"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Penghianatan Bayangan dan Amarah Inti Magma
Guncangan dari perut bumi bukan lagi berupa guncangan tektonik biasa. Suara gemuruhnya terdengar seperti erangan dari keputusaan dari dasar neraka. Celah-celah tanah yang awalnya memancarkan pendaran cahaya merah darah, tiba-tiba memuntahkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
BOOOOOOOOMMMMMMMM!!!.....
Sebuah ledakan elemen hitam yang sangat dahsyat menghantam langit-langit malam. Ledakan itu tidak menyemburkan tanah atau batu, melainkan cairan kegelapan pekat yang membumbung tinggi layaknya pilar raksasa, energi itu sangat Masif, murni, dan penuh dengan aura kelam yang pekat hingga menembus awan, memadamkan sisa-sisa cahaya keemasan milik Itsuki yang baru saja memudar.
Itsuki, Hinata, dan Roy hanya bisa terpaku di tempat mereka, tubuh mereka mendadak kaku, tertekan oleh energi spiritual begitu berat hingga membuat udara di sekitar mereka seperti lenyap. Napas Hinata terengah-engah, sementara Roy kembali bertumpu pada lututnya, menahan mual karena menghadapi intimidasi energi yang belum pernah mereka hadapin sebelumnya.
Itsuki mencoba mengalirkan energi spiritualnya, namun energi tubuhnya yang terlanjur terkuras habis menolak untuk merespon dengan cepat. Mereka hanya bisa menatap pilar hitam itu dengan mata yang terbelalak dan jantung yang berdegup kencang.
perlahan tapi pasti, energi tersebut perlahan mulai menyusut, menguap ke udara menjadi kabut tipis yang dingin. Di balik kabut yang berangsur menghilang, siluet seseorang manusia mulai terbentuk, ia berdiri dengan angkuh di atas bongkahan batu besar yang mencuat dari reruntuhan.
Ia adalah seorang anak muda, menggunakan jubah pemburu makhluk yang gelap dengan sulaman perak yang sinis. Wajahnya tampan, namun tatapannya dingin dan penuh dengan kilat kejam, begitu kabut benar-benar sirna dan wajah pemuda itu terlihat dengan jelas di bawah temaram bulan purnama, Itsuki merasakan seperti jantungnya berhenti berdetak.
Mata Itsuki terbelalak, seluruh tubuhnya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena syok yang teramat sangat, ingatan-ingatan masa lalu yang terkunci rapat di benaknya mendadak terputar kembali seperti air bah yang menjebol bendungan.
"Kau....!" suara Itsuki tercekat di tenggorokan
pemuda di hadapannya adalah sosok yang sangat ia kenal. Ia adalah teman seperguruan nya sendiri, orang yang dulu duduk di sampingnya saat mempelajari teknik memburu, orang yang dulu ia percayai sebagai saudara seperguruan. Namun, kini tubuh mantan teman masa seperguruannya itu di selimuti oleh urat-urat hitam yang menjalar di leher dan lengannya, tanda mutlak dari orang yang telah menukar jiwanya demi kekuatan hitam terlarang.
Dalam hitungan detik, potongan-potongan teka-teki di masa lalu Itsuki terjawab, Itsuki baru mengingat peristiwa kelam yang menghancurkan hidupnya, pemuda di hadapannya lah yang dulu yang tegas membakar dan menyebarkan identitas itsuki di depan teman-teman sekte dan sekutunya.
Fitnah dan penghianatan itu begitu kejam hingga Itsuki di kucilkan, diburu, dan emosinya di manipulasi sedemikian rupa hingga Itsuki hampir kehilangan kendali atas elemennya sendiri. Dan kini Itsuki menyadari sebuah kebenaran yang lebih pahit: monster bertentakel purba yang dengan susah payah ia kalahkan dengan susah payah, sengaja di bangkitkan oleh pemuda ini.
