Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Kembali
"Lepaskan aku!" suara teriakannya menggema dengan lengkingan kesakitan.
"ARGHH! DAREL, LEPASKAN AKU!" teriaknya lagi.
Isabella Catherine Davis, putri tunggal keluarga Davis, dulu dia Selebgram populer memiliki banyak penggemar dan lahir dari keluarga paling berpengaruh. Hingga dia memilih seseorang yang ia cintai dan akhirnya di khianati oleh pria yang ia paling bela seumur hidupnya.
"Ini balasannya karena kamu berani menyentuh Lyra!" desis Darel, pria yang menjadi tunangan Isabella.
Darel Anggasta Marco, pria yang dulu di anggap pecundang di keluarga Marco, berkat dukungan dari Isabella hidupnya berubah dan dia menjadi pemegang saham terbesar di keluarga Marco.
"Kau pengkhianat!" seru Isabella, di tengah rasa sakit yang menyayat tubuh ringkihnya.
"Ini balasan, kamu harus tahu kalau kamu tidak bisa menyentuh Lyra sembarangan!" desis Darel. Dengan mata menyorot kejam pada sosok Isabella.
Isabella menatap Darel, kebenciannya pada pria itu memenuhi hatinya. Penyesalan pernah membela pria itu menekan jantungnya hingga ia kesulitan bernapas.
"Penyesalan yang paling aku sesali seumur hidup ini adalah mencintai dan membelamu Darel, kau tak pantas menjadi pewaris Marco dan seorang suami!" desis Isabella, sorot matanya penuh ejek kan.
PLAK!
Satu tamparan keras menghantam wajah Isabella tanpa ampun. Isabella terbatuk hingga memuntahkan cairan merah dari mulutnya.
"ARGGHH!" teriaknya lagi saat rambut kusutnya di jambak kasar.
"Aku menjadi pewaris dan orang paling berpengaruh hanya karena aku paling mampu, dan itu bukan karena mu. Isabella!" bisik Darel, dia benci di anggap pecundang.
Isabella tersenyum remeh, di sisa tenaga yang ia punya. "Kamu takut mengakui itu. Darel? Kau memamg tidak lebih hanya seorang pecundang!" hinanya tanpa takut.
"Perempuan sialan!" desis Darel, dia mendorong kepala Isabella hingga menghantam lantai yang dingin. Dan dahi hingga hidungnya mengeluarkan cairan merah.
"Kak Darel!" panggilan hangat dari sosok Lyra Handoyo. Wanita yang paling Isabella sayang seumur hidupnya. Namun, menusuk keluarga Davis dengan kejam.
"Kamu kenapa kemari? Tempat ini tidak cocok untukmu. Isabella!" kata Darel, suara lembut yang bahkan dulu tak pernah ada untuk Isabella.
"Ak—aku hanya mau menemui Isabella dan bicara sebentar dengannya apa boleh?" sorot mata teduh yang hangat.
Darel tak pernah menolak. Lyra adalah wanita yang ia cintai, putri angkat dari keluarga Davis. Putri yang di asingkan oleh Davis karena selalu di fitnah oleh Isabella.
Sedangkan Isabella, dia menyorot benci pada kedua pasangan itu. Sorot matanya penuh dendam dengan mata memerah marah.
"Isabella," suara Lyra lembut. Wajah polos gadis itu bisa membuat siapa saja merasa iba.
Mata Isabella memicing tajam penuh benci, saat Lyra mendekat padanya.
"Ini balasan atas apa yang keluarga mu lakukan padaku! Kau seharusnya mati lebih awal bersama Ibu dan Ayahmu itu. Tapi ternyata Tuhan terlalu baik sebab membiarkan kamu tetap hidup," bisik Lyra, mengatakan semua rahasia yang ia simpan.
DEGH!
BRUK!
Isabella mendorong kasar Lyra, dia menatap nyalang pada sosok Lyra yang terisak pelan.
"Kau wanita tidak tahu diri! Kurang apa Ibu dan Ayahku padamu. Lyra? Mereka selalu menyayangi kamu layaknya putri kandung sendiri, lalu apa ini balasannya?" teriak Isabella dengan suara menggelegar.
Darel mengepalkan tangannya, saat melihat Lyra ketakutan di dadanya. Badannya gemetar hebat dengan isakan yang menyayat hati Darel.
