NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Kesuksesan Mantan Istri

Perjalanan menuju desa Morana terasa panjang dan melelahkan. Tubuh mereka pegal. Wajah mereka kusut. Langkah kaki terasa berat.

Tidak ada lagi mobil mewah. Tidak ada lagi sopir pribadi. Kini, Rahman, Dyah, dan Lina hanya berjalan kaki menyusuri jalan desa dengan koper-koper di tangan mereka.

Matahari siang terasa menyengat. Debu jalan menempel di pakaian mereka. Beberapa warga mulai melirik saat mereka lewat.

"Siapa itu?"

"Sepertinya, mereka bukan orang sini, ya?"

"Aku kayak pernah lihat yang laki-laki."

Rahman mendengarnya dengan jelas namun, ia tidak peduli. Tujuannya hanya satu, Ia harus bertemu Mela dan meminta maaf pada wanita itu. Dan, jika masih memungkinkan, ia akan memohon agar Mela mau menerima mereka kembali.

"Masih jauh?" keluh Lina sambil memegangi kakinya.

"Sedikit lagi," jawab Rahman singkat.

Dyah sendiri terlihat kelelahan namun, ia tetap berjalan.

Beberapa menit kemudian, langkah Rahman melambat. Matanya menatap sebuah rumah kayu sederhana di ujung jalan.

Rahman langsung mengenalinya. Rumah itu adalah rumah lama Mela.

Ia terdiam beberapa saat. Rumah itu masih sama seperti dulu. Tidak besar dan mewah. Namun, sekarang terlihat jauh lebih hidup.

Halamannya bersih, tanaman tertata rapi, cat kayunya tampak baru di ganti. Rumah sederhana yang justru terasa hangat.

"Akhirnya, kita sampai," gumam Rahman.

Dyah mengernyit halus, menatap rumah tersebut. "Mela tinggal di sini?" Nada suaranya sulit menyembunyikan ketidaknyamanan.

"Rumah ini kecil sekali," gumam Lina pelan.

Rahman langsung menatap keduanya tajam. "Rumah ini lebih baik daripada tempat kita tidur semalam."

Kalimat itu membuat Dyah dan Lina langsung diam.

Rahman menarik napas panjang. Lalu, melangkah masuk ke pekarangan. Namun, baru beberapa langkah, suara seseorang menghentikan mereka.

"Heh! Cari siapa?" Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah sebelah sambil menyipitkan mata.

Rahman menoleh. "Kami mencari Mela.

Wanita itu mengamati wajah Rahman beberapa detik. Lalu, matanya membesar.

"Eh... kamu... " Ia menunjuk Rahman cepat. "Kamu mantan suaminya Mela, kan?!"

Rahman membeku. Sementara, Dyah dan Lina langsung saling pandang.

"Astaga..." wanita itu mendekat sambil menggeleng. "Pantes wajahmu familiar. Kamu yang masuk berita itu!"

Nada suara wanita itu mulai berubah kesal.

"Sudah selingkuh, ninggalin Mela, sekarang bangkrut malah nyari Mela lagi?"

Rahman menunduk, tidak bisa membantah. Dyah terlihat tidak nyaman. Sedangkan Lina mulai gelisah karena warga sekitar perlahan memperhatikan mereka.

Namun, wanita itu belum selesai.

"Dulu, Mela nangis sendirian di sini, kalian ke mana?"

Rahman mengepalkan tangan pelan. Dadanya terasa sesak. Ia memang pantas mendapat semua itu.

Namun, satu kata dari wanita tadi, membuat Dyah tertegun.

"Pas masih kaya, ngusir Mela demi selingkuhan. Sekarang bangkrut cari Mela. Ngapain? Mau numpang hidup sama Mela? Mentang-mentang Mela sudah berhasil."

Dyah mengernyit. "Berhasil?"

Wanita itu langsung mengangguk bangga. "Ya jelas berhasil. Mela sekarang juragan di sini."

Rahman dan Dyah langsung menatap wanita itu.

"Dia punya lahan luas buat usaha sayur sama buah. Banyak warga kerja sama dia sekarang."

Mata Dyah membesar. "Serius? Mela sekarang.. ."

"Lha iya!" wanita itu terlihat semakin semangat. "Sayur-sayurnya dikirim sampai kota."

Rahman terdiam. Namun perlahan, sudut bibirnya mengembang tipis, seolah menemukan harapan. Karena, jika Mela berhasil, berarti mereka masih bisa bertahan hidup.

"Di mana Mela sekarang?" tanya Rahman.

Wanita itu mendecak pelan. "Tentu saja di lahannya." Lalu, ia menunjuk Rahman dengan tatapan tajam. "Tapi ingat, jangan ganggu hidup Mela lagi."

Namun, Rahman nyaris tidak mendengar kalimat terakhir itu. Pikirannya sudah dipenuhi harapan baru. Ia segera meletakkan koper di teras rumah dan mengajak Dyah dan Lina

"Ayo, kita susul Mela."

