Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Aku Jadi Putri?!
Bab 1 — Aku Jadi Putri?!
Rania masih berdiri di depan cermin.
Tangannya menyentuh pipi, lalu mencubitnya pelan.
"Aduh."
Sakit. Ia mencubit lagi, lebih keras kali ini.
"AH—sakit beneran!"
Ia mundur satu langkah, menatap sosok di dalam cermin seolah itu orang asing yang menyusup ke kamarnya sendiri. Rambut hitam panjang sampai pinggang, kulit bersih tanpa cela, wajah cantik dengan mata yang jauh lebih lembut daripada tatapan tajam Rania yang biasa. Bahkan pakaiannya pun berbeda—gaun putih panjang dengan bordiran bunga kecil di bagian dada, jenis pakaian yang hanya pernah dilihatnya di drama-drama kerajaan yang suka diputar ibunya di rumah.
"Ini bukan aku," gumamnya pelan, seolah kalau diucapkan cukup keras, kenyataan akan berubah.
Ia berbalik, menatap sekeliling kamar. Tempat tidur berukuran besar dengan seprai sutra. Lemari kayu ukir yang tingginya hampir menyentuh langit-langit. Meja rias dengan kaca oval dan berbagai botol kecil berisi cairan yang tidak ia kenali. Bunga-bunga segar tersusun rapi di vas dekat jendela, wanginya menguar lembut ke seluruh ruangan.
Tidak ada satu pun benda yang terasa familiar.
"Jangan-jangan," Rania menelan ludah, "aku masuk sinetron kerajaan?"
[Bukan.]
Rania langsung menoleh cepat ke segala arah, mencari sumber suara yang jelas-jelas tidak berasal dari mana pun.
"Jangan muncul tiba-tiba, dong!"
[Host terlalu banyak berpikir.]
"Lah, kamu yang masuk ke kepala aku tanpa izin!"
Sistem diam. Entah kenapa, keheningan itu terasa seperti sistem sedang menahan diri untuk tidak berkomentar lebih jauh.
Rania mengusap wajah dengan kedua tangan, mencoba menata napas.
"Oke. Tenang, Rania. Tenang."
Ia duduk di tepi ranjang, merasakan empuknya kasur yang jelas bukan kasur kos-kosannya yang tipis itu.
"Mungkin aku masih pingsan. Ini cuma mimpi setelah kecelakaan."
[Host tidak sedang pingsan.]
"Kalau begitu aku gila."
[Host juga tidak gila.]
"Terus kenapa aku bisa ada di sini?!" suaranya mulai meninggi, campuran antara panik dan putus asa.
[Karena Host telah memasuki dunia lain.]
Rania terdiam. Kata-kata itu terdengar begitu enteng diucapkan, seolah berpindah dunia itu semudah pindah kereta.
"...Dunia lain?"
[Benar.]
"Terus tubuh ini punya siapa?"
[Tubuh Putri Wening Sasikirana.]
Rania langsung berdiri, hampir tersandung ujung gaunnya sendiri.
"Putri?!"
[Benar.]
"Kerajaan apa memangnya?"
[Kerajaan Wanunggalih.]
Rania mulai mondar-mandir di antara ranjang dan meja rias, mencoba mencerna nama yang sama sekali asing di telinganya.
"Wanunggalih..."
Tidak ada di pelajaran sejarah manapun yang pernah ia ikuti. Tidak ada di novel-novel yang pernah dibacanya. Nama itu benar-benar baru.
Ia berhenti di depan cermin lagi, kali ini menatap lebih lama.
"Jadi... sekarang aku Putri Wening?"
[Benar.]
Rania memiringkan kepala, memperhatikan detail wajah itu alis yang rapi, bibir yang tipis namun berbentuk sempurna, dan cara rambutnya jatuh dengan alami tanpa perlu di-catok.
"Lumayan juga," gumamnya, setengah menghibur diri sendiri.
Sistem tidak menanggapi.
Rania menyentuh helai rambut panjang itu, memutar-mutar ujungnya dengan jari.
"Rambutnya bagus. Aku aja butuh smoothing tiga jam buat dapat hasil kayak gini."
Baru saja ia mulai sedikit menikmati momen itu, satu ingatan menghantam kepalanya seperti motor yang menabraknya sore tadi.
"HP!"
Ia langsung memeriksa lipatan gaunnya, berharap ada saku tersembunyi. Tidak ada. Ia membuka laci meja rias satu per satu. Kosong, hanya berisi jepit rambut dan bedak. Ia mengecek di atas meja, di balik bantal, bahkan menunduk melihat kolong ranjang.
Tidak ada.
"HP-ku mana?!" suaranya mulai bergetar panik.
[Tidak tersedia.]
"Earphone-ku?"
[Tidak tersedia.]
"Dompet? KTP? Uang tunai sekalipun?"