"Wanita kejam seperti dia tak perlu di maafkan Lyra! Dia hanya pantas mati," kata Darel, menatap benci pada Isabella.
Sedangkan Isabella, dia hanya terkekeh gila, Lyra yang membunuh Mama dan Papanya. Namun, dialah yang harus bertanggung jawab dan mendekam di penjara tanpa pembelaan.
Sedangkan Darel. Pria yang ia tolong dan angkat statusnya sekarang juga mengkhianati dirinya tanpa ampun.
"Bawa dia! Dan hukum dia tanpa ampun!" ucap Darel, melihat pada pengawalnya.
Para pria berbadan besar itu mengangguk, mereka menyeret Isabella menjauh tanpa perlawanan dari wanita itu.
Isabella melihat dua orang yang berdiri di sana dengan sorot mata kosong. Dia menyesali semuanya, menyesal karena menyayangi Lyra seperti saudara sendiri. Dan menyesal mencintai Darel hingga membantu pria itu sampai puncaknya.
"Ma. Pa, aku benar-benar menyesal!" bisik Isabella dengan parau.
Isabella meringkuk di dalam gudang gelap dan kosong itu sendirian. Pada lantai yang dingin dia hanya bisa menatap kosong. Tubuh kurusnya penuh luka dengan satu tetes air mata jatuh tanpa wanita itu sadari.
"Jika ada kesempatan lain, aku tak akan percaya pada siapapun lagi selain Mama dan Papa!" gumam Isabella sebelum gelap menelan segalanya.
***
"TIDAK!" suaranya melengking tajam, serak dan wajahnya ketakutan.
Isabella menarik napas pelan. Wajah pucatnya menunjukkan ketakutan besar yang tak pernah dia alami. Keringat menetes pelan dari dahinya. napasnya berat dengan jantung berdebar kencang.
Mata Isabella terpejam erat, dia meraba dirinya melihat tangannya yang putih tanpa luka. Menatap bagaimana kulit bersihnya berkilau karena cahaya lampu. Tidak ada bekas san itu kulitnya saat dulu sebelum mengenal Darel.
"Ba—bagaimana mungkin?" suara serak Isabella menyapu tak percaya. Saat tangannya menyentuh wajahnya yang halus.
BRAK!
Pintu terbuka kasar, di sana seorang wanita yang ia harapkan datang ke mimpinya berdiri pada ambang pintu kamar. "Mama?" suara Isabella tercekat.
DEGH!
Menelan ludah kasar. Isabella masih tak percaya kalau ia melihat kembali sang Mama yang sudah tiada lima tahun lalu. Saat semua tragedi belum terjadi menghancurkan segala yang ia miliki.
"Isa, ada apa? Kenapa berteriak tengah malam?" suara Melody terdengar khawatir.
"Mama," panggil Isabella lagi, air matanya jatuh saat merasakan usapan lembut pada kepalanya.
"Sayang, mana yang sakit? Mama benar-benar khawatir!" ucap Melody.
Isabella langsung menubruk tubuh Melody, memeluk erat wanita cantik itu dengan air mata jatuh tanpa aba-aba.
"Sayang, ada apa? Katakan sesuatu!" minta Melody, setelah tak sengaja jatuh dari kamar mandi sore tadi. Isabella tak sadarkan diri seharian dan baru bangun pada keesokan harinya.
"Ma, apa ini mimpi? Mama benar-benar ada di hadapan ku?" pertanyaan yang membuat Melody bingung.
Namun, sebagai Ibu ia tak mengatakan apapun sebab ia tahu mungkin putrinya bermimpi buruk setelah kepalanya membentur lantai kamar mandi.
Isabella tak mengatakan apapun, dia malah sibuk menghirup aroma menenangkan dari tubuh sang Mama yang ia rindukan. Sejak ia di tinggal sendiri dan merasa kesepian. Hanya baju satu helai baju usang peninggalan sang Mama yang menjadi pengobat setiap dia merindukan wanita cantik itu.
Sedangkan Melody, dia hanya diam. Mencoba meraba apa yang putrinya rasakan sekarang ini hingga pelukannya tak terlepas sedikitpun.
'Jika ini mimpi tolong biarkan Mimpi ini tetap seperti ini Tuhan!' batin Isabella, seolah ia enggan bangun jika benar pelukan itu hanya sebuah mimpi.