NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman Enak?

Ruang kerja pribadi Sergio Maximilian Ziegler tampak begitu luas dengan dominasi warna hitam arang dan perabot kayu jati antik berkualitas tinggi. Di balik meja kerja besar bergaya klasik, Sergio sedang duduk tegap sambil memeriksa beberapa dokumen penting di tabletnya, sementara di belakang kursi putar pria itu berdiri sosok Serena Amaryllis dengan wajah masam tertekuk.

​Gadis itu berdiri sambil kedua tangannya dengan sengaja menekan kuat-kuat bahu bidang Sergio. Tekanan jemari Serena terlampau keras, hampir mirip seperti orang yang sedang mencoba menghancurkan batu pijakan alih-alih memijat otot yang tegang.

​"Ehemm!"

​Sergio berdehem berulang kali, merasakan tekanan berlebihan di bahunya yang terasa sengaja dibuat-buat. Pria itu menghentikan gerakan jemarinya di atas tablet, lalu mendongak sedikit dengan sorot mata tajam.

​"Pijat yang benar, Serena!" perintah Sergio dengan suara rendah dan dingin, menegur istrinya yang tampak setengah hati.

​Serena menghentikan gerakannya, mengembuskan napas panjang dengan kasar sambil merengut sebal.

"Aku capek, Max!" protes Serena terang-terangan, melipat kedua tangannya di depan dada setelah melepaskan pijatannya.

"Aku pengen duduk, kakiku rasanya mau copot karena dari tadi disuruh berdiri terus!"

​Sergio menyipitkan mata birunya, menatap tajam protesan blak-blakan dari istrinya itu. Tanpa banyak bicara, tangan kekar pria tersebut langsung bergerak menarik pinggang ramping Serena dengan gerakan tiba-tiba yang cepat dan presisi.

​"Kyaa!" teriak Serena kaget, kehilangan keseimbangan seketika.

​Dalam hitungan detik, tubuh mungilnya sudah berpindah tempat, terduduk pas di atas pangkuan paha bidang sang mafia.

​Sergio memutar posisi kursi kerjanya menghadap ke belakang meja, mengurung tubuh Serena dalam rengkuhan lengannya yang kokoh. Pria itu mendekatkan wajahnya sedikit ke dekat leher Serena, lalu berbisik dengan suara berat yang serak.

"Bagaimana kalau begini? Kamu nyaman?"

​Bisikan pelan itu berhembus tepat di kulit sensitif leher Serena, sukses membuat seluruh bulu kuduk gadis itu merinding hebat. Jantung Serena langsung berdegup kencang di luar kendali. Di dalam pikirannya, sel-sel otak fiksi yang dipenuhi oleh bacaan novel romantis mendadak aktif secara otomatis. Serena teringat adegan klise dalam cerita fiksi di mana seorang CEO kaya raya memangku sekretaris pribadinya, lalu suasana berubah menjadi panas dan intim.

"​Waduh... Jangan-jangan ini adegan novel favoritku yang jadi kenyataan?" batin Serena histeris dalam hati, wajahnya seketika merona merah padam.

​Namun, sedetik kemudian, Serena langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat untuk membuang jauh-jauh pikiran kotor tersebut.

"Eh, sadar Serena, sadar! Ini bukan dunia perkantoran tempat CEO galak dan sekretaris genit, ini dunia mafia antar klan yang penuh peluru dan darah! Bahaya kalau baper berlebihan!"

​Melihat ekspresi wajah Serena yang berubah-ubah dengan cepat mulai dari melotot, merona, hingga menggelengkan kepala, Sergio menaikkan sebelah alisnya heran.

​"Kenapa kepalamu geleng-geleng begitu? Ada yang aneh dengan pangkuanku?" tanya Sergio dingin, menyelidik.

​Serena mengerjap gugup, berusaha menormalkan debar jantungnya. Ia meneguk ludah, lalu tersenyum kaku semanis mungkin.

"Umm... kupikir cukup bagus sih, Tuan Mafia," balas Serena berani, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya dengan menyandarkan kepalanya secara perlahan ke dada bidang Sergio.

​Sergio tertegun sesaat. Sepasang mata birunya melebar sedikit ketika mendengar panggilan spontan yang keluar dari bibir Serena barusan. Panggilan yang tidak biasa itu terdengar begitu manis dan menggelitik di telinganya.

​"Tunggu... Panggil aku apa tadi?" tanya Sergio serius, suaranya melunak namun tetap bernada mutlak.

​Serena mendongak menatap wajah tegas suaminya dari jarak yang sangat dekat. "Max?" tanyanya polos tanpa dosa.

​Sudut bibir Sergio terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Pria itu menatap lurus ke dalam mata cokelat Serena.

