"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Hanya sebuah kamar
“Dinda, kamu pakai kamar di belakang,” ujar Belinda sambil mengatur posisi setelah kami bertiga tiba di rumah pemberian keluarga Saliyo.
Aku melirik sekilas ke arah Danu. Dia hanya berdiri di sana dengan sikap acuh tak acuh. Ah... apa yang kuharapkan? Bahwa Danu akan bersikap adil? Mustahil. Aku tahu tempatku, tetapi rasa perih itu tetap menyelinap ke dalam dada.
“Kenapa harus aku yang di kamar belakang? Bukankah itu kamar pembantu? Setahuku di rumah ini ada satu kamar di atas dan satu di bawah, meskipun itu kamar tamu.” Nada suaraku terdengar getir, menahan kekecewaan yang ingin meledak.
Danu tetap diam, seolah ketidakadilan ini bukan urusannya. Belinda mengerutkan kening, mungkin tak menyangka aku akan berani bersuara seperti ini. Dulu aku memang selalu patuh, tetapi kali ini aku melihat kilat kepuasan di matanya. Seolah-olah perlawananku justru memberinya kesempatan untuk semakin membuatku terpinggirkan.
“Sayang,” panggil Belinda pada Danu dengan suara manja. Dia melingkarkan lengan di bahu Danu, semakin mempertegas posisinya di hadapanku. “Sepertinya aku harus mengalah dan mengambil kamar di belakang. Memang ada dua kamar, tapi kalau nanti orang tuaku atau siapa pun datang dan menginap, kita butuh ruang yang lebih baik, kan?”
Aku menggigit bibir, menahan perasaan pahit yang memenuhi dada. Danu, seperti biasa, hanya diam. Namun, saat akhirnya dia membuka mulut, panggilannya terdengar dingin.
“Dinda...”
Sebelum Danu selesai bicara, aku langsung menyela. Suaraku bergetar, tetapi tetap tegas.
“Jika kamu ingin aku menempati kamar itu, lebih baik aku pulang ke apartemenku. Jangan khawatir, aku bisa bilang pada Mama dan yang lainnya kalau aku harus bertugas di rumah sakit. Jadi kamu bisa menghabiskan waktu bersama Belinda tanpa terganggu.”
Raut wajah Danu mendadak berubah keruh, seolah kata-kataku baru saja menamparnya. Dia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya.
“Dinda, kamu tidak punya hak mengambil keputusan di sini. Jangan jadikan hal kecil seperti ini masalah yang rumit. Lagipula, itu hanya sebuah kamar, kan?”
Hanya sebuah kamar?
Aku menelan perih ludah yang mengganjal di tenggorokan. Apa dia tidak mengerti bahwa harga diriku sebagai istri sedang dipertaruhkan di sini? Aku mengepalkan tangan erat-erat.
“Kalau begitu, tidak masalah juga kalau Belinda yang tidur di sana, kan?” tandasku penuh ironi.
“Dinda, Belinda adalah wanita...”
“Ya, aku tahu. Belinda adalah wanita yang paling kamu cintai. Dan aku? Aku hanya wanita yang menghambat kebahagiaanmu, bukan? Sebagai istri pertama yang tak diinginkan, tentu saja aku harus ditempatkan di sana!”
Rasa sakit dalam suaraku tak lagi bisa kusembunyikan. Aku menatapnya tajam dengan mata bergetar, menantangnya untuk menyanggah. Namun, kulihat Belinda tersenyum tipis di sampingnya, seolah merasa menang.
“Akhirnya kamu sadar diri, Dinda,” potong Belinda, menyuntikkan racun lebih dalam.
Aku tertawa kecil, suara tawa hampa yang penuh luka.
“Memang selama ini aku nggak sadar diri? Aku terlalu sadar diri hingga terus menundukkan kepalaku pada kalian berdua. Tapi sekarang aku sudah cukup. Aku sudah tidak peduli lagi.”
Tak ada lagi yang perlu kupertahankan. Harga diriku yang selama ini kukorbankan demi cinta yang tak berbalas sudah hancur. Lebih baik aku menjaga sisa diriku sendiri.
“Dinda!” pekik Danu marah. “Aku baru sadar ternyata kamu orang yang seperti ini!”
Aku menatapnya lurus. Mataku berkaca-kaca, tetapi hatiku sudah mengeras.
“Jadi, Danu. Menurutmu aku ini seperti apa sebelumnya?”
Danu terdiam. Tatapannya ragu, seolah tak lagi mengenali sahabat patuh yang biasanya bisa dia kendalikan.
“Belinda, kita tidur di kamar atas,” ucap Danu akhirnya, memutus kontak mata denganku. Nada suaranya dingin, meski tampak frustrasi. “Jika kamu mau tidur di kamar tamu, silakan. Kamar belakang juga boleh. Pilih saja sesuka hatimu.”
“Sa... Sayang...” Belinda memprotes, tak terima aku masih diberi pilihan.
“Ini sudah malam,” potong Danu dingin. “Lebih baik kita tidur.”
Tanpa menunggu tanggapanku, Danu menggandeng Belinda menuju tangga. Langkah kaki mereka bergema di rumah yang mendadak sunyi.
Aku menatap punggung Danu yang semakin jauh, menyadari inilah akhir dari pengorbanan diam-diamku.
“Semoga ini semua segera berakhir,” bisikku pada diri sendiri sebelum melangkah masuk ke kamar tamu.
