Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Rumah Sakit Jayakarta berdiri megah dengan arsitektur yang kokoh di bawah terik matahari Jayakarta. Dari luar, bangunan ini tampak seperti tempat penyembuhan modern yang anggun. Namun, pagar besi tinggi, barikade kayu, dan jajaran serdadu Jepang bersenjata bayonet membuatnya lebih mirip benteng ketat dibanding rumah sakit.
Di balik dinding betonnya yang tebal, lorong-lorong batu terasa dingin dan sunyi, menyebarkan bau antiseptik yang beradu dengan aroma bahan kimia. Di balik kemegahan fasadnya, tersembunyi fasilitas bawah tanah terisolasi yang bukan dirancang untuk menyelamatkan nyawa, melainkan laboratorium rahasia yang memenjarakan eksperimen kelam.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di dalam dan berpura-pura menunggu antrian. Ujang, Bella dan Gilang duduk bersebelahan di sampingnya dua wanita berpakaian kimono khas pakain khas Jepang, sementara ayahnya Bella berdiri agak jauh dari mereka.
Suasana di dalam rumah sakit terlihat ramai.
Ayah Bella menoleh ke arah mereka duduk, mereka bertiga serentak mengalihkan pandangan ke belakang.
Dibawah tangga mereka menoleh, Seorang dokter berpakain keluar dari ruangan. Ruang itu bertuliskan ruang arsip di papan atas ruangan itu .
Mereka bertiga kembali menatap ayah Bella setelah kepergian dokter itu, ayah Bella yang sejak tadi berdiri mengangguk kecil memberikan isyarat pada mereka.
Setelah melihat isyarat dari sang ayah Bella beranjak pergi. Terpisah dari keramain Bella memasuki Ruangan Arsip itu, namun, Bella tidak tau kau dibawahnya ada petugas kebersihan yang sedang mengelap tangga melihatnya masuk.
Ia menutup pintu kembali lalu berjalan dalam ruangan itu, di dalam ruangan itu terdapat buku-buku usang, ia mengambil dan memeriksa sebuah buku.
Ia membuka buka itu sambil bergumam.
“Emma.. Emma.. Emma.. “
Ia kemudian menutup buku itu dan menaruh kembali buku itu di rak, ia mengambil buku lainnya di rak, ia membalik balik halaman dan mencari kembali. Namun seseorang muncul di belakang Bella.
“Siapa kau?” , panggilannya.
Bella berhenti, ia menoleh ke sumber suara. Orang itu adalah petugas kebersihan yang melihat Bella masuk sebelumnya. Pria itu berkumis dan berjanggut, ia berponi dan mengenakan kemeja coklat.
“Apa yang kau lakukan disini? “tanyanya.
“Aku tersesat di sini”, ucap Bella pelan.
“Jadi kau ini tersesat, lalu memeriksa catatan?”tanyanya, sorot matanya tajam.
Bella tersenyum,“Ada temanku yang dirawat disini, tapi aku tidak bisa menemukannya”
Petugas kebersihan itu menatap Bella tajam, Bella mengalihkan pandangan, tangan kanan Bella menggenggam pisau dari balik baju belakangnya.
“Aku tau kau orang Nusantara. Aku mohon jangan buat keributan. Aku akan pergi dari sini dengan tenang”mohon Bella, ia melangkah satu langkah “apakah bisa?”
Pria itu mundur sedikit.
“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya, ia terlihat sedikit ketakutan. “Katakan siapa kau!” Bentaknya mengangkat dagu.
Ceklek!.
Pintu ruangan Arsip itu terbuka, tanpa diduga ayah Bella masuk dan menodongkan pistol itu ke wajah petugas kebersihan itu, petugas kebersihan itu menatap pistol yang mengarah tepat ke wajahnya.
“Seperti katanya jangan membuat keributan”, ucap ayah Bella sambil menodong pistol di tangannya.
“apa mungkin… kalian dari bandung? “
***
DORRR!
Suara tembakan memekakkan telinga mendadak menggelegar, memantul keras di dinding-dinding lorong berplester tebal. Seketika, langkah kaki mereka terhenti di anak tangga. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi kepanikan massal.Jeritan histeris dari para pengunjung memecah keheningan, menciptakan gelombang kegemparan.
“Jangan khawatir, pangkalan militer di sini pasti sedang latihan,” ucap seseorang di dalam kerumunan, berusaha menenangkan warga yang panik.