"Panggil aku seperti itu sampai seterusnya," perintah Sergio dengan nada penuh otoritas.

​Serena mengernyitkan dahi, merasa keberatan. "Maksudmu Max? Panggilan itu kependekan dari Maximilian, kan? Tapi aku lebih suka panggil kamu Sergio. Nama kita depannya sama-sama huruf S, lebih serasi kalau dibaca," bantah Serena cepat.

​Sergio menggelengkan kepala pelan, tidak terima dengan argumen istrinya. "Aku tidak menerima bantahan, Serena! Pilihlah panggilan itu atau hukumanmu ditambah," ancam Sergio dingin, kembali memasang topeng sang ketua mafia galak.

​Serena mendengus sebal, bibirnya mengerucut tebal membentuk sebuah majas cemberut yang sempurna.

"Dasar diktator! Mentang-mentang jadi suami suka banget main ancam," gerutunya pelan.

"Mau tidak mau, iya deh, iya!"

"Pijat lagi!" perintah Sergio.

​Karena posisinya sekarang duduk menyamping di atas pangkuan Sergio dengan ruang gerak yang sangat terbatas, Serena akhirnya mengalah. Dengan sisa-sisa kekesalannya, ia kembali mengulurkan kedua tangannya untuk memijat bahu Sergio sesuai perintah sang suami tadi.

​"Nah, begini kan lebih baik dari pada aku harus berdiri terus kayak satpam mal," omel Serena sambil menekan-nekan bahu lebar Sergio dengan gemas, melampiaskan rasa jengkelnya lewat pijatan.

​Sergio membiarkan saja omelan panjang yang keluar dari bibir mungil istrinya. Pria itu kembali fokus menatap layar tablet di depannya, sesekali merasakan sentuhan jemari Serena di bahunya yang terasa cukup menenangkan di tengah penumpukan pekerjaan organisasi yang melelahkan.

​"Jangan menekan terlalu keras, Serena. Kamu mau meremukkan tulangku, hah?" protes Sergio datar saat merasakan cubitan jemari Serena agak kelewatan di bahu kanannya.

​"Biarin! Siapa suruh jadi orang dingin yang hobi menyiksa istri dengan pekerjaan rumah!" balas Serena ketus, tidak mau kalah sedetik pun.

"Kalau tahu jadi istri mafia hidupnya bakal disuruh ngepel, cuci piring, terus jadi tukang pijat keliling kayak gini, dari dulu aku mendingan nerima lamaran anak pak lurah di kampung sebelah!"

​Mendengar kata-kata lamaran anak pak lurah meksipun dia tidak tau apa itu pak lurah, kepala Sergio langsung menoleh cepat ke samping. Mata birunya menyipit tajam, menatap Serena dengan sorot berbahaya.

​"Anak pak lurah siapa yang kamu maksud?" tanya Sergio dengan suara rendah yang langsung berubah dingin secara drastis, memancarkan aura cemburu pekat yang dibungkus rapi.

​Serena terkesiap kecil menyadari ucapannya sendiri. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan sebelah tangan, lalu tersenyum cengengesan salah tingkah.

"E-eh? Cuma kiasan doang, Max... Maksudku, Sergio! Jangan dimasukin ke hati, ya. Candaan anak perawan kota sebelah itu lho!" elak Serena gugup, takut suaminya mendadak mengeluarkan pistol dari laci meja.

​Sergio mendengus pelan, kembali memalingkan wajahnya ke depan. Pria itu mengeratkan sebelah tangannya di pinggang Serena, memastikan gadis itu tidak bisa kabur darinya kemari-mana.

​"Jangan pernah berani menyebut nama pria lain di depanku, Serena. Atau aku benar-benar akan mengurungmu di kamar ini selamanya tanpa boleh keluar melihat dunia luar," ancam Sergio mutlak, namun dengan nada yang menyiratkan rasa posesif tingkat tinggi.

​Serena merinding mendengar ancaman serius tersebut. Meski hatinya merasa jengkel karena terus-terusan diatur, ada rasa hangat yang menggelitik di relung dadanya melihat bagaimana sang mafia besar bisa merasa terancam hanya karena ucapan sepele tentang anak pak lurah.

​Dengan helaan napas pasrah, Serena kembali melanjutkan aktivitas memijatnya, menikmati kehangatan dekapan sang suami di ruang kerja yang sunyi itu, menyadari bahwa hari-harinya sebagai istri seorang Sergio Maximilian Ziegler tidak akan pernah sepi dari drama dan debaran jantung yang gila.

Bersambung...

1
Mia Camelia
chapter nya kurang banyak thor🤭🤭🤭🤭
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!