Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memulai hidup baru
Sinar matahari sore menembus celah pepohonan di pekuburan itu, jatuh lembut di atas dua batu nisan yang tertata rapi.
Kemala berlutut di sana, tangannya menyentuh pelan tulisan yang terukir di batu. Aroma tanah basah dan bunga melati yang ia bawa tercium samar di udara yang tenang.
"Ayah... Ibu..." bisiknya, suaranya terbungkus lirih di antara hembusan angin sore. "Kemala datang."
Ia meletakkan rangkaian bunga di depan nisan, lalu merapatkan kedua tangannya di dada. Air matanya jatuh perlahan, bukan karena tangis yang keras, tapi karena rindu yang menumpuk begitu lama.
"Maaf ya, Kemala jarang sekali bisa datang ke sini," lanjutnya, matanya menatap kosong ke tanah di depannya. "Banyak hal yang Kemala jalani akhir-akhir ini. Terkadang Kemala merasa begitu lelah, dan tak tahu harus bercerita kepada siapa selain ke kalian."
Ia tersenyum tipis di sela air matanya.
"Ayah, Ibu, Kemala rindu.... Kalau Ayah dan Ibu masih di sini, mungkin Kemala tidak akan merasa sendirian seperti ini. Tapi Kemala berjanji, akan tetap menjadi kuat. Seperti yang selalu kalian ajarkan."
Kemala duduk diam di sana sejenak, membiarkan dirinya bernapas lega, melepaskan sebagian beban di hatinya yang berat. Berdoa, dan membiarkan rindunya terbayar sebentar saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari berlalu dengan langkah yang tak mudah. Setelah berpisah dari Abimana, Kemala tahu ia harus berdiri di atas kakinya sendiri. Tak ada lagi yang bisa ia andalkan selain dirinya.
Ia mulai menyusun rencana hidupnya dengan teliti, lalu berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.
Pagi hingga siang, ia menawarkan diri di sana-sini, dari toko, kantor, hingga tempat pengajaran. Namun penolakan kerap ia temui.
Ada yang mengatakan pengalamannya kurang, ada pula yang hanya menatapnya dengan pandangan seakan ia adalah wanita yang tak bernasib baik.
Setiap sore, ia pulang dengan bahu yang terasa berat. Sesekali ia berhenti di pinggir jalan, menarik napas dalam-dalam, dan menahan air mata agar tak jatuh. Tapi di detik berikutnya, ia selalu teringat pesan ayah dan ibunya untuk tetap kuat.
"Ayah, Ibu... Tolong doakan Kemala agar tetap kuat" bisiknya pelan suatu sore saat duduk sendirian di bangku taman kecil.
Ia tak menyerah.
Esok harinya, ia kembali menyisir jalanan, menyalurkan lamaran demi lamaran, berharap satu pintu akan terbuka untuknya.
###
Hingga di suatu siang, senyum tipis kembali terukir di bibir Kemala. Panggilan telepon yang ia terima, mengubah segalanya, ia diterima bekerja di sebuah toko bunga yang nyaman dan hangat, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Kemala menatap dirinya dari pantulan cermin.
Memindai sekali lagi penampilannya.
Hijab lebarnya kini sudah berganti dengan pasmina yang dibentuk sederhana. Tampilannya kini sungguh mirip dengan mahasiswa dengan tampilan sederhana, memadukan rok jeans dan blouse berwarna mocca senada dengan warna pasmina yang ia kenakan.
Hari pertamanya tiba lebih cepat dari yang ia kira. Aroma bunga nan segar menyambutnya begitu ia melangkah masuk, disertai senyum ramah dari pemilik toko dan rekan kerjanya. Kemala merasa seolah beban di pundaknya perlahan terangkat.
Ia menata rak-rak dengan teliti, menyusun sesuai warna dan jenisnya, dan dengan senang hati membantu pengunjung yang mencari tertentu.
Setiap hal kecil ia lakukan dengan sepenuh hati. Di sela waktu istirahat, ia sempat membaca beberapa artikel di ponsel pintarnya mengenai jenis bunga dan maknanya, merasa damai seakan dunia di luar sana sejenak berhenti berputar.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa memiliki tempat. Bukan sekadar atap untuk berlindung, tapi ruang di mana ia dibutuhkan dan dihargai.
"Ayah, Ibu... lihatlah, Kemala sudah punya tempat baru," batinnya sambil tersenyum lembut. "Kemala akan berusaha sebaik mungkin di sini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perlahan, keramik yang semula retak itu kembali direkatkan meski tak sesempurna seperti baru, namun setidaknya dia kembali bisa dirangkai.