Semua itu hanyalah sebuah jebakan struktur demi itsuki membuang-buang energi dan elemen spiritualnya murninya. Pemuda itu berdiri di atas batu, melipat tangan di dada sambil menatap Itsuki dari atas, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman meremehkan yang amat memuakkan.
"Hai, teman lemah. Sudah siap menghadapi kematianmu?"ucap orang itu yang di penuhi kesombongan mutlak.
Itsuki mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. Dengan sisa-sisa ketenangannya yang mulai goyah ia mendongak dan menjawab "Apa maksud dari perkataan mu ? Bukannya kita dulu adalah teman yang berjuang bersama? Mengapa kau melakukan semua ini?!".....
Mendengar pertanyaan itsuki, pemuda itu justru tertawa kebahak-bahak suara tawanya menggema di lembah mati, terdengar sangat sinis dan menyakitkan telinga.
"Heh, itukan menurutmu!" teriak pemuda itu, menghentikan tawanya mendadak dan menginstal Itsuki dengan penuh kebencian."kau hanyalah manusia yang sangat lemah, kau selalu merasa suci dengan jalan kebenaranmu, sementara kau tidak lebih dari batu sandungan yang menggangu jalanku!".
Tanpa basa-basi dan tanpa memberikan kesempatan bagi itsuki untuk mencerna kalimatnya, pemuda itu bergerak. Gerakannya melampaui kecepatan mata memandang. Surat! Ia menarik bilah pedang kegelapannya yang memancarkan hawa dingin sedingin es.
BOOM!
Dalam sekejap mata, pemuda itu sudah berada di depan itsuki, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan horizontal yang luar biasa, Itsuki yang berada dalam kondisi lelah hanya sempat mengangkat kedua tangannya untuk menahan serangan tersebut. benturan energi tersebut begitu keras hingga menciptakan gelombang kejut kecil. Tubuh Itsuki terdorong dan terpental beberapa meter ke belakang, menghantam bebatuan hingga batuk darah.
"Itsuki!"... Jerit Hinata yang hendak menolong, namun itsuki mengangkat tangannya, agar Hinata tetapi di tempat bersama Roy yang masih lemah.
Pemuda itu mendarat dengan anggun di tanah, lalu mengayunkan pedangnya ke samping untuk membersihkan debu fiktif sambil berbicara. "Heh, ternyata kau masih sama saja seperti yang dulu, lemah. Tidak ada kemajuan sedikitpun!"....
Itsuki bangkit perlahan, dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Matanya menatap tajam, tetapi ia masih berusaha mengendalikan diri. "Sadarlah! Kekuatan hitam itu mengendalikan mu , kau bukan dirimu yang dulu, masih ada waktu untuk kembali ke jalan yang benar....."
Namun, alih-alih mendengar pemuda itu justru semangkin ngelunjak. Tawanya kembali meledak, kali ini lebih histeris ia sambil berkata.
"Kembali? Untuk apa? Untuk menjadi sampah tidak berguna seperti keluargamu? Ah. Aku ingat sekarang, keluargamu yang bodoh itu...... mereka mati dengan mengenaskan, bukan?. Dan kau sebagai keturunan mereka, hanya bisa merangkak di atas tanah seperti cacing yang tak berdaya, seluruh silsilah darahmu adalah pecundang!"......
Mendengar hinaan yang di tujukan kepada keluarganya, sesuatu di dalam tubuh Itsuki pecah, batas kesabarannya telah melampaui. Hinaan terhadap dirinya bisa di toleransi, namun tidak tentang memori keluarganya yang telah tiada.
Deg, Deg, Deg.
Detak jantung Itsuki mendadak berdentam seperti palu Kodam. Rasa lelah yang sempat menggelayuti tubuhnya mendadak terbakar habis olek Amara yang membara. Dari pori-pori kulitnya, hawa panas yang ekstrim mulai keluar. Tanah di sekitar kaki itsuki mendadak mencair menjadi lava pijar.
