CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBELI PAKAIAN WANITA
Afu dan Alu bergegas pergi ke supermarket untuk membeli pakaian wanita.
Setibanya di sana, mereka berkeliling mencari barang yang dibutuhkan. Namun, Alu masih tampak malu-malu saat melihat deretan pakaian dalam wanita. Dia ingin memilih, tetapi selalu ragu-ragu.
Bagaimanapun juga, dia masih merasa dirinya adalah Alu, cowok paling keren di kampus. Kenapa sekarang dia harus repot-repot membeli pakaian dalam wanita?
Melihat Alu terus berputar-putar tanpa menyentuh satu pun barang yang dipajang, Afu akhirnya bertanya.
“Sebenarnya pakaian model apa yang lo cari, sih? Gue jadi bingung sendiri.”
Alu mendekat, lalu berbisik di telinga saudara kembarnya.
“Gue mau beli bra sama celana dalam, tapi gue malu!”
Afu menatapnya tak percaya.
“Astaga, Alu! Sekarang lo udah jadi perempuan. Kenapa harus malu? Masa gue yang harus nanya ke mbak-mbak penjaga stand pakaian dalam?”
Alih-alih menjawab, Alu malah merengek meminta Afu membantunya berbicara dengan penjaga toko.
Awalnya, Afu menolak. Namun, melihat wajah Alu yang kini menyerupai Awen, dia tak sanggup terus menolak permintaan saudara kembarnya itu.
“Ya udah, nggak usah merengek lagi! Gue yang beliin.”
Tanpa mereka sadari, gerak-gerik keduanya ternyata sudah diperhatikan oleh wanita yang menjaga stand pakaian dalam. Mendengar percakapan mereka, wanita itu tersenyum geli sebelum menghampiri.
“Maaf, Kak. Ada yang bisa saya bantu?”
Afu langsung menunjuk Alu sambil tersenyum canggung.
“Ini, Mbak. Pacar saya mau beli bra sama celana dalam, tapi katanya malu.”
Alu langsung melotot.
“Siapa pacar lo?!”
Namun, Afu pura-pura tidak mendengar protes itu.
Wanita penjaga toko hanya tersenyum ramah. Dia kemudian membimbing mereka untuk memilih beberapa model pakaian dalam yang sesuai.
Saat wanita itu menunjukkan berbagai model bra dan celana dalam, Afu mulai merasa canggung. Dia memilih menjauh, tetapi Alu justru berkali-kali menoleh ke arahnya setiap kali penjaga toko memperlihatkan model baru.
“Afu, sini! Menurut lo, gue harus pilih yang mana?”
Afu mengernyit.
“Astaga, Alu! Masa gue juga yang harus mutusin pakaian mana yang mau lo beli?”
Wanita yang melayani mereka tetap sabar. Dia menjelaskan kelebihan masing-masing model, lalu menyarankan Alu mencoba beberapa pilihan di ruang ganti.
Setelah menentukan beberapa pakaian, Alu langsung meraih tangan Afu dan menariknya menuju ruang ganti.
Begitu masuk, Alu mulai membuka pakaiannya.
Namun, sebelum Alu sempat menanggalkan seluruh pakaiannya, Afu buru-buru menepuk pundaknya.
“Alu! Lo gila, ya?! Ada gue di sini, kok lo main buka-buka pakaian aja?”
Alu menoleh dengan wajah polos.
“Kenapa? Kita kan saudara kembar. Tubuh gue dari kecil udah lo tahu semuanya. Kenapa sekarang harus risih?”
“Enak aja! Kalau tubuh Alu yang dulu, iya, gue udah tahu. Tapi kalau tubuh lo yang sekarang?” Afu menunjuk tubuh Alu yang telah berubah menjadi perempuan. “Itu beda cerita!”
Alu masih belum sepenuhnya memahami masalah yang dimaksud Afu. Dia malah mengangkat bra yang dipegangnya, lalu kembali merengek.
“Afu, gue nggak ngerti cara pakai bra ini. Bantuin gue, dong.”
Jantung Afu langsung berdebar semakin cepat.
Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum menjawab.
“Oke. Mulai sekarang, gue panggil lo Awen, biar lo sadar siapa diri lo sekarang.”
Afu menatap Alu dengan serius.
“Dan asal lo tahu, gue ini laki-laki normal. Kalau lo minta gue bantuin pakai pakaian dalam, maaf, Awen. Untuk sekarang, gue nggak sanggup.”
Setelah mengatakan itu, Afu segera keluar dari ruang ganti. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha mengendalikan perasaan yang mendadak kacau.
Namun, beberapa saat kemudian, senyum tipis justru tersungging di bibirnya.
Afu sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya tersenyum.
Sementara itu, Alu yang ditinggalkan sendirian hanya bisa kebingungan. Dia menatap bra di tangannya, lalu kembali mencoba memikirkan cara mengenakannya.
Tiba-tiba, dari dalam cermin, muncul sosok seorang wanita yang sebelumnya tidak ada di sana.
Wanita itu memiliki wajah putih bercahaya dan rambut putih berkilauan. Gaun biru keputihan yang dikenakannya tampak begitu indah, seolah memancarkan cahaya lembut di sekeliling tubuhnya.
Alu tertegun.
