NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Perjodohan
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.

Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.

Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah Di Hari UTS Pertama 27.

Pagi itu, Pelita Bangsa diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam, seolah mengisyaratkan atmosfer suram yang akan segera bergulir di koridornya. Bagi Novia, senin ini bukan sekadar ritual Ujian Tengah Semester yang menjemukan, melainkan sebuah pertaruhan harga diri—dan yang paling krusial, kelangsungan jatah boba serta wafel instannya untuk sebulan ke depan.

Di dalam ruang ujian nomor empat, aroma kertas baru bertabrakan dengan ketegangan yang pekat. Novia duduk di barisan ketiga, jemarinya yang dingin memegang pulpen dengan erat.

Di sudut papan tulis, jam dinding berdetak dengan ritme yang monoton, memotong sisa waktu pengerjaan yang tinggal tiga puluh menit lagi.

Sejak bel masuk berbunyi, Novia tidak berani menoleh ke mana pun.

Fokusnya terkunci penuh pada lembar soal Matematika Lintas Minat.

Ajaibnya, baris-baris rumus integral yang semalam suntuk dia pelajari bersama Reyhan di bawah lampu kamar kini berputar di kepalanya bagai melodi yang familier.

Bayangan jemari kokoh Reyhan yang menuntun pensilnya, serta embusan napas hangat cowok itu yang sempat membuat jantungnya berpacu gila, entah mengapa berubah menjadi bahan bakar energi yang luar biasa.

“Kalau integral, pangkatnya ditambah satu, lalu hasilnya jadi pembagi di depan. Paham?”

Suara bariton Reyhan menggema di benaknya. Novia tersenyum tipis, sebuah guratan tipis yang sarat akan rasa bangga yang rahasia.

Gadis itu berhasil menyelesaikan soal nomor dua puluh empat dengan mulus. Untuk pertama kalinya, angka-angka itu tidak lagi terlihat seperti sandi rumput yang menyiksa, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkannya pada ruang aman di apartemen mereka.

Namun, kedamaian domestik yang baru saja dia rasakan di dalam kepala itu mendadak terkoyak tanpa peringatan.

Klek. Klek. Klek.

Suara ketukan pantofel berhak tinggi memecah keheningan ruangan.

Bu Lastri, guru pengawas bertangan besi yang terkenal tanpa ampun, berjalan lambat menyusuri celah di antara meja-meja kayu.

Langkahnya mendadak berhenti tepat di samping meja Novia. Aura dingin yang intimidatif seketika merayap membuat bulu kuduk Novia berdiri.

"Novia Maharani," suara Bu Lastri melengking rendah, memotong sunyinya ruangan bagai sembilu.

Novia mendongak, mengerjapkan mata dengan polos. "Iya, Bu?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangan Bu Lastri yang dihiasi kuteks merah tua terulur ke bawah meja Novia.

Dengan gerakan cepat dan kasar, beliau menarik sebuah gulungan kertas kecil yang terselip di antara celah laci meja dan tas sekolah Novia.

Sret!

"Apa ini?" Tanya Bu Lastri, suaranya naik satu oktav, cukup keras untuk membuat lima belas pasang mata di ruangan itu serentak menoleh dan tertuju pada Novia.

Novia tertegun, menatap secarik kertas lusuh berbentuk persegi panjang yang kini berada di tangan Bu Lastri. Jantungnya mencelos, berdegup dengan ritme liar yang mendadak memicu rasa sesak di dadanya. "Saya nggak tahu, Bu. Itu bukan punya saya."

"Jangan berbohong!" Bentak Bu Lastri, wajahnya mengeras penuh kilat penghakiman. "Sudah malas, sering bolos, sekarang kamu berani berbuat curang di ujian saya? Ikut saya ke ruang piket sekarang!"

"Tapi saya benar-benar nggak tahu, Bu! Saya nggak bawa contekan!" Suara Novia bergetar, nada suaranya meninggi, campur aduk antara rasa panik dan harga diri yang mendadak diinjak-injak.

Di sudut kelas, dia bisa menangkap kerlingan sinis dari beberapa siswi, serta bisik-bisik miring yang mulai menjalar bagai virus. Dunia yang baru saja terasa sedikit ramah semalam, kini runtuh kembali menjadi arena yang kejam dalam hitungan detik.

Dengan kasar, Bu Lastri menarik lengan Novia, memaksanya berdiri dan melangkah keluar ruangan di bawah tatapan menghina dari seisi kelas.

Novia berjalan dengan kepala yang mendadak kosong, kakinya terasa berat bagai terseret lumpur isap.

Di sepanjang koridor menuju ruang piket, rasanya seperti berjalan di atas panggung eksekusi.

Sesampainya di ruang piket yang dingin, Bu Lastri melempar kertas itu ke atas meja hijau dengan kasar. "Duduk! Saya akan panggil Ketua OSIS dan guru BK untuk mengurus pelanggaran berat ini. Kamu tahu kan sanksi mencontek bisa membuat nilai satumu langsung nol besar?!"