Dalam hitungan detik, elemen miliknya yaitu magma core Sovereign meledak, elemen itu tidak lagi bewarna emas murni seperti sebelumnya, melainkan bewarna merah membara bercampur hitam pekat yang menandakan kemarahan yang absolut.
Skala energinya melesat naik menjadi berkali-kali lipat lebih mematikan, udara di lembah mati yang awalnya dingin di selimuti oleh kabut kegelapan, seketika berubah menjadi sangat panas hingga batu-batu di sekitar mereka mulai memerah dan meleleh.
Di tangan kanan Itsuki, pedang yang terukir kuno kembali terealisasi. Namun, kali ini bilah pedang itu di aliri oleh cairan lava yang mendidih dengan percikan listrik spritual yang menyambar-nyambar.
Itsuki mendongak, matanya kini menjadi lebih merah menyala, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
"Kau Ingin Perkelahian..... MAKA INI LAH YANG AKAN KAU TERIMA!" Itsuki berteriak dengan suara yang sangat menggelegar. Menggetarkan seluruh lembah hingga retakan tanah semakin melebar. Pemuda itu sedikit terkejut merasakan lonjakan energi magma yang begitu masif.
Namun, kesombongannya telah membutakan akal sehatnya, ia menyeringai lebar "Dasar manusia lemah, kau hanya menggertak! Kau akan mati dengan memalukan di tempat ini!".....
Pemuda itu mengangkat pedang hitamnya tinggi-tinggi ke langit. "Bangkitlah! naga bayang kegelapan!".........
Dari balik bayangan tubuhnya, kegelapan merayap naik dan membesar, membentuk sebuah naga bayangan hitam yang terbentuk dari manifestasi dari elemen hitam murni. Naga itu melolong, terdengar seperti jeritan ratusan jiwa yang tersiksa.
Pertarungan sengit yang sesungguhnya pun pecah.
Itsuki melesat maju dengan meninggalkan jejak api yang melekat di tanah, ia mengayunkan pedang magma besarnya hingga berbenturan langsung dengan pedang kegelapan pemuda itu. "Trang!" suara benturan besi spritual mereka terdengar seperti ledakan meriam, setiap kali pedang mereka beradu, percikan lava mendidih dan debu hitam pekat terlontar ke segala arah, menghancurkan sisa bukit yang ada di sekitar mereka.
Pemuda itu memerintahkan naga bayangnya untuk menyerang dari atas, naga kegelapan itu meluncur, membuka rahangnya yang besar untuk menelan itsuki, namun dengan reflek yang luar biasa, Itsuki memutar tubuhnya, menebaskan pedang magma ke arah leher naga tersebut . SRAAAT! Magma panas membakar dan memotong sebagian tubuh naga bayangan tersebut, membuatnya melolong kesakitan.
Namun, kondisi pisik tidak bisa berbohong. Itsuki yang sudah terlalu banyak membuang energi saat melawan monster bertentakel sebelumnya, mulai merasakan dampaknya. Gerakannya perlahan melambat, napasnya kembali memburu. Dan pasokan energi magma core Sovereign mulai tidak stabil karena di paksakan eleh amarah.
Musuhnya menyadari hal itu. Dengan licik, ia memanfaatkan celah saat Itsuki baru saja mendarat setelah menghindar serangan naga, pemuda itu melesat dari balik bayangan naga, mengarahkan tendangan spritual tepat ke dada Itsuki.
UGH!.
Itsuki terlempar pedang besarnya tertancap di tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh, ia berlutut dengan satu kaki, terengah-engah hebat dengan peluh dan darah yang bercampur di wajahnya, energinya berada di titik nadir.
Melihat Itsuki yang terpojok, pemuda itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia melompat tinggi di udara, memposisikan dirinya tepat di atas itsuki, pedang kegelapan miliknya di selimuti oleh seluruh sisa energi kegelapan yang paling pekat, membentuk bilah energi raksasa yang siap memutus kepala itsuki.
"Mati Kau, Pecundang!"........
(Bersambung).