[Tidak tersedia.]
Rania memegang dadanya sendiri, seolah baru menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
"...Latte-ku?"
[Tidak tersedia.]
Ia terdiam cukup lama, menatap kosong ke arah jendela tempat tirai berkibar pelan tertiup angin sore yang entah datang dari dunia mana.
"...Aku mau pulang," katanya akhirnya, lirih.
[Tidak bisa.]
"Kenapa?!"
[Host harus menyelesaikan misi terlebih dahulu.]
Rania memejamkan mata, menghela napas panjang.
"Nah. Sudah kuduga."
Kalau ada sistem yang tiba-tiba muncul di kepala, biasanya memang tidak akan lepas begitu saja tanpa embel-embel misi. Ia sudah cukup sering menonton drama sejenis untuk tahu polanya.
"Apa misinya?"
Sebuah tulisan transparan muncul mengambang di hadapannya, seperti layar hologram tipis.
[MISI UTAMA]
Menikahi Pangeran Mukti Samudera.
Rania membacanya sekali. Lalu dua kali, memastikan matanya tidak salah baca huruf.
"Mukti Samudera?" ulangnya, mengerutkan kening. "Siapa itu?"
[Sepupu Putri Wening Sasikirana.]
Rania membeku di tempat.
"...Apa?"
[Pangeran Mukti Samudera adalah sepupu Host.]
Ia perlahan duduk kembali ke tepi ranjang, menatap kosong ke depan seperti orang yang baru saja mendengar hasil ujian yang gagal total.
"Aku disuruh menikahi sepupu sendiri?" Ia menunjuk dirinya sendiri, memastikan tidak ada kesalahpahaman.
[Benar.]
"Tidak."
[Host belum memahami misi.]
"Aku paham kok," Rania menggeleng tegas. "Justru karena aku paham, makanya aku bilang tidak."
[Host wajib mengikuti alur.]
"Kalau alurnya begini, aku milih jadi figuran aja. Yang lewat doang terus tamat."
[Penolakan misi akan mengurangi poin.]
Rania mengerutkan kening. "Poin?"
[Poin digunakan untuk menukar berbagai kebutuhan Host.]
Mata Rania sedikit berbinar, insting mahasiswa kos-kosan hemat langsung aktif.
"Termasuk makanan?"
[Termasuk.]
"Minuman?"
[Termasuk.]
Ia langsung duduk tegak, punggung lurus seperti baru dapat kabar beasiswa.
"...Latte?"
[Tersedia.]
Rania terdiam sejenak, menimbang-nimbang dengan sangat serius.
Masalahnya sekarang bukan lagi soal bagaimana caranya pulang. Ada latte di dunia ini. Tapi untuk mendapatkannya, ia butuh poin. Dan poin itu, sepertinya, tidak datang gratis.
"Berapa poin yang aku punya sekarang?"
[Nol.]
"..."
Ia kembali bersandar lemas ke bantal.
"Ya sudah."
Ditatapnya langit-langit kamar yang berhias lampu kristal kecil, bertanya-tanya apakah dunia ini benar-benar seserius yang ia bayangkan atau justru lebih absurd dari yang ia kira.
"Gimana caranya dapat poin?"
[Sistem akan memberikan tantangan.]
Rania menarik napas panjang, bersiap untuk hal terburuk.
"Semoga bukan disuruh nikah sama sepupu lagi."
[Tantangan pertama: Berjualan.]
Rania mengerjapkan mata beberapa kali, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
"...Jualan?"
[Jika produk Host menjadi viral, poin akan dikembalikan.]
Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.
"Viral?"
Untuk pertama kalinya sejak membuka mata di kamar asing ini, ada percikan harapan yang menyala di dadanya
kecil, tapi nyata.
Ia bangkit berdiri, menyibak sedikit tirai lilac untuk melihat ke luar jendela. Halaman istana yang luas terbentang di bawah, dengan taman-taman tertata rapi dan beberapa dayang yang lalu-lalang membawa keranjang bunga.
"Kalau cuma jualan," gumamnya, mulai menyusun strategi di kepala, "bisa dicoba."
Ia belum tahu seperti apa sebenarnya Kerajaan Wanunggalih ini. Belum tahu wajah Pangeran Mukti Samudera yang katanya adalah sepupunya sendiri. Dan tentu saja, belum tahu bahwa di kerajaan tetangga, seorang pangeran bernama Raden Ji Aryasatya sedang duduk termenung sendirian, memikirkan penolakan lamaran yang baru saja diterimanya tanpa tahu bahwa wanita yang menolaknya kini bukan lagi wanita yang sama.
Namun untuk saat ini, Rania hanya punya satu tujuan sederhana.
Mendapatkan poin.
Dan membeli latte.
Sesederhana itu atau setidaknya, begitulah yang ingin ia percayai.