Namun, sebelum sempat bertanya siapa wanita itu, sosok misterius tersebut justru mendekatinya dan dengan sabar mengajarkan cara mengenakan pakaian dalam yang benar.
Dia juga membantu Alu memahami bagaimana memilih pakaian yang sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Setelah selesai, wanita itu meminta Alu memperhatikan bayangannya di cermin.
Alu menatap pantulan dirinya sendiri.
Dia kemudian berbalik ke kanan dan kiri, mengamati penampilannya dari berbagai sudut.
“Ya ampun! Kenapa gue sekarang jadi cantik banget, ya? Ternyata tubuh gue sebagus ini!”
Alu bahkan mulai tersenyum bangga melihat penampilannya sendiri.
Setelah selesai mencoba beberapa pakaian, dia kembali mengenakan pakaiannya dengan lengkap.
Ketika membandingkan penampilannya sekarang dengan sebelumnya, Alu langsung menyadari perbedaannya. Pakaian yang baru dicobanya ternyata membuat bentuk tubuhnya terlihat jauh lebih menarik dibandingkan pakaian milik Afu yang selama ini dia kenakan.
Akhirnya, Alu memutuskan membeli pakaian-pakaian pilihannya sendiri.
Dengan wajah puas, dia membawa semua barang itu ke kasir dan melakukan pembayaran.
Namun, sebelum meninggalkan meja kasir, Alu mendadak teringat pada wanita misterius yang tadi membantunya.
Dia menoleh ke arah ruang ganti.
Kosong.
Wanita itu telah menghilang entah ke mana, sama misteriusnya dengan kemunculannya tadi.
Alu masih mengingat wajah dan tubuh wanita tersebut dengan jelas. Penampilannya begitu cantik, bahkan seolah memancarkan cahaya.
Dia menggeleng pelan, berusaha mengusir kebingungannya.
“Mungkin gue cuma salah lihat.”
Setelah itu, Alu segera mencari Afu.
Begitu menemukan saudara kembarnya, dia langsung memeluk Afu dari belakang dengan penuh kegembiraan.
“Afu! Cepat lihat gue sekarang. Menurut lo, gue cantik nggak?”
Afu menoleh.
Namun, begitu melihat Alu dengan penampilan barunya, dia langsung mematung.
Untuk sesaat, dia merasa seperti sedang melihat Awen yang hidup kembali di hadapannya.
“Awen ... lo cantik sekali.”
Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Afu. Selebihnya, dia kembali terdiam, terpaku menatap Alu.
Alu yang mendengar pujian itu justru merasa malu. Dia buru-buru menundukkan wajah, menyembunyikan senyum yang muncul di bibirnya.
Ya ampun, Afu aja sampai terpaku melihat gue.
Entah mengapa, sejak hari itu Alu mulai menikmati perubahan dalam dirinya. Dia tidak lagi sekadar mengeluhkan tubuh barunya, tetapi perlahan mulai mengagumi kecantikan dan bentuk tubuh yang sekarang dimilikinya.
Setelah selesai membeli pakaian, Alu kembali meminta Afu menemaninya ke toko kosmetik.
Kali ini, dia melangkah dengan jauh lebih percaya diri.
Begitu memasuki toko, Alu langsung menghampiri penjaga stand dan meminta penjelasan mengenai berbagai produk kecantikan.
Dia mendengarkan penjelasan tersebut dengan serius, bahkan mempelajari beberapa cara menggunakannya sebelum akhirnya membeli sejumlah perlengkapan makeup.
Namun, ketika melihat Afu hanya berdiri diam di belakangnya, Alu mendadak mendapatkan ide.
Dia kembali menghampiri penjaga toko.
“Mbak, boleh minta rekomendasi makeup yang cocok buat cowok juga?”
Afu langsung mengernyit.
“Buat siapa?”
“Buat lo, lah!”
Alu tersenyum lebar ketika penjaga toko mulai memilihkan beberapa produk yang sesuai.
Setelah membayar semuanya, Alu menyerahkan kantong kecil berisi perlengkapan makeup itu kepada Afu.
“Nih, Afu. Gue beliin makeup khusus buat cowok. Biar wajah lo yang kusam itu kelihatan lebih bercahaya.”
Afu menatap kantong tersebut dengan bingung.
Dia masih belum benar-benar siap menghadapi perubahan sikap Alu yang semakin hari semakin sulit ditebak. Namun, pada akhirnya, dia hanya bisa menerima pemberian itu tanpa mampu mengatakan apa-apa.
Setelah selesai berbelanja, mereka pun kembali ke apartemen.
Sepanjang perjalanan, suasana hati Alu terlihat begitu ceria. Dia bahkan sesekali memeriksa barang-barang belanjaannya, seolah tidak sabar ingin mencoba semuanya.
Perlahan, Alu mulai merasa nyaman dengan tubuh barunya.
Sebaliknya, Afu justru semakin gelisah.
Perubahan sikap Alu yang semakin lembut dan manja, ditambah penampilan Awen yang kini semakin mempesona, membuat perasaannya sulit dikendalikan.
Dia tahu orang yang berada di sampingnya adalah Alu, saudara kembarnya sendiri.
Namun, semakin lama dia bersama Alu, semakin sulit pula baginya mengabaikan bayangan Awen yang selama ini tersimpan di dalam hatinya.