Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: SUSU HANGAT DAN KERAGUAN HATI
Suasana malam di kediaman keluarga Ye terasa begitu sunyi dan tenang. Di dalam kamarnya yang luas, Kamilah duduk di tepi tempat tidur berseprai putih. Penerangan kamar yang sedikit temaram menambah kesan hening yang melingkupi dirinya. Kedua tangannya yang lentik tampak memeluk erat boneka kelinci rajut edisi terbatas—hadiah mewah yang diberikan oleh Rizky Syah beberapa waktu lalu.
Pandangan matanya menerawang kosong menatap ke sudut ruangan. Kejadian-kejadian luar biasa dan menegangkan yang ia alami belakangan ini mendadak berputar kembali secara berurutan di dalam ingatannya. Mulai dari insiden mengejutkan di klub malam, perselisihan panas di koridor restoran mewah tadi, hingga ciuman membara serta pengakuan tajam pria itu yang membongkar seluruh luka lamanya.
"Rizky Syah..." gumam Kamilah pelan. Suaranya hampir tenggelam dalam kesunyian kamar. "Apa dia benar-benar serius dengan perkataannya?"
Kamilah menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum pahit yang sarat akan keraguan.
"Tidak, mana mungkin..." bisik Kamilah pada dirinya sendiri. "Pria berkuasa dan berpengaruh seperti dia... untuk apa menaruh hati pada gadis penuh luka sepertiku? Mungkin saja aku ini cuma dianggap sebagai mainan baru yang istimewa baginya. Atau... mungkin saja dia sengaja melakukan semua perhatian ini hanya demi menarik perhatian Kak Roya?"
Perasaan bingung dan gelisah yang terus bergejolak membuat Kamilah beranjak dari tempat tidurnya. Ia melangkah menuju meja rias di sudut kamar, lalu membuka salah satu laci bagian bawahnya. Di dalam sana, terbaring sebuah kotak hadiah berdesain elegan yang juga pernah diberikan oleh Rizky Syah.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Kamilah mengangkat penutup kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah surat kecil berdesain simpel namun terkesan sangat eksklusif. Kamilah mengambil surat itu dan membacanya perlahan.
Ubahlah rasa sakit menjadi manisnya permen.
Sebaris kalimat pendek yang tertulis dengan guratan tangan tegas namun indah itu terasa menghantam dadanya dengan kuat. Kalimat yang begitu sederhana, tetapi memiliki makna yang teramat dalam bagi seseorang yang selama ini selalu menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng gadis penurut.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar yang berulang memecah lamunan panjang Kamilah.
"Nona Kamilah, susunya sudah dipanaskan," suara ramah dari Asisten Rumah Tangga (ART) keluarga Ye terdengar dari balik pintu.
Kamilah segera menyimpan kembali surat itu ke dalam laci, merapikan letak pakaiannya, lalu berseru pelan, "Silakan masuk."
Pintu kamar terbuka perlahan. Wanita paruh baya itu melangkah masuk sambil membawa sebuah nampan kayu yang di atasnya bertengger segelas susu murni hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
Kamilah menatap gelas susu tersebut dengan dahi berkerut bingung. "Tapi... seingatku, aku sama sekali tidak minta dibuatkan susu hangat malam ini, Mbak?"
ART itu tersenyum hangat sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur Kamilah. "Ini diminta langsung oleh kepala pelayan atas perintah Tuan Muda Rizky Syah, Nona. Katanya Tuan Besar memang memerintahkan untuk selalu memanaskan gelas susu hangat tiap malam agar Nona Kamilah bisa tidur dengan nyenyak."
Langkah Kamilah sempat terhenti sejenak. "Rizky Syah? Kenapa dia bisa datang ke rumah ini malam-malam begini?"
"Oh, Tuan Muda keempat memang akan segera pulang dari luar negeri sebentar lagi," jelas ART tersebut dengan ramah. "Tuan Muda Rizky Syah sengaja datang berkunjung kemari untuk mengantarkan beberapa dokumen penting milik Tuan Muda."
