Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Jantung Arhan berdegup kencang.
Tepukan di pundaknya masih terasa. Pak Hendra berdiri tepat di belakangnya, suaranya pelan, hampir berbisik. Di dalam rumah terdengar suara Anya dan Ibu Soraya yang masih mengobrol tentang sup ayam di ruang tamu.
Arhan menarik napas sesaat, mencoba menenangkan dadanya yang naik turun tidak beraturan.
"Boleh, Pa," kata Arhan akhirnya. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar. "Tanya aja, Pa."
Pak Hendra mengangguk. Ia tidak langsung bicara. Ia melihat ke arah dalam rumah sebentar, memastikan Anya dan istrinya, Ibu Soraya, tidak mendengar. Lalu ia kembali menatap Arhan.
"Han," kata Pak Hendra dengan suara yang dijaga tetap rendah. "Papa mau tanya jujur. Soal Anya."
Arhan tahu mertuanya itu bukan orang yang mudah marah. Pak Hendra selalu bicara pelan, selalu menepuk pundak Arhan kalau ada masalah. Tapi kali ini Arhan takut tatapan itu akan berubah.
Arhan menggenggam gagang sapu lidi itu lebih erat. Kayunya terasa kasar di telapak tangannya.
"Diagnosa terakhir Dokter Rendra apa, Han?" tanya Pak Hendra, ayah mertuanya itu. "Yang memeriksa Anya sebelum pulang. Dokter bilang apa sama kamu?"
Pertanyaan itu menggantung di udara halaman yang sepi.
Arhan merasa bimbang.
Arhan tidak pernah bermaksud menyembunyikan ini untuk menyakiti siapa pun. Ia hanya takut. Takut melihat mertuanya, Ibu Soraya menangis, takut melihat Pak Hendra hancur, dan yang paling ia takuti adalah melihat cahaya di mata Anya padam kalau ia tahu waktunya hanya tinggal sedikit.
Di kepalanya ada dua suara yang bertabrakan keras. Mengungkapkan semuanya, diagnosis Dokter Rendra, vonis kepada Anya. Suara kedua, meminta Arhan untuk tetap berbohong. Bilang saja Anya akan membaik. Bilang saja kondisi Anya sudah stabil.
Kalau ia jujur, ia takut mertuanya itu akan hancur. Kalau ia berbohong, ia akan terus memikulnya sendirian. Meski baru sehari ini ia tidur di samping Anya dengan rasa bersalah yang menumpuk.
Arhan menunduk. Matanya menatap tanah.
"Han," Pak Hendra melanjutkan, suaranya lebih lembut. Ia seolah membaca kebimbangan di wajah menantunya itu. "Papa tanya di sini, di luar rumah, bukan di dalam, karena Papa nggak mau Anya dengar. Papa nggak akan bilang apa-apa ke Anya. Sumpah."
Arhan mengangkat wajahnya perlahan.
"Papa cuma mau tau yang sebenarnya," kata Pak Hendra, mertua Arhan itu.
"Papa adalah orang tuanya Anya. Papa berhak tau, Han. Tapi Papa janji, ini cuma antara kita berdua. Mama juga nggak akan Papa kasih tau kalau kamu nggak izinin. Papa cuma butuh tau biar Papa bisa siap."
Kata-kata itu membuat dada Arhan semakin sesak. Justru karena itu mertuanya bertanya di luar rumah, jauh dari telinga Anya.
Arhan menghela napas panjang. Napas yang sudah ia tahan selama ini.
Akhirnya ia mengangguk.
"Pa," kata Arhan dengan suara pelan. "Aku akan jujur. Tentang semuanya."
Pak Hendra tidak menjawab. Ia hanya menatap Arhan dan menunggu. Lanjut, Ayah mertuanya itu mengatakan.
"Han, di mobil aja ya," kata Pak Hendra tiba-tiba. Ia menahan lengan Arhan dengan lembut. "Biar lebih tenang. Di sini takut Anya keluar dan dengar."
Arhan mengangguk.
Mereka berdua berjalan pelan menuju mobil sedan silver tua milik mertuanya yang terparkir di depan pagar. Pak Hendra membuka pintu penumpang depan, mempersilahkan Arhan masuk. Arhan duduk di kursi penumpang yang agak berdebu. Pak Hendra kemudian masuk ke kursi pengemudi dan menutup pintu mobil dari dalam.
