Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Di Balik Kaca Spion
lHari-hari berikutnya di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di Jalan Melati berjalan dalam ketegangan yang kian merayap tak terlihat. Kehidupan ganda Keira kini telah menemukan ritmenya sendiri.
Di satu sisi, ia menjalankan perannya sebagai kekasih yang menyambut kepulangan Davin setiap sore dengan secangkir teh hangat, senyuman sabar, dan sikap penurut yang menenangkan.
Di sisi lain, di balik tumpukan diktat kuliah dan laci meja plastiknya, ia adalah seorang ilustrator independen yang sedang serius menggarap proyek visual untuk edisi kedua zine Ruang Aksara bertema Kota di Bawah Hujan.
Komunikasi Keira dengan Rian berjalan lancar melalui pesan digital. Setelah draf halte bus di tengah hujan disetujui tanpa revisi, Rian mengirimkan dua konsep narasi tambahan: siluet sebuah kafe kecil dengan lampu temaram di malam hari, dan sepasang kaki yang melangkah di atas genangan air trotoar kota.
Setiap kali jemarinya menari di atas kertas gambar dengan pensil 2B dan serutan manual, Keira merasakan aliran energi kehidupan yang mengalir kembali ke dalam dirinya. Pekerjaan itu bukan lagi sekadar pelarian dari kebosanan, melainkan sebuah pernyataan eksistensi bahwa dirinya nyata, berdaya, dan mampu menghasilkan sesuatu dengan usahanya sendiri.
Namun, di luar kamar kos yang sempit dan aman itu, dunia Davin sedang berada di ambang keruntuhan.
Sejak insiden di dekat meja kerja Nadia beberapa hari lalu, atmosfer di divisi keuangan lantai dua puluh gedung Jalan Sudirman berubah menjadi medan perang dingin yang mematikan.
Davin tidak lagi mencoba menyembunyikan rasa cemas dan permusuhannya terhadap staf keuangan tersebut.
Setiap kali mata mereka beradu di ruang kerja, sorot mata Davin memancarkan peringatan keras, sementara Nadia dengan ketenangan yang luar biasa membalas tatapan itu tanpa gentar sedikit pun, memegang kendali penuh atas salinan dokumen pembanding audit yang tersimpan rapat di tempat rahasia.
Davin tahu ia berada di ujung tanduk. Auditor independen pusat dijadwalkan akan melakukan evaluasi triwulan lanjutan bulan depan, dan meskipun laporan akhir utama telah ditandatangani, catatan pos pengeluaran lapangan yang dipertanyakan oleh Nadia bisa menjadi pemicu investigasi menyeluruh jika sampai jatuh ke tangan komite etika perusahaan.
Kecemasan itu terbukti ketika pagi tadi, surat pemberitahuan resmi dari bagian kepatuhan internal perusahaan mendarat di meja kerjanya menyebutkan adanya aduan administratif tandingan yang masuk ke komite pengawasan pusat terkait pos anggaran pos pengeluaran lapangan proyek Bandung, yang mengharuskan divisi keuangan bersiap menghadapi peninjauan lanjutan.
Tekanan pekerjaan yang luar biasa berat itu membuat Davin mulai kehilangan keseimbangan emosionalnya. Lelaki yang biasanya selalu tampil rapi, tenang, dan terkendali di hadapan Keira kini sering kali pulang dengan wajah pias, rahang mengeras, dan napas tersengal-sengal.
Sore itu, hari Rabu, hujan gerimis kembali turun membasahi jalanan aspal Kota Bimantara. Pukul lima lewat lima belas menit, suara deru motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos Jalan Melati. Ketukan tiga kali di pintu kayu menyusul sesudahnya, terdengar lebih cepat dan tidak sabaran dari biasanya.
Keira yang sedang merapikan lembar sketsa proyek zinenya langsung bergerak sigap. Ia memasukkan kertas-kertas gambarnya ke dalam laci, menyingkirkan ponsel retaknya, dan membuka pintu.
Davin berdiri di ambang pintu tanpa mengenakan jas hujan, membuat beberapa bagian pundak kemejanya basah oleh rintik air. Wajah lelaki itu tampak sangat pucat, matanya merah menyala, dan napasnya memburu tak beraturan.
Begitu pintu terbuka, Davin langsung melangkah masuk tanpa menunggu aba-aba, membanting pintu kayu di belakangnya hingga tertutup rapat, lalu menjatuhkan tas kerjanya begitu saja ke atas lantai.
Keira tertegun, sedikit terkejut melihat kondisi kekasihnya yang tampak jauh lebih buruk dari hari-hari sebelumnya.
"Vin? Ada apa? Kenapa basah-basahan begini?" tanya Keira cemas, segera mengambilkan handuk kering dan mendekati kekasihnya.
Davin tidak menjawab. Ia menjatuhkan tubuhnya terduduk di tepi kasur, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar hebat. Bahu lelaki itu naik-turun menahan emosi yang meluap-luap di dalam dada.
Keira berlutut di hadapan Davin, meletakkan handuk kering di pangkuan lelaki itu, lalu menyentuh lengan kekasihnya dengan lembut. "Vin, cerita sama aku. Ada apa di kantor? Kamu kelihatan kacau banget."