Hidup Kemala kembali ditata pasca perceraian dengan Abimana.
Dan hari ini tepat tiga bulan dirinya melepas masa iddah.
Meski kehidupan tidak bisa dikataka sempurna namun setidaknya hatinya tidak lagi tertekan sebagai seorang istri yang bahkan tak diinginkan.
Malam ini, Kemala sedang membuka sebuah situs pencarian di ponsel pintarnya.
Sebuah kampus yang menawarkan kuliah di malam hari.
Kemala mulai menatap hidup dan mimpinya.
Perlahan melupakan orang-orang yang pernah singgah dan memberi luka pada hatinya.
Dan perlahan melupakan nama Sean meski tak bisa sepenuhnya bisa hilang begitu saja.
"Dia sudah bahagia dengan hidupnya dan tidak butuh kamu, Kemala... "
"Kalian berbeda bagaikan langit dan bumi..."
Kemala merebahkan diri diatas kasur busa sederhana yang ia beli ketika pindahan.
Menatap langit-langit kamar.
"Ummi... Kemala baik-baik saja...Maaf, Kemala pergi tidak pamit dan memblokir nomor kalian semua... Setidaknya, ini bisa sedikit menyembuhkan luka hati Kemala...."
Airmata jatuh menetes di sudut matanya.
Meski dirinya terus berupaya melupakan, namun kenangan pahit itu terus berputar di kepala Kemala bagikan kaset kusut.
Meninggalkan Kemala dengan kehidupan barunya, keluarga Abah dan Ummi terus saja memikirkan mantan menantu atau putri angkat mereka.
Hingga membuat Ummi jatuh sakit pasca kepergian Kemala sesudah sidang perceraiannya dengan Abimana.
Terdengar ketukan di luar pintu kamar.
"Ummi... Ini Abimana... Boleh saya masuk?" seru Abimana memohon izin.
"Masuklah nak.."
"Assalamualaikum Ummi... Bagaimana kabar Ummi hari ini...?" tanya Abimana berjalan mendekat ke sisi ranjang.
"Alhamdulilah, sudah agak mendingan... Kamu dari mana?"
"Tadi habis menemani Kirana periksa... Kata dokter, calon bayinya sehat dan kemungkinan perempuan...." jelas Abimana.
Ummi hanya mengangguk kecil.
"Semoga dia baik-baik saja.."
"Aamiin..."
Abimana meraih tangan Ummi.
"Saya tidak tahu, sejak kapan tangan ini mulai terlihat lebih kecil dari sebelumnya..." lirihnya, menatap wajah Ummi yang masih pucat.
"Ummi baik-baik saja...Jangan terlalu khawatir... Kamu jaga saja istri mu.. Ummi sudah ada Abah..." ucap Ummi.
"Apa Ummi masih marah? Atau masih memikirkan Kemala?" tanya Abimana hati-hati.
Air mata jatuh di pipi Ummi tanpa bisa ditahan ketika nama Kemala disebut.
"Bagaimana Ummi tidak memikirkannya sementara sejak dia kecil, dia tidak pernah jauh dari Ummi... Bagaimana kalau hujan deras, lalu ada petir? Kemala paling takut akan petir..." isak Ummi tertahan.
Abimana tanpa sengaja menggenggam erat tangan Ummi.
Ada ribuan jarum yang menusuk hatinya saat ini.
"Tapi dia berkhianat Ummi... Saya tidak bisa memaafkannya" ucapnya dengan kepala tertunduk.
"Ummi tidak minta kamu memaafkannya... Terlepas dari dia benar atau salah, apakah kamu tidak pernah memikirkan tentang perasaannya selama ini ketika dia harus melewati malam-malam seorang diri sementara dirinya memiliki suami?"
Abimana tak bisa menjawab pertanyaan Ummi. Lidahnya terkunci rapat.
"Ummi tidak membenarkan tindakan Kemala, tapi kamu juga seharusnya berkaca. Makanya sejak awal, Ummi sangat menentang niatmu berpoligami namun kamu masih bersikeras... Tak ada seorang perempuan pu yang rela melihat suaminya memiliki perempuan lain, Abimana, pun dengan Kemala..."
Mala itu, usai berbincang dengan Ummi, Abimana mulai merenungkan apa yang ia lakukan pada mantan istrinya.
Abimana menoleh ke samping dimana Kirana tidur dengan nyenyak setelah beberapa malam mengalami kesulitan tidur.
Bayangan wajah sendu Kemala disaat hakim mengetuk palu tanda berakhirnya rumah tangga mereka.
Kemala tak banyak bicara, tak membantah atau menuntut hak-nya.
bersambung...