku mendekati kedua buah hatiku, mendekap mereka bersamaan dalam pelukan hangat yang selama ini menjadi sumber kekuatanku satu-satunya.
"Ibu... Ayah beneran mau pergi?" tanya Siska lirih.
Aku mencium kening putri sulungku itu lembut. "Kalau pun Ayah pergi, suatu saat pasti kembali, Siska jangan memikirkan kan masalah orang dewasa ya nak, tugas mu saat ini cuma belajar." Jawab ku pada putri sulung ku itu.
Mungkin karena lelah sambil memeluk Rian, tidak lama pun aku tertidur pulas. Saat terbangun ternyata sudah subuh.
Aku menggerakkan tubuhku untuk turun dari ranjang tidur, seperti biasa bila jam lima subuh saat bangun aku pasti langsung ke kamar mandi, tapi kali ini langkahku tertahan, ku lihat sebuah kertas putih terlipat rapi, jemariku mem buka lipatan itu, tertera tulisan tangan yang sangat aku kenali, ku baca kalimat demi kalimat yang tersusun rapi itu
Maya saat kau baca surat ini mas sudah jauh pergi, mas dan ayah akan menebus dosa dan kesalahan kami, kau baik baiklah di rumah, bukan mas dan ayah tidak mau tinggal, tapi kami tidak pantas lagi berada si sana.
kamu tetap istriku, selama kamu tidak minta, mas tidak akan pernah menceraikan, namun bila suatu hari nanti kau bertemu seseorang yang jauh lebih baik, kalau kau ingin menikah mas tidak akan melarang mu
Prasetio
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