Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Ketika Mata Menolak Terpejam
Malam itu, ia menyadari bahwa perasaannya telah bergerak lebih jauh daripada yang selama ini berani ia akui. Bukan lagi sekadar rasa ingin tahu terhadap perempuan yang menyimpan kesedihan di balik senyumnya.
Ia mulai menginginkan sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: kesempatan untuk mengenal Mita lebih dekat, tanpa membuat perempuan itu merasa terdesak.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kapten Reihan berharap bahwa suatu hari nanti, seseorang akan mengizinkannya berdiri di sisinya bukan karena tugas, melainkan karena hati.
Perjalanan kembali menuju pos berlangsung dalam suasana yang relatif tenang.
Reihan duduk di kursi depan kendaraan operasional, sementara Yanto berada di samping pengemudi. Beberapa anggota lainnya mengikuti dari belakang dengan kendaraan berbeda.
Sepanjang perjalanan, Reihan lebih banyak diam. Sesekali ia memeriksa laporan kegiatan di ponselnya, memastikan tidak ada persoalan yang harus segera ditindaklanjuti. Namun, setiap kali layar ponsel itu meredup, bayangan Mita kembali muncul di benaknya.
Ia teringat wajah perempuan itu ketika berdiri di halaman kantor desa. Teringat senyum kecil yang berusaha dipertahankannya. Dan terutama, ia teringat mata bening yang dipenuhi air mata ketika Mita akhirnya tidak sanggup lagi menyembunyikan kesedihannya.
Reihan memejamkan mata sejenak. Pemandangan itu terus membekas.
Dalam tugasnya, ia telah berhadapan dengan berbagai keadaan yang menuntut ketegaran, baik dari dirinya sendiri maupun orang-orang yang harus dilindunginya. Ia sering menyaksikan banyak orang berduka, bahkan menangis karena musibah atau peristiwa yang mereka hadapi.
Namun, air mata perempuan itu meninggalkan kesan yang berbeda. Ada kesedihan yang begitu dalam di balik tatapan mata beningnya, seolah ia telah berusaha bertahan sendirian terlalu lama.
Reihan tidak tahu secara utuh apa yang telah dialami Mita. Ia hanya memahami bahwa ada luka yang belum selesai, sebuah peristiwa yang masih mampu mengguncang ketenangan perempuan itu meskipun waktu terus berjalan.
Dan justru karena tidak mengetahui semuanya, ia ingin berhati-hati. Ia tidak ingin datang sebagai laki-laki yang merasa mampu menyelesaikan semua masalah Mita. Ia juga tidak ingin menganggap bahwa perhatian sederhana darinya akan otomatis membuat perempuan itu melupakan masa lalu.
Mita bukan seseorang yang harus diselamatkan agar bisa menjadi utuh. Perempuan itu sudah berjuang dengan caranya sendiri. Jika ingin mendekat, ia harus menghormati perjuangan tersebut.
“Hm … “ Reihan menghela nafas perlahan sambil memejamkan mata, membayangkan wajah manis yang kini bersarang di hatinya.
"Kapten,” suara Yanto membuyarkan lamunannya.
Reihan membuka mata, "Apa?"
"Sepertinya Kapten sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat."
Reihan meliriknya, “Kamu mulai lagi?"
"Maaf, Kapten. Saya hanya memastikan tidak ada persoalan yang perlu dibicarakan."
"Semua aman."
"Baik, Kapten."
Yanto kembali memandang ke depan. Namun, beberapa detik kemudian, ia tidak bisa menahan diri untuk berbicara lagi, “Bu Guru kelihatannya sudah lebih baik ketika pulang tadi."
Reihan terdiam sejenak, "Ya." akhirnya ia tetap menjawab ucapan Yanto.
"Budi berhasil membuatnya tertawa," Yanto berkata lagi, ingin mengungkit isi hati atasannya lebih dalam.
"Bagus kalau begitu."
Jawaban Reihan terdengar singkat. Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap datar, meskipun pikirannya kembali pada komunikasi yang terjadi antara Mita dan Budi di area parkir.
Yanto menangkap jeda kecil sebelum jawaban itu diberikan. Ia tidak berkomentar lagi. Ada kalanya seorang sahabat perlu membiarkan orang lain memahami perasaannya sendiri tanpa terus-menerus menggodanya.
Beberapa menit kemudian, kendaraan mereka memasuki kawasan pos.
Reihan turun, memeriksa situasi sekitar, kemudian memberikan beberapa instruksi kepada anggota yang masih bertugas. Ia memastikan semua kegiatan berjalan sebagaimana mestinya sebelum akhirnya menuju ruang istirahat.
Hari itu cukup melelahkan. Seharusnya, ia bisa segera membersihkan diri, merebahkan tubuh, dan tidur untuk mempersiapkan tugas esok hari.
Namun, pikirannya tidak bekerja sama. Setelah berganti pakaian dan merapikan barang-barang pribadinya, Reihan duduk di tepi tempat tidur. Ia memandang ruangan yang sunyi, mendengarkan suara angin yang sesekali menyentuh jendela.
Ponselnya tergeletak di meja kecil. Tidak ada pesan dari Mita, tentu saja. Mereka tidak memiliki hubungan yang cukup dekat untuk saling mengirim kabar setiap malam.
Reihan bahkan belum memiliki alasan yang wajar untuk menghubunginya di luar urusan kegiatan desa. Ia mengusap wajahnya, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Seorang kapten yang terbiasa mengambil keputusan dalam situasi sulit ternyata bisa kehilangan ketenangan hanya karena memikirkan seorang perempuan.
Namun, ia tidak ingin menertawakan perasaannya terlalu lama. Ada sesuatu tentang Mita yang membuatnya ingin memahami lebih banyak, bukan sekadar mengetahui namanya, pekerjaannya, atau tugas yang sedang diembannya.