Davin perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Ia menatap Keira dengan tatapan nanar sorot mata penuh keputusasaan yang bercampur dengan kemarahan pekat yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.
"Kantor... bagian kepatuhan baru saja ngirimin surat pemberitahuan resmi, Kei," bisik Davin dengan suara serak, parau, dan nyaris seperti rintihan putus asa.
"Ada aduan administratif tandingan yang masuk ke komite pengawasan pusat... dan semua itu pasti gara-gara staf keuangan itu, si Nadia, yang sengaja bawa-bawa masalah internal proyek Bandung."
Mendengar nama Nadia disebut bersamaan dengan surat pemberitahuan aduan resmi tersebut, aliran darah di seluruh tubuh Keira seolah berhenti mengalir.
Sekujur tubuhnya mendadak kaku. Bayangan tentang map plastik transparan berisi salinan dokumen yang tersimpan di bawah tumpukan diktat kuliah di sudut meja seolah membakar punggungnya dari jarak dekat.
"Aduan administratif... tandingan?" ulang Keira dengan suara terbata-bata, berusaha menyembunyikan getar ketakutan yang mendadak mencengkeram tenggorokannya.
"Emangnya... emangnya separah itu, Vin?"
"Parah, Kei! Kalau sampai tim pengawasan pusat turun tangan dan meragukan keabsahan laporan itu, karier aku tamat!" suara Davin tiba-tiba meninggi, pecah dalam nada frustrasi yang luar biasa.
Lelaki itu mencengkeram rambutnya sendiri dengan kasar. "Semua kerja kerasku selama bertahun-tahun, posisi manajer yang aku bangun dari nol, semuanya bakal hancur dalam semalam cuma karena satu orang staf yang keras kepala!"
Keira terdiam bisu. Ia menatap wajah lelaki yang selama ini ia anggap sebagai pelindung hidupnya lelaki yang kini tampak begitu rapuh, tersudut, dan dikuasai oleh ketakutan.
Di dalam lubuk hatinya, ada rasa iba yang mendalam melihat kehancuran mental yang dialami Davin. Namun di saat yang sama, ada kesadaran yang menusuk dada: bahwa apa yang diceritakan oleh Nadia sebelumnya tampaknya memiliki kaitan yang kuat dengan apa yang sedang dihadapi Davin saat ini.
Meskipun ia belum mengetahui seluruh kebenaran atau hasil akhir dari masalah kantor tersebut, kecurigaannya bahwa ada hal serius yang disembunyikan kini semakin nyata di hadapannya.
"Vin... tenang dulu," bujuk Keira dengan suara bergetar, mencoba menjalankan perannya sebagai perempuan yang menenangkan di tengah kekacauan. Ia mengusap lengan Davin dengan lembut.
"Kalau memang laporan itu punya dasar pekerjaan yang bisa dijelaskan, pasti ada jalan keluar. Jangan panik begini."
Davin menoleh tajam ke arah Keira, menatap mata kekasihnya lekat-lekat dengan napas yang masih memburu.
Ada kilat keputusasaan yang aneh di mata lelaki itu kilat kegelapan seseorang yang merasa tidak punya pilihan lain selain melawan.
"Jalan keluar..." gumam Davin sinis, tertawa kecil penuh kepahitan. "Enggak ada jalan keluar yang gampang, Kei. Kecuali kalau perempuan itu berhenti mengganggu aku dan mencabut aduannya."
Davin meraih tangan Keira yang ada di lengannya, menggenggamnya begitu erat hingga terasa sakit di kulit.
Ia menatap Keira dengan tatapan memohon sekaligus menuntut, sorot mata yang membuat bulu kuduk Keira meremang seketika.
"Kei... selama ini cuma kamu satu-satunya tempat aku pulang buat nyari ketenangan," ucap Davin dengan suara lirih namun menusuk tajam ke dalam sukma.
"Aku enggak boleh kalah. Aku enggak boleh kehilangan segalanya gara-gara perempuan itu. Apapun yang terjadi... aku bakal lakuin apa saja buat ngamanin posisi aku."
Kalimat itu meluncur dari bibir Davin bagaikan sebuah sumpah gelap sebuah pernyataan mutlak dari seseorang yang telah terdesak hingga ke tepi jurang.
Keira membalas tatapan itu dalam keheningan yang panjang. Di permukaan, ia mengangguk pelan, memberikan gestur penurut dan pengertian yang selalu diharapkan oleh kekasihnya.
Namun di dalam batinnya, Keira menyadari bahwa pelukan hangat yang ia berikan malam ini tidak lagi mampu meredakan kengerian yang merayap di dalam dadanya.
Lelaki di hadapannya bukan lagi sekadar kekasih yang lelah karena pekerjaan kantor.
Ia adalah seorang pria yang bersedia melakukan apa saja untuk melindungi posisinya dan menyadari hal itu membuat kamar kos berukuran tiga kali tiga meter ini terasa jauh lebih sempit, pengap, dan berbahaya daripada sebelumnya.