Klek.
Pintu mobil tertutup. Dunia luar yang berisi suara Anya dan ibu mertuanya mengobrol di dalam rumah kini teredam. Di dalam mobil hanya ada napas mereka berdua yang terdengar berat.
Hening beberapa detik.
Arhan menatap dashboard mobil mertuanya yang sudah retak di beberapa sisi. Tangannya masih menggenggam erat.
Air mata itu memaksa keluar kembali.
Beban itu tidak ringan. Ia simpan rapat-rapat saat bersama Anya, ia kunci diam-diam di sebelah ranjang Anya. Namun di dalam mobil tertutup ini, di depan mertuanya, ayah dari istrinya sendiri, pertahanannya pecah.
Arhan mencoba menahannya. Ia menggigit bibir bawahnya, menunduk dalam-dalam.
"Pa..." suaranya gemetar.
Pak Hendra tidak memotong. Ia hanya menatap ke depan, memberi ruang untuk menantunya bicara, meski tangannya sendiri mengepal di atas setir.
"Sebelum Anya pulang dari rumah sakit," kata Arhan akhirnya, dengan suara patah-patah. "Waktu Anya masih di ruang perawatan, aku dipanggil Dokter Rendra ke ruang konsultasi."
Arhan berhenti sejenak, menelan ludah.
"Dokter Rendra bilang... kanker serviks Anya sudah stadium lanjut. Penyebarannya agresif. Hasil biopsi dan CT scan terakhirnya tidak bagus, Pa."
Pak Hendra, mertuanya itu, masih diam. Bahunya menegang.
"Dokter bilang... waktu Anya..." Arhan tidak sanggup melanjutkan. Air matanya jatuh. Ia mengusapnya kasar. "Dokter bilang Anya hanya punya waktu sekitar tiga puluh hari lagi, Pa."
Tiga puluh hari. Angka yang terasa sebentar itu hanya berputar di kepala Arhan sendirian, akhirnya keluar dari mulutnya. Suaranya pecah di tengah kalimat.
Di dalam mobil sempit itu, kalimat itu terasa sangat berat.
Pak Hendra, mertuanya, tidak langsung bereaksi. Ia terdiam sesaat. Lama.
Arhan menoleh. Mata mertuanya itu mulai berkaca-kaca. Merah. Ia menatap lurus ke depan, ke pagar rumah anaknya.
"Maaf, Pa," kata Arhan dengan suara bergetar. "Maaf karena aku merahasiakan ini, seharusnya aku memberitahukan sejak awal, Pa. Aku nggak bilang ke Anya, aku nggak bilang ke Mama. Aku simpan sendiri. Maaf, Pa. Aku bener-bener nggak tau harus gimana."
Arhan menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar hebat. Ia menangis tanpa suara, seperti yang ia lakukan saat awal mendengar vonis itu. Ia merasa bersalah karena sudah membohongi mertuanya.
Sunyi kembali menggantung di dalam mobil, pecah sesekali oleh isak Arhan yang tertahan.
Beberapa detik kemudian, sebuah tangan yang hangat dan sedikit kasar menyentuh pundak Arhan.
Pak Hendra akhirnya bergerak. Mertua Arhan itu mengulurkan tangannya dan menepuk pundak menantunya dengan pelan, lalu menggenggamnya erat.
"Han," kata Pak Hendra. Suaranya juga bergetar. Matanya berkaca-kaca. "Nggak apa-apa, Han."
Arhan mengangkat wajahnya, menatap mertuanya dengan mata basah.
"Papa maafin kamu, Han," kata Pak Hendra, mertuanya itu, dengan suara berat. "Papa ngerti kenapa kamu simpan sendiri. Papa ngerti beratnya jadi kamu. Kamu nggak salah."
Arhan menggeleng pelan, masih merasa bersalah.
Pak Hendra menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya sendiri juga.
"Kamu itu menantu yang baik, Han," kata Hendra, ayah mertua Arhan itu, suaranya pelan tapi jelas. "Menantu yang baik banget."
Ia menatap Arhan dalam-dalam.
"Terima kasih, ya, Han," kata Hendra. "Terima kasih sudah merawat anak Papa sejauh ini. Sejauh ini kamu sudah ngurus Anya dengan sangat baik. Papa lihat sendiri selama ini. Terima kasih, Han."