Ujang yang heran melirik ke bawah, telinganya menangkap gaung suara yang merambat tak biasa. “Aneh, suaranya jelas dari bawah gedung.”
“Sebaiknya kita pergi sekarang. Ayo ikuti aku,” ucap Bella setengah berbisik, matanya menatap tajam ke depan.
Mereka berempat lanjut menuruni tangga batu yang dingin, bergegas berkumpul di suatu ruangan sepi berdinding kusam yang beraroma debu tua.
“Tunggu, apa yang kalian lakukan?” tanya Gilang dengan kening berkerut.
Bella menoleh sambil mencari pakaian di dalam tasnya. “Sepertinya kami akan menginap di sini,” jawab Bella.
“Apa?” tanya Gilang terperanjat.
“Lalu, kami? Kami juga?” tanya Ujang sambil menunjuk dirinya sendiri, matanya membelalak kaget.
“Kalian hanya menghalangi, jadi kalian pergi saja,” jawab Bella tanpa ragu.
“Tapi setidaknya beritahu kami, apa yang terjadi,” ucap Gilang.
Ayah Bella berganti pakaian di belakang secara sigap.
Beberapa saat kemudian, petugas kebersihan masuk dengan sedikit terengah-engah, keringatnya bercucuran di wajahnya. Ia mengatakan kalau pergerakan di bangsal militer sedang tidak baik-baik saja, ia menyuruh mereka untuk kembali saja lain hari. Namun, Ayah Bella menghampirinya, menyuruh ia agar menunjukkan jalannya.
Bella berjalan menjauh dengan membawa pakaian ganti berwarna coklat. Ia melepaskan pakaiannya, ditutupi papan berwarna putih.
Gilang yang tidak tahu Bella sedang mengganti pakaian di belakangnya malah menoleh ke arahnya.
“Tunggu… aku…” ucap Gilang sambil menoleh ke belakang Bella. Matanya membelalak kaget melihat Bella yang hendak berganti pakaian lalu langsung menoleh kembali ke arah lain dengan wajah memerah canggung.
Gilang masih tidak tahu alasan kenapa Bella dan ayahnya mau menginap di rumah sakit ini.
“Apa… apa yang sebenarnya terjadi? Petugas kebersihan ini bilang apa sehingga kalian…”
“Adikku dikirim ke sini dari penjara Kartika kira-kira satu tahun yang lalu,” potong petugas kebersihan itu.
Petugas kebersihan itu ternyata kehilangan adiknya, ia juga mencari adiknya yang hilang. Orang-orang dari Jayakarta maupun dari luar memang banyak kasus orang hilang, tetapi ke manakah orang yang hilang itu? Mereka berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Dia dipindahkan karena demam. Sejak itu kami hilang kontak. Suatu hari aku cari, tapi aku tidak menemukan catatan kalau dia dirawat,” ujarnya.
“Astaga, itu sebabnya kau menyelinap ke sini?” ucap Ujang, terkejut mendengar keluhan kalau adiknya sudah hilang satu tahun.
Bella juga saat mencari-cari catatan bahwa Emma dirawat di rumah sakit, mencari-carinya dari buku catatan, ia juga tidak menemukan apa-apa tentang Emma. Ini seperti ada yang aneh di rumah sakit Jayakarta ini.
“Kalau begitu katakan, kenapa kami harus percaya? Kita baru pertama bertemu,” ucap Gilang, ia masih tidak percaya pada orang yang ada di depannya itu.
Petugas kebersihan itu membusungkan dada lalu menempelkan tangan kiri ke dada dengan jari manis menekuk.
Gilang menengok jarinya, lalu ia juga menekuk jari manis tangan kanannya. Ia tidak tahu apa artinya itu. “Ini apa?” tanya Gilang.
“Itu salam Masyarakat Patriotik. Percayalah, itu kelompok kemerdekaan,” sahut Ujang.
Gilang mengerutkan kening dan diam.
“Sekarang kembalilah dulu, Mas Gilang. Kami akan pastikan keberadaan Emma, lalu mengabarimu,” ucap Ayah Bella menatap Gilang.
“Iya, tapi…” ucap Gilang.
“Sekarang aku sudah siap,” ucap Bella seraya membetulkan sepatunya, ia sudah mengganti pakaiannya. Ia kembali berpakaian lusuh, bukan untuk menyamar, memang seperti biasa dia berpakaian begitu.
“Ikuti aku,” ucap Ayah Bella, ia melangkah ke depan dan sang putri cantiknya juga mengikuti dari belakang.