Ia ingin tahu apa yang membuat perempuan itu bisa tertawa dengan tulus. Apa yang membuatnya merasa aman. Apa yang selama ini ia tanggung sendirian hingga akhirnya air mata itu jatuh tanpa bisa ditahan.
Tetapi Reihan juga tahu bahwa rasa ingin tahu tidak memberinya hak untuk mengorek luka orang lain. Mita berhak menentukan kapan ia siap bercerita. Mungkin suatu hari nanti perempuan itu akan membuka diri. Mungkin pula ia memilih menyimpan sebagian kisahnya untuk dirinya sendiri.
Reihan harus siap menghormati kedua kemungkinan itu. Ia merebahkan tubuh, menarik napas panjang, kemudian memejamkan mata. Akan tetapi, bayangan Mita kembali hadir.
Kali ini, ia teringat percakapan mereka ketika perempuan itu berusaha menghapus air mata dengan tangan gemetar. Reihan masih bisa membayangkan tatapan Mita yang tampak begitu rapuh, meskipun ia berusaha keras mempertahankan sikap tenangnya.
Saat itu, ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk mendekat. Bukan untuk meminta penjelasan. Bukan untuk menuntut kepercayaan. Ia hanya ingin mengatakan bahwa Mita tidak harus selalu berpura-pura kuat di hadapan semua orang.
Jika perempuan itu ingin menangis, ia boleh menangis. Jika ia ingin diam, ia boleh diam.
Dan jika suatu saat ia merasa lelah menghadapi semuanya sendirian, Reihan ingin menjadi seseorang yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Lebih dari itu, ada keinginan yang belum berani ia ungkapkan, bahkan kepada dirinya sendiri.
Ia ingin memberikan bahunya sebagai tempat bersandar bagi perempuan itu. Ingin menghapus air mata yang mengalir dari mata beningnya. Ingin melihat Mita tersenyum tanpa harus memaksakan diri.
Di luar ruang istirahat, suara langkah kaki terdengar sesekali melewati lorong barak. Beberapa anggota masih berbincang sebelum beristirahat, sementara yang lain mulai mematikan lampu.
Reihan kembali membuka mata dan menatap langit-langit. Jam telah menunjukkan waktu yang semakin larut, tetapi rasa kantuk belum juga datang. Ia bangkit, mengambil air minum, kemudian berdiri di dekat jendela.
Dari sana, ia bisa melihat sebagian halaman pos yang diterangi lampu. Pepohonan bergerak perlahan ditiup angin malam. Pikirannya kembali kepada Mita. Ia teringat bagaimana perempuan itu menyimpan saputangannya dengan hati-hati. Barang sederhana yang mungkin tidak memiliki arti khusus bagi orang lain, tetapi malam ini menjadi penghubung kecil di antara mereka.
Reihan tersenyum samar. Barangkali besok Mita akan mengembalikannya setelah dicuci. Barangkali mereka akan kembali bertemu dalam kegiatan tujuh belasan yang masih berjalan.
Dan barangkali, percakapan mereka hanya akan berlangsung singkat, seputar pekerjaan dan kebutuhan panitia.
Tidak masalah. Ia tidak perlu memaksa sesuatu terjadi lebih cepat dari semestinya.
Untuk saat ini, ia cukup bersyukur karena Mita masih bersedia menerima kebaikan kecil darinya. Reihan kembali duduk di tepi tempat tidur.
Di dalam hati, ia membuat janji sederhana kepada dirinya sendiri: jika suatu hari nanti Mita mengizinkannya mendekat, ia akan berusaha menjadi seseorang yang menghargai hatinya,menjadi sandaran di saat ia kelelahan dan menjadi orang yang akan menguatkan dikala hatinya rapuh.
Reihan menghela nafas. Ia tau, perempuan itu telah memberikan asa yang berbeda pada setiap pertemuan mereka. Tetapi, ia sendiri belum berani mengakui apa yang ia rasakan.
Malam semakin larut.
Akhirnya, Reihan mematikan lampu dan kembali berbaring. Meski pikirannya masih dipenuhi wajah Mita, ia mulai menerima bahwa perasaan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan memikirkannya sepanjang malam.
Ia harus meyakinkan diri sendiri, bahwa hatinya benar-benar jatuh. Bukan semata-mata simpati atas kedukaan yang ia lihat pada Mita. Tetapi tulus dari hati yang terdalam untuk melindungi, dan memberikan kenyamanan pada seseorang yang telah merubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Di bawah langit perbatasan yang bertabur bintang, Kapten Reihan berusaha memejamkan mata, berharap bertemu pujaan dalam impian.
Tetapi fisik dan psikisnya tidak mau diajak kompromi. Tidak ada rasa kantuk sedikit pun. Pandangannya ke atas menatap ubin. Senyum terbit di wajahnya, membayangkan wajah manis yang menjadi pelipur lara di saat kesepian mendera dalam pelukan malam.
Semoga suatu hari nanti, Mita tidak lagi merasa harus menyembunyikan kesedihannya. Semoga perempuan itu menemukan kembali ketenangan yang kini hilang.
Dan jika takdir mengizinkan dirinya menjadi bagian dari perjalanan tersebut, Reihan ingin hadir bukan sebagai pahlawan yang datang membawa jawaban, melainkan sebagai seseorang yang bersedia berjalan di sisinya.
Sebab, semakin malam berlalu, semakin ia memahami bahwa yang membuatnya jatuh hati bukanlah senyum Mita semata. Melainkan ketegaran perempuan itu dalam menghadapi luka yang berusaha ia sembunyikan dalam senyum yang ia tampilkan.