Novia tidak menjawab. Dia hanya menatap kosong ke arah meja. Air mata kekesalan dan ketidakberdayaan mulai menggenang di pelupuk matanya, namun dia menolak untuk membiarkannya jatuh.

Sifat keras kepalanya memberontak, namun rasa takut akan kekecewaan seseorang jauh lebih mendominasi dadanya saat ini.

'Bagaimana kalau Reyhan tahu? Bagaimana kalau cowok itu berpikir bahwa semua kerja kerasnya semalam sia-sia? Apakah Reyhan akan menatapnya dengan pandangan dingin dan penuh kekecewaan lagi?' Pikiran itu menyayat hati Novia lebih perih daripada ancaman hukuman Bu Lastri.

Pintu ruang piket terbuka beberapa menit kemudian. Langkah kaki yang tegas dan teratur terdengar mendekat.

Novia tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang.

Aroma kayu cendana yang menenangkan itu langsung memenuhi ruangan, bertolak belakang dengan atmosfer panas yang membakarnya sejak tadi.

Reyhan berdiri di sana, lengkap dengan ban lengan OSIS dan wibawanya yang mutlak.

Wajahnya datar sekeras pahatan marmer, namun jika ada yang memperhatikan lebih dekat, ada riak kecemasan yang tersembunyi di balik manik mata hitam pekatnya saat melihat bahu Novia yang bergetar kecil.

"Ada apa, Bu Lastri?" Tanya Reyhan, suaranya tenang, mengalun rendah namun menuntut kejelasan.

"Ini, Reyhan. Siswi langganan masuk BK kita yang sepertinya tidak tahu aturan," adu Bu Lastri dengan nada sarkas yang kental, menunjuk Novia dengan dagunya. "Dia tertangkap basah membawa kertas contekan di bawah mejanya saat ujian Matematika tadi. Tolong kamu catat namanya untuk laporan pelanggaran berat ke kepala sekolah."

Reyhan tidak langsung menjawab. Dia melangkah mendekati meja, mengabaikan eksistensi Bu Lastri sejenak, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh untuk mengambil secarik kertas kecil yang tergeletak di sana.

Novia memejamkan matanya erat-erat, bersiap untuk menerima kalimat sinis atau tatapan menghakimi yang biasa Reyhan berikan di depan umum. Dadanya berdenyut linu, mengantisipasi rasa sakit dari penolakan cowok itu.

Namun, keheningan yang tercipta berikutnya justru terasa janggal.

Reyhan menatap kertas di tangannya. Perlahan, kening cowok itu berkerut dalam. Matanya yang tajam menyipit, meneliti setiap senti dari tulisan yang tertera di atas lembar kecil tersebut.

Lembar itu memang berisi barisan rumus integral yang rumit, namun bukan itu yang membuat napas Reyhan mendadak tertahan di tenggorokan.

Di bagian paling bawah kertas, tersembunyi di balik deretan angka, ada sebuah tulisan tangan yang sengaja digoreskan dengan rapi, namun jelas-jelas tulisan itu bukan milik Novia yang sangat ia kenali.

Sebuah nama yang tertulis di sana bagai sebuah bom waktu yang siap meledak. Reyhan Aldebaran.

Tulisan itu menuduh secara tidak langsung, seolah kertas itu adalah pesan rahasia atau bocoran yang diberikan oleh sang Ketua OSIS sendiri untuk menolong istrinya.

Sebuah skenario fitnah yang dirancang dengan sangat rapi dan matang oleh seseorang yang tahu persis bagaimana cara menghancurkan mereka berdua sekaligus.

Reyhan mengepalkan tangan kirinya di balik saku celana, sementara matanya tetap terkunci pada tulisan asing yang mengatasnamakan dirinya itu. Rasa hangat yang semalam dia rasakan saat menyelimuti Novia yang tertidur pulas kini berubah menjadi api dingin yang membakar dadanya dengan kemarahan yang pekat.

Seseorang telah menabur genderang perang di sekolah ini, dan Novia adalah tameng yang sengaja dikorbankan.

......................

...****************...

Tbc,

1
Shabrina Darsih
laura laura naksir Rehyan samoe segitu nya sm Novia
Gege Mas
otor berusaha untuk mulai mematik apa yang bisa di sulut...naees...🤣
Gege Mas
Dan terjadi lagi...Nov..Nov...ck..ck..ck
Gege Mas
Dan ondolomon pun muncul ditengah kegelapan...🤣
Gege Mas
lanjuut Thor..belom berasa ini....10k kata gasss luncurkan
Gege Mas
yuklaah gass kasih intrik intrik kekinian yang membakar cemburu Dan bikin senyum senyum sendiri...semangaat..luncurkan 10k kata Thor...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!