***
Beberapa saat kemudian, perutku terasa lapar. Aku memutuskan keluar kamar dan berjalan menuju dapur untuk membuat mi rebus. Berada di ruangan ini sendirian membuatku sedikit lebih tenang. Aku bersenandung kecil sambil menggerakkan kaki dan kepala, menikmati irama yang kubuat sendiri untuk mengusir rasa sepi.
Saat mi sudah matang dan aromanya mulai menyeruak, aku berbalik. Jantungku hampir melompat keluar ketika melihat Danu sudah berdiri di sana, mengamatiku.
Seketika rasa terkejut itu berganti dengan sikap acuh tak acuh. Aku berpaling darinya.
“Oh, jadi setelah bertingkah menggodaku, kini kamu ingin bersikap acuh tak acuh,” cetus Danu tiba-tiba. Nadanya seperti sengaja mencari masalah.
“Aku tidak paham dengan apa yang kamu katakan!” jawabku dengan suara yang sedikit bergetar. Hati kecilku cemas, tetapi aku berusaha tetap tenang.
“Tidak paham?” Danu menyapu pandangannya dari ujung kepala hingga ujung kakiku.
Tatapan itu membuat kulitku meremang ketakutan. Aku refleks melihat pakaianku sendiri. Kaos ketat dan celana pendek milik Ghina.
“Baju ini milik Ghina, jadi wajar kalau terlalu ketat di badanku. Sejak tadi aku sudah minta padamu untuk mengantarkan aku pulang, tapi kamu mengabaikannya!” tegasku, menolak disalahkan.
Namun, bukannya menjauh, Danu malah melangkah mendekatiku. Matanya menatapku lekat-lekat dengan aura yang membuatku bergidik. Langkahnya kian mengikis jarak di antara kami.
“Danu, stop!” pekikku panik, mundur hingga bersandar pada pinggiran kabinet dapur.
***
POV 3
Dinda tentu tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Danu bisa berkeliaran di dapur pada jam selarut ini dengan emosi yang tak menentu.
Beberapa saat sebelumnya, di kamar atas, Belinda dan Danu bergegas untuk tidur setelah membersihkan diri. Saat Danu mencoba memejamkan mata, Belinda melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka.
“Sayang, malam ini kan malam pertama kita. Kamu apa tidak menginginkannya?” tanya Belinda menggoda.
Danu membuka kelopak matanya yang tadi hampir terpejam. Ia lalu menatap Belinda dengan tatapan penuh cinta. Akan tetapi, saat ia mencoba untuk lebih mendekat agar terjadi hubungan intim, bayangan wajah Dinda menghantui pikirannya.
Danu merasa tubuhnya mendadak tegang, dan bukan karena gairah. Wajah Dinda muncul jelas di pikirannya, mengganggu setiap gerakan yang ia coba lakukan. Danu mendesah berat, lalu menarik diri dari pelukan Belinda.
“Kenapa, Sayang?” tanya Belinda, kebingungan dengan perubahan sikap Danu yang mendadak dingin. Tangannya meraih bahu suaminya, mencoba menariknya kembali, tetapi Danu hanya menyingkirkan tangannya perlahan.
Belinda menatapnya dengan kecewa. “Apa ada yang salah?”
Danu menatap kosong ke langit-langit kamar. Pikirannya kembali pada malam sebelumnya, ketika dengan arogan ia merenggut hal berharga yang dimiliki Dinda tanpa ampun dan belas kasih. Mungkin apa yang dilakukannya telah meninggalkan trauma bagi sahabatnya itu. Entah mengapa, rasa bersalah kembali menyelinap ke dalam relung hatinya.
Selain itu, semua yang telah dinikmatinya dari Dinda seolah tidak ingin digantikan oleh siapa pun. Tubuhnya bahkan seperti menolak kehadiran Belinda.
“Sialan,” bisik Danu dalam hati, perasaannya kacau.
Ia pikir setelah semua yang terjadi, ia bisa melupakan Dinda, mengabaikan apa yang telah dilakukannya pada wanita itu, lalu fokus pada kehidupannya bersama Belinda. Namun, apa yang telah diperbuatnya kini bagaikan racun yang siap menggerogoti hatinya.
Belinda menatap Danu dengan semakin resah.
“Sayang, kamu sedang memikirkan Dinda?” tanyanya pelan, meskipun ia sudah tahu jawabannya. Tatapan Danu yang kosong sudah menjelaskan semuanya.
“Belinda, aku... aku nggak bisa,” suara Danu terdengar berat, seolah menanggung beban yang tak terkatakan.
“Kenapa nggak bisa? Aku ini juga istri kamu, Danu. Aku juga berhak mendapatkan hakku sebagaimana mestinya!” Belinda mulai meninggikan suaranya, frustrasi. “Kamu nggak bisa terus-terusan begini. Kamu nggak adil!”
Danu tetap diam, tidak berusaha membela diri. Karena pada kenyataannya, Belinda benar.
“Maaf,” hanya itu yang bisa Danu katakan. Tidak ada penjelasan, tidak ada alasan yang lebih baik. Ia hanya tidak ingin lebih menyakiti Belinda. Dengan perasaan berat, Danu keluar dari kamar itu.
“Danu!” teriak Belinda, melempar bantal ke arah Danu, tetapi ia diabaikan.
Danu yang baru saja turun ingin menuju dapur untuk mendapatkan segelas air putih. Namun, begitu ia melangkah masuk, matanya tertuju pada Dinda yang sedang berada di sana. Sudut bibir Danu tertarik ke atas saat mendengar Dinda bersenandung sambil membuat mi rebus.
“Kebiasaannya tidak pernah berubah,” pikirnya, seolah melupakan segala masalah yang membebani pikirannya.
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...