Dyah dan Lina ikut berjalan di belakangnya. Mereka menyusuri jalan kecil menuju lahan pertanian milik Mela.

Dan, setelah bertanya pada orang-orang yang lewat, akhirnya mereka sampai di lahan yang di maksud.

Langkah mereka berhenti bersamaan, melihat hamparan lahan luas terbentang di depan mata. Hijau, rapi dan terawat.

Beberapa warga bekerja sambil tertawa. Karung-karung hasil panen tersusun di pinggir. Pipa irigasi membentang rapi. Semuanya terlihat hidup.

Dan, di tengah semua itu Mela berdiri sambil memberi arahan pada pekerja.

Wajahnya terkena sinar matahari. Tangannya sedikit kotor tanah. Namun, ia terlihat jauh lebih baik dibanding saat masih bersama mereka dulu.

Rahman membeku. Bahkan, Dyah menatap tidak percaya. Wanita yang dulu mereka remehkan, yang mereka anggap tidak akan bisa hidup tanpa keluarga Wijaya, kini berdiri di sana, membangun dunianya sendiri.

Dan, akhirnya Rahman tahu, Mela ternyata tidak hancur setelah meninggalkan mereka.

Wanita itu justru berkembang, menjadi orang sukses di desa. Sedangkan mereka, adalah pihak yang runtuh tanpa dirinya.

Rahman perlahan mendekat.

Para pekerja yang melihat, menghentikan aktivitas mereka. Sedangkan, Mela belum menyadari kehadiran mereka.

"Tolong daun yang menguning di sebelah sana di ambil. Dan, buah yang terkena hama, di petik saja," ucap Mela pada pekerja.

Rahman tersenyum lebar dengan kedua mata yang memanas, melihat Mela yang masih sama seperti dulu Teliti dan rapi. Rasanya, ia ingin memeluknya, tapi, ia mencoba menahannya.

"M-Mela!"

Mela tertegun. Jantungnya berdetak kencang, saat mendengar suara yang cukup familiar. Suara yang tidak ingin dia dengar.

"Mela, ini aku."

Mela mengepalkan tangannya erat. Perlahan, ia berbalik, menatap orang-orang yang sudah ia hapus dari hidupnya.

"Kalian?"

1
Dede Djubaedah
💪🙏💪🙏🙏💪🙏💪🙏💪🙏🙏💪🙏💪😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍 tujuan 🤣🤣🤣🤣
Marina Tarigan
kamu yg menghancurkan rmh thga mela dan Rahman dam kamu curi uang dan perhiasan di rmh Rahman dan mereka jd gelandangan karena ulahmu dimana nuranimu camila sebentar ĺagi kamu akan ketemu Dimo
Marina Tarigan
mknya sifst iri itu jgn dipelihara teman2 kalian salah krang tjnghu alibatnya
Marina Tarigan
tak usah pikiri yg penting Dino menci taimu dgn tulus katena semua komentar itu tdk pernah ada odo amat biarkan meteka kepanasan
Marina Tarigan
orang gila lagi ngamuk
Marina Tarigan
sdb terlambst Rahman apapun kamu bilang kamu tdk punya tsring lavi
Marina Tarigan
.onyet mau memisahkan meli dan Dino oba saja
Marina Tarigan
Dyah i ni manusia langka ya udahpun sangat terpuruk hampir mati kelapsran ttp arogan kamu yg buay kalian hancur nek
Marina Tarigan
sdhlah ldpaskan mela dgn lapang dada tata hixjpmu kembali demi mada depan kalian semoga berhasil
Marina Tarigan
Rahman wanita kalau sdj terlampau sakit ayas perbuatan suaminya jauh lebih keras dp batu ksrang mknya
Marina Tarigan
semoga berhasil ya padajal mela sdj menerima lamaran Dino Diah
Marina Tarigan
hai Diah kenapa kamu matah pd Mela dia bukan siapamu lagi aroganmu selangit sdh jafi gelandangan masih vongkak
Marina Tarigan
namamya anak2 masih dibawah umur topu muslihst dia tak mengerti dia taju hanya kesenangan yg terpenuhi dan kamu Diah berkat kesombonganmu dan aroganmu anakmu hancur lebur menhjina trrus
Marina Tarigan
haha semua teman2 mela heboh banget gimana zDiah enak kan hinaanmu sm mela syukurin
Marina Tarigan
terima kasih camila kami berhasil menguras semua tanpa sisa
Marina Tarigan
namanya orang desa matanya hanya berucap sejauh penh
glihatan ya saja.
Anik Setyowati
aku tahu dino adalahbos yg selama ini,mbantu perusahaannya Rahman dan setelah Rahman menikah dengan Camila maka dia mencabut kerja samanya dengan perusahaan rahman👍
Aisyah Suyuti
good
Ratni Heryati
ada ajaniat jah
at orang yng serakah
Sri Yekti
Endingnya bagys.
Nereka semua bahagia.
Ditunggu karya yg lain thor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!