"Oh... aku mengerti," sahut Kamilah pelan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
ART itu membungkuk sopan. "Kalau begitu, saya permisi keluar dulu ya, Nona. Jangan lupa diminum susunya selagi masih hangat."
Setelah ART itu melangkah keluar dan menutup pintu kamar kembali, Kamilah mendekati meja kecil tersebut. Ia meraih gelas porselen itu, merasakan sensasi hangat yang merambat perlahan melalui telapak tangannya. Kamilah menyesap susu hangat itu perlahan hingga tersisa setengahnya.
Perintah dari Kakek apanya? batin Kamilah sambil menyunggingkan senyum tipis yang tak sadar terkembang di bibirnya. Pria itu pasti cuma menggunakan nama besar Kakek sebagai alasan agar bisa mengirimkan susu hangat ini padaku.
DDA-DANG!
Dering ponsel di atas meja rias mengejutkannya. Kamilah melangkah mendekat dan melihat nama yang tertera di layar panggilannya: Ikram Pratama.
Perasaan tidak enak dan bersalah seketika menyelimuti dadanya saat mengingat bagaimana ia melarikan diri dari restoran tadi dan meninggalkan pria itu begitu saja. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, Kamilah menggeser tombol hijau.
"Halo, Mas Ikram..." panggil Kamilah lembut.
"Halo, Kamilah. Kamu sudah sampai di rumah dengan aman?" suara hangat dan penuh perhatian dari Ikram terdengar dari seberang sambungan.
Kamilah menggigit bibir bawahnya ragu. "Maaf ya, Mas Ikram... tadi aku mendadak merasa kurang enak badan dan kepalaku agak pusing, jadi aku terpaksa pulang duluan tanpa sempat berpamitan langsung padamu."
Dari seberang telepon, terdengar hembusan napas lega dari Ikram, sama sekali tidak ada nada kemarahan atau kejengkelan di dalam suaranya. "Astaga, kenapa harus minta maaf? Kesehatanmu itu jauh lebih penting dari apa pun. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah pusingnya sudah agak berkurang?"
"Sudah... sudah jauh lebih baik sekarang, Mas," jawab Kamilah merasa lega.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Ikram dengan kekeh pelan yang menenangkan. "Istirahatlah yang cukup malam ini. Kita masih bisa janjian dan jalan-jalan lain kali kalau kondisimu sudah benar-benar pulih."
"Iya, Mas Ikram. Terima kasih banyak ya," kata Kamilah pelan sebelum akhirnya mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Setelah mematikan ponselnya, Kamilah berdiri mematung sejenak di tepi tempat tidur. Jemari tangannya mengusap layar kaca ponselnya secara tidak sadar. Ia membuka aplikasi WhatsApp, lalu menggeser layar hingga menemukan kontak bertuliskan nama Rizky Syah.
Jari-jarinya menggantung ragu di atas papan ketik virtual selama beberapa detik. Ada pertarungan batin yang kuat di dalam dirinya antara rasa gengsi dan keinginan untuk merespons perhatian pria tersebut.
Akhirnya, dengan napas terengah pelan, Kamilah mengetikkan sebuah pesan singkat.
Kamilah: Terima kasih untuk pemberian susunya.
Setelah menekan tombol kirim, Kamilah langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan jantung yang mendadak berdebar kencang tanpa alasan yang jelas.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, ponsel di genggamannya bergetar singkat menandakan adanya pesan balasan masuk. Kamilah dengan cepat mengangkat ponselnya dan membuka pesan tersebut.
Rizky Syah: Ya.
Kamilah terpaku menatap satu kata yang sangat singkat dan dingin itu di layar ponselnya. Balasan yang benar-benar khas dari seorang Rizky Syah—singkat, padat, namun entah mengapa sanggup membuat sudut bibir Kamilah terangkat membentuk ukiran senyum tipis di tengah kegelapan malam.